Malam itu udara terasa pengap, langit di luar mendung tebal, seperti ikut menahan tangis yang belum tumpah.
Di dapur rumah kecil itu, Arema berdiri lemas di depan kompor. Tangan mungilnya memutar-mutar sendok di dalam panci kecil berisi mie instan yang baru mendidih.
Uap panas menyelimuti wajahnya yang masih sembab, kelopak matanya bengkak, garis merah di sekitar hidung menunjukkan betapa ia habis menangis seharian.
Bunyi panci beradu pelan dengan sendok, ting ... ting ....
Seolah ikut menertawakan kesepiannya. Aroma bawang dari bumbu mie menyeruak di udara, tapi tak mampu mengundang selera makannya yang sudah hilang sejak pagi.
Arema meletakkan mangkuk berisi mie instan ia pun duduk.
"Lho, kok makan mie? Itu masih ada nasi sama ayam goreng, Rema." Suara Salma, ibunya, memecah kesunyian.
Arema menoleh pelan. Ia tak menyangka ibunya masih terjaga. Salma mengenakan daster hijau toska, rambutnya disanggul seadanya. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tajam memperhatikan gerak-gerik anak semata wayangnya itu.
"Aku males makan nasi, Bun. Lagi pengin mie aja," jawab Arema datar, berusaha terdengar santai padahal suaranya bergetar halus.
Salma menghela napas dan menarik kursi kayu, duduk di sebelah putrinya. Tangannya menopang dagu, memperhatikan Arema yang sedang meniriskan mie ke dalam mangkuk.
"Kamu itu kenapa, sih? Seharian murung, gak semangat, terus sekarang malem-malem baru makan. Cerita sama Bunda, Nak. Siapa tahu Bunda bisa bantu."
Arema menggigit bibir bawahnya. Ia menatap mangkuk mie yang kini mengepulkan uap, lalu mengambil garpu. Setiap helai mie yang masuk ke mulutnya terasa hambar. Tidak ada rasa, hanya pahit yang menyeruak dari dalam dada.
"Gak ada apa-apa, Bun," ujarnya pelan, matanya menunduk.
"Rema, kamu pikir Bunda gak tahu kamu ada masalah?" tanya Salma lembut tapi tegas. "Seharian kamu diam di kamar, gak mau keluar, bahkan dagangan kamu tadi pagi juga gak kamu urus. Ini bukan kamu banget, Nak."
Suasana mendadak sunyi. Hanya bunyi jam dinding yang terdengar.
Tik ... tok ... tik ... tok ... mengisi ruang kosong di antara mereka.
Akhirnya Arema menyerah. Ia tak sanggup lagi memendam semuanya sendiri. Air matanya kembali menetes pelan, jatuh ke permukaan mie yang mulai mendingin. "Bun, Rino selingkuh ...." suaranya pecah.
Salma memandangnya dalam diam. Ia tak langsung bereaksi, hanya mendengarkan dengan tenang saat Arema mulai bercerita.
Tentang hari ketika panggilan telepon misterius masuk, tentang Rino yang menyebut nama 'Vher,' tentang gadis pembeli martabak yang ternyata wanita itu, dan tentang kejadian di depan pintu rumah Rino yang membuat dunia Arema seakan berhenti berputar.
Setiap kata yang keluar dari mulut putrinya terasa seperti duri yang menembus hati Salma. Ia tahu betapa dalamnya Arema mencintai Rino. Ia tahu, putrinya telah banyak berkorban untuk pria itu. Tapi mendengar kenyataan kalau Rino telah mengkhianati kepercayaan anaknya membuat darahnya mendidih.
"Jadi, Rino tega selingkuh di belakang kamu?" gumam Salma menahan emosi.
Arema mengangguk lemah. "Iya, Bun, dan yang paling nyakitin, dia ngelakuin itu sama cewek lain, malah katanya cewek itu hamil."
Suara Arema terputus di ujung kalimat. Tangisnya pecah lagi. Ia menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar menahan sesak.
Salma menarik napas panjang. Ia mencoba menahan diri, tapi amarah dan kecewa beradu di dalam dadanya.
"Hem, Rema, kamu itu masih muda, Nak. Jangan buang waktu buat orang yang gak tau diri. Dengar ya, fokus dulu cari uang yang banyak. Kalau kamu punya uang, kamu bisa beli apapun yang kamu mau, termasuk laki-laki kalau mau sekadar main perasaan," katanya sinis, tapi berusaha menenangkan.
Arema menatap ibunya dengan mata basah. "Tapi masalahnya, Bun, aku ...." Suaranya melemah.
"Kenapa?" Salma langsung menatap tajam.
Arema terdiam cukup lama. Napasnya tercekat, lidahnya kelu. Ia ingin jujur, tapi takut. Takut ibunya marah, takut dianggap hina. Tapi pada akhirnya, air mata yang terus menetes membuatnya tak kuat lagi menutupi segalanya.
"Aku sama Rino udah ngelakuin itu, Bun ...."
Ruangan langsung memanas. Waktu seakan berhenti di detik itu. Salma menatap putrinya dengan mata melebar, wajahnya pucat, darahnya seperti berhenti mengalir. "Apa?!" Suaranya serak.
Arema menatap ibunya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Aku udah nyerahin semuanya ke dia, Bun. Aku kira dia serius, aku kira dia bakal nikahin aku. Aku percaya, aku sayang banget sama dia."
PLAAKK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi chubby Arema. Suaranya menggema ke seluruh dapur. Arema terhuyung, garpunya jatuh ke lantai, dan mie di mangkuknya tumpah sebagian.
Air matanya menetes deras, bukan hanya karena sakit di pipi, tapi juga karena luka di hatinya yang semakin dalam.
"Gila kamu, Rema!" seru Salma dengan suara bergetar. "Bunda pernah bilang kan?! Kamu boleh pacaran, tapi jangan sampai kebablasan sebelum sah jadi istri! Tapi kamu langgar semua itu! Sekarang kamu rasain sendiri akibatnya!"
"Bun, aku nyesel." Suara Arema nyaris tak terdengar, tubuhnya gemetar hebat.
"Nyeseeel?!" bentak Salma lagi. "Nyesel buat apa kalau semuanya udah kejadian? Kamu perempuan, Rema! Harga diri kamu itu harus dijaga! Sekarang siapa yang mau tanggung jawab, hah?! Rino itu udah ngancurin kamu, dan kamu malah nangisin dia!"
Air mata Arema semakin deras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku gak tahu harus gimana, Bun, aku cuma pengin semuanya balik kayak dulu."
Salma menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin memeluk putrinya, tapi amarahnya masih menutup rasa kasihnya. Ia tahu Arema korban dari cinta buta, tapi ia juga tahu, semua sudah terlambat.
"Ya Tuhan," gumam Salma lirih, menatap langit-langit dapur yang gelap. "Kenapa anak ini gak nurut sama aku."
Tiba-tiba, dari dalam kamar terdengar suara berat seorang pria. "Ada apa ini? Malem-malem kok ribut-ribut?" suara Wawan. Ia pun keluar menghampiri anak dan istrinya.
"Lihat, anak kamu, Yah, tambah besar bukannya banggain orang tua malah ...."
Belum selesai Salma bicara, Arema sudah lebih dulu bangkit dari kursinya. Ia tak ingin ayahnya tahu. Ia tak ingin menambah malu yang sudah menyesakkan dadanya. Tanpa bicara apa pun, ia berlari ke arah kamarnya, langkahnya terburu, air matanya berceceran di lantai ubin.
Pintu kamar dibanting keras, Braaakk! suara itu membuat Salma terdiam di dapur, matanya kosong menatap mangkuk mie yang kini tumpah di atas meja. Uap panasnya telah lenyap, berganti dingin seperti suasana malam itu.
Wawan mengerutkan dahi. "Kenapa dia?" tanyanya bingung.
"Biasa, Yah, masalah cowok." Salma berusaha tersenyum.
Wawan mendengus pendek lalu mengangguk pelan. "Ya udah, jangan dimarahin terus, nanti malah makin stres anaknya." Ia kembali masuk ke kamar tanpa tahu badai apa yang baru saja menghantam rumah mereka.
Salma berdiri lama di dapur. Air matanya jatuh tanpa suara. Antara marah dan sedih, antara kecewa dan kasihan. Ia menahan diri untuk bercerita ke suaminya. Menunggu waktu yang tepat.
Sementara di dalam kamar, Arema terisak di atas ranjangnya. Ia memegangi pipi yang memerah karena tamparan ibunya, lalu memeluk bantal dengan erat.
"Rino," bisiknya lirih. "Kenapa kamu tega banget sama aku?"
Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap, lalu menarik selimut hingga menutupi wajah. Tubuhnya bergetar, bibirnya bergetar menahan tangis.
Dan tepat ketika ia mulai terlelap dengan mata bengkak, ponselnya yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar. Layar menyala. Sebuah nama muncul di sana — Rino.
Arema terdiam. Napasnya tercekat. Tangannya gemetar ketika hendak meraih ponsel itu.
"Rino?" bisiknya pelan.
Jantungnya berdetak cepat. Ia tak tahu, apakah harus menjawab atau membiarkan panggilan itu berlalu. Tapi rasa penasaran dan rindu bercampur menjadi satu.
Ia menatap layar itu beberapa detik sampai akhirnya ....
Panggilan itu terputus. Layar kembali gelap.
Dan malam itu, hanya suara tangis pelan yang menemani Arema dalam kesunyian.Malam itu udara terasa pengap, langit di luar mendung tebal, seperti ikut menahan tangis yang belum tumpah.
Di dapur rumah kecil itu, Arema berdiri lemas di depan kompor. Tangan mungilnya memutar-mutar sendok di dalam panci kecil berisi mie instan yang baru mendidih.
Uap panas menyelimuti wajahnya yang masih sembab, kelopak matanya bengkak, garis merah di sekitar hidung menunjukkan betapa ia habis menangis seharian.
Bunyi panci beradu pelan dengan sendok, ting ... ting ....
Seolah ikut menertawakan kesepiannya. Aroma bawang dari bumbu mie menyeruak di udara, tapi tak mampu mengundang selera makannya yang sudah hilang sejak pagi.
Arema meletakkan mangkuk berisi mie instan ia pun duduk.
"Lho, kok makan mie? Itu masih ada nasi sama ayam goreng, Rema." Suara Salma, ibunya, memecah kesunyian.
Arema menoleh pelan. Ia tak menyangka ibunya masih terjaga. Salma mengenakan daster hijau toska, rambutnya disanggul seadanya. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tajam memperhatikan gerak-gerik anak semata wayangnya itu.
"Aku males makan nasi, Bun. Lagi pengin mie aja," jawab Arema datar, berusaha terdengar santai padahal suaranya bergetar halus.
Salma menghela napas dan menarik kursi kayu, duduk di sebelah putrinya. Tangannya menopang dagu, memperhatikan Arema yang sedang meniriskan mie ke dalam mangkuk.
"Kamu itu kenapa, sih? Seharian murung, gak semangat, terus sekarang malem-malem baru makan. Cerita sama Bunda, Nak. Siapa tahu Bunda bisa bantu."
Arema menggigit bibir bawahnya. Ia menatap mangkuk mie yang kini mengepulkan uap, lalu mengambil garpu. Setiap helai mie yang masuk ke mulutnya terasa hambar. Tidak ada rasa, hanya pahit yang menyeruak dari dalam dada.
"Gak ada apa-apa, Bun," ujarnya pelan, matanya menunduk.
"Rema, kamu pikir Bunda gak tahu kamu ada masalah?" tanya Salma lembut tapi tegas. "Seharian kamu diam di kamar, gak mau keluar, bahkan dagangan kamu tadi pagi juga gak kamu urus. Ini bukan kamu banget, Nak."
Suasana mendadak sunyi. Hanya bunyi jam dinding yang terdengar.
Tik ... tok ... tik ... tok ... mengisi ruang kosong di antara mereka.
Akhirnya Arema menyerah. Ia tak sanggup lagi memendam semuanya sendiri. Air matanya kembali menetes pelan, jatuh ke permukaan mie yang mulai mendingin. "Bun, Rino selingkuh ...." suaranya pecah.
Salma memandangnya dalam diam. Ia tak langsung bereaksi, hanya mendengarkan dengan tenang saat Arema mulai bercerita.
Tentang hari ketika panggilan telepon misterius masuk, tentang Rino yang menyebut nama 'Vher,' tentang gadis pembeli martabak yang ternyata wanita itu, dan tentang kejadian di depan pintu rumah Rino yang membuat dunia Arema seakan berhenti berputar.
Setiap kata yang keluar dari mulut putrinya terasa seperti duri yang menembus hati Salma. Ia tahu betapa dalamnya Arema mencintai Rino. Ia tahu, putrinya telah banyak berkorban untuk pria itu. Tapi mendengar kenyataan kalau Rino telah mengkhianati kepercayaan anaknya membuat darahnya mendidih.
"Jadi, Rino tega selingkuh di belakang kamu?" gumam Salma menahan emosi.
Arema mengangguk lemah. "Iya, Bun, dan yang paling nyakitin, dia ngelakuin itu sama cewek lain, malah katanya cewek itu hamil."
Suara Arema terputus di ujung kalimat. Tangisnya pecah lagi. Ia menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar menahan sesak.
Salma menarik napas panjang. Ia mencoba menahan diri, tapi amarah dan kecewa beradu di dalam dadanya.
"Hem, Rema, kamu itu masih muda, Nak. Jangan buang waktu buat orang yang gak tau diri. Dengar ya, fokus dulu cari uang yang banyak. Kalau kamu punya uang, kamu bisa beli apapun yang kamu mau, termasuk laki-laki kalau mau sekadar main perasaan," katanya sinis, tapi berusaha menenangkan.
Arema menatap ibunya dengan mata basah. "Tapi masalahnya, Bun, aku ...." Suaranya melemah.
"Kenapa?" Salma langsung menatap tajam.
Arema terdiam cukup lama. Napasnya tercekat, lidahnya kelu. Ia ingin jujur, tapi takut. Takut ibunya marah, takut dianggap hina. Tapi pada akhirnya, air mata yang terus menetes membuatnya tak kuat lagi menutupi segalanya.
"Aku sama Rino udah ngelakuin itu, Bun ...."
Ruangan langsung memanas. Waktu seakan berhenti di detik itu. Salma menatap putrinya dengan mata melebar, wajahnya pucat, darahnya seperti berhenti mengalir. "Apa?!" Suaranya serak.
Arema menatap ibunya dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Aku udah nyerahin semuanya ke dia, Bun. Aku kira dia serius, aku kira dia bakal nikahin aku. Aku percaya, aku sayang banget sama dia."
PLAAKK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi chubby Arema. Suaranya menggema ke seluruh dapur. Arema terhuyung, garpunya jatuh ke lantai, dan mie di mangkuknya tumpah sebagian.
Air matanya menetes deras, bukan hanya karena sakit di pipi, tapi juga karena luka di hatinya yang semakin dalam.
"Gila kamu, Rema!" seru Salma dengan suara bergetar. "Bunda pernah bilang kan?! Kamu boleh pacaran, tapi jangan sampai kebablasan sebelum sah jadi istri! Tapi kamu langgar semua itu! Sekarang kamu rasain sendiri akibatnya!"
"Bun, aku nyesel." Suara Arema nyaris tak terdengar, tubuhnya gemetar hebat.
"Nyeseeel?!" bentak Salma lagi. "Nyesel buat apa kalau semuanya udah kejadian? Kamu perempuan, Rema! Harga diri kamu itu harus dijaga! Sekarang siapa yang mau tanggung jawab, hah?! Rino itu udah ngancurin kamu, dan kamu malah nangisin dia!"
Air mata Arema semakin deras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku gak tahu harus gimana, Bun, aku cuma pengin semuanya balik kayak dulu."
Salma menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin memeluk putrinya, tapi amarahnya masih menutup rasa kasihnya. Ia tahu Arema korban dari cinta buta, tapi ia juga tahu, semua sudah terlambat.
"Ya Tuhan," gumam Salma lirih, menatap langit-langit dapur yang gelap. "Kenapa anak ini gak nurut sama aku."
Tiba-tiba, dari dalam kamar terdengar suara berat seorang pria. "Ada apa ini? Malem-malem kok ribut-ribut?" suara Wawan. Ia pun keluar menghampiri anak dan istrinya.
"Lihat, anak kamu, Yah, tambah besar bukannya banggain orang tua malah ...."
Belum selesai Salma bicara, Arema sudah lebih dulu bangkit dari kursinya. Ia tak ingin ayahnya tahu. Ia tak ingin menambah malu yang sudah menyesakkan dadanya. Tanpa bicara apa pun, ia berlari ke arah kamarnya, langkahnya terburu, air matanya berceceran di lantai ubin.
Pintu kamar dibanting keras, Braaakk! suara itu membuat Salma terdiam di dapur, matanya kosong menatap mangkuk mie yang kini tumpah di atas meja. Uap panasnya telah lenyap, berganti dingin seperti suasana malam itu.
Wawan mengerutkan dahi. "Kenapa dia?" tanyanya bingung.
"Biasa, Yah, masalah cowok." Salma berusaha tersenyum.
Wawan mendengus pendek lalu mengangguk pelan. "Ya udah, jangan dimarahin terus, nanti malah makin stres anaknya." Ia kembali masuk ke kamar tanpa tahu badai apa yang baru saja menghantam rumah mereka.
Salma berdiri lama di dapur. Air matanya jatuh tanpa suara. Antara marah dan sedih, antara kecewa dan kasihan. Ia menahan diri untuk bercerita ke suaminya. Menunggu waktu yang tepat.
Sementara di dalam kamar, Arema terisak di atas ranjangnya. Ia memegangi pipi yang memerah karena tamparan ibunya, lalu memeluk bantal dengan erat.
"Rino," bisiknya lirih. "Kenapa kamu tega banget sama aku?"
Ia menatap langit-langit kamarnya yang gelap, lalu menarik selimut hingga menutupi wajah. Tubuhnya bergetar, bibirnya bergetar menahan tangis.
Dan tepat ketika ia mulai terlelap dengan mata bengkak, ponselnya yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar. Layar menyala. Sebuah nama muncul di sana — Rino.
Arema terdiam. Napasnya tercekat. Tangannya gemetar ketika hendak meraih ponsel itu.
"Rino?" bisiknya pelan.
Jantungnya berdetak cepat. Ia tak tahu, apakah harus menjawab atau membiarkan panggilan itu berlalu. Tapi rasa penasaran dan rindu bercampur menjadi satu.
Ia menatap layar itu beberapa detik sampai akhirnya ....
Panggilan itu terputus. Layar kembali gelap.
Dan malam itu, hanya suara tangis pelan yang menemani Arema dalam kesunyian.