Pacarku Menikah dengan Orang Lain Awal kehancuran
4/20
Bab 4

Awal kehancuran

Pagi itu udara di rumah Rino terasa berat. Matahari belum tinggi, tapi hawa panas dari dalam rumah sudah lebih menyengat daripada terik di luar. Di ruang tamu kecil yang berlantai semen, suara sepatu sandal menghentak-hentak dari arah pintu depan.

"Mas, aku udah bilang kan, gak usah nunggu! Aku sanggup biayain semua!" Suara Vheronika terdengar tinggi, menusuk dan memecah keheningan pagi.

Rino duduk di kursi tua, wajahnya letih. Ia menatap lantai, jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu yang berat dari dalam dadanya. "Vher, tolong jangan ngomong keras-keras. Tetangga bisa denger," ucapnya pelan.

Vheronika mendengus, lalu menatapnya dengan tajam. "Aku gak peduli tetangga mau ngomong apa. Aku cuma mau kamu tanggung jawab. Aku gak butuh janji, aku butuh tindakan. Nikahin aku, Mas."

"Bukan gitu, Vher. Aku ... aku gak enak sama orang tua kamu." Suara Rino bergetar. "Mereka pasti kecewa kalau tahu semua ini. Lagian, aku belum siap. Aku harus kumpulin uang dulu."

"Gak usah ngumpulin duit!" potong Vher cepat. "Aku bisa biayain semuanya, Mas! Kamu tinggal bilang iya, selesai!"

Rino menatapnya lama. Ada rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan. "Bukan masalah uang aja, Vher. Aku gak mau keliatan kayak numpang hidup sama kamu. Aku laki-laki. Punya harga diri."

"Laki-laki apaan?" Vheronika membalas dengan nada tinggi. "Laki-laki yang cuma bisa janji tapi lari pas masalah datang? Kalau kamu bener laki-laki, kamu gak bakal ninggalin aku pas tau aku hamil!"

Rino memejamkan mata. Napasnya berat. Ia tahu Vheronika benar, tapi hatinya tak juga tenang. Ia masih memikirkan satu nama. Arema. Gadis yang pernah ia buat tertawa, kini mungkin sedang menangis entah di mana.

"Udahlah," kata Vher akhirnya, dengan nada dingin. "Aku bakal cerita semuanya ke orang tuaku. Biar mereka tahu siapa kamu sebenarnya."

"Vher, jangan." Rino hendak menahan, tapi langkah Vheronika sudah pergi meninggalkan rumah. Pintu tertutup keras, menyisakan debu yang berterbangan.

Sunyi suasana mendadak sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak, satu-satu, seperti menghitung waktu menuju bencana.

Tak lama kemudian, dari kamar dalam, muncul seorang wanita paruh baya. Rambutnya sudah sebagian memutih, wajahnya lelah tapi masih menyimpan sisa keanggunan masa muda. Dialah Ida, ibu Rino, seorang janda yang sudah lama hidup sederhana setelah suaminya meninggal dunia.

"Ada apa sih, Rin? Dari kemarin kamu berantem terus sama Vhero?" tanyanya sambil menaruh sapu di pojok ruangan.

Rino menunduk. Ia tahu ia tak bisa lagi menutupi apa yang terjadi. "Bu, Vhero hamil."

Kata-kata itu menggema di antara dinding rumah sempit itu. Ida terpaku, kedua matanya membulat, tangan yang tadi menggenggam sapu kini gemetar hebat.

"Apa?" Suaranya parau. "Kamu bilang Vhero hamil? Astaghfirullah, Rino! Kamu gila ya, Nak?!"

Rino menunduk semakin dalam, tak berani menatap ibunya. "Aku gak sengaja, Bu. Semua terjadi begitu aja, aku ...."

"Begitu aja?" Ida memotong dengan suara tinggi. "Kamu pikir anak orang bisa hamil begitu aja?! Astaghfirullah, Rino, kamu itu gimana sih? Kalau Arema tahu gimana?!"

Rino menggigit bibir. Nama itu lagi. Nama yang membuat hatinya terasa dicengkeram kuat. Ia tak sanggup menjawab.

Ida berjalan mondar-mandir di ruang tamu, menepuk keningnya berkali-kali. "Kita ini orang gak punya, Rin! Biaya nikah itu mahal! Kamu kerja di toko kelontong aja gajinya gak sampai dua juta. Mau kasih makan apa anak orang nanti?"

"Katanya Vhero mau biayain semua, Bu," ucap Rino lirih.

Ida langsung berhenti melangkah. Tatapannya tajam menusuk anak laki-lakinya itu. "Ya malu lah, Rin!" Suaranya meninggi lagi. "Kamu itu laki-laki! Harusnya kamu yang nanggung jawab, bukan malah dinafkahin perempuan! Emang kamu tega hidup numpang dari duit cewek, Rin? Gak ada harga diri apa?"

Rino menunduk dalam, bahunya merosot. Semua yang dikatakan ibunya benar. Tapi rasa bingung dan takut membuatnya tak mampu berbuat apa-apa.

"Aku bingung, Bu. Aku bener-bener gak tahu harus ngelakuin apa."

"Yang kamu harus lakuin sekarang cuma satu, Rin," kata Ida dengan suara mulai melemah. "Minta ampun sama Tuhan. Kamu udah jatuhin nama keluarga ini. Ibu malu, Rin, aku malu banget." Matanya berkaca-kaca. Ia berbalik masuk ke kamarnya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.

Rino hanya bisa duduk di kursi itu, sendirian. Pandangannya kosong menatap pintu yang baru saja ditutup ibunya. Dalam diam, pikirannya dipenuhi dua wajah. Vheronika yang menuntut, dan Arema yang dulu tersenyum hangat padanya. Dua dunia yang kini saling bertabrakan, dan ia terjebak di tengahnya.

Sementara itu, di rumah yang berbeda, suasana jauh lebih sunyi.

Arema belum benar-benar pulih dari luka seminggu yang lalu. Hari-harinya berjalan datar. Ia tak lagi membuka kios martabak seperti biasanya. Kompor dan wajan dibiarkan tergeletak begitu saja, menumpuk debu di meja kayu.

Ia duduk di pinggir ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Cahaya matahari pagi menembus tirai, menyoroti wajahnya yang pucat. Matanya sembab, bibirnya kering.

Setiap kali mencoba tidur, mimpi tentang Rino selalu datang. Tentang janji, tentang tawa, tentang cinta yang dulu terasa begitu nyata. Tapi kini semua itu tinggal kenangan pahit.

Ia memejamkan mata, dan air mata kembali turun pelan. "Kenapa harus aku yang dikhianatin?" bisiknya lirih.

Arema menatap dirinya di cermin. Rambutnya kusut, wajahnya tidak terurus. Ia nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Dalam benaknya terlintas semua kenangan sejak awal ia mengenal Rino. Dari tatapan pertama, dari cara Rino memperlakukannya dengan lembut, hingga kepercayaan penuh yang ia berikan tanpa syarat.

Ia menggenggam ujung bantal, matanya mulai basah lagi. " Aku terlalu percaya, terlalu bodoh," gumamnya.

Ia teringat saat pertama kali Rino memintanya untuk percaya sepenuhnya, malam di mana ia menyerahkan segalanya, bukan karena paksaan, tapi karena cinta. Karena ia yakin, Rino adalah laki-laki yang akan menjaganya seumur hidup.

Arema teringat siang itu, matahari bersinar terik di luar rumah, tapi udara di dalam kamar Rino terasa sejuk. Hari itu adalah Minggu pertama setelah satu minggu mereka resmi berpacaran. Semuanya masih terasa baru, manis, dan penuh euforia cinta.

Rumah Rino sepi. Bu Ida sedang ada acara arisan di tempat kerabatnya yang rumahnya lumayan jauh, dan Bu Ida bilang bahwa ia akan pulang agak malam. Mereka makan siang bersama, menonton film, lalu akhirnya berbicara berdua di kamar Rino.

Obrolan mereka siang itu ringan, seperti biasanya. Tentang masa depan, tentang impian, tentang keinginan untuk selalu bersama. Rino menggenggam tangan Arema erat, matanya menatap dalam dengan cara yang membuat jantung Arema berdebar.

"Aku serius sama kamu," ucap Rino lirih. "Aku nggak main-main. Aku mau hubungan ini selamanya."

Arema percaya. Ia menatap mata Rino dan menemukan keyakinan di sana. Keyakinan bahwa lelaki itu akan menjadi rumah terakhirnya. Keyakinan bahwa cinta ini akan berlabuh pada kisah yang indah.

Mereka berdua saling berpandangan, kemudian berpagutan mesra. Tangan Rino bergerak liar menelusup masuk ke baju Arema, dan berhenti di kedua gunung. Rino meremasnya penuh nafsu sembari bibirnya trus memainkan lidah.

"Ah ...." Arema mendesah lirih membuat Rino semakin bergairah. Kemudian Rino menanggalkan pakaian Arema satu persatu.

Kini tubuh Arema polos tanpa sehelai benang pun. Perlahan Rino menghisap pucuk gunung Arema dan memainkan dengan lidahnya. Tubuh Arema menggeliat keenakan.

"Yank, udah dong," mohon Arema namun Rino tak memperdulikan. Ia terus menghisap mainannya, kemudian tangannya meraba area sensitif Arema dan meremasnya lembut.

Arema semakin tak berdaya, ia hanyut dalam belaian Rino. Kemudian giliran Riko melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Terlihat pedangnya mengeras.

Rino pun memasukkan pedangnya ke dalam sarangnya. Dengan sigap Arema mendorong tubuh Rino. "Mas, kamu mau ngapain?"

"Ayolah, mumpung ibuku gak ada, kita nikmatin moment ini," bisik Rino.

"Mas, aku gak mau, ini udah kelewat batas," tolak Arema.

"Aku janji, aku bakal tanggung jawab," kata Rino yang kini telah dikuasai napsu bejadnya.

Setelah terus diyakinkan berkali-kali, akhirnya Arema pasrah. Mereka pun bergulat di atas ranjang.

Selesai permainan, mereka berdua terkulai lemas dan saling memeluk. Di sprei putih, tertinggal bercak merah, pertanda bahwa Arema masih suci.

Arema pun menutup mata, mencoba melupakan kejadian itu ....


Kini semua keyakinan itu retak. Arema menatap ke langit-langit kamar, berusaha menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh orang tuanya di luar. Ada bagian dari dirinya yang terasa hilang, seolah sesuatu yang berharga telah diambil dan tidak mungkin kembali.

"Aku gak trima diginiin, Rino. Dan sampe kapan pun, aku gak rela kamu sama cewek lain."Pagi itu udara di rumah Rino terasa berat. Matahari belum tinggi, tapi hawa panas dari dalam rumah sudah lebih menyengat daripada terik di luar. Di ruang tamu kecil yang berlantai semen, suara sepatu sandal menghentak-hentak dari arah pintu depan.

"Mas, aku udah bilang kan, gak usah nunggu! Aku sanggup biayain semua!" Suara Vheronika terdengar tinggi, menusuk dan memecah keheningan pagi.

Rino duduk di kursi tua, wajahnya letih. Ia menatap lantai, jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu yang berat dari dalam dadanya. "Vher, tolong jangan ngomong keras-keras. Tetangga bisa denger," ucapnya pelan.

Vheronika mendengus, lalu menatapnya dengan tajam. "Aku gak peduli tetangga mau ngomong apa. Aku cuma mau kamu tanggung jawab. Aku gak butuh janji, aku butuh tindakan. Nikahin aku, Mas."

"Bukan gitu, Vher. Aku ... aku gak enak sama orang tua kamu." Suara Rino bergetar. "Mereka pasti kecewa kalau tahu semua ini. Lagian, aku belum siap. Aku harus kumpulin uang dulu."

"Gak usah ngumpulin duit!" potong Vher cepat. "Aku bisa biayain semuanya, Mas! Kamu tinggal bilang iya, selesai!"

Rino menatapnya lama. Ada rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan. "Bukan masalah uang aja, Vher. Aku gak mau keliatan kayak numpang hidup sama kamu. Aku laki-laki. Punya harga diri."

"Laki-laki apaan?" Vheronika membalas dengan nada tinggi. "Laki-laki yang cuma bisa janji tapi lari pas masalah datang? Kalau kamu bener laki-laki, kamu gak bakal ninggalin aku pas tau aku hamil!"

Rino memejamkan mata. Napasnya berat. Ia tahu Vheronika benar, tapi hatinya tak juga tenang. Ia masih memikirkan satu nama. Arema. Gadis yang pernah ia buat tertawa, kini mungkin sedang menangis entah di mana.

"Udahlah," kata Vher akhirnya, dengan nada dingin. "Aku bakal cerita semuanya ke orang tuaku. Biar mereka tahu siapa kamu sebenarnya."

"Vher, jangan." Rino hendak menahan, tapi langkah Vheronika sudah pergi meninggalkan rumah. Pintu tertutup keras, menyisakan debu yang berterbangan.

Sunyi suasana mendadak sunyi. Hanya suara jam dinding yang berdetak, satu-satu, seperti menghitung waktu menuju bencana.

Tak lama kemudian, dari kamar dalam, muncul seorang wanita paruh baya. Rambutnya sudah sebagian memutih, wajahnya lelah tapi masih menyimpan sisa keanggunan masa muda. Dialah Ida, ibu Rino, seorang janda yang sudah lama hidup sederhana setelah suaminya meninggal dunia.

"Ada apa sih, Rin? Dari kemarin kamu berantem terus sama Vhero?" tanyanya sambil menaruh sapu di pojok ruangan.

Rino menunduk. Ia tahu ia tak bisa lagi menutupi apa yang terjadi. "Bu, Vhero hamil."

Kata-kata itu menggema di antara dinding rumah sempit itu. Ida terpaku, kedua matanya membulat, tangan yang tadi menggenggam sapu kini gemetar hebat.

"Apa?" Suaranya parau. "Kamu bilang Vhero hamil? Astaghfirullah, Rino! Kamu gila ya, Nak?!"

Rino menunduk semakin dalam, tak berani menatap ibunya. "Aku gak sengaja, Bu. Semua terjadi begitu aja, aku ...."

"Begitu aja?" Ida memotong dengan suara tinggi. "Kamu pikir anak orang bisa hamil begitu aja?! Astaghfirullah, Rino, kamu itu gimana sih? Kalau Arema tahu gimana?!"

Rino menggigit bibir. Nama itu lagi. Nama yang membuat hatinya terasa dicengkeram kuat. Ia tak sanggup menjawab.

Ida berjalan mondar-mandir di ruang tamu, menepuk keningnya berkali-kali. "Kita ini orang gak punya, Rin! Biaya nikah itu mahal! Kamu kerja di toko kelontong aja gajinya gak sampai dua juta. Mau kasih makan apa anak orang nanti?"

"Katanya Vhero mau biayain semua, Bu," ucap Rino lirih.

Ida langsung berhenti melangkah. Tatapannya tajam menusuk anak laki-lakinya itu. "Ya malu lah, Rin!" Suaranya meninggi lagi. "Kamu itu laki-laki! Harusnya kamu yang nanggung jawab, bukan malah dinafkahin perempuan! Emang kamu tega hidup numpang dari duit cewek, Rin? Gak ada harga diri apa?"

Rino menunduk dalam, bahunya merosot. Semua yang dikatakan ibunya benar. Tapi rasa bingung dan takut membuatnya tak mampu berbuat apa-apa.

"Aku bingung, Bu. Aku bener-bener gak tahu harus ngelakuin apa."

"Yang kamu harus lakuin sekarang cuma satu, Rin," kata Ida dengan suara mulai melemah. "Minta ampun sama Tuhan. Kamu udah jatuhin nama keluarga ini. Ibu malu, Rin, aku malu banget." Matanya berkaca-kaca. Ia berbalik masuk ke kamarnya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.

Rino hanya bisa duduk di kursi itu, sendirian. Pandangannya kosong menatap pintu yang baru saja ditutup ibunya. Dalam diam, pikirannya dipenuhi dua wajah. Vheronika yang menuntut, dan Arema yang dulu tersenyum hangat padanya. Dua dunia yang kini saling bertabrakan, dan ia terjebak di tengahnya.

Sementara itu, di rumah yang berbeda, suasana jauh lebih sunyi.

Arema belum benar-benar pulih dari luka seminggu yang lalu. Hari-harinya berjalan datar. Ia tak lagi membuka kios martabak seperti biasanya. Kompor dan wajan dibiarkan tergeletak begitu saja, menumpuk debu di meja kayu.

Ia duduk di pinggir ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Cahaya matahari pagi menembus tirai, menyoroti wajahnya yang pucat. Matanya sembab, bibirnya kering.

Setiap kali mencoba tidur, mimpi tentang Rino selalu datang. Tentang janji, tentang tawa, tentang cinta yang dulu terasa begitu nyata. Tapi kini semua itu tinggal kenangan pahit.

Ia memejamkan mata, dan air mata kembali turun pelan. "Kenapa harus aku yang dikhianatin?" bisiknya lirih.

Arema menatap dirinya di cermin. Rambutnya kusut, wajahnya tidak terurus. Ia nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Dalam benaknya terlintas semua kenangan sejak awal ia mengenal Rino. Dari tatapan pertama, dari cara Rino memperlakukannya dengan lembut, hingga kepercayaan penuh yang ia berikan tanpa syarat.

Ia menggenggam ujung bantal, matanya mulai basah lagi. " Aku terlalu percaya, terlalu bodoh," gumamnya.

Ia teringat saat pertama kali Rino memintanya untuk percaya sepenuhnya, malam di mana ia menyerahkan segalanya, bukan karena paksaan, tapi karena cinta. Karena ia yakin, Rino adalah laki-laki yang akan menjaganya seumur hidup.

Arema teringat siang itu, matahari bersinar terik di luar rumah, tapi udara di dalam kamar Rino terasa sejuk. Hari itu adalah Minggu pertama setelah satu minggu mereka resmi berpacaran. Semuanya masih terasa baru, manis, dan penuh euforia cinta.

Rumah Rino sepi. Bu Ida sedang ada acara arisan di tempat kerabatnya yang rumahnya lumayan jauh, dan Bu Ida bilang bahwa ia akan pulang agak malam. Mereka makan siang bersama, menonton film, lalu akhirnya berbicara berdua di kamar Rino.

Obrolan mereka siang itu ringan, seperti biasanya. Tentang masa depan, tentang impian, tentang keinginan untuk selalu bersama. Rino menggenggam tangan Arema erat, matanya menatap dalam dengan cara yang membuat jantung Arema berdebar.

"Aku serius sama kamu," ucap Rino lirih. "Aku nggak main-main. Aku mau hubungan ini selamanya."

Arema percaya. Ia menatap mata Rino dan menemukan keyakinan di sana. Keyakinan bahwa lelaki itu akan menjadi rumah terakhirnya. Keyakinan bahwa cinta ini akan berlabuh pada kisah yang indah.

Mereka berdua saling berpandangan, kemudian berpagutan mesra. Tangan Rino bergerak liar menelusup masuk ke baju Arema, dan berhenti di kedua gunung. Rino meremasnya penuh nafsu sembari bibirnya trus memainkan lidah.

"Ah ...." Arema mendesah lirih membuat Rino semakin bergairah. Kemudian Rino menanggalkan pakaian Arema satu persatu.

Kini tubuh Arema polos tanpa sehelai benang pun. Perlahan Rino menghisap pucuk gunung Arema dan memainkan dengan lidahnya. Tubuh Arema menggeliat keenakan.

"Yank, udah dong," mohon Arema namun Rino tak memperdulikan. Ia terus menghisap mainannya, kemudian tangannya meraba area sensitif Arema dan meremasnya lembut.

Arema semakin tak berdaya, ia hanyut dalam belaian Rino. Kemudian giliran Riko melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Terlihat pedangnya mengeras.

Rino pun memasukkan pedangnya ke dalam sarangnya. Dengan sigap Arema mendorong tubuh Rino. "Mas, kamu mau ngapain?"

"Ayolah, mumpung ibuku gak ada, kita nikmatin moment ini," bisik Rino.

"Mas, aku gak mau, ini udah kelewat batas," tolak Arema.

"Aku janji, aku bakal tanggung jawab," kata Rino yang kini telah dikuasai napsu bejadnya.

Setelah terus diyakinkan berkali-kali, akhirnya Arema pasrah. Mereka pun bergulat di atas ranjang.

Selesai permainan, mereka berdua terkulai lemas dan saling memeluk. Di sprei putih, tertinggal bercak merah, pertanda bahwa Arema masih suci.

Arema pun menutup mata, mencoba melupakan kejadian itu ....


Kini semua keyakinan itu retak. Arema menatap ke langit-langit kamar, berusaha menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh orang tuanya di luar. Ada bagian dari dirinya yang terasa hilang, seolah sesuatu yang berharga telah diambil dan tidak mungkin kembali.

"Aku gak trima diginiin, Rino. Dan sampe kapan pun, aku gak rela kamu sama cewek lain."