Melodi Cinta di Teater Keong Pemandu yang tak diminta
2/30
Bab 2

Pemandu yang tak diminta

Bab 2 : Pemandu yang Tidak Diminta

Rani berdiri di depan anjungan pertama yang ia temui. Anjungan Sumatera Barat. Bangunan rumah gadang yang megah itu tampak fotogenik, tapi Rani tetap saja tidak bisa merasakan 'klik' yang ia cari. Ia mengangkat kamera, menekan record, lalu menurunkannya lagi.

“Hm, apa yang harus kubuat dari sini?” gumamnya. “Sejarah? Arsitektur? Komedi? Semua terasa garing.”

Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Udara siang mulai hangat, tapi tidak sepanas kecemasan yang makin menggerogoti pikirannya. Bagas tadi? Gangguan kecil yang lucu, tapi tidak ada alasan untuk bertemu lagi. Tidak ada.

“Kenapa kayak orang habis patah hati?” Rani kaget. Kameranya hampir terlempar lagi dari tangannya. Ia menoleh.

Bagas.

Seperti muncul dari balik alam gaib atau dari semak-semak. Ia berdiri santai sambil membawa gong kecilnya yang kini tergantung di tas kain selempang.

“Kamu ngikutin aku?” Rani bertanya dengan alis terangkat tinggi.

“Eh? Ngikutin?” Bagas tertawa. “Ini jalur kerjaan saya. Saya relawan pemandu di TMII. Saya muter area ini tiap hari. Kalau kita ketemu lagi, itu namanya… jod.”

“No.” Rani memotong cepat. “Jangan lanjutkan kalimat itu.”

Bagas menaikkan kedua tangan. “Oke, oke. Belum, ya.”

“Bukan belum. Memang tidak.”

“Ya, tapi kalau semesta berkata lain?”

Rani memijat keningnya dengan dua jari. “Aku pusing.”

Bagas malah tersenyum seperti baru menang undian. “Bagus. Kalau pusing, biasanya itu gejala butuh pemandu.”

“Aku tidak but.”

“Tunggu.” Bagas menunjukkan lencana yang tergantung di kantong kemejanya. “Lihat? Lencana resmi. Berarti aku qualified.”

Rani mendengus kecil. “Aku cuma butuh lakukan observasi, bukan tur.”

“Observasi tanpa pemandu itu kayak jalan ke minimarket tanpa uang. Banyak yang bisa dilihat, tapi nggak bisa diapa-apain.”

Rani menatapnya lama, mencoba menilai apakah ia sedang berbicara dengan manusia atau stand up comedian yang sedang nyasar.

Bagas melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih serius, “Kamu bikin konten tentang TMII, kan? Soal budaya? Soal nasionalisme? Mau bagus, ya harus ngerti konteksnya.”

Hmm. Rani terdiam. Ada benarnya juga.

Bagas melangkah lebih dekat, menunjuk rumah gadang. “Contoh, banyak orang cuma lihat bentuknya yang unik. Padahal di baliknya ada filosofi tentang keselarasan hidup, tentang rumah yang selalu terbuka buat tamu, tentang identitas. Kalau cuma direkam tanpa paham cerita, videonya bakal hambar.”

Rani terkejut. Lho, kok dia bisa bicara seserius itu?

“Bagas,” Rani menatapnya curiga. “Kamu musisi atau dosen budaya sih?”

Bagas mengembang puff pipinya. “Multitalenta.”

Rani memutar bola mata, tapi hatinya mulai goyah. Ucapan Bagas punya nilai dan bisa membantu pekerjaannya.

Lalu Bagas mengulurkan tangan seperti pramugara menawarkan minuman. “Tur singkat. Sehari aja. Kalau kamu tidak dapat inspirasi setelah itu, aku traktir es kelapa muda di Danau Arsipel.”

Rani berkedip. “Dan kalau aku dapat inspirasi?”

“Kamu yang traktir.”

Rani tertawa kecil. “Kamu percaya banget bakal menang, ya?”

“Saya optimis. Dan saya suka es kelapa.”

Rani menghela napas panjang. “Baik, tapi aku ikut cuma buat kerja. Harusnya paham ya?”

“Setuju. Saya juga kerja. Tidak akan baper,” kata Bagas sambil menepuk dadanya.

Lima detik kemudian, ia menambahkan, “tapi kalau kamu baper duluan gimana?”

“BAGAS!” seru Rani.

“Oke, oke! Ayo mulai tur!”


Mereka berjalan menuju area anjungan lainnya. Bagas menjelaskan setiap sudut TMII dengan semangat yang terlalu enerjik untuk ukuran manusia normal. Tapi justru itu yang membuat Rani, tanpa sadar, mulai ikut menikmati suasana.

“Di sini Anjungan Kalimantan Barat,” jelas Bagas. “Orang suka pikir ini cuma rumah pajangan biasa. Padahal tiap ukiran itu ada artinya. Lihat ini, motif naga. Ini simbol persatuan dan kekuatan bagi masyarakat Dayak.”

Rani mengangguk sambil merekam.

“Terus ini.” Bagas menunjuk salah satu ukiran daun. “Ini bukan hiasan random. Ini lambang filosofi kehidupan yang berkelanjutan.”

“Wow!” Rani mulai menulis catatan. “Kamu tahu banyak, ya.”

“Saya cinta TMII dan cinta budaya Indonesia.”

Ia melirik Rani. “Bisa juga cinta hal-hal lain sih.”

“Stop!” Rani menutup mulut Bagas dengan buku catatan.

Bagas tertawa geli. “Hehe, masih belajar ngerem.”

Mereka melanjutkan perjalanan melewati Taman Burung. Suara kicau burung menyatu dengan hembusan angin yang lembut. Rani mengambil foto, video dan sesekali memejam mata merasakan suasananya.

“Aku baru sadar TMII tuh seluas ini,” gumamnya.

“Kebanyakan orang nggak sadar. Mereka pikir TMII itu cuma tempat field trip anak sekolah atau tempat foto prewed,” kata Bagas sambil membetulkan topi kainnya. “Padahal ini miniatur jiwa Indonesia.”

Kalimat itu membuat Rani berhenti berjalan.

“Miniatur jiwa Indonesia.” Ia mengulanginya pelan. Lalu ia tersenyum kecil. “Kedengarannya bagus jadi tagline video.”

Bagas tampak bangga. “Silakan diambil. Gratis, tapi nanti es kelapanya dua gelas ya.”

“Bukannya tadi satu?”

“Inflasi.”

Rani tertawa lagi, ketiga kalinya sejak bertemu Bagas pagi ini. Aneh sekali. Ia datang ke TMII dengan kepala berat, tapi sekarang seperti ada yang membuka gembok di dadanya.

Mereka naik kereta gantung. Dari atas, seluruh kompleks TMII terlihat jelas. Danau Arsipel memantulkan cahaya matahari yang lembut. Anjungan daerah tampak seperti miniatur negeri dongeng.

Rani memegang kamera dan merekam panorama luar biasa itu. “Ini, indah banget.”

Bagas ikut menatap keluar jendela. Suaranya lebih pelan, lebih tulus. “Indonesia itu indah. Kadang kita lupa lihatnya.”

Rani menoleh padanya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Bagas bukan sebagai penganggu atau badut yang terlalu banyak bicara, tetapi seseorang yang benar-benar mencintai negeri ini dan tanpa ia sadari, rekamannya terus berjalan mengambil momen ketika Rani menatap Bagas lama, terlalu lama.

Bagas menyadarinya. “Kenapa ngeliatin saya seperti itu? Ada daun nempel?”

Rani tersentak dan buru-buru memalingkan wajah. “Tidak! Aku cuma, euh, apa ya? Awan! Iya. Awan bagus.”

“Awannya cuma bentuk pentol korek, Mbak.”

“Ya itu yang bagus!”

Bagas tersenyum puas seperti menang lomba. “Oke. Kalau kamu bilang begitu.”


Setelah turun dari kereta gantung, mereka menuju Museum Indonesia. Di sana, lampu-lampu interior membuat ruangan terlihat megah dan sakral.

Rani berjalan perlahan, kagum. “Aku lupa museum ini sekeren ini.”

Bagas mengambil brosur museum, tetapi malah menggunakan brosur itu sebagai kipas. “Kalau bikin video, kamu bisa mulai dari sini. Museum Indonesia itu kesannya agung. Cocok buat narasi tentang kebanggaan nasional.”

Rani mengangguk, merekam setiap detail. “Aku suka. Ada rasa, Indonesia banget.”

Tiba-tiba Bagas berdiri di tengah ruangan dan membentangkan tangan.

“Nah, di sinilah, kalau mau dramatis kamu bisa buka narasi. Indonesia bukan hanya warna dan bentuk. Indonesia adalah cerita tentang manusia.”

Rani terpaku.

“Hei, itu bagus banget,” bisiknya.

Bagas tersenyum. “Ambil lagi. Gratis, tapi nanti.”

“Es kelapa tiga gelas. Iya, iya.”

Mereka berjalan keluar museum ketika tiba-tiba.

“Rani?” Sebuah suara perempuan terdengar dari belakang.

Rani menoleh dan matanya melebar.

“Dina?” tanyanya kaget.

Rekan sekantornya berdiri di sana, lengkap dengan kamera dan tripod.

“Aku lagi observasi TMII juga,” kata Dina sambil menaikkan alis, “tapi kamu sama siapa tuh?” Ia menatap Bagas dari ujung rambut sampai sepatu dengan senyum menyelidik. “Cowok baru, ya?”

“Eum? Bukan!” Rani cepat menyangkal. “Dia cuma pemandu!”

Dina semakin tersenyum jail. “Eum, gitu ya!”

Bagas melambaikan tangan sopan. “Halo, saya Bagas. Nada gong cinta pertama.”

“Apa sih, Bagas?!” Rani membisiki panik.

Dina nyaris meledak karena menahan tawa. “Oke, nanti aku cerita-cerita di kantor deh!”

“Dina, jangan!” Rani mencoba mengejar Dina, tapi perempuan itu sudah lari kecil sambil memegang kameranya.

Bagas mengusap dagu. “Temanmu lucu.”

“Kamu yang bikin masalah!”

“Masalah yang manis nggak apa-apa dong.”

“BAGAS!!”


Matahari sudah miring ketika mereka sampai kembali di area danau. Angin sore membuat suasana terasa syahdu. Rani duduk di pinggir dermaga kayu, menatap air tenang yang memantulkan siluet pulau-pulau mini.

Ia menghela napas lega. “Aneh, tapi aku merasa lebih hidup hari ini.”

“Karena kamu kerja sambil senyum?” tanya Bagas sambil duduk di sampingnya.

Mereka terdiam sejenak. Rani menatap kameranya. “Aku dapat banyak inspirasi. Banyak banget.”

Bagas menatapnya diam-diam dan di momen itu, Rani tiba-tiba merasa jantungnya memukul dadanya lebih keras. Suasana terlalu damai. Terlalu indah. Terlalu berpotensi berbahaya.

Ia berdiri cepat. “Oke! Aku pulang dulu. Harus nulis draft!”

Bagas ikut berdiri. “Oke, tapi besok kalau kamu balik lagi.”

“Bukan untuk ketemu kamu,” potong Rani, “tapi kalau ketemu, ya masa ditolak?”

Rani mendengus, tapi bibirnya tersenyum. Ia melangkah pergi.

Bagas menatap punggung gadis itu dengan senyum perlahan.