Indonesia Itu Indah Sebenarnya
Keesokan paginya, Rani berdiri di depan gerbang TMII sambil menatap layar ponselnya. Ia membaca ulang daftar scene yang harus direkam hari ini dan beberapa footage tambahan untuk narasi yang mulai terbentuk semalam.
Ia menarik napas panjang. “Oke, aku balik bukan buat ketemu dia. Ini murni kerja. Profesional. Fokus,” tapi begitu ia melangkah melewati pintu masuk, seluruh argumentasi logis yang ia bangun sepanjang perjalanan ambruk seketika.
Bagas berdiri di sana.
Tepat di bawah plang Selamat Datang, bersandar santai pada tiang dengan satu tangan di saku, satu tangan lainnya memegang gong kecilnya lagi dan yang paling menyebalkan dari semuanya adalah senyumannya itu. Senyum lebar, cerah dan sangat percaya diri seperti ia sudah tahu Rani pasti datang.
“Oh, halo!” serunya sambil melambai seolah menyapa selebritas yang memang ia harapkan muncul.
Rani berhenti tiga langkah darinya. "Bagas, kamu nungguin aku?”
“Enggak.” Bagas menggeleng pelan, lalu mengangkat alis. “Aku cuma berdiri di sini. Menunggu pengunjung. Secara umum.”
“Pengunjung yang spesifik banget.”
“Ya, karena biasanya pengunjung lain lewat,” ujarnya mantap. “Kamu yang selalu datang tepat ke sini.”
Rani memicingkan mata. “Aku tidak selalu ke sini.”
“Dua hari berturut-turut termasuk pola, Rani.”
Rani mendecak. “Apa kamu tiap pagi mangkal di sini cuma buat.”
“Kerja,” potong Bagas cepat. “Kerja. Saya relawan. Saya ada di mana dibutuhkan.”
“Aku butuh kamu, gitu maksudmu?”
“Tidak.” Bagas tersenyum lebar, “tapi kalau kamu butuh pemandu yang penuh pesona ya, aku kebetulan tersedia.”
“Astaga!” Rani menutup wajahnya sebentar.
Bagas mencondongkan sedikit tubuhnya. “Jadi hari ini mau ke mana? Anjungan? Museum? Prosesi adat? Atau mau tur kuliner? Saya bisa rekomendasi gudeg paling enak di sisi timur TMII.”
Rani menggenggam tali tas kameranya, mencoba bersikap tegar. “Aku cuma mau rekam beberapa footage tambahan. Sendirian.”
“Siap,” jawab Bagas, "tapi aku tetap jalan bareng.”
“Bagas.”
“Aku jalan di belakang. Nggak ganggu. Kayak NPC di game.”
Rani menatapnya lama, mencoba mengerti jalur logika apa yang sebenarnya ia gunakan, tapi pada akhirnya, ia menyerah. “Fine, tapi jangan banyak komentar hari ini.”
Bagas menegakkan badan dan memberi hormat. “Baik, Bos.”
Mereka mulai berjalan masuk. Matahari masih lembut, angin pagi membuat daun-daun berdesir pelan. Suasana tidak seramai biasanya. Cocok untuk merekam.
Rani memulai dari Anjungan Sulawesi Selatan. Ia mengatur tripod, memeriksa fokus dan mulai merekam detail ukiran rumah adat. Bagas benar-benar berjalan tiga langkah di belakang, diam seperti patung, walaupun sesekali ia mengencangkan napas seolah menahan komentar.
Setelah lima menit, Rani menoleh. “Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kok, kayak orang lagi menahan bersin?”
Bagas menyerah. “Aku cuma mau bilang, itu bagian ukiran yang kamu rekam, namanya pakkaja. Itu simbol keseimbangan dalam kehidupan suku Bugis.”
Rani terdiam.
Bagas menggoyangkan jarinya. “Maaf, eh, tadi dilarang komentar ya. Lupa.”
Rani berpikir sebentar, lalu mengangkat kamera. “Sudah terlanjur. Jelaskan sekalian.”
Bagas tampak langsung hidup. Ia maju dua langkah, menunjuk ukiran sambil berbicara dengan intensitas pemandu wisata kelas nasional.
“Ukiran pakkaja ini sering dianggap sekadar hiasan. Padahal maknanya dalam banget. Simbol keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, alam dan sesama.”
Rani merekam sambil mengangguk pelan. “Itu bagus banget buat voice over.”
“Ambil,” kata Bagas. “Gratis.”
Rani menghela napas. “Tolong jangan bilang es kelapa naik jadi empat gelas.”
“Tidak kok. Tiga setengah aja.”
“Setengahnya buat siapa?”
“Buat kita minum bareng.”
Rani reflek menahan senyum, tapi gagal sepenuhnya.
Mereka melanjutkan perjalanan ke area Taman Miniatur Laut Indonesia. Danau luas itu tampak berkilau, memantulkan bentuk pulau-pulau kecil yang tersusun artistik. Rani merekam dari atas jembatan kayu panjang.
“Aku butuh angle yang lebih tinggi,” gumamnya.
Bagas menunjuk bukit kecil di dekat area itu. “Dari situ biasanya viewnya bagus.”
Rani menatap bukit itu. “Lumayan tinggi juga.”
“Kalau capek, saya gendong.”
“No!"
“Bercanda, kecuali kamu mau.”
“No, Bagas.”
Mereka menaiki bukit sambil bercanda kecil. Dari atas, panorama TMII terlihat memukau. Rani langsung sibuk dengan kameranya.
Bagas duduk di bangku kayu, memperhatikan Rani bekerja. Rani begitu fokus, begitu hidup ketika mengatur angle dan komposisi. Bagas diam-diam tersenyum.
“Aneh ya,” kata Rani sambil merekam, “aku sering ke TMII, tapi baru sekarang ngerasa tempat ini kayak penuh cerita.”
“Karena kamu baru ketemu naratornya,” jawab Bagas cepat.
Rani mengerutkan kening. “Narator?”
Bagas menyodorkan gong kecilnya. “Tokoh pendukung yang muncul tiba-tiba dengan informasi penting.”
“Tokoh pendukung yang terlalu banyak ngomong,” sahut Rani.
“Tokoh pendukung yang suka kamu omeli tapi kamu tetap temui besoknya.”
Rani menunduk sebentar, merapikan pengaturan kamera. “Aku datang buat kerja.”
“Saya juga,” jawab Bagas halus.
Hening sejenak. Angin membawa aroma rumput basah dan suara kereta gantung yang melintas di kejauhan.
Setelah selesai mengambil footage, Rani memutuskan untuk melanjutkan ke area budaya Papua. Bagas langsung kembali berada di sisinya, kali ini tanpa banyak bicara. Mungkin ia mulai mematuhi aturan.
Rumah Honai berdiri kokoh dengan atap rumbai memutar melingkar. Rani berjalan masuk ke dalam salah satu replika honai. Suasana redup, sedikit dingin.
Bagas berdiri di pintu, menjaga jarak. “Honai ini dibangun dengan filosofi kebersamaan. Biasanya ditempati laki-laki dewasa. Ada juga honai khusus perempuan.”
Rani merekam sambil mengangguk. “Kayaknya aku bisa masukkan ini sebagai penutup video. Tentang kebudayaan yang terus hidup.”
“Good choice!”
Saat keluar dari honai, Rani mendapati Bagas memandangi salah satu relief dengan ekspresi tersenyum lembut.
“Kamu beneran cinta TMII, ya?” tanya Rani tiba-tiba.
Bagas menoleh. “Banget.”
“Kok bisa?”
“Karena ini tempat pertama yang bikin saya merasa Indonesia itu besar, indah dan layak dicintai. Dari kecil saya sering dibawa Ayah ke sini. Dia suka keliling sama saya, ceritain arti ukiran, arti gerakan tari, arti warna kain. Ayah bilang, kalau kamu mau bangga sama negara sendiri, mulai dari memahami rumahmu.”
Rani terdiam.
Bagas melanjutkan dengan suara lebih pelan. “Dan TMII ini kayak rumah kedua.”
Rani mencatat kalimat itu dalam hati. “Bagus buat closing video.”
“Gratis,” jawab Bagas, tersenyum miring.
“Es kelapa jadi empat gelas, kan?”
“Lima.”
“Bagas!”
Matahari mulai menurun saat mereka mendekati Plaza Kori Agung, area yang megah dengan gerbang batu besar.
Rani mengambil beberapa shot terakhir. Saat ia sibuk memeriksa hasil rekaman, Bagas tiba-tiba mengulurkan botol air dingin.
“Kamu dari tadi belum minum.”
Rani menerimanya. “Kamu bawa bekal?”
“Enggak. Saya beli begitu lihat kamu kayak mau tumbang.”
“Aku nggak mau tumbang.”
“Makanya saya beliin,” jawab Bagas sambil mengangkat bahu.
Rani minum sambil menatapnya lama. “Kamu, perhatian banget.”
Bagas menggaruk tengkuknya. “Profesional.”
Rani melangkah lebih dekat. “Bagas.”
“Ya?”
“Profesional tidak berarti harus sebaik ini. Serius.”
Bagas menatap Rani kembali dengan mata lebih lembut. “Kalau ke kamu, saya kayak otomatis baik. Ada tombolnya kali.”
“Tombol apa?”
“Tombol ‘Rani Datang’. Langsung On.”
Rani memalingkan wajah cepat-cepat. “Aduh, kamu ini kenapa sih.”
Bagas terkekeh. “Kamu yang tanya duluan.”
Mereka kembali ke area gerbang utama saat hari mulai temaram. Langit oranye keemasan, pepohonan TMII memanjang membentuk siluet dramatis. Rani berdiri menghadap jalan keluar, memeluk kameranya.
“Hari ini produktif banget,” katanya pelan. “Kayaknya videoku bakal jadi.”
“Bagus dong,” sahut Bagas. “Besok ke sini lagi?”
“Untuk finishing footage, mungkin.”
Bagas menautkan jari di belakang kepala, pura-pura santai. “Kalau aku nunggu di pintu lagi nggak apa-apa?”
“Bagas, ih!”
“Aku nggak maksa. Cuma nanya.”
Rani menatapnya lama. Tatapan Bagas penuh harap, bukan yang memaksa, tapi yang tulus dan hangat.
Rani akhirnya menjawab pelan, hampir tidak terdengar. “Ya, kalau nunggu juga nggak apa-apa.”
Senyuman Bagas langsung mekar seperti lampu taman yang dinyalakan serentak.
“Siap. Saya standby.”
Rani tertawa kecil. “Jangan terlalu semangat.”
Bagas menggeleng cepat. “Tidak bisa.”
Mereka berdiri di sana, membiarkan hening mengisi udara.
Akhirnya Rani melangkah mundur. “Sampai ketemu besok, kalau nanti kita ‘ketemu’, itu kebetulan, kan?”
Bagas tersenyum miring. “Atau jod-,”
“Jangan lanjutkan.”
“Baik!” Bagas mengunci bibirnya dengan pose pura-pura.
Rani menggeleng sambil tertawa. Ia berbalik dan mulai berjalan ke arah parkiran, tapi sebelum ia benar-benar jauh, Bagas berseru pelan:
“Rani!”
Rani menoleh.
“Besok aku bawain es kelapa duluan.”
Rani menahan senyum. “Kan aku yang harus traktir kalau dapat inspirasi?”
“Kamu kelihatan dapat inspirasi banyak banget hari ini,” jawab Bagas, menatapnya lembut. “Aku nggak tega.”
Rani memutar bola mata, tapi pipinya memanas.
Ia berjalan pergi dengan senyum yang sulit disembunyikan dan Bagas menatap langkahnya sampai hilang dari pandangan dengan perasaan yang perlahan, sangat perlahan makin berbahaya.