Bab 5: Hati Yang Mulai Bergerak
Malam sudah turun ketika Rani sampai di rumah. Lampu ruang tengah menyala temaram, memberikan kesan hangat yang kontras dengan kekacauan pikirannya. Ia melepas sepatunya perlahan, seperti seseorang yang baru saja pulang dari perjalanan panjang, bukan perjalanan fisik, tapi perjalanan batin.
Begitu pintu kamar tertutup, Rani menaruh tas kamera di atas meja kerja. Ia duduk, memijat tengkuk, lalu membuka laptop. Ia hendak memindahkan file rekaman hari ini, tapi jari-jarinya berhenti di udara sebelum menekan tombol play.
Ia termenung.
Seharusnya ia fokus pada proyek. Seharusnya pikirannya sepenuhnya tentang alur visual, data budaya, shot angle dan narasi sejarah, tapi ada satu wajah yang terus muncul, seperti watermark yang tidak bisa dihapus.
Bagas.
Rani memejamkan mata sebentar, mencoba mengusir sensasi hangat yang memanjat ke dadanya. Ia berdeham, menepuk pipinya, ritual kecil untuk mengembalikan dirinya ke mode kerja.
“Fokus, Rani. Fokus. Ini pekerjaan,” gumamnya. Sayangnya, otaknya tidak mendengar permintaan itu.
Ketika begitu ia menekan play, layar langsung menampilkan Bagas sedang menegur anak-anak SMP dengan gaya pemandu penuh kharisma. Rani mendengus. “Astaga, kenapa aku rekam dia sepanjang ini?”
Ia memundurkan timeline sedikit. Ada klip saat Bagas tersenyum tipis ke arah Rani setelah ia membuat komentar kocak pada guru tadi. Ada juga rekaman Bagas di taman bunga, ketika ia merapikan rambutnya yang diacak angin dan yang paling fatal adalah sebuah close up Bagas ketika ia menatap Rani setelah berkata, "kamu nggak sendirian di sini."
Rani membeku. Ia menatap layar lekat-lekat.
“Kenapa aku zoom dia?” keluhnya frustasi. “Siapa yang rekam ini? Setan sinematik?”
Ia tahu jawabannya. Ia sendiri. Tanpa sadar. Tanpa niat, tapi juga tidak menolak.
Rani meletakkan kepala di atas meja, mendesah panjang. “Ya ampun, Rani, kamu kena.”
Ia bangkit lagi, mengambil napas panjang, lalu memulai proses kerja. Ia memisahkan footage TMII. Anjungan Bali, Jawa Tengah, Aceh, Taman Burung, Danau Arsipel. Ia membuat folder baru. Raw Memory Shots, isi folder itu khusus rekaman yang tidak sengaja ia ambil saat Bagas sedang menjadi Bagas.
Setelah satu jam, konsep videonya mulai terbentuk. Ia membuat draft kerangka. Sebuah pembuka tentang sejarah dan filosofi TMII, nilai budaya dari anjungan, masa kejayaan TMII sebagai destinasi keluarga, transformasi zaman dan perubahan minat masyarakat, lalu ajak kembali mencintai TMII dan penutup, harapan generasi muda.
Sederhana, tapi jujur.
Rani mengetuk meja dengan ritme pelan. “Seharusnya konsep ini nggak bikin aku emosional begini,” tapi bagian paling membuatnya tertegun adalah ketika ia memasukkan rekaman anak-anak sekolah tadi. Rani berhenti pada satu frame, anak-anak itu berlarian penuh rasa ingin tahu, sama seperti ia dulu.
Tiba-tiba ia sadar sesuatu. Proyek ini bukan sekadar kerja. Ini semacam perjalanan pribadi untuk menemukan kembali masa kecilnya, menemukan kembali makna tempat yang pernah memenuhi hidupnya dengan warna dan entah bagaimana, Bagas menjadi bagian dari itu.
Malam semakin larut. Jarum jam mendekati pukul sebelas. Setelah semua footage tersortir, Rani akhirnya menutup laptop. Matanya berat, pikirannya penuh, tapi ada kehangatan yang mengalir lembut di dadanya.
Ia berbaring di tempat tidur, menarik selimut tipis ke dada. Lampu kamar menyala redup, membuat suasana semakin nyaman. Rani membuka ponsel hanya untuk mengecek notifikasi. Namun, sebuah pesan membuatnya terhenti. Sebuah pesan dari Bagas.
"Sudah sampai rumah? Kalau belum, kabarin. Aku siap jemput, loh!"
Rani sempoyongan antara mau tertawa atau menjerit.
Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi.
Akhirnya ia jawab dengan singkat. "Udah. Lagi sorting file."
Tidak lama kemudian, balasan datang. "Sip. Semangat editingnya. Jangan begadang terlalu malam ya. Ingat, pemandu favoritmu harus kamu temui lagi nanti, jadi jangan sakit."
Rani melempar ponsel ke sisi bantal. “Kenapa sih, orang itu bisa bikin hati berdebar cuma dengan pesan standar begitu?”
Ia memeluk guling, masih kesal pada dirinya sendiri. “Ini nggak boleh. Ini cuma proyek. Ini profesional.”
Namun, kata profesional itu sama sekali tidak selaras dengan kenyataan bahwa ia sedang berguling-guling seperti remaja yang baru dapat chat dari gebetan.
Ia memejamkan mata dan di titik itulah ia terseret ke dalam mimpi.
Dalam mimpinya, TMII tampak begitu hidup. Orang-orang berjalan membawa kamera, keluarga duduk di tikar sambil makan bekal, musik daerah terdengar dari kejauhan dan angin sore mengibaskan rambut kecil Rani.
Ia melihat dirinya yang kecil, berusia sekitar delapan tahun, berlari ke arah Anjungan Bali sambil menggandeng tangan Ayah. Ayahnya tertawa lebar, memegang handycam, merekam setiap langkah kecil Rani.
“Larinya yang pelan, Ran!” suara Ibu menyusul sambil tertawa.
Rani kecil berputar, memperlihatkan gigi ompongnya ke kamera. “Ayah, rekam aku! Rekam aku!”
Ayahnya mendekat dan kamera dalam mimpi itu seolah berubah menjadi sudut pandang Ayah. Layar bergetar sedikit, mengikuti tawa Rani kecil.
Mimpi itu begitu jelas, seolah ia benar-benar kembali ke masa itu.
Semua terasa utuh, suara seruling Bali, warna-warni kain tradisional, tawa Ayah, senyum Ibu dan cahaya matahari yang jatuh di rambut kecilnya.
Rani dewasa berdiri jauh di belakang, menonton adegan itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia melihat Ayah mengangkat Rani kecil dan berkata, “suatu hari kamu bisa mengenalkan budaya kita ke banyak orang, Rani. Kamu punya mata yang lihat hal yang orang lain lewatkan.”
Dada Rani dewasa terasa sesak. Ia ingin memanggil Ayah. Ia ingin berkata ia sedang berusaha, berusaha dengan keras agar TMII kembali bernyawa, tapi sebelum ia sempat melangkah, adegan itu memudar. Angin membawa bayangan masa kecilnya pergi.
Yang muncul kemudian adalah suara lain.
Suara Bagas.
“Ternyata dari kecil kamu sudah suka rekam budaya, ya?”
Rani berbalik. Bagas berdiri di sampingnya, dalam mimpi dengan kemeja putih sederhana dan senyum itu, sebuah senyuman yang tidak pernah gagal membuat hati Rani goyah.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Rani dalam mimpi, bingung tapi tidak marah.
“Temenin kamu,” jawab Bagas santai. “Katanya kamu sendirian.”
Rani membuka mulut, tapi tidak sempat membalas. Cahaya siang memudar, digantikan cahaya subuh yang perlahan menyelinap.
Mimpinya lenyap.
Rani terbangun. Nafasnya sempat tersengal kecil. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba memahami perasaan yang membuncah.
“Apa? apa barusan itu?” gumamnya.
Ia menghela napas panjang. “Ini sudah parah.”
Namun, bukannya takut, ada sesuatu yang justru terasa hangat. Ia bangun dan duduk di tepi ranjang, menatap jendela. Langit dini hari perlahan berubah warna.
Rani meraih laptopnya lagi, entah mengapa. Ia membuka file konsep. Ia mulai menambahkan beberapa catatan baru, lebih emosional, lebih personal. Tentang bagaimana TMII bukan hanya ikon budaya, tapi juga ruang kenangan, ruang pembentuk identitas.
Saat mengetik, pikirannya kembali pada kata-kata Ayah dalam mimpi.
Lalu ke Bagas.
Rani memejamkan mata. Ia merasakan sesuatu yang pelan tapi pasti bergerak. Sesuatu yang awalnya ia takutkan, tapi kini seperti sinar kecil yang menghangatkan.
Ia menatap deretan file Bagas di folder Raw Memory Shots.
Tanpa sadar, ia tersenyum.
“Mungkin, mungkin tidak apa-apa kalau hatiku mulai bergerak,” bisiknya pelan.
Bahkan jika pergerakan itu bermula dari TMII. Bahkan jika pergerakan itu menuju seseorang bernama Bagas dan dengan hati yang sedikit lebih ringan, Rani melanjutkan pekerjaannya, sementara pagi di luar jendela menyambutnya dengan lembut, seolah TMII di masa kecilnya dan bahkan Bagas, sedang berkata, "selamat datang di awal yang baru."