bold text
Pagi ketiga. Pintu masuk TMII.
Rani berdiri sambil mengembuskan napas panjang, mencoba terlihat setenang mungkin meski perutnya dipenuhi kupu-kupu raksasa yang entah datang dari mana. Ia menatap kiri dan kanan, pura-pura fokus pada papan petunjuk, padahal matanya sebenarnya sedang mencari satu orang tertentu dan tentu saja, orang itu muncul.
Bagas berdiri di tempat yang sama tepat seperti kemarin, bahkan posisinya seperti copy-paste, bersandar di tiang, tangan di saku dan senyum lebar yang terlalu siap untuk hari yang baru.
“Selamat pagi, Mbak Rani kreatif budaya kebanggaan Indonesia,” sapa Bagas sambil mengangkat botol es kelapa muda dingin dari kantong kainnya.
Rani mengerjap. “Hah, kamu bawa beneran?”
“Janji adalah janji,” jawabnya. “Dan saya pemandu yang terhormat. Tidak pernah ingkar.”
Rani memutar bola mata, tapi mengambil botol itu juga. “Yah, lumayan. Terima kasih.”
Bagas menatapnya lama. “Kamu kelihatan beda hari ini. Lebih semangat.”
“Kerja,” kata Rani cepat.
“Tentu.” Bagas mengangguk dengan senyum tipisnya cukup mengatakan, tapi bukan hanya itu.
Mereka masuk. Suasana pagi masih sepi, hanya terdengar beberapa anak sekolah dasar yang berjalan sambil berteriak kecil memanggil teman-temannya. Rani memandangi mereka sebentar. Ada rasa aneh yang menyentuh dadanya.
Bagas menyadarinya. “Kenapa? Kok serius banget?”
Rani tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah Anjungan Jawa Tengah, tempat ia pernah berlari kecil dulu, tangan kecilnya menggenggam kedua tangan orangtuanya.
Ia tersenyum kecil. “Aku dulu sering ke TMII waktu kecil.”
Bagas tampak langsung tertarik. “Oh? Kok baru bilang?”
Rani mengangkat bahu. “Sebenarnya aku ingat tiap hari, tapi jarang aku omongin.”
Mereka berjalan pelan ke arah Danau Arsipel. Rani menatap permukaan air yang memantulkan langit cerah. Angin pagi berembus lembut, seperti meniup kenangan yang lama tertutup.
“Ayah selalu semangat tiap kali ajak aku dan Ibu ke sini,” kata Rani perlahan. “Beliau itu tipe yang suka banget wisata edukasi. Selalu bilang TMII tempat yang paling ‘Indonesia’. Tempat yang harusnya dijaga, dikunjungi dan juga dihargai.”
Bagas berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi ceritanya.
“Setiap datang, Ayah selalu bawa kamera handycam jadul. Beliau suka rekam aku nyanyi di depan anjungan atau pura-pura jadi reporter.”
Bagas tertawa kecil. “Dari kecil sudah konten kreator rupanya.”
Rani tersenyum samar. “Iya, mungkin memang dari dulu.” Ia berhenti, menatap sekitar, “tapi sekarang rasanya beda.”
“Dari segi apa?” tanya Bagas hati-hati.
“Dulu TMII rame banget, Bagas. Penuh orang. Semua excited. Banyak keluarga piknik, anak kecil main, wisatawan dari berbagai daerah. Suasananya hidup.”
Ia menelan ludah, merasakan sedikit perih di dadanya. “Sekarang kebanyakan cuma anak sekolah yang field trip, sama turis mancanegara yang penasaran, tapi masyarakat kita sendiri banyak yang nggak datang lagi.”
Bagas menatap TMII dengan mata sendu. “Iya. Aku juga sering mikir begitu.”
“Padahal tempat ini indah, lengkap dan sarat budaya,” lanjut Rani, “tapi kayak dilupakan.”
Bagas meresapi ucapan itu. “Makanya saya tetap jadi relawan pemandu. Kalau saya bisa bikin satu orang jatuh cinta lagi ke TMII, itu sudah cukup.”
Rani tersenyum, kali ini lebih hangat. “Mulia sekali niatmu.”
“Dan kalau orang itu kamu?” tanya Bagas pelan.
Rani tersedak angin. “Bagas!”
“Apa? Ini pertanyaan filosofi.”
“Filosofi dari Hongkong!” Bagas tertawa sampai menunduk.
Konflik kecil hari itu ternyata tidak dimulai dari Rani, melainkan dari kerumunan kecil di depan Anjungan Aceh.
Empat orang siswa SMP sedang bertengkar sambil memaksa membuka gerbang kecil yang seharusnya tidak boleh dibuka. Di samping mereka, seorang guru sibuk menegur, tetapi tidak berhasil.
“Jangan buka itu! Itu bukan area publik!” seru guru itu.
“Tapi Kakak kemarin bilang ada ruangan rahasia!” kata salah satu siswa, menunjuk temannya yang memakai kacamata tebal.
“Itu rumor, woy!” temannya yang lain menimpali.
Rani memandang kejadian itu sebentar lalu menoleh ke Bagas. “Kamu bisa bantu nggak? Kamu kan pemandu.”
Bagas mendesah pelan, terlihat profesional mode on. “Oke, sini saya urus.”
Ia berjalan mendekat dengan senyum pemandu resmi, tipis, sopan, tapi tegas.
“Adik-adik,” panggil Bagas sambil mengetuk tiang kayu pelan. “Tidak semua area bisa dimasuki. Ada struktur yang rentan, bahkan berbahaya kalau diinjak.”
“Ah, Kak, katanya salah satu rumah adat punya ruang rahasia,” protes siswa yang berkacamata.
“Ada,” jawab Bagas tenang, “tapi bukan di sini dan bukan buat diintip sembarangan. Ruang itu bagian dari budaya, bukan wahana horor.”
Para siswa terdiam.
Rani mendekat, mengambil beberapa footage diam-diam sambil tersenyum. Bagas benar-benar seperti pemandu idola. Dia tampak karismatik, tegas, tapi tidak menggurui.
Guru itu kemudian menghampiri Bagas. “Terima kasih, Mas. Tadi mereka hampir merusak pintu.”
“Sama-sama, Bu. Anak-anak wajar penasaran, asal jangan sampai berbahaya.”
Guru itu tersenyum. “Mas pemandu di sini ya?”
Bagas hendak menjawab tapi Rani cepat-cepat menyela, “Iya, Bu. Pemandu yang sangat penuh tenaga dan bertanggungjawab.”
Guru itu tertawa ringan. “Oh saya bisa lihat dari jauh.”
Bagas memandang Rani sekilas, seolah membaca komentar itu lebih dalam daripada yang tampak.
Setelah melalui keributan kecil reda, mereka melanjutkan tur ke Taman Bunga Keong Mas, tempat banyak wisatawan mengambil foto.
Rani duduk di salah satu bangku taman, memeriksa rekamannya. “Kita baru jalan dua jam, tapi footage punyakuu sudah kayak empat jam.”
“Efek ditemani pemandu paling tampan se-TMII,” kata Bagas santai.
“Entahlah, aku merasa diganggu lebih tepatnya.”
“Diganggu, tapi hasilnya bagus? Itu namanya gangguan produktif.”
Rani mengerucutkan bibir. “Kamu selalu punya jawaban ya?”
“Untuk kamu, iya.”
“Bagas!”
“Hehe.” Bagas terkikih.
Namun, sesaat kemudian, ekspresi Rani berubah. Ia menatap rekaman masa kecil yang tersimpan otomatis di galeri ponselnya. Sebuah foto dirinya kecil di TMII, berdiri di depan Anjungan Bali bersama kedua orangtuanya. Senyum mereka lebar, bahagia dan tanpa tekanan hidup.
Bagas memperhatikan perubahan ekspresinya. “Kenapa? Kamu terlihat sedih sepertinya.”
Rani menggeleng. “Cuma ingat Ayah dan Ibu. Dulu kami sering banget ke sini dan rasanya TMII penuh energi. Sekarang lebih sepi. Aku sedih aja.”
Bagas mencondongkan tubuh sedikit. “Kalau kamu mau bantu TMII bangkit, videomu bisa jadi salah satu cara.”
Rani menatapnya, terkejut. “Kamu pikir begitu?”
“Sangat.”
Rani merasakan sesuatu menghangat di dadanya, sebuah perpaduan antara nostalgia dan harapan kecil.
Bagas melanjutkan, “Kamu punya kemampuan untuk bikin orang lihat hal yang mereka lewatkan. Kalau videomu viral, mungkin banyak orang datang lagi dan TMII kembali hidup.”
Rani terdiam, memandangi layar kameranya, lalu memandangi Bagas.
“Asal kamu nggak terlalu banyak muncul di videonya,” keluh Rani. “Nanti fokusnya geser.”
“Tenang,” kata Bagas. “Saya spesialis di balik layar.”
“Padahal mulutmu tidak pernah di balik layar.”
Bagas mengangkat tangan. “Setuju!”
Hari beranjak siang ketika mereka sampai di Taman Burung. Suara kicau dari kubah raksasa itu menggema, menciptakan suasana damai yang kontras dengan langkah-langkah cepat para pengunjung sekolah.
Rani mengambil beberapa shot burung merak yang sedang membuka ekornya.
“Kamu masih sedih?” tanya Bagas pelan.
“Sedikit,” jawab Rani jujur, “tapi juga senang. Aku merasa dekat lagi dengan kenangan lama.”
Bagas menatap burung merak, lalu Rani. “Kenangan bagus tidak harus membuat kita sedih. Bisa jadi kekuatan untuk mencipta kenangan baru.”
Rani memandangnya dengan mata yang lebih lembut dari sebelumnya. “Sejak kapan kamu bisa ngomong sebijak itu?”
“Sejak ada kamu.”
Rani menghela napas, kesal karena pipinya kembali panas. “Bagas, tolong jangan bilang hal-hal seperti itu saat aku sedang emosional.”
“Loh, kalau aku bilangnya saat kamu bahagia, kamu juga marah. Jadi kapan dong?”
Rani meninju lengannya ringan. “Kamu ini ya!”
Bagas tertawa kecil. “Intinya, kamu nggak sendirian di sini.”
Ucapan itu sederhana, tapi memukul sesuatu dalam diri Rani.
Saat sore menjelang, mereka kembali ke Danau Arsipel. Rani mengambil beberapa shot golden hour, sementara Bagas duduk di dermaga, kakinya menjuntai di udara.
Rani mendekat. “Aku sudah dapat semua yang kubutuhin. Besok tinggal editing.”
“Bagus,” kata Bagas. “Aku bangga.”
“Kamu menyeramkan kalau bilang begitu.”
“Tapi kamu senyum.”
Rani memutar mata. “Disebutin pula.”
Mereka diam sebentar. Angin sore mengelus rambut Rani, membuat suasana semakin syahdu.
Bagas berkata pelan, “terima kasih sudah mau datang lagi hari ini.”
Rani menatapnya. “Kamu harusnya terima kasih ke pekerjaanku, bukan aku.”
“Tapi pekerjaannya tidak akan datang tanpa kamu.”
Rani tertawa kecil. “Kamu licin.”
“Multitalenta,” jawab Bagas.
Ketika mereka kembali ke gerbang utama, Rani memandang banyak bangunan yang tidak lagi seramai dulu. Ada rasa miris, tapi juga tekad baru.
“Bagas,” katanya.
“Ya?”
“Aku mau bikin video ini benar-benar bagus. Bukan cuma karena kerja, tapi karena TMII pantas dapat perhatian lagi.”
Bagas tersenyum, sebuah senyuman yang lebih pelan, lebih tulus. “Saya tahu kamu bisa.”
Rani mengangguk. “Besok aku nggak datang. Harus editing seharian.”
Bagas menelan kecewa dengan baik. “Okey, tapi kalau butuh voice over dadakan, aku bersedia.”
“Bagas, tidak.”
“Backup talent?”
“No!”
“Penghibur kalau kamu stres?”
"Itu mungkin.”
Bagas langsung berbinar. “Deal.”
Rani mengangkat tas kameranya dan melangkah pergi.
Sebelum benar-benar jauh, ia menoleh dan berkata pelan, nyaris seperti angin sore yang menggema di antara pepohonan.
“Bagas, makasih ya. Untuk semuanya.”
Bagas hanya mengangguk, tapi matanya bersinar seperti matahari terakhir yang menyentuh danau dan untuk pertama kalinya, Rani pulang bukan hanya dengan footage, tetapi dengan hati yang terasa lebih penuh.