Senandung Sholawat Di Bibir Yang Membisu Bab 1
1/15
Bab 1

Bab 1

Lobi Gedung Kusuma Tower siang itu seperti jantung yang berdegup kencang. Bangunan setinggi empat puluh lantai itu adalah simbol kejayaan keluarga Kusuma, sebuah imperium properti dan desain yang dibangun oleh tangan dingin Papa Hendra. Suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer Italia, denting lift yang tak berhenti terbuka-tutup, hingga gumam para eksekutif muda yang sibuk dengan gawai mereka. Di tengah hiruk-pikuk yang terasa dingin dan kaku itu, Najwa berdiri mematung di bawah lampu gantung kristal yang megah. Matanya tertuju pada dua sosok yang tampak sangat kontras dengan arsitektur modern bangunan ini.Seorang wanita paruh baya dengan gamis sutra berwarna cokelat susu dan jilbab senada yang menjuntai anggun, berdiri ditemani seorang gadis remaja yang tampak takjub memandangi langit-langit lobi yang tinggi. Itu adalah Bu Nyai Fatimah dan putrinya, Ning Syifa. Mereka berdiri di sana, di tengah markas besar keluarga Kusuma, membawa aura ketenangan yang mendadak membungkam kebisingan dunia korporat di sekeliling mereka."Assalamualaikum, Najwa," suara itu lembut, menembus kebisingan lobi seperti hembusan angin sejuk di tengah padang pasir.Najwa segera melangkah maju, wajahnya yang cantik meski tanpa jilbab dan hanya dihiasi riasan tipis profesional tampak berseri. Ia segera meraih tangan lembut Bu Nyai Fatimah dan menciumnya dengan takzim. Sebuah gerakan yang spontan, yang seketika menarik perhatian beberapa staf kantor yang lewat. Mereka jarang melihat sang Kepala Tim Desain yang biasanya tegas dan dingin itu bersikap sedemikian patuh dan rendah hati."Wa’alaikumussalam, Bu Nyai. Masya Allah, kenapa tidak mengabari kalau sudah sampai di bawah? Saya bisa menjemput ke depan lobi," ujar Najwa dengan nada yang sangat sopan."Ibu tidak mau merepotkan kamu, Nak. Tadi Syifa juga ingin melihat-lihat gedung kakak penolongnya ini sebentar," jawab Bu Nyai sambil mengelus pundak Najwa dengan sayang.Di samping mereka, Ning Syifa tampak tak berkedip menatap Najwa. "Mbak Najwa... Masya Allah, Mbak cantik sekali. Lebih cantik dari yang Syifa lihat di foto profil WhatsApp," celetuk gadis itu dengan kepolosan khas remaja pesantren. "Pantas saja Ibu sering sekali membicarakan Mbak Najwa di rumah. Kata Ibu, Mbak Najwa itu seperti bidadari yang dikirim saat nyawa Ibu di ujung tanduk."Najwa tersipu, pipinya merona merah. "Ah, Ning Syifa bisa saja. Ayo, kita duduk di lounge privat di sana, lebih tenang untuk mengobrol daripada di tengah lobi seperti ini."Sambil melangkah menuju area duduk yang lebih eksklusif, pikiran Najwa ditarik paksa oleh memori sebulan yang lalu. Ingatannya meluncur melewati dinding kaca gedung, menuju sebuah persimpangan jalan raya yang panas, bising, dan penuh polusi.FLASHBACK: Sebulan LaluSiang itu, matahari Jakarta seolah ingin membakar aspal. Najwa sedang mengendarai SUV mewahnya dengan sedikit terburu-buru. Ada revisi desain proyek apartemen yang harus segera dipresentasikan di depan jajaran direksi. Namun, di tikungan dekat lampu merah, ia melihat kerumunan orang yang hanya diam mematung dan memotret. Di tengah jalan, seorang wanita tua tergeletak dengan dahi berdarah. Sebuah motor baru saja melesat pergi sebuah tabrak lari yang pengecut.Tanpa pikir panjang, Najwa menginjak rem dalam-dalam hingga bannya mencit di aspal. Ia keluar dari mobil, mengabaikan klakson kendaraan lain yang protes karena jalurnya terhalangi mobil mewah yang berhenti mendadak. Najwa berlutut di aspal yang panas, memangku kepala wanita itu yang ternyata adalah Bu Nyai Fatimah."Ibu? Ibu bisa dengar saya?" Najwa panik, tapi tangannya tetap cekatan. Ia tidak peduli blazer putih seharga jutaan rupiah miliknya kini ternoda darah dan debu jalanan. Ia mengabaikan asistennya yang berteriak dari dalam mobil menyuruhnya menunggu ambulans."Kita tidak bisa menunggu ambulans! Jalannya macet total! Ambilkan kain bersih dari bagasi!" perintah Najwa tegas, suaranya yang biasa digunakan untuk memimpin rapat kini digunakan untuk menyelamatkan nyawa.Sepanjang perjalanan ke rumah sakit menggunakan mobilnya sendiri, Najwa terus memegang tangan Bu Nyai, membisikkan kata-kata penenang meski ia sendiri gemetar hebat. Ia tetap di sana, di koridor ruang tunggu IGD yang bau karbol selama berjam-jam, memastikan wanita yang tidak dikenalnya itu mendapatkan penanganan terbaik. Bahkan, ia yang melunasi semua biaya administrasi tanpa sedikit pun bertanya siapa wanita ini. Baginya, itu hanyalah tindakan kemanusiaan yang harus dilakukan tanpa embel-embel pamrih. Ia tidak tahu bahwa wanita yang ditolongnya adalah permaisuri dari salah satu pesantren terbesar di Jawa.Satu-satunya hal yang ia tinggalkan pada perawat saat keluarga pasien datang adalah sebuah kartu nama dengan logo emas 'Kusuma Group' dan nama 'Najwa Kusuma'. Ia tidak pernah menyangka bahwa selembar kertas itu akan menjadi jembatan menuju takdir yang akan membelenggu hidupnya.KEMBALI KE MASA KINI"Najwa? Nak? Kenapa melamun?" panggilan lembut Bu Nyai membuyarkan lamunannya.Mereka kini sudah duduk di sofa beludru yang nyaman di lounge eksklusif lantai dasar. Bu Nyai Fatimah menatap Najwa dengan tatapan yang sangat dalam ada rasa syukur, cinta yang meluap, tapi juga ada semacam beban rahasia yang tersimpan di balik senyumnya."Maaf, Bu Nyai. Saya hanya teringat kejadian hari itu. Saya bersyukur melihat Bu Nyai sudah sehat seperti sekarang," ujar Najwa tulus.Tiba-tiba, suara langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar mendekat. Seorang pria muda dengan kemeja slim-fit mahal dan jam tangan mewah muncul dari arah lift direksi. Arvin Mahendra. Ia berhenti sejenak, menatap tamu adiknya dengan dahi berkerut. Sebagai pria yang sudah disiapkan untuk memimpin Kusuma Group, Arvin memiliki insting tajam bahwa kehadiran tamu ini membawa pesan yang lebih berat dari sekadar ucapan terima kasih."Naj?" Arvin menyapa, suaranya berat dan penuh wibawa.Najwa berdiri dengan anggun. "Kak Arvin, perkenalkan, ini Bu Nyai Fatimah yang pernah aku ceritakan. Dan ini putrinya, Ning Syifa."Arvin mengangguk hormat, menyatukan kedua tangan di depan dada gestur yang sopan namun tetap menjaga jarak. "Arvin, kakaknya Najwa. Saya sudah banyak mendengar cerita tentang kebaikan hati Bu Nyai dari Najwa. Suatu kehormatan Bu Nyai bersedia mengunjungi kantor kami yang bising ini."Arvin duduk di samping Najwa, gesturnya sangat protektif. Ia menyadari cara Bu Nyai menatap adiknya tatapan itu terlalu intens. Sebagai kakak yang tahu betapa mandiri dan berharganya Najwa bagi keluarga Kusuma, Arvin mulai waspada."Maaf sebelumnya, Bu Nyai," Arvin membuka suara dengan nada tenang namun tajam. "Keluarga kami sangat menghormati hubungan baik ini. Namun, saya merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kunjungan silaturahmi. Apakah ada hal lain yang bisa kami bantu?"Bu Nyai Fatimah tersenyum tenang. Beliau mengeluarkan sebuah tasbih kayu kecil, memutarnya perlahan. "Nak Arvin memang cerdas. Benar, kedatangan saya ke sini membawa sebuah amanah yang berat. Najwa, Ibu sudah istikharah selama sebulan ini. Setiap malam, setelah shalat malam, wajahmu yang selalu hadir."Najwa merasakan dadanya berdegup kencang. Ia meremas jemarinya sendiri di bawah meja."Putra tertua Ibu, Azam. Dia adalah sosok yang luar biasa, pemimpin ribuan santri, suaranya merdu saat memuji Rasulullah. Namun, di dalam hatinya, dia sedang mengalami musim dingin yang panjang. Pernikahan pertamanya berakhir dengan pengkhianatan yang memilukan. Istrinya pergi meninggalkan luka yang membuat Azam menutup diri. Dia membisu pada dunia, Najwa. Dia menjalankan tugasnya sebagai Gus, tapi hatinya beku."Bu Nyai menatap Najwa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ibu ingin kamu menjadi pendampingnya. Ibu ingin kamu menjadi istri keduanya. Ibu tahu ini terdengar gila bagi wanita sesukses kamu. Tapi Ibu yakin, hanya ketulusanmu yang bisa mencairkan kebisuan Azam."Suasana lounge mendadak senyap. Arvin seketika berdiri, wajahnya mengeras. "Istri kedua? Bu Nyai, adik saya adalah Najwa Kusuma. Dia memiliki segalanya di sini. Karir, masa depan, dan kehormatan. Menjadikannya istri kedua bagi pria yang bahkan tidak mau bicara? Bukankah itu penghinaan bagi kami?""Kak Arvin, tenang..." Najwa mencoba menenangkan, meski hatinya sendiri hancur."Tidak, Naj! Ini tidak masuk akal!" Arvin menatap Bu Nyai. "Kami sangat menghargai pesantren, tapi Najwa bukan objek untuk menyembuhkan luka orang lain."Bu Nyai Fatimah tetap tenang. "Ibu tidak meminta jawaban sekarang. Ibu hanya meminta Najwa untuk memikirkannya. Azam memang membisu, tapi dia lelaki yang bertanggung jawab. Syifa, tunjukkan pada Mbak Najwa."Ning Syifa dengan ragu mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah video singkat saat Gus Azam sedang memimpin shalawat di masjid besar pesantren. Suaranya mengalun indah, penuh penghayatan, namun matanya menatap kosong ke depan sebuah tatapan yang penuh duka.Najwa terpaku melihat layar itu. Pria di video itu tampak sangat tampan, sangat bersahaja, namun auranya begitu gelap dan dingin. Kontras antara suaranya yang merdu dengan sorot matanya yang mati membuat Najwa merasakan desiran aneh di hatinya."Pikirkanlah, Najwa," bisik Bu Nyai sebelum berdiri untuk pamit. "Tanyakan pada hatimu, apakah takdir mempertemukan kita di jalan raya itu hanya untuk sebuah terima kasih, atau untuk sebuah pengabdian yang lebih besar."Setelah mereka pergi, Najwa berdiri di tepi jendela kaca raksasa kantornya, menatap hiruk pikuk Jakarta dari ketinggian lantai 18. Di bawah sana, dunia terus bergerak, namun dunianya seolah berhenti. Di tangan kanannya ada kesuksesan yang ia bangun, di tangan kirinya ada tawaran untuk masuk ke dalam sunyi yang mencekik."Aku tidak mungkin menerimanya, kan, Kak?" tanya Najwa lirih pada Arvin yang masih berdiri dengan napas memburu.Arvin tidak menjawab, ia hanya memeluk bahu adiknya dengan erat. Namun di dalam hati Najwa, gema shalawat dari video tadi terus terngiang, beradu dengan sunyi yang mulai merayap masuk ke dalam jiwanyajiwanyajiwanyajiwanyajiwanyajiwanyajiwanyajiwanya Lobi Gedung Kusuma Tower siang itu seperti jantung yang berdegup kencang. Bangunan setinggi empat puluh lantai itu adalah simbol kejayaan keluarga Kusuma, sebuah imperium properti dan desain yang dibangun oleh tangan dingin Papa Hendra. Suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer Italia, denting lift yang tak berhenti terbuka-tutup, hingga gumam para eksekutif muda yang sibuk dengan gawai mereka. Di tengah hiruk-pikuk yang terasa dingin dan kaku itu, Najwa berdiri mematung di bawah lampu gantung kristal yang megah. Matanya tertuju pada dua sosok yang tampak sangat kontras dengan arsitektur modern bangunan ini.

​Seorang wanita paruh baya dengan gamis sutra berwarna cokelat susu dan jilbab senada yang menjuntai anggun, berdiri ditemani seorang gadis remaja yang tampak takjub memandangi langit-langit lobi yang tinggi. Itu adalah Bu Nyai Fatimah dan putrinya, Ning Syifa. Mereka berdiri di sana, di tengah markas besar keluarga Kusuma, membawa aura ketenangan yang mendadak membungkam kebisingan dunia korporat di sekeliling mereka.

​"Assalamualaikum, Najwa," suara itu lembut, menembus kebisingan lobi seperti hembusan angin sejuk di tengah padang pasir.

​Najwa segera melangkah maju, wajahnya yang cantik meski tanpa jilbab dan hanya dihiasi riasan tipis profesional tampak berseri. Ia segera meraih tangan lembut Bu Nyai Fatimah dan menciumnya dengan takzim. Sebuah gerakan yang spontan, yang seketika menarik perhatian beberapa staf kantor yang lewat. Mereka jarang melihat sang Kepala Tim Desain yang biasanya tegas dan dingin itu bersikap sedemikian patuh dan rendah hati.

​"Wa’alaikumussalam, Bu Nyai. Masya Allah, kenapa tidak mengabari kalau sudah sampai di bawah? Saya bisa menjemput ke depan lobi," ujar Najwa dengan nada yang sangat sopan.

​"Ibu tidak mau merepotkan kamu, Nak. Tadi Syifa juga ingin melihat-lihat gedung kakak penolongnya ini sebentar," jawab Bu Nyai sambil mengelus pundak Najwa dengan sayang.

​Di samping mereka, Ning Syifa tampak tak berkedip menatap Najwa. "Mbak Najwa... Masya Allah, Mbak cantik sekali. Lebih cantik dari yang Syifa lihat di foto profil WhatsApp," celetuk gadis itu dengan kepolosan khas remaja pesantren. "Pantas saja Ibu sering sekali membicarakan Mbak Najwa di rumah. Kata Ibu, Mbak Najwa itu seperti bidadari yang dikirim saat nyawa Ibu di ujung tanduk."

​Najwa tersipu, pipinya merona merah. "Ah, Ning Syifa bisa saja. Ayo, kita duduk di lounge privat di sana, lebih tenang untuk mengobrol daripada di tengah lobi seperti ini."

​Sambil melangkah menuju area duduk yang lebih eksklusif, pikiran Najwa ditarik paksa oleh memori sebulan yang lalu. Ingatannya meluncur melewati dinding kaca gedung, menuju sebuah persimpangan jalan raya yang panas, bising, dan penuh polusi.

FLASHBACK: Sebulan Lalu

​Siang itu, matahari Jakarta seolah ingin membakar aspal. Najwa sedang mengendarai SUV mewahnya dengan sedikit terburu-buru. Ada revisi desain proyek apartemen yang harus segera dipresentasikan di depan jajaran direksi. Namun, di tikungan dekat lampu merah, ia melihat kerumunan orang yang hanya diam mematung dan memotret. Di tengah jalan, seorang wanita tua tergeletak dengan dahi berdarah. Sebuah motor baru saja melesat pergi sebuah tabrak lari yang pengecut.

​Tanpa pikir panjang, Najwa menginjak rem dalam-dalam hingga bannya mencit di aspal. Ia keluar dari mobil, mengabaikan klakson kendaraan lain yang protes karena jalurnya terhalangi mobil mewah yang berhenti mendadak. Najwa berlutut di aspal yang panas, memangku kepala wanita itu yang ternyata adalah Bu Nyai Fatimah.

​"Ibu? Ibu bisa dengar saya?" Najwa panik, tapi tangannya tetap cekatan. Ia tidak peduli blazer putih seharga jutaan rupiah miliknya kini ternoda darah dan debu jalanan. Ia mengabaikan asistennya yang berteriak dari dalam mobil menyuruhnya menunggu ambulans.

​"Kita tidak bisa menunggu ambulans! Jalannya macet total! Ambilkan kain bersih dari bagasi!" perintah Najwa tegas, suaranya yang biasa digunakan untuk memimpin rapat kini digunakan untuk menyelamatkan nyawa.

​Sepanjang perjalanan ke rumah sakit menggunakan mobilnya sendiri, Najwa terus memegang tangan Bu Nyai, membisikkan kata-kata penenang meski ia sendiri gemetar hebat. Ia tetap di sana, di koridor ruang tunggu IGD yang bau karbol selama berjam-jam, memastikan wanita yang tidak dikenalnya itu mendapatkan penanganan terbaik. Bahkan, ia yang melunasi semua biaya administrasi tanpa sedikit pun bertanya siapa wanita ini. Baginya, itu hanyalah tindakan kemanusiaan yang harus dilakukan tanpa embel-embel pamrih. Ia tidak tahu bahwa wanita yang ditolongnya adalah permaisuri dari salah satu pesantren terbesar di Jawa.

​Satu-satunya hal yang ia tinggalkan pada perawat saat keluarga pasien datang adalah sebuah kartu nama dengan logo emas 'Kusuma Group' dan nama 'Najwa Kusuma'. Ia tidak pernah menyangka bahwa selembar kertas itu akan menjadi jembatan menuju takdir yang akan membelenggu hidupnya.

KEMBALI KE MASA KINI

​"Najwa? Nak? Kenapa melamun?" panggilan lembut Bu Nyai membuyarkan lamunannya. ​Mereka kini sudah duduk di sofa beludru yang nyaman di lounge eksklusif lantai dasar. Bu Nyai Fatimah menatap Najwa dengan tatapan yang sangat dalam ada rasa syukur, cinta yang meluap, tapi juga ada semacam beban rahasia yang tersimpan di balik senyumnya.

​"Maaf, Bu Nyai. Saya hanya teringat kejadian hari itu. Saya bersyukur melihat Bu Nyai sudah sehat seperti sekarang," ujar Najwa tulus.

​Tiba-tiba, suara langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar mendekat. Seorang pria muda dengan kemeja slim-fit mahal dan jam tangan mewah muncul dari arah lift direksi. Arvin Mahendra. Ia berhenti sejenak, menatap tamu adiknya dengan dahi berkerut. Sebagai pria yang sudah disiapkan untuk memimpin Kusuma Group, Arvin memiliki insting tajam bahwa kehadiran tamu ini membawa pesan yang lebih berat dari sekadar ucapan terima kasih.

​"Naj?" Arvin menyapa, suaranya berat dan penuh wibawa.

​Najwa berdiri dengan anggun. "Kak Arvin, perkenalkan, ini Bu Nyai Fatimah yang pernah aku ceritakan. Dan ini putrinya, Ning Syifa."

​Arvin mengangguk hormat, menyatukan kedua tangan di depan dada gestur yang sopan namun tetap menjaga jarak. "Arvin, kakaknya Najwa. Saya sudah banyak mendengar cerita tentang kebaikan hati Bu Nyai dari Najwa. Suatu kehormatan Bu Nyai bersedia mengunjungi kantor kami yang bising ini."

​Arvin duduk di samping Najwa, gesturnya sangat protektif. Ia menyadari cara Bu Nyai menatap adiknya tatapan itu terlalu intens. Sebagai kakak yang tahu betapa mandiri dan berharganya Najwa bagi keluarga Kusuma, Arvin mulai waspada.

​"Maaf sebelumnya, Bu Nyai," Arvin membuka suara dengan nada tenang namun tajam. "Keluarga kami sangat menghormati hubungan baik ini. Namun, saya merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kunjungan silaturahmi. Apakah ada hal lain yang bisa kami bantu?"

​Bu Nyai Fatimah tersenyum tenang. Beliau mengeluarkan sebuah tasbih kayu kecil, memutarnya perlahan. "Nak Arvin memang cerdas. Benar, kedatangan saya ke sini membawa sebuah amanah yang berat. Najwa, Ibu sudah istikharah selama sebulan ini. Setiap malam, setelah shalat malam, wajahmu yang selalu hadir."

​Najwa merasakan dadanya berdegup kencang. Ia meremas jemarinya sendiri di bawah meja. ​"Putra tertua Ibu, Azam. Dia adalah sosok yang luar biasa, pemimpin ribuan santri, suaranya merdu saat memuji Rasulullah. Namun, di dalam hatinya, dia sedang mengalami musim dingin yang panjang. Pernikahan pertamanya berakhir dengan pengkhianatan yang memilukan. Istrinya pergi meninggalkan luka yang membuat Azam menutup diri. Dia membisu pada dunia, Najwa. Dia menjalankan tugasnya sebagai Gus, tapi hatinya beku."

​Bu Nyai menatap Najwa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ibu ingin kamu menjadi pendampingnya. Ibu ingin kamu menjadi istri keduanya. Ibu tahu ini terdengar gila bagi wanita sesukses kamu. Tapi Ibu yakin, hanya ketulusanmu yang bisa mencairkan kebisuan Azam."

​Suasana lounge mendadak senyap. Arvin seketika berdiri, wajahnya mengeras. "Istri kedua? Bu Nyai, adik saya adalah Najwa Kusuma. Dia memiliki segalanya di sini. Karir, masa depan, dan kehormatan. Menjadikannya istri kedua bagi pria yang bahkan tidak mau bicara? Bukankah itu penghinaan bagi kami?"

​"Kak Arvin, tenang..." Najwa mencoba menenangkan, meski hatinya sendiri hancur.

​"Tidak, Naj! Ini tidak masuk akal!" Arvin menatap Bu Nyai. "Kami sangat menghargai pesantren, tapi Najwa bukan objek untuk menyembuhkan luka orang lain."

​Bu Nyai Fatimah tetap tenang. "Ibu tidak meminta jawaban sekarang. Ibu hanya meminta Najwa untuk memikirkannya. Azam memang membisu, tapi dia lelaki yang bertanggung jawab. Syifa, tunjukkan pada Mbak Najwa."

​Ning Syifa dengan ragu mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah video singkat saat Gus Azam sedang memimpin shalawat di masjid besar pesantren. Suaranya mengalun indah, penuh penghayatan, namun matanya menatap kosong ke depan sebuah tatapan yang penuh duka.

​Najwa terpaku melihat layar itu. Pria di video itu tampak sangat tampan, sangat bersahaja, namun auranya begitu gelap dan dingin. Kontras antara suaranya yang merdu dengan sorot matanya yang mati membuat Najwa merasakan desiran aneh di hatinya.

​"Pikirkanlah, Najwa," bisik Bu Nyai sebelum berdiri untuk pamit. "Tanyakan pada hatimu, apakah takdir mempertemukan kita di jalan raya itu hanya untuk sebuah terima kasih, atau untuk sebuah pengabdian yang lebih besar."

​Setelah mereka pergi, Najwa berdiri di tepi jendela kaca raksasa kantornya, menatap hiruk pikuk Jakarta dari ketinggian lantai 18. Di bawah sana, dunia terus bergerak, namun dunianya seolah berhenti. Di tangan kanannya ada kesuksesan yang ia bangun, di tangan kirinya ada tawaran untuk masuk ke dalam sunyi yang mencekik.

​"Aku tidak mungkin menerimanya, kan, Kak?" tanya Najwa lirih pada Arvin yang masih berdiri dengan napas memburu.

​Arvin tidak menjawab, ia hanya memeluk bahu adiknya dengan erat. Namun di dalam hati Najwa, gema shalawat dari video tadi terus terngiang, beradu dengan sunyi yang mulai merayap masuk ke dalam jiwanya