Malam di kawasan elit Menteng biasanya tenang, namun di dalam kediaman megah keluarga Kusuma, suasana terasa seperti badai yang tertahan di balik dinding beton. Ruang keluarga yang didesain dengan gaya modern-klasik itu tampak sangat luas, namun bagi Najwa, ruangan itu mendadak terasa sesak. Cahaya dari lampu gantung kristal Bohemia yang menggantung di langit-langit setinggi lima meter memantul di atas meja marmer, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di wajah setiap anggota keluarga. Aroma kayu cendana dari pengharum ruangan otomatis biasanya menjadi aroma penenang bagi Najwa setelah seharian bergelut dengan tenggat waktu di kantor. Namun malam ini, wangi itu terasa mencekik.
Papa Hendra duduk tegak di sofa kulit berwarna gelap. Wajahnya yang mulai berkerut namun tetap menunjukkan sisa-sisa ketampanan masa muda, tampak sangat serius. Di hadapannya, Kak Arvin berdiri dengan kedua tangan terkepal di saku celana bahannya. Wajah Kak Arvin memerah, napasnya terdengar berat tanda bahwa ia baru saja meledakkan amarahnya.
"Papa tidak sedang bercanda, kan?" suara Kak Arvin meninggi, memantul di dinding-dinding ruangan yang dihiasi lukisan abstrak mahal. "Umi Fatimah datang ke Kusuma Tower hari ini untuk meminta Najwa menjadi istri kedua putranya. Istri kedua, Pa! Ini bukan hanya soal perbedaan kultur pesantren dan kota, ini soal harga diri Najwa! Apa kata orang-orang kalau putri tunggal Hendra Kusuma hanya menjadi pilihan kedua?"
Papa Hendra tetap tenang. Beliau menyesap teh hangatnya dengan gerakan yang sangat lambat, sebuah ketenangan yang justru membuat Kak Arvin semakin gerah.
"Arvin, duduklah. Jangan biarkan emosimu mengaburkan akal sehatmu," ujar Papa Hendra lirih namun memiliki penekanan yang tak bisa dibantah.
"Bagaimana aku bisa tenang, Pa?" Kak Arvin berhenti melangkah dan menatap tajam sang ayah. "Najwa baru saja meraih penghargaan desain terbaik bulan lalu. Dia punya masa depan yang gemilang. Dan sekarang, dia diminta masuk ke lingkungan yang akan membelenggu geraknya, menjadikannya 'madu' bagi pria yang bahkan belum pernah kita temui wajahnya secara langsung?"
Tepat saat itu, Mama Ratna masuk dari arah dapur. Beliau membawa nampan berisi teh melati, namun tangannya tampak sedikit gemetar. Mama segera meletakkan nampan itu dan menghampiri Kak Arvin, mengusap punggung putra sulungnya dengan gerakan menenangkan.
"Arvin, Sayang... istighfar. Dengar penjelasan Papa dulu. Jangan langsung meledak seperti ini," bisik Mama Ratna dengan suara lembut.
Papa Hendra meletakkan cangkirnya. Beliau kemudian menoleh ke arah Najwa yang sejak tadi hanya duduk mematung, menunduk dalam sambil memainkan ujung jarinya. "Najwa, Papa ingin bertanya secara langsung padamu. Apakah maksud 'istri kedua' itu adalah Gus Azam masih memiliki istri yang tinggal bersamanya saat ini? Apakah dia ingin berpoligami secara aktif?"
Pertanyaan itu adalah inti dari ketakutan Kak Arvin. Seisi ruangan mendadak hening, menunggu jawaban Najwa.
Najwa perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang sedikit sembab menatap Papa dengan kejujuran yang dalam. "Tidak, Pa. Istri pertamanya sudah tidak ada. Gus Azam sudah sendiri sekarang."
Kak Arvin tersentak. Alisnya bertaut. "Apa maksudmu? Cerai mati?"
Najwa menggeleng pelan. "Bukan, Kak. Umi Fatimah menceritakan semuanya padaku di kantor tadi. Gus Azam... dia dikhianati. Istri pertamanya pergi meninggalkan dia demi pria lain tak lama setelah akad nikah mereka dilakukan. Kejadian itu menjadi pukulan besar bagi keluarga pesantren mereka. Sejak saat itu, Gus Azam berubah. Dia menjadi sosok yang sangat dingin dan membisu. Dia menjalankan tugasnya sebagai pemimpin santri, tapi jiwanya seolah mati. Dia menutup pintu hatinya rapat-rapat."
Keheningan yang lebih berat kembali menyelimuti ruangan. Informasi itu mengubah arah angin perdebatan. Wajah Kak Arvin yang tadinya penuh amarah kini berubah menjadi kebingungan. Ada rasa lega karena Najwa tidak akan berbagi suami secara fisik, namun muncul kekhawatiran baru yang tak kalah menakutkan: Najwa akan menikahi pria yang hatinya sudah menjadi reruntuhan.
Namun, di luar dugaan Najwa dan Kak Arvin, Papa Hendra justru menghela napas panjang dan sebuah binar syukur muncul di matanya.
"Alhamdulillah," ucap Papa Hendra lirih.
"Alhamdulillah?!" Kak Arvin kembali meledak, kali ini dengan nada tak percaya. "Papa bilang syukur setelah tahu Najwa akan menikahi pria yang trauma dan mungkin tidak akan pernah bisa bicara manis padanya?"
"Arvin, dengarkan Papa!" Papa Hendra berdiri, menunjukkan wibawa seorang kepala keluarga yang sangat dihormati. "Gus Azam adalah putra dari Abi Ahmad. Papa sudah mengenal beliau sejak bertahun-tahun lalu dalam berbagai pertemuan ulama dan pengusaha. Beliau adalah orang suci. Jika Umi Fatimah sampai datang langsung dan meminta Najwa, itu artinya mereka melihat ada sesuatu yang luar biasa di dalam diri adikmu. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dinilai dengan seluruh aset Kusuma Group."
Papa Hendra berjalan mendekati Najwa. Beliau berlutut di atas karpet beludru, tepat di depan putrinya, dan menggenggam kedua tangan Najwa yang dingin.
"Najwa, dalam keyakinan kita, tidak baik bagi seorang wanita untuk menolak pinangan yang datang dengan niat setulus itu. Apalagi mereka datang setelah kamu menyelamatkan nyawa Umi. Ini bukan sekadar balas budi, Nak. Ini adalah cara Tuhan mempertemukan dua jiwa yang saling membutuhkan. Kamu punya kelembutan yang Papa yakini bisa menjadi obat bagi kebisuan Gus Azam."
"Tapi, Pa... dia pria yang terluka. Bagaimana kalau dia melampiaskan kemarahannya pada Najwa lewat diamnya?" Najwa akhirnya bersuara, setetes air mata jatuh di pipinya. "Itu sebabnya ini disebut ibadah, Najwa," Papa Hendra mengusap air mata putrinya. "Membangun kembali hati yang hancur adalah jihad seorang istri. Papa merasa senang, sangat senang jika kamu bisa menjadi bagian dari keluarga besar Abi Ahmad. Itu akan menjadi keberkahan terbesar bagi keluarga kita, melampaui segala harta yang kita miliki."
"Tapi Papa belum tentu menjamin dia bahagia!" Kak Arvin menyela lagi, meski suaranya sudah merendah.
"Papa tidak meminta jawabanmu detik ini juga, Najwa," lanjut Papa Hendra, mengabaikan protes Kak Arvin sejenak. "Pihak perempuan memang sebaiknya tidak langsung menolak niat baik. Tapi, Papa ingin kamu melakukan Shalat Istikharah. Mintalah petunjuk langsung pada Pemilik Hati manusia. Jika setelah itu hatimu tetap merasa berat, Papa tidak akan memaksamu. Tapi jika Tuhan memberikanmu ketenangan, maka berjalanlah di jalan itu."
Mama Ratna ikut duduk di samping Najwa, memeluk bahunya erat. "Mama setuju dengan Papa. Istikharah dulu, Sayang. Jangan hanya pakai logika wanita kariermu. Masalah jodoh itu rahasia langit yang seringkali tidak masuk akal bagi manusia."
Najwa menatap ke arah balkon, di mana Kak Arvin akhirnya melangkah keluar dengan langkah gusar, tampak sangat tidak puas dengan keputusan Papa. Namun di sisi lain, Najwa merasakan kehangatan dari tatapan Papanya yang penuh harap.
Pikiran Najwa terbang kembali ke rekaman video yang ditunjukkan Ning Syifa tadi siang. Bayangan sosok Gus Azam yang melantunkan shalawat dengan suara merdu namun dengan sorot mata yang kosong terus membekas di benaknya. Seolah-olah suara itu adalah jeritan minta tolong yang tersembunyi di balik keindahan nada.
"Aku akan shalat malam ini, Pa," bisik Najwa akhirnya, hampir tak terdengar. Malam itu, di kamar tidurnya yang mewah, Najwa berdiri di balkon menatap kerlip lampu Jakarta. Pikirannya melayang antara kantor yang ia cintai dan pesantren yang asing baginya. Antara kebebasan dan pengabdian. Ia tahu, setelah sujud malam ini, hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi. Apakah ia siap menjadi 'senandung' bagi bibir yang sudah lama membisu?
Hanya keheningan malam yang menjawab, seiring dengan dimulainya perjalanan spiritual Najwa mencari jawaban di sepertiga malam terakhirterakhir