Senandung Sholawat Di Bibir Yang Membisu Bab 4
4/15
Bab 4

Bab 4

Perjalanan dari jantung Jakarta menuju sebuah desa terpencil di Jawa Timur terasa seperti melintasi lorong waktu bagi Najwa. Di dalam mobil MPV mewah milik keluarganya, Najwa menatap keluar jendela, memerhatikan bagaimana gedung-gedung pencakar langit perlahan digantikan oleh hamparan sawah hijau yang membentang luas di bawah langit biru yang bersih. Suara bising klakson dan deru mesin ibu kota telah lenyap, berganti dengan suara gesekan daun tebu yang tertiup angin sore.Najwa menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak beraturan sejak mereka keluar dari gerbang tol. Di sampingnya, Kak Arvin duduk dengan wajah tegang, sesekali melirik ponselnya atau menatap tajam ke arah jalanan seolah sedang menginspeksi medan perang. Papa Hendra dan Mama Ratna duduk di baris tengah, sesekali terdengar gumam doa dan percakapan ringan tentang masa lalu Papa yang ternyata pernah singgah di pesantren ini puluhan tahun silam."Kamu yakin dengan ini, Naj?" suara Kak Arvin memecah kesunyian di kabin mobil. "Kita masih bisa putar balik sekarang kalau kamu merasa tidak sanggup."Najwa tersenyum tipis, menggenggam jemari kakaknya yang terasa kaku. "Aku sudah istikharah, Kak. Aku hanya ingin menjalani apa yang sudah Allah gariskan. Kakak jangan terlalu tegang begitu, wajahmu jadi terlihat sepuluh tahun lebih tua."Arvin mendengus, namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Baginya, membawa adiknya ke pesantren ini seperti melepaskan seekor burung cendrawasih ke dalam hutan rimba yang penuh aturan.Mobil perlahan memasuki sebuah gerbang besar bertuliskan Pondok Pesantren Al-Hidayah. Gerbang itu terbuat dari kayu jati ukiran yang sangat megah, menunjukkan wibawa yang luar biasa. Begitu melewati gerbang, pemandangan berubah total. Ratusan santri berbaju putih dan bersarung tampak berjalan rapi di sepanjang jalan setapak. Suara gema hafalan Al-Qur'an terdengar bersahut-sahutan dari asrama-asrama kayu yang berjejer rapi.Najwa merasa semua mata tertuju pada mobil mereka. Ia menunduk sebentar, merapikan blus tunik berwarna nude yang ia kenakan. Hari ini, ia tetap menjadi dirinya sendiri seorang wanita karier dengan rambut cokelat gelap yang tergerai indah, tanpa kerudung yang membungkus kepalanya. Ia sempat merasa ragu, namun teringat pesan Umi Fatimah di telepon semalam: "Datanglah sebagai Najwa yang menolong Umi di jalanan. Jangan menjadi orang lain hanya karena kamu memasuki gerbang kami."Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah bergaya arsitektur Jawa-Persia yang dikenal sebagai Ndalem rumah kediaman sang Kyai. Umi Fatimah dan Ning Syifa sudah berdiri di sana, menyambut mereka dengan senyum yang sangat hangat."Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," Umi Fatimah langsung memeluk Najwa begitu ia turun dari mobil. Kehangatan pelukan itu seketika meruntuhkan tembok ketakutan di hati Najwa."Mbak Najwa! Masya Allah, Mbak cantik sekali pakai baju itu!" Ning Syifa menghampiri, matanya berbinar-binar. Ia sama sekali tidak tampak keberatan melihat rambut Najwa yang terurai; ia justru melihatnya sebagai sebuah keindahan yang jujur.Mereka kemudian dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu luas yang beralaskan karpet sutra tebal. Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan wibawa yang luar biasa. Beliau mengenakan sarung putih, baju koko yang sangat bersih, dan sorban yang tersampir di bahunya. Itulah Abi Ahmad, sang pemilik cahaya Al-Hidayah.Papa Hendra segera menghampiri dan menjabat tangan Abi Ahmad dengan sangat takzim, diikuti oleh Kak Arvin yang tampak mencoba bersikap sesopan mungkin meski hatinya masih waspada."Ini Najwa, Abi," suara Umi Fatimah lembut saat memperkenalkan Najwa.Najwa melangkah maju, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Assalamualaikum, Abi. Saya Najwa. Mohon maaf jika kehadiran saya kurang berkenan dengan penampilan yang seperti ini."Abi Ahmad menatap Najwa dengan mata yang teduh namun tajam, seolah sedang membaca lembaran-lembaran jiwa di balik wajah cantik itu. Beliau terdiam sejenak, membuat suasana ruangan menjadi sangat hening."Wa’alaikumussalam, Nak Najwa," suara Abi Ahmad berat namun sangat menenangkan. "Pakaian adalah urusanmu dengan Penciptamu, namun tutur katamu menunjukkan di mana letak hatimu. Aku melihat kejujuran di matamu, Nak. Terima kasih sudah bersedia datang sejauh ini hanya untuk menemui keluarga tua ini."Najwa tertegun. Ia tidak menyangka akan diterima dengan begitu terbuka. "Saya yang seharusnya berterima kasih, Abi. Kelembutan hati Umi Fatimah-lah yang membawa saya ke sini. Saya hanya seorang wanita yang masih banyak belajar, jauh dari kata sempurna untuk menginjakkan kaki di tempat suci ini."Abi Ahmad tersenyum lebar, menoleh ke arah Papa Hendra. "Pak Hendra, kamu berhasil mendidik putrimu dengan sangat baik. Di tengah kota yang bising, dia tetap memiliki adab yang tumbuh seperti bunga di padang pasir. Jarang aku menemui anak muda zaman sekarang yang bicaranya setenang dan se-rendah hati ini."Papa Hendra tampak sangat bangga, sementara Kak Arvin mulai sedikit melunak melihat adiknya diperlakukan dengan sangat terhormat."Abi," lanjut Abi Ahmad lagi, "Najwa, di pesantren ini, kami memang memiliki aturan bagi para santriwati. Namun, kamu adalah tamu istimewa, dan kelak jika takdir mengizinkan kamu adalah bagian dari keluarga ini. Jangan merasa terbebani untuk mengubah dirimu secara paksa. Kami mencintaimu karena hatimu yang tulus menolong Umi, bukan karena seberapa cepat kamu memakai jilbab. Berproseslah dengan waktu, karena Allah menyukai proses, bukan kepura-puraan."Air mata Najwa hampir jatuh mendengar kalimat itu. Ia merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar simbol religius.Namun, ketenangan itu seketika terusik saat suara langkah kaki yang teratur terdengar dari arah pintu samping. Sosok pria tinggi dengan jubah gelap dan wajah yang sangat bersih namun tampak beku masuk ke dalam ruangan. Seluruh ruangan mendadak terasa dingin."Azam, kemari lah," panggil Abi Ahmad.Gus Azam melangkah mendekat. Ia tidak menatap Najwa. Sama sekali tidak. Ia hanya menyalami tangan ayahnya dan menyapa Papa Hendra serta Kak Arvin dengan anggukan singkat dan suara yang sangat rendah nyaris seperti bisikan yang tak bernyawa."Ini Najwa, Azam. Wanita yang telah menyelamatkan Umi-mu," ujar Umi Fatimah dengan nada penuh harap.Gus Azam berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, ia melirik ke arah Najwa. Namun, itu bukan lirikkan ketertarikan. Itu adalah tatapan kosong, tajam, dan penuh dengan jarak. Bibirnya yang biasanya sangat indah melantunkan shalawat kini terkatup rapat, membisu seolah-olah bicara dengan wanita adalah sebuah beban yang tak tertahankan.Najwa merasakan desiran dingin di punggungnya. Tatapan Gus Azam seolah-olah menuduhnya sebagai pengganggu yang masuk ke dalam dunia sunyi nya. Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. Hanya ada keheningan yang mematikan di antara mereka."Assalamualaikum, Gus," sapa Najwa dengan suara yang sedikit bergetar.Gus Azam hanya mengangguk tipis sebagai jawaban atas salam itu. Ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia kemudian berbalik dan duduk di pojok ruangan, memutar tasbihnya, seolah-olah keberadaan Najwa dan keluarganya di sana tidak lebih dari sekadar debu yang lewat.Kak Arvin yang melihat adiknya diabaikan seperti itu langsung menegang. Rahangnya mengeras. Ia hampir saja bersuara jika Najwa tidak segera menyentuh lengannya, memberi isyarat untuk tetap tenang.Najwa menatap Gus Azam dari kejauhan. Di balik ketampanan dan kewibawaan pria itu, Najwa melihat sebuah tembok raksasa yang dibangun dari rasa sakit yang luar biasa. Bibir yang piawai memuji Rasulullah itu kini benar-benar membisu untuknya. Namun, alih-alih merasa marah, Najwa merasakan sebuah dorongan aneh di hatinya. Dorongan untuk mengetahui, "apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kebisuan yang mematikan itu?."Pertemuan pertama di gerbang pesantren itu ditutup dengan jamuan makan siang yang sunyi. Najwa tahu, ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi. Ini adalah awal dari peperangan melawan sunyi, di mana ia harus belajar menyenandungkan shalawat di hati pria yang sudah lupa caranya mencintaimencintaimencintaimencintaimencintaimencintaimencintaimencintaPerjalanan dari jantung Jakarta menuju sebuah desa terpencil di Jawa Timur terasa seperti melintasi lorong waktu bagi Najwa. Di dalam mobil MPV mewah milik keluarganya, Najwa menatap keluar jendela, memerhatikan bagaimana gedung-gedung pencakar langit perlahan digantikan oleh hamparan sawah hijau yang membentang luas di bawah langit biru yang bersih. Suara bising klakson dan deru mesin ibu kota telah lenyap, berganti dengan suara gesekan daun tebu yang tertiup angin sore.

​Najwa menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak beraturan sejak mereka keluar dari gerbang tol. Di sampingnya, Kak Arvin duduk dengan wajah tegang, sesekali melirik ponselnya atau menatap tajam ke arah jalanan seolah sedang menginspeksi medan perang. Papa Hendra dan Mama Ratna duduk di baris tengah, sesekali terdengar gumam doa dan percakapan ringan tentang masa lalu Papa yang ternyata pernah singgah di pesantren ini puluhan tahun silam.

​"Kamu yakin dengan ini, Naj?" suara Kak Arvin memecah kesunyian di kabin mobil. "Kita masih bisa putar balik sekarang kalau kamu merasa tidak sanggup."

​Najwa tersenyum tipis, menggenggam jemari kakaknya yang terasa kaku. "Aku sudah istikharah, Kak. Aku hanya ingin menjalani apa yang sudah Allah gariskan. Kakak jangan terlalu tegang begitu, wajahmu jadi terlihat sepuluh tahun lebih tua."

​Arvin mendengus, namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Baginya, membawa adiknya ke pesantren ini seperti melepaskan seekor burung cendrawasih ke dalam hutan rimba yang penuh aturan.

​Mobil perlahan memasuki sebuah gerbang besar bertuliskan Pondok Pesantren Al-Hidayah. Gerbang itu terbuat dari kayu jati ukiran yang sangat megah, menunjukkan wibawa yang luar biasa. Begitu melewati gerbang, pemandangan berubah total. Ratusan santri berbaju putih dan bersarung tampak berjalan rapi di sepanjang jalan setapak. Suara gema hafalan Al-Qur'an terdengar bersahut-sahutan dari asrama-asrama kayu yang berjejer rapi.

Najwa merasa semua mata tertuju pada mobil mereka. Ia menunduk sebentar, merapikan blus tunik berwarna nude yang ia kenakan. Hari ini, ia tetap menjadi dirinya sendiri seorang wanita karier dengan rambut cokelat gelap yang tergerai indah, tanpa kerudung yang membungkus kepalanya. Ia sempat merasa ragu, namun teringat pesan Umi Fatimah di telepon semalam: "Datanglah sebagai Najwa yang menolong Umi di jalanan. Jangan menjadi orang lain hanya karena kamu memasuki gerbang kami."

​Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah bergaya arsitektur Jawa-Persia yang dikenal sebagai Ndalem rumah kediaman sang Kyai. Umi Fatimah dan Ning Syifa sudah berdiri di sana, menyambut mereka dengan senyum yang sangat hangat.

​"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," Umi Fatimah langsung memeluk Najwa begitu ia turun dari mobil. Kehangatan pelukan itu seketika meruntuhkan tembok ketakutan di hati Najwa.

​"Mbak Najwa! Masya Allah, Mbak cantik sekali pakai baju itu!" Ning Syifa menghampiri, matanya berbinar-binar. Ia sama sekali tidak tampak keberatan melihat rambut Najwa yang terurai; ia justru melihatnya sebagai sebuah keindahan yang jujur.

​Mereka kemudian dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu luas yang beralaskan karpet sutra tebal. Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan wibawa yang luar biasa. Beliau mengenakan sarung putih, baju koko yang sangat bersih, dan sorban yang tersampir di bahunya. Itulah Abi Ahmad, sang pemilik cahaya Al-Hidayah.

​Papa Hendra segera menghampiri dan menjabat tangan Abi Ahmad dengan sangat takzim, diikuti oleh Kak Arvin yang tampak mencoba bersikap sesopan mungkin meski hatinya masih waspada.

​"Ini Najwa, Abi," suara Umi Fatimah lembut saat memperkenalkan Najwa.

​Najwa melangkah maju, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Assalamualaikum, Abi. Saya Najwa. Mohon maaf jika kehadiran saya kurang berkenan dengan penampilan yang seperti ini."

​Abi Ahmad menatap Najwa dengan mata yang teduh namun tajam, seolah sedang membaca lembaran-lembaran jiwa di balik wajah cantik itu. Beliau terdiam sejenak, membuat suasana ruangan menjadi sangat hening.

"Wa’alaikumussalam, Nak Najwa," suara Abi Ahmad berat namun sangat menenangkan. "Pakaian adalah urusanmu dengan Penciptamu, namun tutur katamu menunjukkan di mana letak hatimu. Aku melihat kejujuran di matamu, Nak. Terima kasih sudah bersedia datang sejauh ini hanya untuk menemui keluarga tua ini."

​Najwa tertegun. Ia tidak menyangka akan diterima dengan begitu terbuka. "Saya yang seharusnya berterima kasih, Abi. Kelembutan hati Umi Fatimah-lah yang membawa saya ke sini. Saya hanya seorang wanita yang masih banyak belajar, jauh dari kata sempurna untuk menginjakkan kaki di tempat suci ini."

​Abi Ahmad tersenyum lebar, menoleh ke arah Papa Hendra. "Pak Hendra, kamu berhasil mendidik putrimu dengan sangat baik. Di tengah kota yang bising, dia tetap memiliki adab yang tumbuh seperti bunga di padang pasir. Jarang aku menemui anak muda zaman sekarang yang bicaranya setenang dan se-rendah hati ini."

​Papa Hendra tampak sangat bangga, sementara Kak Arvin mulai sedikit melunak melihat adiknya diperlakukan dengan sangat terhormat.

​"Abi," lanjut Abi Ahmad lagi, "Najwa, di pesantren ini, kami memang memiliki aturan bagi para santriwati. Namun, kamu adalah tamu istimewa, dan kelak jika takdir mengizinkan kamu adalah bagian dari keluarga ini. Jangan merasa terbebani untuk mengubah dirimu secara paksa. Kami mencintaimu karena hatimu yang tulus menolong Umi, bukan karena seberapa cepat kamu memakai jilbab. Berproseslah dengan waktu, karena Allah menyukai proses, bukan kepura-puraan."

​Air mata Najwa hampir jatuh mendengar kalimat itu. Ia merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar simbol religius.

​Namun, ketenangan itu seketika terusik saat suara langkah kaki yang teratur terdengar dari arah pintu samping. Sosok pria tinggi dengan jubah gelap dan wajah yang sangat bersih namun tampak beku masuk ke dalam ruangan. Seluruh ruangan mendadak terasa dingin. ​"Azam, kemari lah," panggil Abi Ahmad.

Gus Azam melangkah mendekat. Ia tidak menatap Najwa. Sama sekali tidak. Ia hanya menyalami tangan ayahnya dan menyapa Papa Hendra serta Kak Arvin dengan anggukan singkat dan suara yang sangat rendah nyaris seperti bisikan yang tak bernyawa.

​"Ini Najwa, Azam. Wanita yang telah menyelamatkan Umi-mu," ujar Umi Fatimah dengan nada penuh harap.

​Gus Azam berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, ia melirik ke arah Najwa. Namun, itu bukan lirikkan ketertarikan. Itu adalah tatapan kosong, tajam, dan penuh dengan jarak. Bibirnya yang biasanya sangat indah melantunkan shalawat kini terkatup rapat, membisu seolah-olah bicara dengan wanita adalah sebuah beban yang tak tertahankan.

​Najwa merasakan desiran dingin di punggungnya. Tatapan Gus Azam seolah-olah menuduhnya sebagai pengganggu yang masuk ke dalam dunia sunyi nya. Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. Hanya ada keheningan yang mematikan di antara mereka.

​"Assalamualaikum, Gus," sapa Najwa dengan suara yang sedikit bergetar.

​Gus Azam hanya mengangguk tipis sebagai jawaban atas salam itu. Ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia kemudian berbalik dan duduk di pojok ruangan, memutar tasbihnya, seolah-olah keberadaan Najwa dan keluarganya di sana tidak lebih dari sekadar debu yang lewat.

​Kak Arvin yang melihat adiknya diabaikan seperti itu langsung menegang. Rahangnya mengeras. Ia hampir saja bersuara jika Najwa tidak segera menyentuh lengannya, memberi isyarat untuk tetap tenang.

​Najwa menatap Gus Azam dari kejauhan. Di balik ketampanan dan kewibawaan pria itu, Najwa melihat sebuah tembok raksasa yang dibangun dari rasa sakit yang luar biasa. Bibir yang piawai memuji Rasulullah itu kini benar-benar membisu untuknya. Namun, alih-alih merasa marah, Najwa merasakan sebuah dorongan aneh di hatinya. Dorongan untuk mengetahui, "apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kebisuan yang mematikan itu?."

Pertemuan pertama di gerbang pesantren itu ditutup dengan jamuan makan siang yang sunyi. Najwa tahu, ini bukan sekadar kunjungan silaturahmi. Ini adalah awal dari peperangan melawan sunyi, di mana ia harus belajar menyenandungkan shalawat di hati pria yang sudah lupa caranya mecintaimencintamencintaimencintai