Senandung Sholawat Di Bibir Yang Membisu Bab 3
3/15
Bab 3

Bab 3

SepertigaSepertigaponselSepertigaSepertigaponsel telah jatuh di langit Jakarta. Dari balik jendela kaca kamar apartemennya yang berada di lantai atas kediaman keluarga Kusuma, Najwa menatap hamparan lampu kota yang mulai meredup. Kebisingan ibu kota yang biasanya tak pernah tidur, kini menyisakan dengung samar yang terasa jauh. Sunyi yang merayap di sela-sela dinding kamar mewahnya terasa begitu berbeda malam ini bukan lagi sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang penuh dengan tanda tanya.Udara dingin dari pendingin ruangan beradu dengan suasana hatinya yang gundah. Di atas tempat tidur king-size miliknya, terdapat mukena berbahan sutra putih yang masih terlipat rapi. Najwa menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang sempat tercecer setelah perdebatan hebat antara Papa Hendra dan KakKakKakKakKakKakKakKakKakKakKakKakKakKakKakKak Arvin beberapa jam yang lalu.Ia melangkah menuju kamar mandi, menyentuh air wudhu yang terasa menusuk kulitnya. Setiap basuhan air itu seolah menjadi pengingat akan kesucian niat yang sedang ia bangun. Saat air membasuh wajahnya, Najwa memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan tumpukan berkas desain dan ambisi karirnya yang selama ini menjadi poros hidupnya.Kembali ke kamar, Najwa membentangkan sajadah beludru berwarna biru tua. Ia berdiri tegak, menghadap kiblat, dan memulai shalatnya. Dalam ruku' dan sujudnya, ia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya."Ya Allah, jika memang pria yang bernama Azam itu adalah jalan menuju ridho-Mu, maka lunakkanlah hatiku yang sekeras batu ini..." bisiknya di dalam sujud terakhir yang panjang.Setelah salam, Najwa tidak langsung beranjak. Ia duduk bersimpuh, memutar butiran tasbih kristal yang dingin di jemarinya. Di tengah keheningan malam yang sakral itu, pikirannya kembali pada sosok Gus Azam dalam video yang ditunjukkan Ning Syifa. Suara shalawat pria itu seolah terngiang kembali, membelah kesunyian kamar. Ada getaran duka yang sangat dalam dalam suara itu, sebuah luka yang seolah memanggil jiwa Najwa untuk datang dan membalutnya.Tiba-tiba, di tengah kekhusyukan dzikir nya, ponsel Najwa yang tergeletak di samping sajadah bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Layarnya menyala, menerangi kegelapan kamar dengan cahaya putih yang lembut.Najwa ragu sejenak sebelum meraih ponsel itu. Sebuah pesan dari nomor yang sangat ia kenal: Umi Fatimah.[Pesan Umi Fatimah]:"Assalamualaikum, Najwa anakku sayang... Maafkan Umi jika mengganggu istirahatmu di jam sedini ini. Umi baru saja selesai shalat malam, dan tiba-tiba hati Umi merasa sangat rindu padamu. Malam ini, Azam baru saja pulang dari makam almarhum Abi-nya yang kedua, dia tidak bicara sepatah kata pun sejak pulang. Dia hanya duduk di teras masjid, menatap langit malam dengan tatapan yang sangat sunyi. Saat melihatnya, Umi hanya terpikir satu nama: Najwa. Umi titip doa padamu malam ini, ya Nak. Semoga Allah memberikan petunjuk terbaik untukmu, karena Umi tahu, kamu adalah jawaban yang Allah kirimkan lewat kecelakaan itu."Air mata Najwa jatuh tanpa bisa dibendung. Pesan itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah permohonan tulus dari seorang ibu yang sedang berjuang menyelamatkan anaknya dari kegelapan jiwa. Najwa bisa merasakan betapa berat beban yang dipikul Umi Fatimah.Baru saja Najwa hendak meletakkan ponselnya, sebuah kejadian aneh terjadi. Di luar jendela, sebuah angin kencang tiba-tiba berhembus, membuat gorden kamarnya tersingkap. Najwa menoleh ke arah jendela, dan tepat saat itu, sayup-sayup terdengar suara gema shalawat dari masjid yang berada tidak jauh dari kompleks perumahannya.Shalawat yang dikumandangkan adalah Shalawat Thibil Qulub shalawat penyembuh hati. Melodi dan nadanya entah kenapa sangat mirip dengan cara Gus Azam melantunkannya di video tersebut. Najwa terpaku. Di Jakarta yang penuh dengan suara bising ini, mendengar shalawat di jam dua pagi secara jernih adalah sebuah kelangkaan."Apakah ini tanda-Mu, Ya Allah?" batin Najwa bergejolak.Ia merasa seolah-olah alam semesta sedang berkonspirasi untuk mengarahkannya pada satu titik: Pesantren Al-Hidayah. Ia yang selama ini dikenal sebagai wanita karier yang rasional, tiba-tiba merasa logikanya runtuh. Status "istri kedua" yang tadinya terasa seperti penghinaan, kini mulai terlihat sebagai sebuah misi suci.Keesokan paginya, Najwa terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang, meski matanya sedikit sembab. Ia turun ke ruang makan, di mana Papa Hendra sedang membaca koran bisnis dan Kak Arvin sedang sibuk dengan tabletnya. Suasana masih terasa agak canggung setelah perdebatan semalam.Mama Ratna datang membawakan sarapan, menatap Najwa dengan penuh selidik. "Bagaimana tidurmu, Sayang? Kamu tampak... berbeda pagi ini."Najwa duduk perlahan, menatap Papa Hendra yang kini menurunkan korannya, menatap putri kesayangannya dengan penuh harap."Pah, Kak Arvin..." suara Najwa terdengar mantap, meski ada sedikit getaran di sana."Semalam aku sudah melakukan apa yang Papa minta. Aku melakukan istikharah."Kak Arvin meletakkan tabletnya, raut wajahnya menegang. "Dan? Kamu tetap mau menolaknya, kan, Naj? Kamu sudah pikirkan matang-matang soal karirmu? Proyek kita di Surabaya bulan depan?"Najwa menggeleng pelan. "Aku memikirkan semuanya, Kak. Tapi semalam, aku mendapatkan ketenangan yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Umi Fatimah juga mengirimkan pesan padaku. Ada sesuatu dalam diri Gus Azam yang membuatku merasa... aku harus ada di sana.""Najwa!" Kak Arvin berdiri, tampak tidak puas. "Ini bukan novel romantis, ini kenyataan hidup! Kamu akan menghadapi pria yang membeku, Naj!""Justru itu, Kak," potong Najwa dengan nada lembut namun tegas. "Mungkin tugasku bukan hanya membuat desain gedung yang indah di kota ini. Mungkin tugas terbesarku adalah membantu membangun kembali hati yang sudah lama hancur. Aku ingin bertemu dengannya, Pa. Aku ingin bertemu dengan Gus Azam."Papa Hendra tersenyum lebar, sebuah senyuman kelegaan yang luar biasa. Beliau bangkit dan memeluk putri tunggalnya itu. "Terima kasih, Najwa. Terima kasih sudah membuka hatimu untuk keberkahan."Kak Arvin hanya bisa mendengus kesal, namun ia tidak bisa membantah jika Najwa sendiri yang sudah memutuskan. Ia hanya bisa berjanji dalam hati untuk tetap mengawasi adiknya itu. Jika Gus Azam menyakiti Najwa sedikit saja, Arvin bersumpah akan membawa Najwa pulang detik itu juga.Najwa kemudian mengambil ponselnya, jarinya gemetar saat mengetik balasan untuk Umi Fatimah.[Balasan Najwa]:"Waalaikumsalam Umi, bismillah... Najwa bersedia untuk bertemu dengan Gus Azam. Najwa serahkan semuanya pada takdir Allah."Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk. Bukan berupa teks, melainkan sebuah rekaman suara singkat dari Umi Fatimah yang terdengar sedang menangis haru."Alhamdulillah... terima kasih, Najwa. Umi akan segera mengatur pertemuan kalian di pesantren."Najwa menatap pantulan dirinya di cermin ruang makan. Ia tahu, langkah ini akan mengubah segalanya. Dari hiruk pikuk Jakarta menuju sunyinya pesantren. Dari bibir yang bicara soal angka dan desain, menuju bibir yang akan belajar tentang sabar dan keheningan. Perjalanan menuju "Bibir yang Membisu" itu pun resmi dimulai.Sepertiga malam telah jatuh di langit Jakarta. Dari balik jendela kaca kamar apartemennya yang berada di lantai atas kediaman keluarga Kusuma, Najwa menatap hamparan lampu kota yang mulai meredup. Kebisingan ibu kota yang biasanya tak pernah tidur, kini menyisakan dengung samar yang terasa jauh. Sunyi yang merayap di sela-sela dinding kamar mewahnya terasa begitu berbeda malam ini bukan lagi sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang penuh dengan tanda tanya.Udara dingin dari pendingin ruangan beradu dengan suasana hatinya yang gundah. Di atas tempat tidur king-size miliknya, terdapat mukena berbahan sutra putih yang masih terlipat rapi. Najwa menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang sempat tercecer setelah perdebatan hebat antara Papa Hendra dan Kak Arvin beberapa jam yang lalu.Ia melangkah menuju kamar mandi, menyentuh air wudhu yang terasa menusuk kulitnya. Setiap basuhan air itu seolah menjadi pengingat akan kesucian niat yang sedang ia bangun. Saat air membasuh wajahnya, Najwa memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan tumpukan berkas desain dan ambisi karirnya yang selama ini menjadi poros hidupnya.Kembali ke kamar, Najwa membentangkan sajadah beludru berwarna biru tua. Ia berdiri tegak, menghadap kiblat, dan memulai shalatnya. Dalam ruku' dan sujudnya, ia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya."Ya Allah, jika memang pria yang bernama Azam itu adalah jalan menuju ridho-Mu, maka lunakkanlah hatiku yang sekeras batu ini..." bisiknya di dalam sujud terakhir yang panjang.Setelah salam, Najwa tidak langsung beranjak. Ia duduk bersimpuh, memutar butiran tasbih kristal yang dingin di jemarinya. Di tengah keheningan malam yang sakral itu, pikirannya kembali pada sosok Gus Azam dalam video yang ditunjukkan Ning Syifa. Suara shalawat pria itu seolah terngiang kembali, membelah kesunyian kamar. Ada getaran duka yang sangat dalam dalam suara itu, sebuah luka yang seolah memanggil jiwa Najwa untuk datang dan membalutnya.Tiba-tiba, di tengah kekhusyukan dzikir nya, ponsel Najwa yang tergeletak di samping sajadah bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Layarnya menyala, menerangi kegelapan kamar dengan cahaya putih yang lembut.Najwa ragu sejenak sebelum meraih ponsel itu. Sebuah pesan dari nomor yang sangat ia kenal: Umi Fatimah.[Pesan Umi Fatimah]:"Assalamualaikum, Najwa anakku sayang... Maafkan Umi jika mengganggu istirahatmu di jam sedini ini. Umi baru saja selesai shalat malam, dan tiba-tiba hati Umi merasa sangat rindu padamu. Malam ini, Azam baru saja pulang dari makam almarhum Abi-nya yang kedua, dia tidak bicara sepatah kata pun sejak pulang. Dia hanya duduk di teras masjid, menatap langit malam dengan tatapan yang sangat sunyi. Saat melihatnya, Umi hanya terpikir satu nama: Najwa. Umi titip doa padamu malam ini, ya Nak. Semoga Allah memberikan petunjuk terbaik untukmu, karena Umi tahu, kamu adalah jawaban yang Allah kirimkan lewat kecelakaan itu."Air mata Najwa jatuh tanpa bisa dibendung. Pesan itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah permohonan tulus dari seorang ibu yang sedang berjuang menyelamatkan anaknya dari kegelapan jiwa. Najwa bisa merasakan betapa berat beban yang dipikul Umi Fatimah.Baru saja Najwa hendak meletakkan ponselnya, sebuah kejadian aneh terjadi. Di luar jendela, sebuah angin kencang tiba-tiba berhembus, membuat gorden kamarnya tersingkap. Najwa menoleh ke arah jendela, dan tepat saat itu, sayup-sayup terdengar suara gema shalawat dari masjid yang berada tidak jauh dari kompleks perumahannya.Shalawat yang dikumandangkan adalah Shalawat Thibil Qulub shalawat penyembuh hati. Melodi dan nadanya entah kenapa sangat mirip dengan cara Gus Azam melantunkannya di video tersebut. Najwa terpaku. Di Jakarta yang penuh dengan suara bising ini, mendengar shalawat di jam dua pagi secara jernih adalah sebuah kelangkaan."Apakah ini tanda-Mu, Ya Allah?" batin Najwa bergejolak.Ia merasa seolah-olah alam semesta sedang berkonspirasi untuk mengarahkannya pada satu titik: Pesantren Al-Hidayah. Ia yang selama ini dikenal sebagai wanita karier yang rasional, tiba-tiba merasa logikanya runtuh. Status "istri kedua" yang tadinya terasa seperti penghinaan, kini mulai terlihat sebagai sebuah misi suci.Keesokan paginya, Najwa terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang, meski matanya sedikit sembab. Ia turun ke ruang makan, di mana Papa Hendra sedang membaca koran bisnis dan Kak Arvin sedang sibuk dengan tabletnya. Suasana masih terasa agak canggung setelah perdebatan semalam.Mama Ratna datang membawakan sarapan, menatap Najwa dengan penuh selidik. "Bagaimana tidurmu, Sayang? Kamu tampak... berbeda pagi ini."Najwa duduk perlahan, menatap Papa Hendra yang kini menurunkan korannya, menatap putri kesayangannya dengan penuh harap."Pah, Kak Arvin..." suara Najwa terdengar mantap, meski ada sedikit getaran di sana."Semalam aku sudah melakukan apa yang Papa minta. Aku melakukan istikharah."Kak Arvin meletakkan tabletnya, raut wajahnya menegang. "Dan? Kamu tetap mau menolaknya, kan, Naj? Kamu sudah pikirkan matang-matang soal karirmu? Proyek kita di Surabaya bulan depan?"Najwa menggeleng pelan. "Aku memikirkan semuanya, Kak. Tapi semalam, aku mendapatkan ketenangan yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Umi Fatimah juga mengirimkan pesan padaku. Ada sesuatu dalam diri Gus Azam yang membuatku merasa... aku harus ada di sana.""Najwa!" Kak Arvin berdiri, tampak tidak puas. "Ini bukan novel romantis, ini kenyataan hidup! Kamu akan menghadapi pria yang membeku, Naj!""Justru itu, Kak," potong Najwa dengan nada lembut namun tegas. "Mungkin tugasku bukan hanya membuat desain gedung yang indah di kota ini. Mungkin tugas terbesarku adalah membantu membangun kembali hati yang sudah lama hancur. Aku ingin bertemu dengannya, Pa. Aku ingin bertemu dengan Gus Azam."Papa Hendra tersenyum lebar, sebuah senyuman kelegaan yang luar biasa. Beliau bangkit dan memeluk putri tunggalnya itu. "Terima kasih, Najwa. Terima kasih sudah membuka hatimu untuk keberkahan."Kak Arvin hanya bisa mendengus kesal, namun ia tidak bisa membantah jika Najwa sendiri yang sudah memutuskan. Ia hanya bisa berjanji dalam hati untuk tetap mengawasi adiknya itu. Jika Gus Azam menyakiti Najwa sedikit saja, Arvin bersumpah akan membawa Najwa pulang detik itu juga.Najwa kemudian mengambil ponselnya, jarinya gemetar saat mengetik balasan untuk Umi Fatimah.[Balasan Najwa]:"Waalaikumsalam Umi, bismillah... Najwa bersedia untuk bertemu dengan Gus Azam. Najwa serahkan semuanya pada takdir Allah."Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk. Bukan berupa teks, melainkan sebuah rekaman suara singkat dari Umi Fatimah yang terdengar sedang menangis haru."Alhamdulillah... terima kasih, Najwa. Umi akan segera mengatur pertemuan kalian di pesantren."Najwa menatap pantulan dirinya di cermin ruang makan. Ia tahu, langkah ini akan mengubah segalanya. Dari hiruk pikuk Jakarta menuju sunyinya pesantren. Dari bibir yang bicara soal angka dan desain, menuju bibir yang akan belajar tentang sabar dan keheningan. Perjalanan menuju "Bibir yang Membisu" itu pun resmi dimulai.Sepertiga malam telah jatuh di langit Jakarta. Dari balik jendela kaca kamar apartemennya yang berada di lantai atas kediaman keluarga Kusuma, Najwa menatap hamparan lampu kota yang mulai meredup. Kebisingan ibu kota yang biasanya tak pernah tidur, kini menyisakan dengung samar yang terasa jauh. Sunyi yang merayap di sela-sela dinding kamar mewahnya terasa begitu berbeda malam ini bukan lagi sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang penuh dengan tanda tanya.

​Udara dingin dari pendingin ruangan beradu dengan suasana hatinya yang gundah. Di atas tempat tidur king-size miliknya, terdapat mukena berbahan sutra putih yang masih terlipat rapi. Najwa menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang sempat tercecer setelah perdebatan hebat antara Papa Hendra dan Kak Arvin beberapa jam yang lalu.

​Ia melangkah menuju kamar mandi, menyentuh air wudhu yang terasa menusuk kulitnya. Setiap basuhan air itu seolah menjadi pengingat akan kesucian niat yang sedang ia bangun. Saat air membasuh wajahnya, Najwa memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan tumpukan berkas desain dan ambisi karirnya yang selama ini menjadi poros hidupnya. ​Kembali ke kamar, Najwa membentangkan sajadah beludru berwarna biru tua. Ia berdiri tegak, menghadap kiblat, dan memulai shalatnya. Dalam ruku' dan sujudnya, ia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

​"Ya Allah, jika memang pria yang bernama Azam itu adalah jalan menuju ridho-Mu, maka lunakkanlah hatiku yang sekeras batu ini..." bisiknya di dalam sujud terakhir yang panjang. ​Setelah salam, Najwa tidak langsung beranjak. Ia duduk bersimpuh, memutar butiran tasbih kristal yang dingin di jemarinya. Di tengah keheningan malam yang sakral itu, pikirannya kembali pada sosok Gus Azam dalam video yang ditunjukkan Ning Syifa. Suara shalawat pria itu seolah terngiang kembali, membelah kesunyian kamar. Ada getaran duka yang sangat dalam dalam suara itu, sebuah luka yang seolah memanggil jiwa Najwa untuk datang dan membalutnya.

​Tiba-tiba, di tengah kekhusyukan dzikir nya, ponsel Najwa yang tergeletak di samping sajadah bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Layarnya menyala, menerangi kegelapan kamar dengan cahaya putih yang lembut.

Najwa ragu sejenak sebelum meraih ponsel itu. Sebuah pesan dari nomor yang sangat ia kenal: Umi Fatimah.

​[Pesan Umi Fatimah]:

"Assalamualaikum, Najwa anakku sayang... Maafkan Umi jika mengganggu istirahatmu di jam sedini ini. Umi baru saja selesai shalat malam, dan tiba-tiba hati Umi merasa sangat rindu padamu. Malam ini, Azam baru saja pulang dari makam almarhum Abi-nya yang kedua, dia tidak bicara sepatah kata pun sejak pulang. Dia hanya duduk di teras masjid, menatap langit malam dengan tatapan yang sangat sunyi. Saat melihatnya, Umi hanya terpikir satu nama: Najwa. Umi titip doa padamu malam ini, ya Nak. Semoga Allah memberikan petunjuk terbaik untukmu, karena Umi tahu, kamu adalah jawaban yang Allah kirimkan lewat kecelakaan itu."

​Air mata Najwa jatuh tanpa bisa dibendung. Pesan itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah permohonan tulus dari seorang ibu yang sedang berjuang menyelamatkan anaknya dari kegelapan jiwa. Najwa bisa merasakan betapa berat beban yang dipikul Umi Fatimah.

​Baru saja Najwa hendak meletakkan ponselnya, sebuah kejadian aneh terjadi. Di luar jendela, sebuah angin kencang tiba-tiba berhembus, membuat gorden kamarnya tersingkap. Najwa menoleh ke arah jendela, dan tepat saat itu, sayup-sayup terdengar suara gema shalawat dari masjid yang berada tidak jauh dari kompleks perumahannya.

​Shalawat yang dikumandangkan adalah Shalawat Thibil Qulub shalawat penyembuh hati. Melodi dan nadanya entah kenapa sangat mirip dengan cara Gus Azam melantunkannya di video tersebut. Najwa terpaku. Di Jakarta yang penuh dengan suara bising ini, mendengar shalawat di jam dua pagi secara jernih adalah sebuah kelangkaan.

​"Apakah ini tanda-Mu, Ya Allah?" batin Najwa bergejolak.

​Ia merasa seolah-olah alam semesta sedang berkonspirasi untuk mengarahkannya pada satu titik: Pesantren Al-Hidayah. Ia yang selama ini dikenal sebagai wanita karier yang rasional, tiba-tiba merasa logikanya runtuh. Status "istri kedua" yang tadinya terasa seperti penghinaan, kini mulai terlihat sebagai sebuah misi suci.

Keesokan paginya, Najwa terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang, meski matanya sedikit sembab. Ia turun ke ruang makan, di mana Papa Hendra sedang membaca koran bisnis dan Kak Arvin sedang sibuk dengan tabletnya. Suasana masih terasa agak canggung setelah perdebatan semalam.

​Mama Ratna datang membawakan sarapan, menatap Najwa dengan penuh selidik. "Bagaimana tidurmu, Sayang? Kamu tampak... berbeda pagi ini."

​Najwa duduk perlahan, menatap Papa Hendra yang kini menurunkan korannya, menatap putri kesayangannya dengan penuh harap.

​"Pah, Kak Arvin..." suara Najwa terdengar mantap, meski ada sedikit getaran di sana. "Semalam aku sudah melakukan apa yang Papa minta. Aku melakukan istikharah." ​Kak Arvin meletakkan tabletnya, raut wajahnya menegang. "Dan? Kamu tetap mau menolaknya, kan, Naj? Kamu sudah pikirkan matang-matang soal karirmu? Proyek kita di Surabaya bulan depan?"

​Najwa menggeleng pelan. "Aku memikirkan semuanya, Kak. Tapi semalam, aku mendapatkan ketenangan yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Umi Fatimah juga mengirimkan pesan padaku. Ada sesuatu dalam diri Gus Azam yang membuatku merasa... aku harus ada di sana."

​"Najwa!" Kak Arvin berdiri, tampak tidak puas. "Ini bukan novel romantis, ini kenyataan hidup! Kamu akan menghadapi pria yang membeku, Naj!"

​"Justru itu, Kak," potong Najwa dengan nada lembut namun tegas. "Mungkin tugasku bukan hanya membuat desain gedung yang indah di kota ini. Mungkin tugas terbesarku adalah membantu membangun kembali hati yang sudah lama hancur. Aku ingin bertemu dengannya, Pa. Aku ingin bertemu dengan Gus Azam."

​Papa Hendra tersenyum lebar, sebuah senyuman kelegaan yang luar biasa. Beliau bangkit dan memeluk putri tunggalnya itu. "Terima kasih, Najwa. Terima kasih sudah membuka hatimu untuk keberkahan."

Kak Arvin hanya bisa mendengus kesal, namun ia tidak bisa membantah jika Najwa sendiri yang sudah memutuskan. Ia hanya bisa berjanji dalam hati untuk tetap mengawasi adiknya itu. Jika Gus Azam menyakiti Najwa sedikit saja, Arvin bersumpah akan membawa Najwa pulang detik itu juga.

​Najwa kemudian mengambil ponselnya, jarinya gemetar saat mengetik balasan untuk Umi Fatimah.

​[Balasan Najwa]:

"Waalaikumsalam Umi, bismillah... Najwa bersedia untuk bertemu dengan Gus Azam. Najwa serahkan semuanya pada takdir Allah."

​Hanya dalam hitungan detik, balasan masuk. Bukan berupa teks, melainkan sebuah rekaman suara singkat dari Umi Fatimah yang terdengar sedang menangis haru. "Alhamdulillah... terima kasih, Najwa. Umi akan segera mengatur pertemuan kalian di pesantren."

​Najwa menatap pantulan dirinya di cermin ruang makan. Ia tahu, langkah ini akan mengubah segalanya. Dari hiruk pikuk Jakarta menuju sunyinya pesantren. Dari bibir yang bicara soal angka dan desain, menuju bibir yang akan belajar tentang sabar dan keheningan. Perjalanan menuju "Bibir yang Membisu" itu pun resmi dimulai.