Di lantai bawah, pesta berlangsung dengan gemuruh. Musik berdentum keras, lampu warna-warni berputar, dan tawa bercampur pekikan mengisi udara. Namun, di lantai atas suasana berbeda. Sunyi, misterius, dan penuh rahasia. Di balik deretan pintu kayu mewah, ada kamar-kamar cinta ruang penuh gairah dan dosa.
Satu kamar, paling mewah, tak sembarang orang bisa memasukinya. Itu kamar VVIP. Harga sekali masuknya seratus juta. Hanya pria berduit, haus kuasa, atau nekat yang berani mencobanya.
Malam itu, kamar VVIP sudah ditempati.
Di dalamnya, seorang wanita duduk anggun di atas sofa beludru merah. Kakinya bersilang, gaun putih tipis nyaris tembus pandang melekat di tubuhnya yang langsing. Kulitnya pucat bening, wajahnya cantik luar biasa kecantikan yang membuat lelaki kaya sekalipun rela melupakan harga dirinya.
Dia adalah Queen. Julukan yang diberikan oleh semua penghuni rumah bordil kelas atas itu. Tak ada yang tahu siapa dirinya, tak ada yang tahu nama aslinya. Yang mereka tahu hanyalah satu hal, Queen adalah wanita termahal di tempat itu, sekaligus sumber penghasilan terbesar sang Mami.
Queen menegakkan tubuh, membiarkan gaunnya melorot sedikit dari bahu, senyumnya menawan. Ia tahu, malam ini ada tamu yang sudah membayar mahal untuknya.
Pintu kamar terbuka.
Seorang pria masuk, tubuh besar dan perut buncit, wajah keras dengan sorot mata yang biasanya garang. Namun saat matanya menatap Queen, sorot itu langsung padam. Ia terpesona.
“Tutup pintunya,” ucap Queen, suaranya lembut namun penuh kuasa. “Kemari.”
Pria itu menurut. Seolah Queen adalah magnet yang tak bisa ditolak. Ia berlutut di hadapan Queen, tangannya langsung meraih betis putih mulus itu.
“Pantas kau mahal, Nona. Kau berbeda. Kau, sempurna.”
Queen tersenyum, kepalanya miring manja. “Apakah aku wangi?” bisiknya.
Pria itu mengangguk, bahkan matanya berkaca-kaca karena mabuk akan pesona. “Kau wangi, lebih dari apa pun yang pernah kuhirup.”
Queen mengangkat tangannya, menaruh telapak mungilnya yang pink di depan wajah pria itu. “Kalau begitu, hirup wangiku. Semuanya.”
Pria itu tak ragu, dia mencium, menghirup, bahkan seperti tersedot ke dalam aroma samar yang Queen ciptakan. Tak sampai semenit, matanya mulai sayu. Nafasnya terengah, kepalanya terdongak ke atas seakan berada di antara sadar dan mabuk.
Queen tersenyum tipis. “Ayo ke kasur, Sayang.”
Dengan mudah dia menuntun pria itu ke ranjang besar. Mereka rebah bersama, Queen terus berbisik di telinganya, membisikkan rayuan yang membuat lelaki itu semakin panas meski tubuhnya kehilangan kendali.
Tak lama, lelaki itu terlelap, puas, dan tak berdaya. Celananya basah. Queen tersenyum penuh kemenangan.
“Modal kecil, untung besar,” gumamnya sambil turun dari ranjang. Ia melangkah ke kamar mandi, berganti baju sederhana, kaos oblong dan celana pendek rumahan. Menatap bayangan dirinya di kaca, ia tersenyum penuh percaya diri.
“Kau cantik, kau mahal,” ucapnya pada pantulan dirinya sendiri.
Malam itu, Queen kembali berhasil menjaga rahasianya. Rahasia yang membuatnya tetap menjadi legenda di dunia kelam itu bahwa ia masih perawan.
Queen meninggalkan ruang VVIP dengan langkah santai. Sendal jepitnya nyaris tak mengeluarkan suara, ia menyusuri koridor yang remang, sementara tas sandang kecil bergoyang di bahunya. Tatapannya tenang, seakan tak terjadi apa-apa barusan, padahal baru saja ada pria buncit yang dibuatnya “keluar” tanpa menyentuh tubuhnya sedikit pun.
Ia berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan Dilarang Masuk. Tanpa ragu, Queen mendorongnya. Di dalam, aroma parfum mahal bercampur asap rokok tipis.
“Wih, primadona kesayangan Mami sudah datang!” seru seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul tinggi. Dialah Mami, pemilik rumah bordil kelas atas itu. Senyumnya lebar, matanya berbinar penuh rasa bangga. “Cepet banget sih ngeluarinnya? Kamu memang anak kesayangan Mami. Pelanggan gak ada yang berani komplain, semuanya memujimu.”
Queen hanya tersenyum kecil, duduk manja di sofa, lalu menyilangkan kaki jenjangnya. “Mami, cari duit itu perlu ilmu,” ucapnya lembut, ada nada congkak di dalamnya.
Mami terkekeh sambil menyalakan rokok. Ia tak tahu bahwa rahasia Queen adalah obat tingkat tinggi sangat langka, sangat mahal, dan hanya tinggal satu dosis di tas kecil Queen. Itu senjata utamanya untuk membuat pria-pria hidung belang tunduk, lalu puas tanpa benar-benar menyentuh tubuh sucinya.
“Yap, itulah kamu. Terlalu mahal, terlalu membanggakan,” kata Mami sambil mengepulkan asap rokok.
“Itulah, Queen,” jawabnya dengan senyum tipis.
“Jadi gimana? Mau langsung pulang?” tanya Mami sambil membuka laptop yang penuh dengan daftar reservasi pria-pria kelas atas.
“Iya, Mi. Mau cari makan juga. Laper banget.”
“Makan di restoran mahal dong, Queen. Kamu duitnya banyak, tapi malah ngontrak segala. Sederhana banget hidupmu.”
Queen tertawa renyah, tubuhnya bergoyang kecil. “Sederhana aja Mi, yang penting perawatan jalan. Aset nih, duit.” Ia berdiri, memutar badannya, memamerkan lekuk tubuh sempurna yang membuat Mami geleng-geleng kepala.
“Kamu memang yang terbaik, Queen.”
Queen melihat jam tangan rantainya. Jarum baru menunjuk pukul sepuluh malam. “Yakin gak ada tamu lagi, Mi? Kalau gak ada aku cabut, sekalian istirahat.”
“Kayaknya gak ada deh. Kalau pun ada, Mami suruh besok aja. Lagian, Mami juga lagi nunggu laporan dari tamu kamu tadi. Mukanya udah puas banget pasti tuh.”
Queen tertawa kecil, lalu berpamitan. Dari seorang “ratu penggoda”, ia berubah jadi gadis muda sederhana yang bahkan lebih mirip mahasiswa.
Di luar, udara malam menusuk. Queen naik motor matic kesayangannya, helm setengah wajah menutupi sebagian wajah cantiknya.
“Makan apa ya enaknya? Bakso kali ya,” gumamnya sambil menyusuri jalanan.
Ia berhenti di sebuah gerobak bakso pinggir jalan. “Bungkus aja, Bang. Udah malam,” katanya, lalu menerima plastik berisi bakso panas dengan senyum ramah. Tak ada yang tahu, gadis polos pembeli bakso itu adalah “Queen” yang jadi rebutan pria kaya.
Baru saja ia akan menyalakan motor, ponselnya berdering. Nama Mami muncul di layar.
“Halo, ada apa Mi?”
“Queen, ada yang pesan kamu.”
Queen mendengus. “Yah, kan udah aku bilang untuk besok aja.”
“Mami udah bilang, tapi orangnya maksa. Katanya jam 12 dia pasti datang.”
“Ih, bilang aja besok, Mi. Aku belum makan nih.” Queen melirik sekantong bakso di tangannya. Perutnya keroncongan.
“Queen, dia maksa banget. Katanya dia mau bayar berapa pun kamu minta.”
Queen terdiam sejenak. Alisnya mengernyit. “Berapa pun?”
“Iya.”
Queen melirik tas kecilnya. Obat yang tersisa hanya satu dosis terakhir. Kalau habis, tamatlah strateginya. Dengan nada malas, ia berkata, “Ya udah. Bilang sama dia 5M. Kalau gak, tunggu besok aja.”
“Lima miliar?! Queen, mahal amat!” seru Mami di seberang telepon.
Queen terkekeh pelan. “Coba aja dulu, Mi. Kalau dia mau, kan Mami juga dapat bonus gede.”
Ia menutup telepon sambil tertawa kecil. “Orang gila mana yang mau beli cewek sampe 5M,” gumamnya, lalu mencoba menyalakan motor.
Namun, belum sempat mesin hidup, ponselnya kembali berdering. Nama Mami lagi.
Dengan malas ia angkat. “Apa lagi, Mi?”
“Queen,” suara Mami bergetar kali ini, nadanya serius. “Dia setuju. Dia mau bayar 5M.”
“Hah?!”
Jantung Queen berdegup kencang. Tangannya gemetar memegang ponsel. “Orang gila macam apa dia?” bisiknya.