Jam 10 pagi, Queen bangun. Bukan karena ingin, tapi karena suara riuh di luar kontrakan membuatnya tidak bisa tidur lagi.
“Mama Mia. Mpok Lela bikin ribut lagi,” gumamnya sambil menguap.
Queen turun dari ranjang, masih memakai baju tidur kuning bergambar bebek lengkap dengan ekornya yang mungil bergoyang saat ia berjalan. Ia menggantinya setelah risih tidak memakai baju tidur. Dengan rambut berantakan dan mata setengah tertutup, ia mengintip lewat jendela.
Tapi pandangan Queen langsung membesar. Ia buru-buru membuka pintu kontrakannya.
Mpok Lela berdiri di halaman dengan senyum lebar, sedang menunjukkan lembar-lembar uang merah pada para tetangga. Bukan hanya itu, ada motor baru parkir di depan rumahnya.
“Ya Allah, Mpok mendadak kaya!”
Sebagai tetangga sekaligus manusia normal, Queen tak kuasa menahan rasa kepo. Ia ikut berkerumun bersama yang lain.
“Oh, jadi orang semalam itu memberi rezeki, ya?” salah satu tetangga berbisik.
“Kirain diculik.”
“Ternyata malah dikasih motor. Enak banget ya.”
Queen menggeleng sambil tersenyum kecut. Dalam hatinya ia lega Mpok Lela baik-baik saja, tapi juga heran siapa yang begitu royal memberi uang dan barang pada wanita itu.
Queen balik ke kontrakan, tapi baru beberapa langkah, terdengar suara keras.
“NURLELA!”
Queen berhenti. Matanya membesar, menoleh kiri kanan. Bukan hanya ia yang menoleh, Mpok Lela juga ikut melihat.
“Siapa yang manggil?” gumam Queen pelan. Jantungnya berdegup kencang, entah kenapa ia merasa seperti sedang diawasi. Sejak ia menyebut namanya ke pria 5M itu, ia jadi mudah merasa takut.
Ia cepat-cepat masuk ke rumah. “Ah sudahlah, ke salon aja sekalian. Rambutku juga udah lepek.”
Namun sebelum ia membuka pintu, sebuah tepukan mendarat di bahunya. Queen menoleh kaget lalu senyumnya merekah.
“Abang!”
Queen langsung melompat memeluk Romeo. Ia seperti anak kecil yang lama tak bertemu keluarganya.
“Duh, makin berat aja kamu,” celetuk Romeo sambil mencubit hidung adiknya.
Queen manyun, tapi tetap senyum. “Lihat deh baju tidurku, lucu kan?”
Romeo terkekeh. “Lucu apanya, kayak bebek nyasar.”
“Aih, ayo masuk dulu. Abang pulangnya lama banget!”
Romeo masuk ke kontrakan kecil itu, menutup pintu, lalu duduk di kursi. Queen ikut duduk bersila di lantai.
“Obatnya udah habis?” tanya Romeo.
Queen mengangguk. Romeo merogoh saku jaketnya, mengeluarkan bungkusan kecil berisi obat itu. Queen cepat-cepat meraih dan memeluknya.
“Bang, aku sayang banget sama Abang,” ujarnya manja.
“Hmm. Kamu sayang obatnya, bukan abangmu.”
Queen cemberut, tapi ia tersenyum lagi saat Romeo ikut tertawa.
“Eh, itu rame-rame kenapa?” Romeo melirik ke jendela.
“Itu Mpok Lela. Subuh tadi aku lihat dia dibawa orang pake baju serba hitam. Teriak-teriak gitu. Eh sekarang malah beli motor dan perabotan baru. Kayak dapet jackpot.”
Romeo memandang keluar dengan wajah waspada. Pengalaman hidup di jalanan membuatnya cepat curiga kalau ada hal aneh.
“Bang,” suara Queen melembut. “Aku nanti mau ke salon, sekalian keramas.”
“Pergilah. Tapi hati-hati,” jawab Romeo.
Queen menggigit bibir. “Bang, nanti bantu aku keluar dari rumah bordir itu ya.”
Romeo langsung menoleh, matanya menyipit. “Kenapa? Ada yang ganggu kamu? Kamu masih suci kan?”
Queen cepat mengangguk. “Masih. Tapi uangku sudah cukup. Aku, nggak enak hati di sana, Bang.”
Romeo menatapnya lama. Ia tahu adiknya bukan tipe yang gampang menyerah. “Belum setahun kamu kerja, La. Apa ada yang bikin kamu nggak nyaman?”
Queen diam sejenak, mengingat wajah pria itu pria yang membayarnya 5M hanya untuk malam itu. Ia menggigit bibir.
“Tidak ada yang mengganggu. Hanya, aku merasa harus keluar sekarang.”
Romeo menghela napas panjang. Ia merasa bersalah. “La, abang minta maaf karena udah bikin kamu susah dari kecil. Abang keluar masuk penjara, kamu sampai nggak bisa makan. Abang cuma mau kamu punya tabungan, supaya nanti kamu nggak susah lagi. Setidaknya tua nanti kamu aman."
Queen tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca. “Bang, aku cantik begini, apa nggak mending cari orang kaya aja?”
Romeo tertawa terbahak. “Ya kalau dapat yang sayang kamu, kenapa nggak?”
Queen ikut tertawa, tapi di dalam hatinya, wajah Tuan Gar kembali terbayang. Tatapan tajamnya, suaranya, bahkan amarahnya saat itu semuanya masih membekas.
"La, abang cuma mampir sebentar aja ngasih obat itu. Nanti abang pergi lagi."
"Yah, nanti aku sendirian lagi dong."
Jujur saja, Queen kesepian selama ini. Tanpa ibu dan ayah, tanpa saudara. Ia hanya punya abangnya yang selalu hilang-hilangan.
Sementara itu, Deko masuk ke ruangan Tuan Gar. Ruangan itu gelap, hanya cahaya lampu kecil di pojok ruangan yang menyala. Di sofa panjang, Tuan Gar berbaring dengan mata terpejam, seolah sedang tidur.
Deko ragu melangkah. Ia hampir berbalik keluar karena tidak ingin mengganggu, tapi sebelum sempat pergi, suara berat Gar terdengar.
“Ada apa?”
Deko langsung berdiri tegak. “Tuan, saya ada laporan.”
“Laporan apa?” Gar masih belum membuka mata, tapi nadanya tegas, tanda ia mendengarkan serius.
“Saya tadi ikut mengantar wanita yang salah tangkap itu. Cukup lama saya menunggu. Wanita itu membeli motor baru dan ...”
Tuan Gar tiba-tiba bangkit dari sofa, sorot matanya tajam menusuk Deko. “Aku terbangun demi mendengar itu?”
Deko menunduk, menelan ludah. “Maaf, Tuan. Tapi, saya tadi sempat berteriak memanggil nama ‘Nurlela’ di sana. Ada dua wanita yang menoleh. Wanita yang tadi, dan seorang wanita muda. Saya sempat mengambil fotonya.”
Gar terdiam sejenak. Dadanya berdegup kencang. Perlahan ia melangkah mendekati Deko. “Tunjukkan.”
Deko cepat mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto.
Tatapan Gar berubah. Mata tajamnya kini berbinar, senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya.
“Lihatlah wanita bodoh ini,” gumamnya dalam hati.
Foto itu menampilkan Queen dalam baju tidur kuning bergambar bebek, rambut berantakan, wajah polos dan menggemaskan. Bahkan dalam kondisi seperti itu, Gar tetap terpesona. Ada sesuatu di wanita itu yang membuatnya ingin memilikinya bukan hanya tubuhnya, tapi dirinya.
“Bawa dia ke sini,” perintah Gar, suaranya rendah tapi sarat ancaman.
Deko ragu. “Tuan, sepertinya dia sudah menikah.”
Kening Gar berkerut. “Apa?”
Deko menggulir layar, memperlihatkan foto lain. Queen sedang memeluk Romeo.
Seketika tangan Gar mengepal keras. Rahangnya mengeras, tatapannya berubah dingin.
“Dia bilang padaku dia masih perawan,” suaranya hampir seperti geraman.
Deko diam, tidak berani menanggapi.
“Berani-beraninya dia menipu aku setelah aku membayarnya lima miliar,” Gar berdiri, tubuh tegapnya memancarkan aura berbahaya. “Kalau benar dia sudah menikah, maka aku akan mengambilnya dengan paksa. Aku akan lihat sejauh apa dia bisa bertahan.”
Senyum tipis muncul di bibirnya, kali ini bukan senyum kagum tapi senyum milik seorang predator yang sedang mengincar mangsanya.
“Siapkan anak-anak. Kita akan jemput wanita itu.”
Deko mengangguk pelan, tapi dalam hati ia khawatir. Ia belum pernah melihat Tuan Gar sekesal ini terhadap seorang wanita. Biasanya, setelah mendapatkan apa yang ia mau, Tuan Gar tidak akan peduli. Tapi kali ini, ia benar-benar terobsesi.