Perawan Mahal Sang Penggoda Queen di Sarang Mafia
5/20
Bab 5

Queen di Sarang Mafia

Siang itu rumah terasa sepi. Romeo sudah pergi sejak tadi, meninggalkan Queen sendirian di kontrakan kecil itu. Biasanya ia betah berlama-lama di kamar, tapi entah kenapa perasaan gelisah membuatnya ingin keluar rumah.

Setelah mandi, ia mengenakan kaos pink favoritnya dan celana panjang rumahan hitam. Penampilannya sederhana seperti biasa. Pesan Romeo selalu terngiang di kepala jangan pernah tampak kaya di jalan, La, kalau nggak mau diincar orang.

Motor matic kesayangannya sudah menunggu di depan rumah. Queen mengenakan jaket pink dan tas selempang kecil yang berisi dompet dan ponsel.

Gang kecil itu terasa biasa saja, sampai ia berpapasan dengan Mpok Lela yang sedang memamerkan motor barunya.

“Wah, motornya baru ya, Mpok!” sapa Queen dengan senyum kecil.

Mpok Lela hanya terkekeh senang, lalu melaju pergi.

Queen menghela napas lega, ikut senang melihat tetangganya kembali ceria. Tapi belum sempat ia sampai di ujung gang, suara deru mesin mobil membuatnya menoleh.

Beberapa mobil hitam berhenti menutup akses jalan.

“Eh?” Queen mengerutkan kening. Hatinya mendadak tak enak.

Pintu-pintu mobil terbuka hampir bersamaan. Lima orang pria bertubuh tegap keluar. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, wajah dingin tanpa ekspresi.

Queen langsung merinding.

“Heh, kalian siapa?” serunya panik.

Belum sempat ia memutar gas, salah satu dari mereka menarik setangnya. Dua orang lain langsung meraih lengannya.

“Lepasin! Lepasin aku!” Queen menendang dan memukul sekuat tenaga, tapi sia-sia. Cengkeraman mereka terlalu kuat.

Detik berikutnya tubuhnya diangkat, motornya tergeletak di pinggir jalan. Queen berteriak histeris, suaranya menggema di gang kecil itu.

“Diam!” bentak salah satu pria itu.

Kain hitam menutup mulutnya. Bau menyengat memenuhi hidungnya. Dunia di sekelilingnya berputar.

Pandangan Queen mulai kabur, tubuhnya lunglai.

Sebelum semuanya gelap, bibirnya bergetar menggumamkan satu kalimat yang nyaris tak terdengar.

“Lima miliar.”

Motor Queen masih menyala, tergeletak tak terurus di pinggir jalan, sementara mobil-mobil itu melaju kencang membawa tubuhnya pergi.

Queen terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Ruangan itu dingin, lampu gantung redup, aroma kayu mahal bercampur bau rokok menyesakkan dada.

Ia mencoba menggerakkan tangan, namun pergelangannya diikat erat dengan tali kulit.

“Di… mana ini?” suaranya serak, napasnya tercekat.

Pintu besi di ruangan itu terbuka perlahan. Suara langkah sepatu terdengar berat, mantap, seolah pemiliknya tak perlu terburu-buru untuk menguasai ruangan.

Queen menahan napas, jantungnya seperti hendak melompat dari dada.

Sosok pria tinggi tegap masuk. Jas hitamnya rapi, wajahnya dingin dan tak terbaca. Sorot mata itu langsung mengunci Queen, membuat bulu kuduknya meremang.

“Tuan Lima Miliar?” bisik Queen tanpa sadar.

Senyum tipis muncul di sudut bibir pria itu. “Kau ingat aku. Bagus.”

Queen buru-buru duduk tegak, walau tubuhnya masih lemas. “Apa maumu? Malam itu sudah selesai, kan?!”

Tuan Gar melangkah mendekat. Tangannya terulur, mencengkeram dagu Queen dan mengangkat wajahnya agar ia menatap langsung ke mata itu.

“Lima miliar untuk satu malam dan kau pikir kau bisa menghilang begitu saja?” suaranya rendah, dingin namun cukup lembut untuk membuat Queen semakin gugup.

Queen mencoba menoleh, tapi cengkeramannya terlalu kuat.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Senyum tipisnya berubah menjadi sesuatu yang gelap, seperti milik seorang pemburu yang baru menemukan buruannya.

“Kau akan tinggal di sini sampai aku bosan.”

Queen membelalakkan mata. “Hah? Kau pikir aku barang mainan?! Cepat lepasin aku! Tanganku sakit!”

Gar justru semakin menatapnya dalam. Bukannya marah, ia malah terlihat semakin tertarik. Semalam ia menangis ketakutan, memohon-mohon agar tidak disentuh. Sekarang, dia malah menantang.

“Kau berani melawanku?” suaranya berat.

“Berani! Sebelum kau jadi vampir dan gigit aku, aku tetap berani. Lepasin sekarang! Sakit tau diiket begini!”

Gar menahan senyum. Sial, gadis ini membuatnya kesal sekaligus terhibur.

Melihat tangannya yang merah, ada rasa iba yang menyelinap. Ia berbalik, lalu melepaskan ikatan di tangan Queen.

“Ughh,” Queen mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Matanya berkaca-kaca. “Lihat! Sampai begini jadinya! Aku perawatan mahal-mahal, eh sekarang kulitku lecet!”

Ia berdiri, mendongak menatap Gar dengan kesal. Tubuh mungilnya jelas kalah jauh dibanding tubuh Gar yang tinggi dan kekar, tapi tatapan Queen tak gentar sedikit pun.

“Kau ini jahat banget, tau nggak?!”

Gar mengamati wajahnya yang marah itu. Bukannya kesal, ia malah merasa semakin ingin memilikinya.

“Kau menipuku,” ucapnya pelan.

Queen ternganga. “Hah? Nipu apa?”

“Kau bilang namamu Nurlela, kau bilang masih perawan. Tapi kau sudah menikah.”

Mendengar itu, Queen hampir meledak. “APA?!! Menikah dari mana?! Hei, lepasin dulu aku eh udah dilepas sih. Nih liat!”

Ia meraih tasnya di meja, mengeluarkan KTP, lalu menyodorkannya ke Gar.

“Baca baik-baik! Namaku Nurlela, status BELUM kawin!”

Gar mengambil KTP itu, menatapnya lama. Foto itu memang Queen. Nama, umur, semuanya cocok. Perlahan rahangnya mengendur.

Queen merebut kembali KTP-nya dengan kesal. “Sudah puas?! Huh! Dasar sok tahu!”

Ia lalu mengecek ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dan seolah tubuhnya ikut protes, perutnya langsung berbunyi keras.

Gar mengangkat alis. “Kau lapar?”

Queen menatapnya sinis. “Menurutmu? Kau kira tadi bunyi petir?!”

Gar hampir tertawa, tapi menahannya. “Kau tidak bisa pulang.”

Queen melotot. “APA?! Hei, ini bukan penjara!”

Gar menatapnya tanpa ekspresi, tapi matanya berbahaya. “Kau di sini karena aku yang menginginkannya. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai aku sendiri yang berkata kau boleh pergi.”

Queen terdiam. Untuk sesaat, ia merasakan hawa dingin menyelimuti ruangan. Tatapan itu membuat jantungnya berpacu cepat antara takut dan entah kenapa, sedikit berdebar.

“Kalau begitu, siapkan makananku. Aku lapar.” ucap Queen akhirnya, masih ketus.

Senyum tipis kembali muncul di bibir Gar. “Berani juga kau memerintahku.”

Queen mendengus. “Bukan memerintah, cuma minta makan. Kalau aku mati kelaparan, kau rugi lima miliar, kan?”

Gar terdiam sejenak, lalu tertawa pendek. Pertama kalinya ia benar-benar tertawa di depan Queen.

“Baiklah, Nurlela. Kau akan dapat makanmu. Dan mulai hari ini kau hanya akan makan di sini. Bersamaku.”

Queen menelan ludah. Rasa lapar di perutnya tiba-tiba berubah menjadi rasa was-was yang lebih besar.

“Aku tadi mau makan nasi padang,” kata Queen sambil mengelus perutnya yang bunyi keras.

“Baik,” jawab Gar tenang. “Aku akan suruh anak buahku belikan untukmu.”

Queen menoleh cepat, alisnya terangkat. “Kau punya anak buah?”

Gar menatapnya seperti bertanya, serius kau nanya begitu? “Jelas. Aku punya segalanya.”

Ia mendekat, senyumnya tipis namun mengintimidasi. “Aku adalah Garendra. Aku seorang mafia.”

Queen memicingkan mata, wajahnya serius lalu tiba-tiba ia nyengir.

“Mafia kok aneh. Masa nyulik cewek cuma buat makan nasi padang bareng?”

Gar terdiam. Matanya menyipit, antara kesal dan geli mendengar celetukan itu.

“Berhati-hatilah, Nurlela. Aku tidak sedang bercanda,” suaranya dalam, membuat udara di ruangan seperti menegang.

Queen hanya mendengus, pura-pura tak takut. “Ya sudah, sekalian pesan rendang sama gulai ayam. Aku lapar banget.”

Gar menatapnya lama, lalu akhirnya tersenyum tipis. “Kau benar-benar membuatku penasaran.”

"Ya, kau harus penasaran denganku. Aku cantik dan mempesona ini. Siapa yang tidak penasaran?" ucap Queen menyombongkan diri.

"Kenapa kau malam itu berbeda dengan yang sekarang?"

"Malam itu aku jualan, sekarang ya ini lah aku."

"Aku suka kau yang ini, menantang."

Queen melihat Gar dengan malas. 

"Aku tidak suka kau!"