Perut lapar membuat Queen mampir sebentar ke kontrakan kecilnya yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumah bordil. Motor maticnya diparkir seadanya, lalu ia membuka pintu dengan kunci cadangan.
Sunyi. Hanya lampu ruang tamu yang menyala redup.
“Sudah tiga hari belum pulang juga,” gumam Queen lirih sambil menaruh tasnya di kursi. Abangnya memang sering menghilang tanpa kabar. Queen sudah terbiasa, tapi tetap saja ada rasa sepi yang menyelinap.
Ia membuka bungkus bakso dan duduk di lantai, makan sambil menyalakan TV. Film kartun lucu mengisi layar, membuatnya terkekeh kecil. Sejenak ia merasa bukan siapa-siapa hanya gadis biasa yang bisa menikmati bakso dan tertawa sendirian.
Tapi kenyataan cepat menagih.
HP-nya berdering. Nama Mami muncul.
“Hmm, enak banget kalau langsung tidur, tapi ya sudahlah,” gerutunya malas, sebelum menekan tombol hijau.
“Iya, Mi?”
“Queen, pelangganmu tadi sudah pulang. Oh iya, Mami transfer ke kamu 20 juta, bonus dari dia.”
Queen tersenyum lebar. “Oke, Mami. Aku sebentar lagi ke sana.”
Panggilan berakhir. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 23.10.
“Huh, baru pulang sudah harus balik lagi. Mana abang gak ada, aku butuh obat itu,” desahnya.
Dengan berat hati ia bangkit, berganti jaket hitam tipis tapi tetap mengenakan kaos dan celana pendek. Malam semakin dingin, dan Queen tahu, malam ini akan panjang.
Di ruang VVIP, ia masuk ke kamar mandi. Gaun putih tipis yang tadi ia kenakan masih tergantung.
“Pakai ini lagi aja,” gumamnya. Ia menanggalkan pakaian, lalu membersihkan diri seadanya. Wajahnya ia poles, tubuhnya ia baluri lotion, rambut panjang bergelombang ia rapikan. Aroma parfum memenuhi ruang kecil itu.
Queen menatap dirinya di cermin. Cantik. Menggoda. Sempurna.
“Dengan 5M, aku bisa cepat keluar dari semua ini,” bisiknya penuh harap.
Tangannya menggenggam pil terakhir, sumber kekuatan sekaligus penyelamat rahasia yang selama ini membuatnya tetap perawan. Ia menghancurkan pil itu jadi serbuk halus di telapak tangan.
“Ini yang terakhir. Semoga abang pulang malam ini,” ucapnya lirih, seolah berbicara pada diri sendiri.
Jam hampir menunjukkan pukul dua belas.
Queen tersenyum sinis. “Pasti orang tua bangka. Mana ada pria normal mau bayar 5 miliar cuma buat satu malam.”
Ia duduk di sofa, menyilangkan kaki, menunggu dengan penuh percaya diri.
Tok. Tok. Tok.
Pintu terbuka.
Queen sudah memasang senyum menggoda, tapi pandangannya langsung membeku.
Bukan pria buncit. Bukan lelaki tua renta. Yang masuk adalah seorang pria sekitar awal tiga puluhan, tinggi, tegap, dengan aura kekuasaan yang begitu pekat. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, mata hitamnya tajam menusuk.
Queen kehilangan kata-kata sejenak.
“Masuklah,” ucapnya akhirnya, tetap menjaga senyuman lembut.
Pria itu melangkah masuk, tidak terburu-buru. Pandangannya menyapu tubuh Queen dari ujung kaki hingga rambut. Sekilas terlihat kekaguman, tapi tatapan itu lebih mirip tatapan predator menilai mangsanya.
“Kau tidak menyambutku?” suaranya berat, berwibawa. Ia justru duduk di tepi ranjang, bukan menghampiri Queen.
Queen tertegun. Dalam hatinya ia mengumpat. Tidak biasanya begini, biasanya mereka langsung terjerat sendiri.
“Kau diam saja? Aku sudah membayarmu mahal. Layani aku.”
Queen menelan ludah, lalu bangkit dengan anggun. Gaun putihnya jatuh mengikuti lekuk tubuh sempurna. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di atas paha pria itu.
“Aku tidak mengira, jika yang datang adalah pria tampan,” bisiknya menggoda, sambil melingkarkan lengannya ke leher sang tamu.
Aroma parfum memenuhi jarak di antara mereka. Queen bersiap menempelkan serbuk obat itu, tangannya sudah mendekat.
Namun tiba-tiba...
Pria itu menangkap pergelangan tangannya! Tatapannya berubah dingin.
“Ka ..." Queen terkejut.
Dengan gerakan cepat, pria itu membanting tubuh Queen ke ranjang. Suara desahan kagetnya pecah di udara.
“Aw!” Queen terperanjat. Tubuhnya yang mungil terkunci di bawah tubuh tegap pria itu.
“Apa-apaan ini?!” serunya panik.
Dagunya dicengkeram kuat, wajahnya dipaksa menatap mata hitam penuh ancaman itu.
“Aku membelimu dengan harga mahal,” suaranya datar tapi berbahaya. “Dan kau mau melayaniku dengan obat itu?”
Darah Queen serasa membeku. Untuk pertama kalinya, ada pria yang menyadari trik kotornya.
Queen ketakutan, tubuhnya gemetar karena tak pernah ada pelanggan yang berani memperlakukannya seperti ini. Selama ini, semua pria tunduk pada pesonanya. Tapi pria yang satu ini, berbeda.
"Apa maksudmu?" suara Queen bergetar, mencoba menahan ketakutan.
Pria itu menatap matanya dalam-dalam, dingin tapi membara. "Jangan pura-pura polos. Kau hampir menaburi obat itu padaku, bukan?"
Queen panik, jemarinya masih menggenggam serbuk putih yang sudah hancur di telapak tangannya. Ia buru-buru menggenggam erat, menyembunyikan. "Aku … aku tidak tahu maksud Tuan."
Pria itu tersenyum miring. Senyum yang membuat jantung Queen berdegup kencang, bukan karena terpikat, tapi karena ancaman yang samar.
"Jangan coba-coba menipuku. Aku membayar lima miliar, bukan untuk mati di tanganmu."
Queen tersedak napas. Bagaimana pria ini bisa tahu? Obat itu hanya diketahui oleh dirinya, bahkan Mami pun tak pernah sadar.
"Tenang saja," pria itu mencondongkan tubuhnya, wajahnya begitu dekat hingga Queen bisa merasakan hembusan napas hangat di lehernya. "Kalau aku mau, aku bisa melaporkanmu ke polisi malam ini juga."
Queen makin pucat, tubuhnya terkunci di bawah tubuh pria itu. "Jangan… jangan lakukan itu," bisiknya.
Pria itu kembali menatapnya, kali ini lebih dalam, seakan menelanjangi setiap rahasia Queen. "Tapi aku tidak akan melakukannya. Kau tahu kenapa?"
Queen hanya bisa menggeleng, takut sekaligus bingung.
"Karena aku lebih tertarik, untuk melihat seberapa jauh kau bisa bertahan tanpa trik kotormu itu."
Pria itu melepaskan dagu Queen perlahan, tapi tetap menahannya dengan sorot mata tajam. Queen menelan ludah, perasaan campur aduk menyelimuti dirinya. Tak pernah ada pria yang membuatnya selemah ini dan anehnya, di balik rasa takut, ada sesuatu yang membuatnya penasaran.
Queen panik. Napasnya semakin cepat, pikirannya kacau. Memang pria itu membayar 5M padanya, jumlah yang gila untuk satu malam, tapi, kesuciannya? Itu harga yang terlalu mahal.
“Tuan, a-aku tidak bermaksud begitu,” suaranya bergetar. Queen memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menahan gemetar.
Pria itu hanya menatapnya. Sorot matanya tajam, penuh tuntutan. “Uang sebanyak itu sia-sia jika aku tidak mendapatkanmu malam ini.”
Ia bangkit perlahan, melepaskan kancing kemejanya satu per satu. Gerakannya tenang, namun justru membuat Queen semakin takut.
"Aku mau kau mandi," katanya datar. "Dan jangan coba-coba memakai obat itu. Malam ini, layani aku."
Queen spontan turun dari ranjang, lalu berlutut di hadapannya. Air mata menetes di pipinya. “Tuan, aku mohon, ambil kembalikan uang itu. Tapi jangan menyentuhku. Aku mohon.”
Pria itu terdiam, tatapannya mengeras. Ada sesuatu dalam sikap Queen yang membuatnya bingung. Kebanyakan wanita akan langsung mendekat jika diberi uang sebanyak itu. Tapi yang satu ini, dia berlutut memohon?
Tidak apa-apa rugi ganti duit Mami, asal aku tidak ternoda malam ini, batin Queen.
Pria itu menghela napas pelan, lalu duduk di tepi ranjang. Sorot matanya menyapu Queen dari ujung kepala sampai kaki. "Sempurna," gumamnya lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Apa 5M itu tidak cukup?” Suaranya kali ini lebih berat, lebih menuntut.
Queen maju sedikit, memegang kaki panjang pria itu dengan kedua tangannya, suaranya lirih dan penuh rasa takut. “Tuan, maafkan aku. Mau seberapapun Anda membayar, aku… aku tidak bisa. Mohon maaf.”
Dan itulah puncaknya. Pria itu mendadak bergerak cepat, marah sekaligus terdorong oleh hasrat. Tubuh tegapnya mengangkat Queen dengan mudah, menelentangkannya di atas kasur.
“Kya!” jerit Queen kecil.
Gaun putih tipis itu koyak, suara kain yang robek terdengar begitu jelas. Kulit Queen memerah karena kerasnya hentakan itu. Ia menangis tersedu, menutupi tubuhnya seadanya dengan kedua tangan.
Pria itu berhenti. Nafasnya terengah. Untuk sesaat ia hanya menatap Queen yang meringkuk di bawahnya. Belum pernah ia melihat seorang wanita secantik ini dari jarak sedekat itu. Kesempurnaan tubuhnya membuatnya terpaku.
Namun tangisan Queen menusuk dadanya.
“Tuan, a-aku masih perawan,” lirih Queen di sela isaknya.
Kata-kata itu bagai petir di siang bolong. Mata pria itu membesar, rahangnya mengeras. Ia menatap Queen lama, seolah ingin memastikan ucapan itu bukan dusta.
Perlahan, ia menarik diri sedikit, memberi jarak. Tangannya yang tadi menggenggam bahu Queen kini turun, hanya menahan agar Queen tidak kabur.
“Perawan?” suaranya rendah, nyaris seperti geraman.
Queen hanya mengangguk, masih menutup tubuhnya dengan tangan. Air mata membasahi pipi cantiknya.
Pria itu menarik napas dalam. Ada amarah, ada nafsu, tapi juga ada sesuatu yang lain, rasa penasaran yang berubah menjadi obsesi.
“Kalau begitu,” suaranya terdengar seperti bisikan yang mematikan, “…kau akan menjadi milikku. Hanya milikku.”
Queen terkejut, matanya membelalak. “T-Tuan.”
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Queen merinding. “Mulai malam ini, kau tidak akan bisa lari dariku.”