Nikah Siri Bab 1 - KETAHUAN
1/21
Bab 1

Bab 1 - KETAHUAN

Brraagh!!

"SBrraagh!!

"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau dan setuju kamu berpacaran dengan perempuan ini!!"

Teriakan dan gebrakan keras di meja oleh seorang perempuan yang terdengar sangat familiar di telinga Ibra, seketika pula membuat genggaman tangannya di jari Emma terlepas begitu saja.

"Dia siapa?" tanya Emma dengan mata memicing menatap silih berganti antara Ibra dan perempuan yang baru saja berteriak di dekatnya, rasa tak nyaman seketika melingkupi hati Emma.

"Sialan!"

Mata Emma seketika mendelik, tak percaya ketika mendengar umpatan yang baru saja di ucapkan oleh orang yang dia kenal dengan kesantunan bahasa dan sikapnya itu, bernada lirih tapi, masih dapat dia dengar dengan sangat jelas.

"Tunggu di sini, jangan ke mana mana ok!" ujar Ibra yang berdiri, tak lupa memberikan senyum terindahnya pada Emma yang masih merasa aneh dengan sikap Ibra yang berubah dengan cepat.

"Aduuuh, Kak .... sakit!"

Jeritan perempuan muda nan seksi itu terdengar saat Ibra dengan sedikit memaksa menarik tangannya, menjauh hingga ke luar ruangan.

Emma hanya bisa melihat bagaimana Ibra memperlakukan perempuan yang masih dia ingat ingat wajah yang terasa tak asing.

"Siapa sebenarnya perempuan itu?" tanya Emma dengan suara lirih, matanya menyipit mengiringi kepergian mereka.

Dan entah kenapa , seperti ada yang menyuruh, Emma pun berdiri dan melangkah mengikuti arah pergi kekasih yang membuat dirinya penasaran.

Emma sengaja berdiri di balik tembok dekat kaca jendela yang tepat di hadapan tembok tersebut, duduk Ibra dan perempuan itu.

"Kakak, apa yang ada di pikiranmu? Bagaimana bisa kamu pacaran dengan dia? Apakah matamu sudah buta?! Dia hanya seorang perempuan miskin yang kuliahnya saja pakai beasiswa!”

Emma tertegun, sebutan kakak membuatnya kini sadar siapa perempuan yang sedang bersama kekasihnya itu.

“Jadi menurutmu, aku akan benar benar mencintai Emma, begitu?”

Seketika mata Emma yang berada di balik tembok membeliak sempurna, dia merasa ada sesuatu yang aneh di balik ucapan Ibra.

"Apa pun maksudmu, kamu harus ingat kalau kita berasal dari keluarga terhormat. Papa dan mama pasti tidak akan setuju dengan hubungan kalian, apalagi aku!!”

Emosi itu jelas terlihat sangat menyala di mata perempuan yang ternyata adalah adik kandung Ibra, Ivana.

“Aku tidak peduli pada Papa dan Mama, yang ada dalam pikiranku saat ini adalah kamu ...! Aku hanya peduli padamu!!"

Ibra terdiam sesaat, terdengar ada tarikan napas yang begitu panjang dan dalam di telinga Emma.

"Aku melakukan semuanya demi kamu," ujar Ibra yang terdengar menurunkan tinggi suaranya.

"Tidak, kamu tidak peduli dengan hatiku! Kakak jahat!" jawab cepat Ivana.

"Kamu tidak tahu bagaimana kerasnya aku menjaga image sebagai perempuan terhormat walau dengan berbagai cara, tapi sekarang malah harus menahan malu saat melihatmu bergandengan tangan dengan gembel itu!"

Tangan kanan Emma meremas sisi kanan gamis yang dia pakai. Cacian dan hinaan memang sering dia dapatkan Namun semenjak mamanya pergi, entah kenapa hatinya seperti tak dapat lagi menahan sedih saat mendengar ada orang yang memandang dirinya remeh.

"Maafkan Kakak, tapi kamu harus percaya kalau apa yang aku perbuat ini semua karena kamu!!"

Hening sesaat, membuat Emma yang penasaran, menguatkan dirinya untuk mencoba mengintip, dan dirinya melihat bagaimana Ibra menatap Ivana dengan tatapan berbeda.

"Emma adalah perempuan yang sengaja aku dekati sejak masih di desa agar dia percaya padaku kalau aku adalah lelaki satu satunya yang mencintai dia, dan setelah dia percaya, aku ingin mengajaknya untuk menikah siri, agar dia bisa aku awasi-"

"Aku tidak setuju!!" potong Ivana dengan napas yang tersengal sengal. Gadis ini terlihat tak mampu menyembunyikan kemarahannya, tangan yang tadinya di genggam Ibra, dia lepas dengan kasar.

"Kamu jangan gila!!" Suara Ivana kembali terdengar.

"Tolong, dengarkan aku sampai di selesai, setelah itu, baru kamu putuskan, kamu setuju atau tidak, ok!!"

Emma tak mendengar apa pun lagi, matanya tertutup, tangan kanannya mengepal di depan dada, Wanita cantik berhijab itu hanya bisa menahan isaknya.

"Aku ingin menikahi Emma karena hanya itu satu satunya cara agar dia mau dan sukarela melakukan pekerjaan pekerjaan rumah untuk kita."

Lagi, Emma tercekat mendengar rencana lelaki yang dia sangka benar benar tulus kepadanya, lelaki yang selama ini ada di sampingnya saat dirinya butuh sandaran untuk meluapkan keluh kesahnya, ternyata mempunyai rencana yang sangat jahat!

"Apalagi dengan beasiswa yang dia dapat, bisa kita gunakan bukan?! Bagaimana, kalau kamu tak setuju, itu berarti yang harus bersih bersih rumah, masak, mencuci baju dan-"

Terdengar suara Ibra yang sepertinya tidak akan diteruskan untuk bertanya keputusan sang adik, mau menerima atau tidak tentang rencana Ibra.

"Tapi apa kata orang orang nantinya, Kak? Mereka pasti akan membicarakan Kakak yang nikah dengan gembel. Lagi pula nikah itu kan butuh uang."

Entah kenapa tubuh Emma tiba tiba bergidik saat mendengar tawa Ibra saat mendengar pertanyaan adiknya, tawa yang biasanya sangat dia sukai kini terdengar membuatnya bergidik.

"Kamu tenang saja, aku akan menikahi dia dengan cara nikah bawah tangan, dengan begitu tidak perlu ada perjamuan, tidak butuh biaya besar, dan kalau mau pisah, ya sudah .... cerai aja, tak perlu ke pengadilan agama."

Tak dapat di tahan lagi, Emma menggigit bibir bawah ketika ada yang membuat kedua matanya yang terpejam, panas seketika.

Apalagi saat mendengar dua bersaudara itu tertawa lepas bersama.

"Kalau begitu aku akan mendukungmu."

Emma membalikkan badannya, mengusap wajahnya dengan ujung kerudung, hingga kemudian dirinya melihat jika orang yang baru saja membahas tentang dia, kini kembali masuk ke dalam ruangan, dengan wajah dan sikap yang berbeda.

"Aku harus tenang," desis Emma yang menarik napas panjang, kembali mengusap air matanya dengan ujung hijab. Lalu barulah dirinya melangkah perlahan menuju ke meja yang tadi.

"Dari mana, Sayang?!" tanya Ibra yang menunjukkan sikap khawatir saat menyambut kedatangan Emma.

"Mmm ....."

Entah kenapa Emma memilih tak menjawab apa yang di tanyakan oleh Ibra, dia memilih memandang Ivana yang kini duduk di samping kiri sang kakak.

"Boleh kenalan?!"

Emma mengulurkan tangan kanannya ke arah Ivana yang terlihat acuh tak acuh.

"Tak perlu lah bersalaman, aku yakin kamu pasti tahu tentang aku kan? Tidak usah jadi orang yang munafik! Tidak malukah dengan hijab yang kamu pakai?!"

Emma bukannya marah, dia melirik sekilas ke arah Ibra yang tampak melotot tak suka pada Ivana.

"Awalnya aku tidak tahu kamu siapa? Karena hari ini hari pertama kita bertemu, jadi jangan katakan aku munafik!!" jawab Emma dengan sangat tenang, menarik tangannya dengan senyum yang tak bisa di artikan.

"Kamu -" Ivana tak mampu melanjutkan ucapannya karena kesal, matanya membulat karena kesal.

"Hei, hei!"

Ibra menarik tangan Ivana yang sudah hendak berdiri dengan menatap tajam Emma.

"Emma benar, kalian baru bertemu hari ini, jadi maklumilah kalau dia tidak tahu siapa kamu," ujar Ibra yang menatap tajam sang adik. Seolah sedang memberikan isyarat untuk diam saja.

"Sebaiknya kita makan dulu yuk! Sayang, mubazir makanannya kalau tidak kita rasakan?!" ujar Ibra, yang di ikuti oleh Ivana dengan tak mengubah ekspresi wajahnya.

Emma pun menyetujui ucapan Ibra, dia pun memulai menyantap makanan yang dia pesan tadi

"Sepertinya pesananku ini salah," ujar Emma yang terlihat langsung meminum isi gelas yang berada di dekat piringnya.

"Ini minumannya juga-"

Emma menghentikan ucapannya saat dia merasa ada yang aneh pada tubuhnya sesaat setelah meminum tadi.

"Kenapa berhenti, katakan saja apa yang kamu mau?!" ujar Ibra yang langsung berdiri, dan menghampiri Emma, terlihat sangat perhatian.

"Tidak, tidak apa -apa, sepertinya aku harus ke kamar man di sekarang," ujar Emma yang kemudian tanpa menunggu jawaban dari Ibra langsung mengambil tas dan berlari ke arah toilet.

"Kamu hebat Kak, obatmu cepat sekali bereaksi," ujar Ivana dengan suara pelan, yang di sambut Ibra dengan tawa terbahak. ampai kapan pun aku tidak akan pernah mau dan setuju kamu berpacaran dengan perempuan ini!!"

Teriakan dan gebrakan keras di meja oleh seorang perempuan yang terdengar sangat familiar di telinga Ibra, seketika pula membuat genggaman tangannya di jari Emma terlepas begitu saja.

"Dia siapa?" tanya Emma dengan mata memicing menatap silih berganti antara Ibra dan perempuan yang baru saja berteriak di dekatnya, rasa tak nyaman seketika melingkupi hati Emma.

"Sialan!"

Mata Emma seketika mendelik, tak percaya ketika mendengar umpatan yang baru saja di ucapkan oleh orang yang dia kenal dengan kesantunan bahasa dan sikapnya itu, bernada lirih tapi, masih dapat dia dengar dengan sangat jelas.

"Tunggu di sini, jangan ke mana mana ok!" ujar Ibra yang berdiri, tak lupa memberikan senyum terindahnya pada Emma yang masih merasa aneh dengan sikap Ibra yang berubah dengan cepat.

"Aduuuh, Kak .... sakit!"

Jeritan perempuan muda nan seksi itu terdengar saat Ibra dengan sedikit memaksa menarik tangannya, menjauh hingga ke luar ruangan.

Emma hanya bisa melihat bagaimana Ibra memperlakukan perempuan yang masih dia ingat ingat wajah yang terasa tak asing.

"Siapa sebenarnya perempuan itu?" tanya Emma dengan suara lirih, matanya menyipit mengiringi kepergian mereka.

Dan entah kenapa , seperti ada yang menyuruh, Emma pun berdiri dan melangkah mengikuti arah pergi kekasih yang membuat dirinya penasaran.

Emma sengaja berdiri di balik tembok dekat kaca jendela yang tepat di hadapan tembok tersebut, duduk Ibra dan perempuan itu.

"Kakak, apa yang ada di pikiranmu? Bagaimana bisa kamu pacaran dengan dia? Apakah matamu sudah buta?! Dia hanya seorang perempuan miskin yang kuliahnya saja pakai beasiswa!”

Emma tertegun, sebutan kakak membuatnya kini sadar siapa perempuan yang sedang bersama kekasihnya itu.

“Jadi menurutmu, aku akan benar benar mencintai Emma, begitu?”

Seketika mata Emma yang berada di balik tembok membeliak sempurna, dia merasa ada sesuatu yang aneh di balik ucapan Ibra.

"Apa pun maksudmu, kamu harus ingat kalau kita berasal dari keluarga terhormat. Papa dan mama pasti tidak akan setuju dengan hubungan kalian, apalagi aku!!”

Emosi itu jelas terlihat sangat menyala di mata perempuan yang ternyata adalah adik kandung Ibra, Ivana.

“Aku tidak peduli pada Papa dan Mama, yang ada dalam pikiranku saat ini adalah kamu ...! Aku hanya peduli padamu!!"

Ibra terdiam sesaat, terdengar ada tarikan napas yang begitu panjang dan dalam di telinga Emma.

"Aku melakukan semuanya demi kamu," ujar Ibra yang terdengar menurunkan tinggi suaranya.

"Tidak, kamu tidak peduli dengan hatiku! Kakak jahat!" jawab cepat Ivana.

"Kamu tidak tahu bagaimana kerasnya aku menjaga image sebagai perempuan terhormat walau dengan berbagai cara, tapi sekarang malah harus menahan malu saat melihatmu bergandengan tangan dengan gembel itu!"

Tangan kanan Emma meremas sisi kanan gamis yang dia pakai. Cacian dan hinaan memang sering dia dapatkan Namun semenjak mamanya pergi, entah kenapa hatinya seperti tak dapat lagi menahan sedih saat mendengar ada orang yang memandang dirinya remeh.

"Maafkan Kakak, tapi kamu harus percaya kalau apa yang aku perbuat ini semua karena kamu!!"

Hening sesaat, membuat Emma yang penasaran, menguatkan dirinya untuk mencoba mengintip, dan dirinya melihat bagaimana Ibra menatap Ivana dengan tatapan berbeda.

"Emma adalah perempuan yang sengaja aku dekati sejak masih di desa agar dia percaya padaku kalau aku adalah lelaki satu satunya yang mencintai dia, dan setelah dia percaya, aku ingin mengajaknya untuk menikah siri, agar dia bisa aku awasi-"

"Aku tidak setuju!!" potong Ivana dengan napas yang tersengal sengal. Gadis ini terlihat tak mampu menyembunyikan kemarahannya, tangan yang tadinya di genggam Ibra, dia lepas dengan kasar.

"Kamu jangan gila!!" Suara Ivana kembali terdengar.

"Tolong, dengarkan aku sampai di selesai, setelah itu, baru kamu putuskan, kamu setuju atau tidak, ok!!"

Emma tak mendengar apa pun lagi, matanya tertutup, tangan kanannya mengepal di depan dada, Wanita cantik berhijab itu hanya bisa menahan isaknya.

"Aku ingin menikahi Emma karena hanya itu satu satunya cara agar dia mau dan sukarela melakukan pekerjaan pekerjaan rumah untuk kita."

Lagi, Emma tercekat mendengar rencana lelaki yang dia sangka benar benar tulus kepadanya, lelaki yang selama ini ada di sampingnya saat dirinya butuh sandaran untuk meluapkan keluh kesahnya, ternyata mempunyai rencana yang sangat jahat!

"Apalagi dengan beasiswa yang dia dapat, bisa kita gunakan bukan?! Bagaimana, kalau kamu tak setuju, itu berarti yang harus bersih bersih rumah, masak, mencuci baju dan-"

Terdengar suara Ibra yang sepertinya tidak akan diteruskan untuk bertanya keputusan sang adik, mau menerima atau tidak tentang rencana Ibra.

"Tapi apa kata orang orang nantinya, Kak? Mereka pasti akan membicarakan Kakak yang nikah dengan gembel. Lagi pula nikah itu kan butuh uang."

Entah kenapa tubuh Emma tiba tiba bergidik saat mendengar tawa Ibra saat mendengar pertanyaan adiknya, tawa yang biasanya sangat dia sukai kini terdengar membuatnya bergidik.

"Kamu tenang saja, aku akan menikahi dia dengan cara nikah bawah tangan, dengan begitu tidak perlu ada perjamuan, tidak butuh biaya besar, dan kalau mau pisah, ya sudah .... cerai aja, tak perlu ke pengadilan agama."

Tak dapat di tahan lagi, Emma menggigit bibir bawah ketika ada yang membuat kedua matanya yang terpejam, panas seketika.

Apalagi saat mendengar dua bersaudara itu tertawa lepas bersama.

"Kalau begitu aku akan mendukungmu."

Emma membalikkan badannya, mengusap wajahnya dengan ujung kerudung, hingga kemudian dirinya melihat jika orang yang baru saja membahas tentang dia, kini kembali masuk ke dalam ruangan, dengan wajah dan sikap yang berbeda.

"Aku harus tenang," desis Emma yang menarik napas panjang, kembali mengusap air matanya dengan ujung hijab. Lalu barulah dirinya melangkah perlahan menuju ke meja yang tadi.

"Dari mana ... Sayang?!" tanya Ibra yang menunjukkan sikap khawatir saat menyambut kedatangan Emma.

"Mmm ....."

Entah kenapa Emma memilih tak menjawab apa yang di tanyakan oleh Ibra, dia memilih memandang Ivana yang kini duduk di samping kiri sang kakak.

"Boleh kenalan?!"

Emma mengulurkan tangan kanannya ke arah Ivana yang terlihat acuh tak acuh.

"Tak perlu lah bersalaman, aku yakin kamu pasti tahu tentang aku kan? Tidak usah jadi orang yang munafik! Tidak malukah dengan hijab yang kamu pakai?!"

Emma bukannya marah, dia melirik sekilas ke arah Ibra yang tampak melotot tak suka pada Ivana.

"Awalnya aku tidak tahu kamu siapa? Karena hari ini hari pertama kita bertemu, jadi jangan katakan aku munafik!!" jawab Emma dengan sangat tenang, menarik tangannya dengan senyum yang tak bisa di artikan.

"Kamu -" Ivana tak mampu melanjutkan ucapannya karena kesal, matanya membulat karena kesal.

"Hei, hei ...!!"

Ibra menarik tangan Ivana yang sudah hendak berdiri dengan menatap tajam Emma.

"Emma benar, kalian baru bertemu hari ini, jadi maklumilah kalau dia tidak tahu siapa kamu," ujar Ibra yang menatap tajam sang adik. Seolah sedang memberikan isyarat untuk diam saja.

"Sebaiknya kita makan dulu yuk! Sayang, mubazir makanannya kalau tidak kita rasakan?!" ujar Ibra, yang di ikuti oleh Ivana dengan tak mengubah ekspresi wajahnya.

Emma pun menyetujui ucapan Ibra, dia pun memulai menyantap makanan yang dia pesan tadi

"Sepertinya pesananku ini salah," ujar Emma yang terlihat langsung meminum isi gelas yang berada di dekat piringnya.

"Ini minumannya juga-"

Emma menghentikan ucapannya saat dia merasa ada yang aneh pada tubuhnya sesaat setelah meminum tadi.

"Kenapa berhenti, katakan saja apa yang kamu mau?!" ujar Ibra yang langsung berdiri, dan menghampiri Emma, terlihat sangat perhatian.

"Tidak, tidak apa -apa, sepertinya aku harus ke kamar man di sekarang," ujar Emma yang kemudian tanpa menunggu jawaban dari Ibra langsung mengambil tas dan berlari ke arah toilet.

"Kamu hebat Kak, obatmu cepat sekali bereaksi," ujar Ivana dengan suara pelan, yang di sambut Ibra dengan tawa terbahak.