Nikah Siri BAb 4 - Gawat
4/21
Bab 4

BAb 4 - Gawat

"Apa kamu beneran ingin pulang tanpa aku temani?!" tanya Arsen ketika dirinya sudah menghentikan mobil tepat di pintu gerbang rumah sepupunya, Diandra, tanpa Emma tahu hubungan sebenarnya antara dia dan si empunya rumah.

"Iya .... Aku tidak ingin membuat semua penghuni rumah jadi ribut."

Emma menjawab dengan senyum tipis di bibirnya. Bagaimana pun juga Arsen merupakan salah satu lelaki yang banyak memilik penggemar di kampusnya.

"Masih terasa sakit ,tidak?!" tanya Arsen, lagi. Sekedar agar bisa berlama lama sedikit lagi, tak rela rasanya jika harus cepat berpisah.

Emma menggelengkan kepalanya, ada senyum tipis yang dia berikan, karena mendapat perlakuan manis yang tak dia dapatkan selama bersama Ibra.

"Ok ...."

Arsen hanya bisa menarik napas panjang sembari mengiringi kepergian perempuan yang membuat hatinya kocar kacir sejak pertemuan pertamanya di kantin kampus, bersama Diandra.

"Aku pikir kamu tidak akan pulang setelah meninggalkanku di kafe kemarin siang!!"

Terdengar sebuah suara lantang milik lelaki yang berasal dari belakang mobil yang di kendarai Arsen.

"Aduuh!!"

Mendengar suara Emma yang bukan hanya kaget, tapi juga mengaduh kesakitan, Arsen seketika itu pula turun dari mobil dengan membanting kasar pintu hingga berbunyi bedebum dan segera mendekati Emma.

"Apa yang sudah kamu lakukan? lepaskan dia!!"

Arsen yang melihat tangan kanan Emma di pegang erat oleh seorang lelaki yang kemudian menariknya dengan kasar.

"Yang seharusnya bertanya itu adalah aku, apa hubunganmu dengan Emma? Jangan berlagak jadi pahlawan di sini kalau kamu tidak tahu siapa aku?!"

Bukannya melepaskan pegangan tangan dari Emma, dengan pandangan mata yang meremehkan, lelaki yang tak lain adalah Ibra malah mengejek Arsen.

"Perempuan yang kamu pegang itu adalah istriku!!" ujar Arsen yang seketika membuat Ibra kaget sesaat, Namun berakhir tawa.

Bukan hanya Ibra yang kaget, Emma juga kaget mendengar pengakuan yang cukup berani dari seorang arsen yang statusnya bukan kaleng kaleng.

"Istrimu?!!" desis Emma pelan, memandangi wajah Arsen dengan tatapan tak percaya.

Sebuah tanya yang sama juga di ucapkan Ibra yang di sertai dengan tawa setengah mengejek, walau di wajah lelaki itu terlihat aura tak terima dan tak percaya.

"Jangan terlalu tinggi berangan, aku adalah lelaki yang dia cintai selama dua tahun hingga hari ini!!" ujar Ibra dengan sangat percaya dirinya. Karena menganggap tak mungkin secepat itu Emma menikah.

"Lepaaas!!"

Dengan sekali hentakan, tangan Emma yang awalnya tergenggam, terlepas seketika.

"Sayaaaang!" teriak Ibra yang tersentak kaget melihat Emma malah berlari dan kemudian berdiri si belakang Arsen. Kedua tangannya terlihat gemetar memegang pinggang Arsen yang kini tersenyum sinis ke arah Ibra.

"Aku memang pernah mencintaimu, tapi itu dulu .... sebelum aku menikah dengannya!"

Mendengar ucapan Emma yang walau terdengar ragu, namun mendukung ucapannya, ada senyum lebar yang disertai kedua alis yang terangkat di wajah Arsen.

"Tidaaak! Itu tidak mungkin!"

Ibra seketika itu juga menyangkal apa yang di ucapkan oleh perempuan yang sudah dia dampingi akhir akhir ini.

"Bagaimana kamu bisa menikah dengannya, sedangkan kemarin-"

Ibra menghentikan ucapannya, entah apa yang ada dalam ingatannya hingga membuatnya seketika memandang penuh kebencian pada Arsen.

"Jangan jangan kalian menikah karena lelaki ini yang sudah menodaimu, bukan?!!"

Tak ada jawaban selain senyuman kemenangan yang di tunjukkan oleh Arsen atas pertanyaan Ibra yang secara tak langsung mengakui perbuatannya pada Emma saat di kafe.

"Kurang ajar kamu!!" caci Ibra dengan dua tangan terkepal, tampak menahan amarah.

"Emma .... dengarkanlah Sayang, aku akan menerimamu dengan segala kekuranganmu, bahkan kalau kamu mau, hari ini juga aku akan melamar mu, asalkan kamu mau meninggalkannya?!"

Dengan wajah penuh harap, Ibra menyampingkan badannya dan meminta pada Emma.

"Kamu serius?!" tanya Emma, kedua matanya membulat sempurna, karena tak menyangka.

Bukan hanya Ibra, Arsen pun yang mendengar apa yang di tanyakan oleh Emma seketika menolehkan dirinya ke wajah perempuan yang senantiasa cantik walau tanpa polesan apapun.

"Tentu saja aku serius, aku akan melamarmu hari ini, aku janji!!!

Terlihat tak ingin kalah, Ibra seketika itu juga memotong ucapan dari Arsen dia merasa mendapatkan angin segar saat Emma bertanya kepadanya.

"Atau kalau kamu masih tidak percaya, bagaimana jika saat ini juga kita bersama pulang untuk bertemu kakakmu?!"

Tak cukup itu saja dia terus bertanya sehingga membuat Arsen sedikit kesal.

"Tidak! Aku tidak memperbolehkannya!"

Ibra seketika berubah warna mukanya, rasa tak suka dengan adanya Arsen terlihat sangat jelas.

"Jangan terlalu sombong, ini bukan tentang keputusanmu, sebaiknya kamu perbanyak mengaca!" sentak Ibra, dengan wajah merah menahan kesal.

"Bagaimana, Sayang ....? Kamu mau kan menikah denganku, aku berjanji akan menerimamu apa adanya, apalagi kita sudah bersama selama hampir dua tahun."

Arsen hanya bisa menahan kesal pada Ibra dan sekaligus takut Emma meninggalkan dirinya.

"Tentu saja aku tidak mau!"

Emma berkata sembari melirik bergantian pada kedua lelaki yang menunjukkan ekspresi wajah berbeda.

"Jadi kamu memilih lelaki yang baru kamu kenal di bandingkan aku yang sudah tahunan bersamamu?! Dasar perempuan materialistis kamu!!" umpat Ibra, yang tak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya.

"Terima kasih sudah mau memilih tetap bersamaku ...."

Dengan tatapan penuh cinta, Arsen membalikkan badannya ke arah Emma. Sesaaat setelah Ibra yang masih marah pergi tanpa bisa berbuat apa apa karena ada satpam yang memperhatikan mereka dari balik pagar, juga tak menunggu jawaban dari Emma.

"Aku-"

"Masuklah, Emma. Beristirahatlah, karena besok akan ada banyak rencana yang akan kita jalani bersama."

Arsen sengaja memotong ucapan Emma, saat ada kernyitan di kening perempuan itu yang tak sengaja dia lihat tadi.

"Terima kasih, Kak," ujar Emma yang kemudian segera meninggalkan Arsen, mendekati pagar yang segera di buka oleh salah satu satpam yang sedang menjaga.

"Terima kasih!"

Setengah berteriak, Emma mengucapkan kata yang sama untuk ke dua kalinya pada Arsen yang masih berdiri di tempat yang sama, sebelum langkah kaki perempuan itu bergegas masuk ke dalam kostannya.


"Emma!"

"Aduh .....!" jerit Emma dengan suara tertahan, ketika mendengar ada suara yang sangat dia kenal sedang memanggil namanya dari arah belakang punggung.

“Gawat nih …,” serunya lagi dengan wajah meringis

"Iya .... mbak Lely," jawab Emma yang membalikkan badan dan seketika itu pula menarik napas panjang , pasrah, saat tahu bahwa orang yang memanggilnya ternyata benar orang yang dia sangka.

"Baru datang, Em?" tanya perempuan yang di panggil mbak Lely oleh Emma yang sedang sembari melangkah mendekati yang sepertinya sengaja meminta menunggu agar bisa masuk rumah, bersama.

"Kamu dari mana aja, di cariin Diandra sampai sore, tapi kayaknya kamu nggak kuliah deh hari ini, iyakan?!"

Belum selesai dengan pertanyaan pertama mbak Lely kembali melontarkan pertanyaan yang ke dua yang semakin membuat Emma bingung.

"Ak-"

"Aku juga barusan lihat kok siapa yang mengantarkanmu pulang."

Semua jawaban dari pertanyaan mbak Lely seperti tercekat di tenggorokan saat Emma mendengar ucapan mbak Lely yang ketiga.

"Mbak, aku tidak seperti yang kamu-"

"Jangan di lepas, Emma! Kamu beruntung, kalau sudah kaya, jangan lupa aku ya ....."

Sekali lagi Emma harus menelan ludahnya sendiri, kala melihat mbak Lely yang berkata sembari melangkah lebih cepat, hingga membuatnya tertinggal.

"Oiya, aku lupa-"

Mbak Lely yang sudah berada di bawah anak tangga, kembali berkata sembari membalikkan badannya ke arah Emma yang masih terpaku menatapnya di ambang pintu.

"Aku juga sudah mengirimkan video ke Diandra, video saat kamu bersama Arsen dan lelaki itu tadi saat berdiri di depan pagar. Jadi kamu jangan kaget, dan .... tak usah mengucapkan terima kasih padaku! Karena itu bagiku tidak penting, ok!”