“Mengapa jadi begini?!” tanya Emma, saat melihat bayangannya di cermin, sudah cantik, mengenakan jas almamater yang sering dia impikan
“Semangat Emma!”
Emma tersenyum, dengan berlipstik merah muda, wajah cantiknya kini terlihat berbeda.
“Kamu sudah siap, Em?!” tanya seseorang yang bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka membuat Emma sedikit tersentak.
“Diandra ….?!”
Mata keduanya bertemu, entah apa yang sedang mereka berdua pikirkan saat itu hingga hening tercipta sesaat.
“Ada apa? Seperti tak biasa aku masuk ke kamarmu?!”
Diandra mengurai keheningan mereka dengan senyum yang terlihat berbeda.
Emma memalingkan wajahnya, ingatannya seketika teringat akan ucapan mbak Lely tentang rekaman video tentang dirinya yang di kirimkan ke Diandra.
“Ti- tidak …. Aku hanya kaget saja, kok.”
Emma tak mungkin mengatakan tentang masalahnya saat ini, jika bukan Diandra yang mengawalinya.
Diandra kembali tertawa, tanpa mengucapkan apa pun lagi, perempuan cantik dengan kulit putih itu pun pergi meninggalkan Emma.
Emma keluar dari kamarnya dengan wajah yang kembali datar, berangkat bersama sama ke kampus kali ini terasa sangat jauh dan lama baginya, walau sesekali di goda oleh yang lain, tetap saja pikirannya masih tertuju pada Diandra dan video itu.
“Setelah kuliah jam kedua, tunggu aku di kantin, ok!!”
Emma mengiyakan permintaan Diandra dengan tersenyum dan menganggukan kepalanya, barulah kemudian dirinya memisahkan diri menuju fakultasnya dengan langkah gamang.
“Kok sepertinya ada yang ngikuti aku ya?!”
Emma bergumam, dia mempercepat langkahnya menuju ke kantin, seperti yang dia janjikan pada Diandra tadi pagi, dengan sesekali melirik ke sekelilingnya.
“Akhirnya kita bisa ngomong baik baik di sini.”
Emma yang baru saja pergi melangkah untuk memesan makanan, dipaksa untuk menghentikan langkahnya karena terhadang Ibra yang sudah berdiri di hadapannya.
“Apa lagi maumu?!” tanya Emma yang kemudian terlihat menarik napas panjang demi untuk menahan rasa kesalnya.
“Aduuuh!!”
Dengan jeritan tertahan, Emma mencoba menarik tangannya yang di tarik paksa oleh Ibra, Namun tak berhasil, malah dirinya kini terseret mengikuti langkah Ibra yang entah ke mana tujuannya, suasana yang masih terlihat sepi, terasa sangat menguntungkan bagi lelaki itu melakukan apa yang dia inginkan.
Bruuggh ....!!
Entah dari mana asalnya, seorang lelaki dengan penampilan biasa datang dan langsung menghajar Ibra, hingga membuatnya harus melepaskan jarinya dari tangan Emma.
“Tolong saya!” pinta Emma yang begitu bebas dari Ibra langsung berlari ke belakang punggung lelaki yang sudah membantunya.
"Kurang ajaar! Bangsat! Siapa kamu yang berani mencampuri urusan orang, hah!!"
Bengis! Wajah yang ditunjukkan Ibra kala rencananya tidak berjalan seperti yang dia mau.
“Tolong saya, Mas, dia mau membuat menyakiti saya -,” pinta Emma dengan wajah memohon dari balik punggung lalaki yang tak dia kenal itu.
Namun belum selesai Emma berkata, Ibra sudah menerjang hendak menghantam, Namun mampu di tahan oleh sang penolong bahkan menjadikan pukulan Ibra untuk menjatuhkan dirinya sendiri hingga tersungkur mencium tanah.
"Sialan! Siapa kamu? Kenapa berani mencampuri urusan orang, hah!!"
Ibra berteriak, suaranya menggema di sudut sepi area menuju kantin itu. Ia bangkit sambil memegangi rahangnya yang terasa nyeri, matanya menyala-nyala karena amarah dan rasa malu.
Lelaki berpenampilan biasa itu tidak gentar. Ia berdiri tegak, posturnya tenang namun siaga, menjadi perisai hidup bagi Emma yang gemetar di belakangnya.
"Urusanmu dengannya sudah selesai," ucap lelaki itu, suaranya datar namun tegas, mengandung ancaman yang tak terucap.
Ibra tertawa sinis. "Selesai katamu? Dengar, ini bukan urusanmu. Jangan jadi pahlawan kesiangan!"
Ibra kembali melangkah maju, mencoba menunjukkan dominasinya, Namun langkahnya terhenti saat melihat tatapan dingin dari lelaki itu. Tatapan yang seolah berkata bahwa satu pukulan tadi hanyalah sebuah peringatan ringan.
"Justru karena ini urusanku, makanya aku ada di sini," balas lelaki itu.
"Dan aku beritahu kau sekarang, Ibra. Menjauhlah dari Emma. Jangan pernah kau sentuh atau ganggu dia lagi. Anggap ini peringatan pertama dan terakhir."
Ada sesuatu dalam cara lelaki itu mengucapkan namanya yang membuat Ibra terdiam. Bukan sekadar gertakan kosong. Lelaki ini mengenalnya, namun Ibra sama sekali tidak mengenali wajahnya. Siapa dia? Teman Emma? Tapi Emma juga terlihat sama terkejutnya.
"Kau pikir aku takut?" desis Ibra, meski nada suaranya sedikit goyah.
"Seharusnya begitu," sahut si penolong dengan tenang.
"Karena kalau kau terus melanjutkan obsesimu pada Emma, masalah yang akan kau hadapi bukan lagi sekadar bogem mentah dariku. Pikirkan statusmu di kampus ini. Pikirkan nama baik keluargamu. Satu laporan pelecehan resmi dengan saksi sudah cukup untuk membuat semuanya berantakan untukmu. Apa itu sepadan?"
Ancaman itu telak mengenai sasaran. Ibra adalah tipe orang yang berani bertindak sembrono hanya jika ia yakin bisa lolos tanpa konsekuensi. Selama ini, ia mengganggu Emma karena menganggap gadis itu lemah dan tidak akan berani melawan. Namun kini, ada variabel baru yang tidak ia perhitungkan. Seorang pelindung misterius yang tidak hanya berani secara fisik, tetapi juga cerdas dalam mengancam.
Ibra menatap tajam bergantian antara lelaki itu dan Emma yang masih bersembunyi. Menghitung untung dan rugi, cepat terjadi di otaknya. Melanjutkan ini berarti mengambil risiko yang terlalu besar. Rasa kesal dan egonya yang terluka masih ada, tetapi naluri untuk menyelamatkan diri jauh lebih kuat. Baginya, Emma tidak seberharga itu jika harus mengorbankan segalanya.
“Aku tak bisa mengorbankan Ivana karena ini!!” bisiknya, tanpa suara.
"Cih," Ibra berdecih dengan penuh kebencian, mundur selangkah.
"Kau bersembunyi di belakang orang lain, hah? Perempuan sialan," menunjuk Emma dengan dagunya.
Itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum ia berbalik badan dan pergi dengan langkah cepat, menyisakan kekalahan dan rasa malu yang berusaha ia tutupi dengan amarah. Baginya, urusan ini sudah tidak lagi menguntungkan. Emma kini berada dalam 'wilayah berbahaya', dan ia tidak mau lagi berurusan dengannya.
Setelah bayangan Ibra benar-benar menghilang, barulah ketegangan di tubuh Emma sedikit mengendur. Ia memberanikan diri untuk mengintip dari balik punggung penyelamatnya.
"Dia... dia sudah pergi?" tanya Emma dengan suara bergetar.
Lelaki itu menoleh, ekspresinya yang tadi keras kini melembut saat melihat wajah pucat Emma.
"Sudah. Kamu tidak apa-apa? Tanganmu tidak sakit?" tanya lelaki penolong itu dengan senyum yang tampak beda.
Emma menggeleng pelan, ia berbohong, sebenarnya ia masih merasakan sensasi cengkeraman kasar Ibra di pergelangan tangannya.
"Tidak... terima kasih. Terima kasih banyak. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu harus bagaimana,” ujar Emma dengan menyatukan kedau tangannya di depan dada, menunjukkan kesungguhannya.
"Sama-sama," jawab lelaki itu, yang segera membalikkan badannya seperti hendak melangkah pergi.
“Maaf... tapi, kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu namaku?" tanya Emma, penasaran, begitu banyak pertanyaan di benaknya tadi, saat lelaki yang menolongnya itu berhadapan dengan Ibra.