"Mas tidak boleh masuk, itu toilet untuk perempuan!!" larang seorang petugas wanita berseragam, menghentikan langkah Ibra yang sudah melangkah hampir mendekati pintu pembatas.
"Tapi pacar saya belum keluar keluar juga, Mbak, saya khawatir dia kenapa kenapa di dalam."
Dengan wajah memelas, Ibra memohon pengertian petugas itu, bahkan demi memperoleh ijin, Ibra menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Sudah lima belas menit menunggu, tapi Emma tak kunjung datang lagi ke tempatnya.
"Tidak, tetap tidak boleh, biar saya aja yang periksa, Mas nya tunggu di sini! Awas kalau coba coba masuk, saya akan penjarakan kamu dengan tuduhan melakukan perbuatan yang merugikan!!" ancam petugas itu dengan mata melotot.
"Asem benar, sudah aku tungguin lima belas menit lebih, nggak keluar keluar juga si Babu itu, sialan!!" gerutu Ibra, sesaat setelah petugas itu masuk ke dalam untuk memeriksa.
"Bagaimana, pacar saya tidak kenapa kenapa kan?!" tanya Ibra menyambut keluarnya petugas dari dalam toilet.
"Nggak ada orang di dalam, kok! Kamu bohong ya!!" tuduh petugas itu dengan mata membulat sempurna.
"Tidak, buat apa saya berbohong, saya akan masuk, mbak harus ijinkan, karena tadi mbaknya bilang nggak ada orang kan?!"
Tak menunggu jawaban, Ibra pun masuk ke dalam toilet, dengan di buntuti oleh petugas yang tak lepas mengawasi setiap gerak gerik Ibra.
"Emma! Emma!"
Teriakan demi teriakan sembari membuka pintu kamar mandi yang berjejer dilakukan Ibra dengan perasaan was was.
"Aduh, kenapa dia tidak ada?" tanya Ibra bermonolog sendiri.
"Sudah ....!! Jangan lama lama, ayo keluar!!"
Ibra seketika berbalik dengan wajah marah memandangi petugas yang tampaknya tak mau kalah, mereka saling pandang seolah ingin beradu posisi paling kuat.
"Apaaaa!! Nggak suka aku suruh kamu pergi? Mau aku teriakin kamu sebagai pemerkosa, hah!!"
Wajah Ibra seketika ciut, posisinya memang berada di tempat yang salah.
"Siaalan!!"
Ibra berkata lirih sembari melangkahkan kakinya dengan cepat melewati petugas yang masih menatapnya dengan mata waspada.
"Kurang ajar, sialan!!!"
Dan entah apa lagi yang dikatakan oleh Ibra, sepanjang perjalanan kembali ke meja. Tak menduga kalau Emma yang selama ini selalu menjadi kekasih penurutnya, berani meninggalkan dirinya.
"Berhenti, tolong berhentilah!"
Entah apa yang ada di dalam benak Emma saat ini, bukannya pergi ke toilet seperti yang dia katakan pada Ibra.
Emma tiba tiba berhenti melangkah di tengah jalan, hingga menghalangi laju sebuah mobil mewah berwarna putih yang tampaknya baru saja keluar dari tempat makan yang sama dengan tempat di mana tadi dia makan bersama Ibra dan Ivana.
"Aduh ... kenapa tiba tiba badanku jadi nggak enak gini."
Suara Emma yang mengaduh, sambil memegang perut dengan badan yang sedikit membungkuk, membuat lelaki di balik kemudi, segera menghentikan mobilnya dan bergegas keluar.
"Hei, dasar gila ...!! Apa yang kau lakukan? Ini bisa membuatmu terluka! Bahaya, tahu!" bentak lelaki yang kemudian terlihat kaget begitu melihat wajah perempuan itu dengan jelas.
"Kak ... tolong aku, please!" Emma bukannya takut saat mendengar bentakan lelaki itu, dia malah mengangkat tangan kanannya untuk meminta pertolongan.
Arsen, lelaki yang ternyata kenal siapa Emma, dengan cepat membantu perempuan itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu kenapa? Jangan berdiri di depan mobil seperti yang kau lakukan tadi, itu sangat bahaya!!" " ujar Arsen sesaat setelah dirinya mulai kembali mengemudikan mobil yang kini membawa Emma.
"Kak, tolong, aku sepertinya salah minum, entah kenapa tiba tiba badanku seperti ada listriknya!"
"Kamu jangan bercanda, minum air apa yang bisa membuat tubuhmu teraliri listrik!!"
Dalam kebingungan, Arsen kemudian menjawab apa yang di katakan oleh Emma dengan suara lirih, sembari mengemudikan mobil dengan sedikit tidak tenang, karena sesekali harus melirik Emma yang dalam kondisi berbeda.
"Kak ... Tolong, Kak! Badanku ke setrum semua, terasa panaaas ...."
Arsen meletakkan tangan kirinya yang bebas dari kemudi ke kening perempuan yang duduk ge lisah di sampingnya, tak ada pa nas yang dia rasa, hanya keringat saja yang membuat tangannya terasa ba sah.
"Kamu sakit apa? Kita ke Dokter ya?"
Arsen menawarkan diri mengantarkan perempuan yang sebenarnya sudah lama diam diam dia sukai, untuk berobat ke rumah sakit.
"Tidak, jangan ke Dokter! Jangan Kak!!"
"Terus? Kamu mau kita ke mana?" Arsen yang bingung, akhirnya membelokkan mobilnya ke arah yang berbeda, mustahil rasanya membawa Emma ke tempat kostnya, apalagi menunggu jawaban dari perempuan yang kini hanya bisa mengeluh.
"Aduuuh, Kak, aku nggak kuat lagi! Voltase nya semakin naik"
Arsen mengendarai mobil miliknya seperti orang yang sedang kemasukan setan. Entah berapa orang yang sudah dibuatnya memaki, dia tak peduli.
Tiiiit! Tiiiit!
Arsen membunyikan klakson mobilnya hingga tampak seorang lelaki separuh baya setengah berlari membuka pagar rumah yang terlihat minimalis itu.
Setelah memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, Arsen yang tak tega melihat kondisi Emma, memutuskan untuk membo pong perempuan itu masuk kedalam rumah.
"Tolong aku, Kak ...."
Mata yang terlihat agak sayu seperti umumnya orang yang sedang berbeda. Mengeluh tubuhnya tak lagi sehat.
Dengan sangat hati hati, Arsen pun meletakkan tu buh Emma ke atas ra njang prib adi miliknya, kemudian bergegas meninggalkan dengan wajah bingung.
"Aduh ... Apa yang harus aku lakukan?" desis Arsen, bingung tak tahu cara menghadapi masalah yang baru dia alami ini.
"Kak ...."
**
[Ambil cctv dari tempat makan kita yang ada di sekitar jam sepuluh hingga jam sebelas siang. Lalu kamu kirimkan ke aku segera!"]
Tak menunggu orang yang dia suruh menjawab, Arsen segera meletakkan ponselnya di atas meja kerja dengan sedikit kasar, menunggu orang yang dia suruh untuk melakukan tugas.
Sambil memejamkan kedua matanya, Arsen membuang badannya di punggung sofa, mengingat tentang apa saja yang baru saja dia lakukan kepada perempuan yang dia cintai dalam diam selama ini.
"Aku harus melakukan sesuatu-"
Tring! Tring!
Suara ponsel seketika membuat Arsen menghentikan gumamnya dan mengulurkan tangan kanan mengambil ponsel di atas meja.
"Akhirnya!"
Arsen berujar, dengan tangan kanan yang segera membuka aplikasi hijaunya dengan cepat, Dalam satu video, Arsen melihat awalnya Emma yang datang bersama seorang laki laki hingga pada saat lelaki itu memberikan sesuatu pada minuman Emma, saat Emma pergi sesaat, meninggalkan kursinya.
"Kurang ajar, ternyata benar apa yang aku pikirkan, lelaki itu rupanya ingin berbuat hal hal yang tak baik pada Emma," umpat Arsen, rahangnya seketika mengeras, menahan kesal.
Tak sabar melihat kelanjutan videonya, Arsen mempercepat waktu hingga video tersebut menggambarkan tentang pertengkaran lelaki yang tadi menabur sesuatu di minuman Emma dengan seorang perempuan yang terlihat seksi.
"Ivana?!"
Rupanya Arsen mengenal perempuan yang berbaju kurang bahan itu, sebagai salah satu perempuan yang selama ini mengejar ngejarnya.
Arsen langsung menutup video itu dengan sangat marah. Emma pasti tahu semua yang mereka berdua katakan, dan patutlah jika perempuan itu memutuskan untuk pergi dari tempatnya. Sendirian.
"Tuan, apakah mobilnya akan di masukkan ke dalam garasi?"
Lelaki separuh baya yang tadi membukakan pintu pagar untuk Arsen, tiba tiba masuk ke dalam ruang kerja itu tanpa pamit.
"Biar aku yang nanti mengurusnya, apakah pak No dan Mak Ni sudah mau pulang?"
Arsen menjawab sekaligus bertanya balik pada lelaki separuh baya yang sudah dipercaya keluarga besar untuk menjaga Arsen.
"Iya, kami akan pulang dulu, mumpung masih sore," pamit pak No yang membalikkan badan melangkah keluar dari ruangan, begitu melihat anggukan kepala Arsen.
Arsen bangun dari duduknya dan bergegas mendekati kamar pribadinya yang dalam kondisi tertutup rapat dan membuka pintu kamar dengan sangat hati hati, dia takut menganggu Emma yang tadi tertidur saat dia tinggalkan.
Namun ternyata dia salah, perempuan itu sudah duduk di pinggir ranjang dengan menggunakan baju lengkap, dan terisak.
"Emma, aku—"
"Aku minta maaf, Kak. Aku tak sengaja menghentikan mobilmu, saat itu aku dalam kondisi panik dan tak mampu menahan diri."
Dengan terisak, Emma berusaha menjelaskan, yang tanpa dia sadari, apa yang dia lakukan saat ini juga sungguh sangat menyiksa hati Arsen.
"Emma .... apakah kamu bersedia menikah denganku?" tanya Arsen dengan wajah sungguh sungguh, bersimpuh di depan Emma.
"Aku baru saja di khianati oleh lelaki yang aku pikir paling mengerti aku selama beberapa bulan ini, dan sekarang aku bingung, apakah aku harus percaya pada lelaki yang baru saja aku kenal?!"
Emma berkata dengan tatapan mata yang tak mampu dia dongakkan, apa yang terjadi tadi, sudah membuat dirinya teramat sangat hina.
"Kamu belum merasakan cintaku, bukankah setiap orang mempunyai cinta yang tak sama, tak adil rasanya jika kemudian kamu menyama ratakan," ujar Arsen dengan semangat, walau terucap dengan sangat tenang.
Sesaat keduanya terdiam, Emma masih tak merubah sikapnya, membuat Arsen hanya bisa menarik napas panjang dan dalam.
"Aku akan datang pada keluargamu untuk melamar, tentu kan saja hari dan jamnya!"
"Tidaaak, jangan!!"