Ketika Senyum Menyimpan Luka
Langit pagi di sekolah hari ini tampak biasa saja. Langit biru muda, suara bel masuk yang nyaring dan barisan siswa dengan wajah tergesa membawa tas dan buku-buku di tangan ke kelas.
Semuanya tampak normal seperti biasa. Kecuali satu hal kecil, sebuah senyum di sudut bibir Alina yang hampir tak terlihat pagi ini.
Ia duduk di bangkunya, jari-jarinya menelusuri halaman kosong buku baru. Halaman yang harusnya penuh dengan tulisan PR yang semalam ia kerjakan hingga larut malam, tapi buku itu kini tergeletak di tong sampah, tercabik dan basah air sabun.
Pelakunya adalah Rani. Gadis yang terlalu haus akan perhatian banyak orang, yang berpikir bahwa menghina orang lain bisa membuatnya terlihat lebih tinggi. Dia memang anak konglomerat dari salah seorang pejabat negara.
Alina sudah tahu sejak awal. Ia bahkan melihatnya sendiri dari balik jendela laboratorium sore kemarin, ketika iti Rani tertawa kecil sambil merobek buku tulis miliknya.
“Biar besok dia malu. Biar dia tahu rasa! Suruh siapa sok kecantikan dan selalu menjadi pusat perhatian anak laki-laki,” katanya pada teman-temannya.
Dan ya, Alina tahu rasa itu, tapi ia juga tahu cara membalasnya dengan cara yang tak akan pernah bisa Rani bayangkan sama sekali sebelumnya.
Hari itu, sekolah dipenuhi bisik-bisik antar siswa. Ada sesuatu yang tersebar di grup kelas, lalu menjalar ke seluruh koridor kelas.
Foto.
Sebuah foto lama hasil dari tangkapan layar. Dari sebuah pemberitaan lama di media online tentang seorang pejabat yang ditangkap karena korupsi dana publik.
Nama pejabat itu terpampang jelas. Darmawan Kusuma, ayah dari Rani.
Berita itu disertai dengan komentar anonim. 'Lucu ya, anak koruptor bisa seenaknya menghina orang lain. Apa pantas kalau dia masih sekolah di sini?'
Dalam hitungan jam, semua orang tahu.
Rani, si gadis populer dengan seragam rapi dan parfum mahal. Kini menjadi bahan tatapan jijik dan bisikan sinis.
Di kelas, Rani datang dengan mata membengkak.
“Siapa yang nyebarin?! Siapa yang.”
Suara Rani bergetar, antara marah dan takut.
Tidak ada yang menjawab. Semua hanya diam. Beberapa bahkan pura-pura tak tahu apa yang terjadi.
Di bangkunya, Alina duduk santai. Rambutnya tergerai rapi, matanya teduh dan senyuman itu tipis menghiasi wajahnya. Ia memandangi Rani seolah-olah tak tahu apa-apa. Namun, di dalam dirinya, ada getaran halus. Sebuah rasa puas yang dingin, lembut dan beracun.
Ketika jam istirahat tiba, Rani menatap Alina dari ujung koridor. Wajahnya merah padam, penuh amarah yang nyaris pecah.
Langkahnya cepat, napasnya memburu dan suaranya bergetar ketika mendekati meja Alina.
“Kamu yang nyebarin itu, kan?!”
Nada Rani tinggi, gemetar, tapi tak ada keberanian sejati di matanya.
"Cepat mengaku! Aku tahu, kamu pasti yang menyebarkan berita itu karena kamu gak terima soal kemarin kan?"
Alina menatapnya sebentar, datar. Lalu tersenyum.
Senyuman yang terlalu tenang.
Senyuman yang membuat jantung siapa saja terasa tak nyaman saat melihatnya.
“Aku?” suara Alina lembut, hampir seperti bisikan.
“Kenapa aku harus menyebarkan hal yang semua orang bisa cari sendiri di internet?”
Rani terdiam sejenak, bingung, lalu menggertakkan gigi.
“Kau yang mulai! Mengakulah Alina. Aku tahu ini semua perbuatanmu?!”
Alina menatap lurus ke matanya dan kali ini senyumnya melebar sedikit.
“Jangan terlalu menilai tinggi dirimu, Rani. Aku memang tidak suka kebohongan dan penindasan. Namun, sebelum menuduh kamu harus sertakan buktinya terlebih dahulu!" Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Walaupun itu benar aku, lagipula, bukan salahku kalau dunia tahu ayahmu seorang pencuri, kan?”
Rani membeku.
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari sekadar fitnah. Karena Alina tahu akan kebenaran selalu lebih menyakitkan daripada kebohongan.
"Alina!" Gumam Rani kesal.
Beberapa teman di sekitar pura-pura tak mendengar, tapi mata mereka memandangi Rani dengan tatapan geli dan jijik.
Rani menundukkan kepalanya, bahunya bergetar, lalu berlari keluar kelas sambil menahan tangis.
Ketika di belakangnya, Alina tersenyum lagi. Dia tampak berjalan santai dengan wajah datar.
Tenang.
Dingin.
Indah dalam cara yang sangat begitu mengerikan.
Di taman belakang sekolah, angin berhembus lembut, menggerakkan daun-daun yang jatuh di tanah.
Arkanza datang menghampiri Alina yang duduk di bangku, memandangi langit seolah tak terjadi apa-apa.
“Alina,” suaranya berat.
“Aku dengar soal Rani.”
Alina mengalihkan pandangan, menatapnya sebentar.
“Lalu?”
“Kau tahu kan, kau membuat dia malu seisi sekolah. Semua aibnya kamu buka!”
“Ya.”
“Dan kau tahu, itu terlalu kejam. Alina?”
Alina menatap kosong ke depan.
"Kejam?" Alina terkikih.
Kata itu terasa lucu.
“Dia merobek hasil kerjaku dengan sengaja,” jawabnya datar. “Bagiku, itu juga kejam. Aku susah payah untuk mengerjakan itu semua. Dia malah merusaknya dengan sengaja.”
“Tapi balasanmu ini keterlaluan, Alina!”
“Ini seimbang. Arka”
Hening.
Arkanza tak menjawab. Hanya menatap wajah Alina yang diterpa cahaya matahari sore, membuat kulit pucatnya tampak seperti porselen. Cantik, tapi rapuh.
Namun, bukan itu yang membuat Arkanza diam, melainkan matanya. Mata yang tak memantulkan emosi apa pun.
"Kau bisa menghancurkan Rani karena hal ini, Alina!"
“Aku tidak menyesal, Arka,” ucap Alina akhirnya. “Aku hanya ingin orang berhenti menyakitiku. Kalau mereka tak bisa berhenti, maka aku yang harus menghentikan mereka dalam menyakitiku.”
Suara itu lembut, tapi ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang bergetar seperti tali yang siap putus. Sesuatu rasa yang begitu gelap di dalam kesunyian dan kengerian.
Arkanza menarik napas pelan. Ia tahu, gadis di depannya bukan gadis biasa. Ia tahu, di balik ketenangan itu ada sesuatu yang rusak. Namun, juga sesuatu yang ingin ia lindungi, entah apa sebabnya.
“Alina,” katanya pelan. “Kau harus hati-hati. Aku tidak bisa selamanya melindungimu.”
Senyum itu muncul lagi di wajah gadis itu.
“Tenang saja, Arka. Aku tahu apa yang kulakukan dan bagaimana cara mengatasinya.”
Dan untuk sesaat, mata mereka bertemu. Dalam tatapan itu, Arkanza melihat dua hal yang saling bertabrakan, antara keindahan dan kehancuran. Seperti bunga yang tumbuh di tanah bekas darah.
Malam harinya, di kamar yang sunyi, Alina duduk di depan cermin.
Ia membuka laptopnya, melihat ulang foto Rani yang tersebar di grup sekolah.
Ia menatapnya lama, kemudian menghapusnya. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa puas berlebihan, hanya saja sebuah ketenangan.
“Pelajaran pertama,” bisiknya pada bayangannya di cermin, “jangan pernah main-main dengan seseorang yang tahu cara memutarbalikkan dunia.”
Senyumnya mengembang pelan.
Lalu redup.
Lalu hilang.
Dan di sudut matanya, refleksi cermin memantulkan sesuatu bayangan seorang gadis yang seolah sedang menangis,
meski wajah aslinya sama sekali tak bergerak.