Sosiopat Sosiopat - Dosa Yang Tak Pernah Disesali - Bab 3
3/20
Bab 3

Sosiopat - Dosa Yang Tak Pernah Disesali - Bab 3

Dosa yang Tidak Pernah Disesali

Langit sore itu berwarna besi. Awan menggantung rendah, menekan atap-atap rumah tua di gang sempit tempat Alina tinggal bersama ayahnya. Udara terasa lembap, seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin diucapkan.

Alina duduk di kursi reyot di ruang depan. Di tangannya, boneka kecil tanpa mata yang pernah dijahitnya sendiri. Ia memeluknya diam-diam, sementara dari dalam kamar terdengar suara lelaki menggerutu dengan parau dan mabuk.

“Kalau ada yang cari aku,” suara itu pecah, berat, “bilang saja nggak ada! Jangan buka mulutmu, Lin!”

Alina menatap pintu kamar yang setengah terbuka. Dari celah itu, ia bisa melihat kaki ayahnya yang kotor, botol kaca di lantai dan selembar kertas tagihan yang sudah kusut.

Ia tahu. Rentenir itu akan datang lagi hari ini.

Ayahnya menunggak tiga bulan. Sembilan belas juta. Angka itu sudah sering ia dengar, tapi tak pernah benar-benar mengerti apa artinya. Ia hanya tahu satu hal, setiap kali angka itu disebut, ayahnya akan marah, menampar meja, lalu menenggak alkohol sampai lupa segalanya.

Alina menggenggam bonekanya lebih erat.

Ketika suara langkah-langkah berat terdengar di luar pagar, ayahnya langsung mematikan lampu kamar dan bersembunyi. “Jangan bilang siapa pun aku di sini, Lin! Ngerti, kan?”

Gadis kecil itu mengangguk pelan, tapi matanya tak berjanji apa pun.

Pintu diketuk keras.

Tiga kali.

Kemudian sekali lagi, lebih kasar.

“Pak Rendra! Kami tahu Bapak di dalam!”

Tak ada jawaban.

Alina berjalan perlahan ke arah pintu. Ia menatap daun pintu itu beberapa detik, lalu menoleh ke arah kamar ayahnya yang gelap. Suara napas panik terdengar dari sana.

“Lin! Jangan buka pintu!” desis ayahnya setengah berbisik, tapi Alina menatap gagang pintu itu lama-lama. Tangannya kecil, tapi gerakannya tenang.

Ia memutar kunci.

Begitu pintu terbuka, tiga pria berdiri di ambang. Wajah mereka lelah, pakaian kusam, tapi mata mereka tajam seperti orang yang lapar sesuatu selain uang.

Alina mendongak.

“Bapak di mana?” tanya salah satu dari mereka.

Alina menjawab tanpa berkedip, suaranya jernih seperti air yang dingin.

“Tunggu saja di gudang tua belakang pasar. Dia sering ke sana malam-malam.”

Ketiga pria itu saling berpandangan.

Salah satu tersenyum miring. “Terima kasih, Nak.”

Dan mereka pergi.

Pintu tertutup pelan, meninggalkan keheningan yang tidak sepenuhnya kosong.

Alina berdiri lama di depan pintu, mendengar suara langkah-langkah menjauh. Lalu ia menatap boneka di tangannya dan berbisik nyaris tanpa suara,

“Mereka akan menemukannya.”


Malam itu hujan turun.

Alina tidak tidur.

Ia keluar rumah tanpa payung, berjalan menembus dingin yang mengiris. Di tangannya, senter kecil yang biasa ia pakai mencari kucing liar. Ia tahu ke mana harus pergi.

Gudang tua di belakang pasar, tempat ayahnya kadang menyimpan barang-barang bekas dan tempat di mana ia sering menghilang.

Suara air hujan menampar atap seng. Dari jauh, terdengar teriakan, bentakan dan suara sesuatu yang jatuh.

Alina berhenti di ujung jalan, di balik tembok rusak. Ia tidak mendekat. Ia hanya melihat.

Bayangan-bayangan bergerak cepat di bawah lampu jalan yang redup. Seseorang diseret, seseorang menendang dan di antara semua itu terdengar suara yang ia kenal, serak, penuh amarah dan ketakutan.

Suara ayahnya.

Alina tidak menutup mata. Ia hanya menatap, diam, seperti sedang menyaksikan film yang tidak memerlukan dialog.

Semua berlangsung beberapa menit. Mungkin lebih. Sampai suara itu hilang.

Kemudian sepi.

Yang tersisa hanya hujan.

Alina melangkah mendekat perlahan. Gudang itu terbuka setengah, cahaya kuning dari lampu jalan jatuh ke dalam. Di lantai, tubuh seorang lelaki tergeletak. Nafasnya tersengal, tubuhnya gemetar.

Ayahnya.

Alina berdiri di ambang pintu. Sepatunya menginjak genangan air, menciptakan bunyi lembut yang hampir terdengar seperti bisikan.

“Lin.” Suara itu memanggil namanya, pelan, serak. “Panggil ambulan.”

Ia tidak menjawab.

Ia hanya menatap lelaki itu seperti menatap benda asing yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Dingin, terpisah.

Sebuah memori menembus pikirannya, kilasan sore yang sama, hanya berbeda waktu.

Ketika tangan kasar itu menampar pipinya. Ketika suara keras itu berteriak menyebutnya anak tak tahu diri. Ketika botol pecah di lantai, dan darahnya menetes tanpa alasan.

Semua datang sekaligus dan untuk pertama kalinya malam itu, Alina merasa sesuatu yang mirip dengan ketenangan.

Ia berjongkok di sebelah ayahnya.

Pria itu menatapnya dengan mata yang mulai kehilangan fokus. “Tolong, Lin. Ayah sakit, tolong.” Suaranya melemah, penuh rasa takut yang dulu hanya milik Alina.

Gadis kecil itu menatap wajahnya lama-lama. Bibirnya bergerak, bukan karena iba, tapi karena ingin mengucapkan kalimat yang sudah lama tersimpan di benaknya.

“Cukup sampai di sini, Yah.” Nadanya datar, nyaris lembut.

“Tenanglah di neraka sana. Jangan pernah temui aku di akhirat nanti.” Lalu ia berdiri, menatap tubuh itu satu kali lagi, dan berjalan pergi.

Suara langkah kakinya menghilang di bawah hujan.


Keesokan paginya, gang itu ramai.

Polisi datang, tetangga berbisik.

Orang-orang menemukan tubuh lelaki di gudang tua, tak bernyawa. Mereka bilang dia diserang oleh orang tak dikenal. Ada yang bilang karena utang. Ada pula yang mengira dia terlibat masalah besar.

Alina berdiri di pojok rumah, mendengar semuanya tanpa ekspresi. Seorang polisi bertanya padanya, tapi ia hanya menjawab dengan polos, “Ayah bilang dia akan ke luar kota. Saya nggak tahu apa-apa.”

Senyumnya kecil.

Polisi itu percaya.


Pemakaman berlangsung dua hari kemudian.

Tanah masih basah oleh hujan semalam. Beberapa orang berdiri dengan payung hitam, sebagian berbisik, sebagian memandang iba. Di depan makam, seorang wanita menangis tersedu-sedu, ibu Alina.

Tubuhnya gemetar, bahunya berguncang setiap kali ia menarik napas di antara tangis. Alina berdiri di sampingnya, diam, memegang payung yang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.

“Dia suamimu,” kata seorang tetangga dengan nada lembut. “Kuatkan hatimu, ya.”

Ibu Alina hanya mengangguk, air mata tak berhenti jatuh.

Sementara itu, Alina menatap makam itu seperti menatap batu tanpa makna. Di pikirannya, semua suara bercampur. Antara hujan, tangisan dan dengung serangga di atas rumput basah.

Semuanya terasa jauh. Seolah bukan bagian dari dirinya.

Setelah semua orang pergi, hanya tinggal mereka berdua, ibu dan anak.

Hening.

Sang ibu menatap nisan itu lama-lama, lalu berbisik di antara sesenggukan, “Dia memang bukan suami yang baik, tapi dia tetap ayahmu, Lin.”

Suara itu lembut, retak, penuh luka.

Alina menatap ibunya. Ada sedikit rasa iba, tapi bukan empati, lebih seperti rasa ingin tahu tentang mengapa seseorang bisa menangis begitu dalam untuk orang yang menyakiti mereka.

“Jangan menangis, Bu,” katanya akhirnya.

Ibunya terisak, menatap anaknya dengan mata merah. “Dia, tetap keluarga kita.”

“Beban itu sudah pergi untuk selamanya,” jawab Alina pelan. “Bukankah itu hal yang baik?”

Ucapan itu seperti pisau kecil di udara lembab.

Sang ibu terdiam.

Matanya mencari sesuatu di wajah anaknya, tanda duka, rasa kehilangan, apapun, tapi yang ia temukan hanya ketenangan yang ganjil, menakutkan bahkan.

Alina menatap batu nisan di depannya sekali lagi. Di antara tetesan hujan yang menimpa tanah, ia merasa seolah sesuatu di dalam dirinya akhirnya berhenti berteriak.

Bukan karena penyesalan, tapi karena semua sudah sesuai tempatnya.


Malam itu, setelah pemakaman, Alina duduk di jendela kamarnya. Di luar, suara hujan masih terdengar lembut. Di tangannya, boneka kecil tanpa mata yang sama seperti dulu. Ia menatap boneka itu dan tersenyum tipis.

“Sekarang lebih tenang, kan?” bisiknya.

Bayangan ayahnya melintas samar di benaknya, bukan wajah terakhir yang penuh darah, tapi mata marah yang dulu sering menatapnya dari balik botol kosong dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut.

Hanya kosong.

Ia menempelkan dahi ke kaca jendela, merasakan dingin yang anehnya menenangkan. Dari kamar sebelah, terdengar ibunya menangis lagi. Tangisan panjang, tertahan-tahan, seperti seseorang yang kehilangan arah.

Alina memejamkan mata dan bibirnya melengkung dalam senyum samar yang tak semestinya dimiliki anak berusia sepuluh tahun.

Senyum yang bukan milik kesedihan, juga bukan kebahagiaan.

Lebih mirip kebebasan.


Keesokan paginya, ia bangun lebih awal.

Langit cerah. Ibunya masih terlelap karena semalaman tak tidur. Alina berjalan keluar rumah, ke halaman belakang, membawa bonekanya. Ia duduk di bawah pohon jambu, menatap embun yang menetes dari daun.

Di dalam dirinya, ada sesuatu yang berubah. Tak lagi ada rasa takut ketika mengingat suara keras ayahnya. Tak ada luka ketika melihat bekas memar di lengannya. Hanya keheningan yang ia peluk dengan lembut.

Mungkin inilah yang disebut kedamaian, pikirnya. Walau bentuknya bukan seperti yang orang lain bayangkan.


Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Sekolah, pekerjaan rumah, makan malam bersama ibu, tapi ada sesuatu dalam cara Alina memandang dunia kini lebih tenang, lebih tajam, seolah setiap orang yang berbicara dengannya hanyalah potongan suara yang bisa ia analisis, bukan rasakan.

Ia tahu sesuatu telah mati malam itu di gudang tua.

Bukan hanya ayahnya, tapi juga sebagian kecil dari dirinya yang dulu ingin dicintai dan Alina tidak pernah menyesali itu.

Karena bagi seorang anak berusia sepuluh tahun yang sudah terlalu sering terluka, diam-diam membiarkan seseorang mati terasa lebih adil daripada terus hidup dalam ketakutan.