Jejak yang Tak Pernah Hilang
Sore itu udara terasa berat, seperti kertas basah yang menempel pada kulit. Langit menutup rapat, menyisakan cahaya oranye tipis yang masuk lewat celah-celah pepohonan di pinggir jalan. Alina berjalan pelan di samping Arkanza, buku catatan terselip di lengan, tas punggungnya menggantung ringan. Mereka baru saja pulang dari sekolah, pulang seperti biasa, langkah yang sudah akrab, candaan ringan yang selalu disela sunyi kecil di mata Alina.
Arkanza berbicara tentang tugas bahasa, tentang rencana latihan basket minggu depan. Suaranya hangat, normal dan di detik-detik biasa yang menenangkan. Namun, ketika mereka melewati gang rumah, suara yang memecah ketenangan datang dari dalam, suara suara keras, kata-kata yang bergumam lalu meninggi menjadi adu mulut.
“Ini rumah kami! Akta itu milik ibuku!”
“Sampai kapan kau mau menipu? Kertas itu sudah kubayarkan! Aku yang pegang semuanya!” Suara itu terdengar dari dapur rumah suara yang tidak asing bagi Alina. Ia mengenal nada itu. itu adalah nada yang membuat malam-malamnya panjang, nada yang membuat punggungnya kaku sejak kecil. Suara pamannya.
Alina berhenti. Arkanza ikut menoleh.
“Kita lewat saja,” bisik Arkanza, seolah merasakan muatan di udara. “Nanti kau bisa.”
“Ibu bilang jangan ikut campur kalau ada urusan keluarga,” lanjut Alina, suaranya datar. Ia memandang ke arah pintu rumah dengan sesuatu seperti ketegangan yang disembunyikan rapi. “Kita kerjakan PR di kamar dulu, ya?”
Arkanza ragu, lalu mengangguk. Mereka melangkah masuk, melewati ruang tamu yang penuh dengan bunyi debat yang semakin memanas. Dari balik pintu kamar, suara-suara itu mengalir seperti gelombang, membawa potongan kalimat yang menusuk.
“Kau itu serakah!” suara ibu. Lembut, tapi tegas.
“Aku bukan serakah. Ini hakku. Aku yang kerja keras,” pamannya membalas, kasar.
Alina menutup pintu kamar, menaruh tasnya di lantai, membuka buku, menulis. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Di balik ketenangan itu, telinganya menampung setiap kata. Kata-kata yang akan menumpuk seperti batu kecik di dalam kepala. Arkanza duduk di sampingnya, membuka laptop. Mereka mengerjakan PR dengan gerakan teratur, perlahan, seolah tidak ada badai di luar.
Tetapi suara adu mulut tidak berhenti. Justru, semakin lama, kata-kata itu semakin keras. Sekali ia menoleh, terdengar tembakan kata yang membuat seluruh dinding rumah bergetar. Akta, hak, warisan, dengki. Kemarahan yang disulut dengan rasa haus akan uang. Suara panci yang diseret. Pekikan.
Lalu, bunyi yang memecah suasana, sesuatu yang pecah, tajam dan tak terduga. Ada bunyi kaca atau piring yang retak, lalu hentakan yang membuat udara seolah tertarik masuk ke dalam paru-paru.
Alina dan Arkanza saling berpandangan. Tanpa bicara mereka bangkit. Langkah mereka lebih cepat dari sebelumnya, berlari ke arah ruang tamu.
Pemandangan yang menyambut mereka membuat napas tertahan.
Ibu Alina terjatuh di dekat meja makan, baju dan tangan terlumuri noda gelap. Kepalanya miring, ada basahan di rambut yang berkilat menakutkan di bawah lampu. Wajahnya pucat, napas pendek dan tersendat. Matanya terbuka tapi kosong, menatap ke arah langit-langit seolah mencari sesuatu yang tidak kunjung datang. Di dekatnya, piring terpecah dan kursi terbalik. Pamannya tidak terlihat, tidak ada di ruang itu. Hanya ada sisa-sisa amarah yang baru saja meletup.
“Bu!” suara Arkanza memecah rongga udara. Ia segera menempelkan tangan di perut ibu, mencoba meraba. “Alina, jadilah anak baik selamanya!”
Alina berdiri kaku, tubuhnya menolak membuka mulut. Di kepalanya ada dua lapis yang bergerak bersamaan antara satu adalah kebingungan anak yang melihat ibunya berdarah yang lain adalah sesuatu yang lebih dalam, dingin, mengamatinya seperti penonton memerhatikan teater. Ada gema memori di mana botol-botol yang dilempar, pukulan yang pernah mendarat, malam-malam kosong di mana pintu tertutup rapat dan ia mendengar tangis ibunya di balik kamar. Semua itu datang bersamaan dan menjadi jelas. Ini bukan kecelakaan biasa.
Arkanza menekan telepon, jarinya gemetar. Suara operator terdengar lambat seperti di dalam air. Langkah-langkah tetangga mulai menyelinap masuk ke rumah, suara-suara bertanya, kecemasan yang bertambah. Pamannya tidak ada. Hanya jejak keributan.
Ambulans datang cepat, suara sirine mengiris langit sore. Mereka membawa ibu ke mobil gawat darurat, Arkanza ikut menolong menaikkan tubuhnya. Mata Alina menatap, tapi ia tidak bergerak untuk membantu. Ia mendengar suara-suara. “Hentikan perdarahan!”, “Cepat ke rumah sakit!”, “Siapa yang melakukan ini?” tapi di dalamnya, suara yang lain berbisik lebih pelan, menenangkan. “Balas dendam.”
Di ambulans, sebelum pintu tertutup, ibu Alina menatap sekilas ke arah anaknya. Ada air di sudut matanya, wajah yang berkaca-kaca, napas yang berusaha tersusun menjadi kalimat.
“Lin, jaga diri jangan balas,” suaranya serak, tak kuat. Ia mencoba tersenyum, suara yang pucat. “Jangan.”
Alina mendengar itu seperti kata yang turun dari ketinggian, lalu menghilang. Ia membuka mulut untuk bicara. Namun, kata-kata yang tadinya ingin keluar berubah menjadi sesuatu seperti batu di tenggorokan dan kemudian hilang. Arkanza menggenggam tangannya, hangat, nyata.
Mobil sirene melesat meninggalkan rumah, membawa tubuh yang menjadi tonggak terakhir atas sebuah dunia yang selama ini menopang Alina.
Di rumah, rumah terasa hampa. Meja makan lorongnya menjadi saksi bisu amarah yang meletus. Piring-piring berserak, foto-foto lama sedikit miring. Pamannya tidak terlihat di mana-mana. Hanya jejak langkahnya yang berisik di kepalan kenangan.
Rumah sakit seperti ruang tanpa waktu. Lampu neon memantulkan wajah-wajah yang letih. Dokter dan perawat melintas cepat. Arkanza duduk di bangku logam di koridor, tangan menggenggam rapat ponsel yang sudah panas. Ia menatap ke pintu ruang operasi seperti pria yang menunggu keputusan dunia.
Waktu di sana merayap lambat, tapi dalam racikan yang tak manusiawi. Dokter keluar pada suatu titik, langkahnya berat.
“Saya minta maaf,” katanya. Suara itu seperti menyusup ke rongga dada. “Kami melakukan yang terbaik, tetapi kondisinya terlalu parah. Pendarahan internal dan luka di kepala. Kami tidak dapat menyelamatkannya.”
Arkanza terduduk. Suara itu seperti palu yang memukul dada. Ia menoleh ke arah Alina. Di wajah gadis itu, sesuatu retak sedikit. Ada kilatan yang tidak mudah dikenali, bukan jeritan, bukan hujan yang jatuh, melainkan semacam keheningan yang mengeras.
Di pemakaman dua hari kemudian, tanah masih lembab, bau tanah basah dan bunga menguap ke udara. Tetangga, kerabat dan beberapa orang dari sekolah datang memberi penghormatan. Ibu Alina ditempatkan di satu sisi peti, wajahnya hancur oleh tangis, suaranya pecah setiap kali beberapa kenangan disebut. Ia memegang foto, ia menitikkan air mata, ia menjerit diam. Semua orang menatap, sebagian menghibur, sebagian termangu.
Alina berdiri di sisi. Wajahnya pucat, bibirnya rapat. Saat tetesan tanah menutup lubang yang dibikin, orang-orang menangis.
Alina menangis sebentar saat peti masuk ke tanah. Tangis itu singkat, nyaris sekejap, lalu hilang seperti kabut yang tercubit. Seusai pemakaman, ketika orang-orang mulai beranjak pulang, ia merasa kalau ibunya sedang memeluk dirinya dengan erat, menumpahkan lagi semua rasa sakitnya.
Malam itu, ketika rumah sepi dan lampu padam, Alina duduk sendiri di meja makan, membuka buku catatannya. Tulisannya rapi, huruf-huruf kecil menyusun garis strategi. Di sisinya, ada daftar nama. Sebuah nama pamannya, nomor telepon, alamat tempat yang mungkin ia kunjungi. Ada pula sketsa, pola hidupnya, kemungkinan ia bersembunyi di tempat kerjanya, daftar orang yang mungkin membantunya. Semua itu ditulis dengan tangan yang tak gemetar, seolah sedang membuat daftar belanja.
Di luar jendela, suara angin menempuh dedaunan. Di dalam, ada keheningan penuh tujuan.
Alina menulis satu kalimat dan menatapnya lama. Ini bukan tentang membenci. Ini tentang menata kembali keseimbangan yang dirampas dariku.
Ia menutup buku catatannya. Untuk pertama kali ia merasakan ada sesuatu yang menyerupai keyakinan di dadanya, bukan kemarahan yang panas, melainkan dingin yang berat, konsisten, semakin jelas. Di sana, di bawah lapisan-lapisan luka, tumbuh satu tekad, bahwa pembalasan yang tidak mentah, pembalasan yang tertata seperti simfoni.
Ia tidak tahu apakah pamannya akan menyesal ketika hari itu tiba. Yang ia tahu hanyalah bahwa orang yang telah menghilangkan penjaga terakhir rasa aman di hidupnya kini telah membuka pintu kepada monster kecil yang selama ini dikekang dan monster itu sudah bangun.
Di kamar kecil yang biasa, boneka tanpa mata yang dulu pernah menemaninya tergeletak di rak. Alina mengambilnya, memandangnya sekilas, lalu meletakkannya kembali. Ia berdiri, menatap cermin. Wajahnya sepuluh tahun lalu seketika hadir, pipi yang memar, suara yang ditelan, senyum yang tak lagi tulus. Kini wajah itu menolak menjadi korban lagi.
Di bawah cahaya redup, ia menghembuskan napas panjang, lalu melangkah ke jendela. Di luar, malam menutup. Dalam kegelapan, ia melihat satu figur yang berdiri tegak, bukan hanya anak yang pernah terluka, melainkan seseorang yang sudah belajar cara membuat luka itu kembali menutup dengan cara dirinya sendiri.