Anak Kecil yang Belajar Membalas
Hujan turun deras malam itu. Petir menyambar langit, menyinari rumah kecil di pinggiran kota yang nyaris ambruk dimakan waktu.
Di dalamnya ada seorang anak perempuan berusia delapan tahun duduk di sudut kamar, memeluk lututnya sendiri.
Alina.
Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena suara langkah berat yang bergema dari ruang tamu.
Langkah yang ia kenal. Langkah yang membuat udara terasa sesak.
“Alinaaa!” suara serak itu memecah hujan, disusul bunyi botol pecah.
“Ke sini kau!”
Alina memejamkan mata. Ia tahu, melawan hanya akan memperburuk keadaan.
Ia berdiri pelan, menapaki lantai kayu yang dingin, berjalan menuju ruang tamu.
Ayahnya duduk di kursi reyot dengan mata merah dan napas bau alkohol.
Tangannya gemetar memegang botol setengah kosong, wajahnya berantakan, kumis acak-acakan, rambut berlepotan keringat dan debu.
“Kau makan uangku, ya?” suaranya melengking, lalu tawa kasar keluar di antara batuknya.
“Ayah gak kasih makan, tapi kau bisa beli roti, hah?! Dari mana uang itu?”
Alina diam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Uang itu bukan hasil mencuri, itu uang pemberian ibunya, diselipkan di bawah bantal sebelum berangkat kerja malam itu, tapi menjelaskan sesuatu pada orang mabuk sama saja berbicara pada dinding dan Alina sudah tahu, diam tidak menyelamatkan dirinya.
Tangan ayahnya terayun keras. Tamparan itu membuat tubuh kecilnya terhempas ke lantai.
Botol jatuh dan pecah, serpihannya menggores pipi Alina.
“Jangan pura-pura bodoh, dasar anak pembawa sial!”
Suara itu menggema, tapi Alina tidak menangis.
Ia menatap pecahan kaca di lantai, lalu menatap bayangan wajah ayahnya di sana.
Matanya kosong.
Tidak takut. Tidak juga benci. Hanya diam.
Setelah pukulan ketiga, ayahnya kelelahan dan ambruk di kursi.
Hidung Alina berdarah, bibirnya sobek, lututnya memar. Ia merangkak perlahan ke kamar mandi kecil di belakang rumah.
Lampu di kamar mandi redup. Alina membuka keran, membasuh luka di pipi dengan air dingin. Darahnya menetes di lantai, bercampur dengan sabun cuci dan genangan air.
Ia mengambil kotak obat yang sudah usang. Di dalamnya hanya ada kapas dan obat merah yang hampir kering dengan hati-hati, ia membersihkan luka di lengannya, menempelkan perban seadanya.
Tidak ada isak, tidak ada air mata. Hanya suara napasnya sendiri dan detak hujan di atap.
“Kenapa aku dilahirkan?” Pertanyaan itu melintas di benaknya, tapi tak ada jawaban. Ia hanya menatap wajah kecilnya di cermin retak, wajah seorang anak yang mulai kehilangan sesuatu yang seharusnya dimiliki manusia, rasa takut.
Ia tahu, ibunya tak salah. Ibu bekerja keras agar mereka bisa makan, agar ayah tidak marah, tapi malam seperti ini selalu datang lagi, seperti mimpi buruk yang berulang.
Dan malam itu, di antara darah dan dingin, sesuatu tumbuh di dalam diri Alina. Sebuah bisikan halus, lembut. Namun, sangat menakutkan.
“Kalau kau menghapus sumber penderitaanmu, semuanya akan berhenti.”
Tangannya memegang pisau dapur di dekat wastafel. Kecil, tapi cukup tajam.
Ia menatapnya lama.
Bayangan dirinya di cermin menatap balik dengan mata yang berbeda tampak dingin, tanpa emosi. Ia melangkah pelan keluar kamar mandi, melihat ayahnya tertidur di kursi ruang tamu, botol kosong berserakan di lantai.
Tangannya terangkat.
Ujung pisau bergetar di udara, hanya beberapa inci dari leher ayahnya.
Namun, kemudian.
“Alina.”
Bayangan suara ibunya muncul di kepalanya.
Lembut, menenangkan.
“Kalau orang jahat melukai kita, jangan jadi seperti mereka. Orang kuat tahu kapan harus diam.”
Alina menggertakkan gigi, air matanya menetes satu-satu tanpa suara. Ia menurunkan pisau itu perlahan, lalu menjatuhkannya ke lantai.
“Belum sekarang,” bisiknya.
“Belum saatnya.”
Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela kelas sekolah dasar tempat Alina belajar.
Anak-anak lain tertawa riang, berlarian di halaman sekolah.
Sementara Alina duduk di bangkunya, menulis rapi di buku tulis bergaris.
Tangannya masih sedikit gemetar, tapi wajahnya tenang. Ia tidak mau ada yang tahu apa yang terjadi semalam.
Tiba-tiba, tawa keras terdengar dari belakang.
“Eh, lihat nih!” Beberapa anak laki-laki berdiri di dekat jendela sambil mengangkat tas lusuh berwarna ungu muda.
Tas Alina.
“Jangan!” seru Alina, berdiri cepat, tapi salah satu dari mereka. Adi, anak paling usil di kelas itu melempar tas itu ke arah luar jendela. Tas itu jatuh ke atap gedung tambahan di belakang sekolah.
Anak-anak tertawa keras.
“Ambil aja sendiri kalau berani!” Tawa itu menggema, menelusup ke kepala Alina seperti gema lama yang pernah ia dengar di rumah, suara ejekan, penghinaan dan kekerasan, tapi wajahnya tetap datar.
Ia hanya menatap mereka sejenak, lalu berbalik tanpa sepatah kata pun.
Tanpa menangis, tanpa marah. Ia hanya mengambil bangku kecil di gudang sekolah, lalu berjalan ke halaman belakang.
Atap tempat tas itu jatuh tidak terlalu tinggi, tapi licin karena sisa hujan semalam. Anak-anak yang menonton dari bawah berbisik, beberapa menertawakan keberaniannya.
Alina naik perlahan, tangannya memegang tepi tembok. Sepatunya terpeleset sedikit, tapi ia tak berhenti. Dari atas, ia melihat dunia kecil di bawahnya. Anak-anak, tawa, langit biru juga semuanya tampak jauh dan tak penting.
Ia meraih tasnya, lalu turun dengan hati-hati. Begitu kakinya menginjak tanah, semua mata menatapnya.
Beberapa terdiam.
Alina tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia. Senyum yang entah kenapa membuat udara terasa dingin sesaat.
Ia berjalan melewati mereka tanpa bicara, tapi di kepalanya, sesuatu mulai berputar.
Rasa ingin membalas. Bukan karena marah, tapi karena rasa ingin tahu bagaimana rasanya membuat seseorang merasakan apa yang ia rasakan.
Sore hari, ketika jam pelajaran olahraga dimulai, Alina memperhatikan Adi dari jauh.
Anak itu sedang berlari-lari di lapangan sambil tertawa, sama sekali tak merasa bersalah.
Alina memeriksa tali sepatunya, memastikan simpulnya rapi. Lalu, saat semua murid sedang diinstruksikan untuk berganti posisi, ia berjalan pelan ke arah tempat penyimpanan bola.
Di sana, ia melihat tali plastik tempat bola-bola besar disimpan. Ia menggerakkan tangannya, sedikit mengubah posisi salah satu tali di atas rak besi tinggi, cukup longgar untuk jatuh jika seseorang menarik bola dari bawahnya.
Kemudian ia menunggu.
Beberapa menit kemudian, Adi datang ke gudang kecil itu untuk mengambil bola basket.
Tawa masih di bibirnya. Begitu ia menarik bola dari rak bawah, tali yang sudah longgar itu terlepas. Rak besi berat itu miring, jatuh ke arah kaki Adi.
Suara benturan keras disertai teriakan.
Anak-anak berlari panik. Guru berteriak, memanggil pertolongan. Darah mengalir dari kaki Adi, tulangnya tampak aneh bengkok.
Alina berdiri di luar gudang, memandangi kerumunan itu dengan mata kosong. Tak ada siapa pun yang mencurigainya. Tak ada saksi.
Guru berkata itu kecelakaan.
Semua percaya. Namun, ketika Adi dibawa ke UKS, tatapan Alina dan anak itu sempat bertemu.
Adi menggigil.
Karena di balik wajah polos dan rambut kuncir dua itu, Alina tersenyum kecil, samar, tapi nyata.
Senyum yang sama seperti semalam, ketika ia hampir membunuh ayahnya.
Senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan, tapi dari kelegaan.
Malamnya, Alina kembali duduk di depan cermin. Luka di pipinya sudah mulai mengering.
Ia menatap bayangan dirinya, lama sekali.
“Aku tidak jahat,” bisiknya.
“Aku hanya membalas dengan adil.”
Untuk pertama kalinya, cermin itu tidak memantulkan wajah anak kecil ketakutan. Namun, yang ia lihat adalah gadis kecil yang sedang belajar bertahan hidup dengan cara yang salah, tapi berhasil.
Senyum itu kembali muncul.
Kecil, rapuh dan dingin.
Di luar, hujan kembali turun dan di antara suara derasnya, Alina bersenandung pelan, lagu pengantar tidur yang biasa dinyanyikan ibunya.
Namun, malam itu, lagu itu terdengar berbeda. Tenang, tapi menyeramkan.
Seperti anak kecil yang baru saja menemukan kekuatan barunya. Sebuah kemampuan untuk melukai tanpa rasa bersalah.