Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda akan berhenti. Aspal basah memantulkan cahaya lampu jalan, membuat Jakarta terlihat seperti kota yang berkilau, tapi licin dan penuh jebakan. Dari balik setir taksi berwarna biru muda, Pak Rudy menarik napas pelan sambil mengatur kecepatan. Wiper bergerak cepat, kiri ke kanan, berulang tanpa lelah.
Sudah hampir pukul sepuluh malam. Jam rawan, tapi juga jam rezeki, begitu pikirnya.
Ponsel di dashboard berbunyi. Order masuk.
Lokasi penjemputan tidak jauh. Sebuah rumah kontrakan di gang kecil. Pak Rudy menekan tombol terima dan memutar setir, masuk ke jalan yang lebih sempit. Air menggenang hampir menutup setengah ban. Ia menggerutu pelan, tapi tetap maju.
Begitu mobil berhenti, pintu rumah terbuka cepat.
Seorang perempuan keluar sambil memegangi perutnya. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, keringat bercampur hujan. Ia nyaris berlari, lalu berhenti mendadak.
“Pak, cepat, Pak. Saya mau melahirkan.”
Pak Rudy refleks membuka pintu belakang. “Baik, Bu. Pelan-pelan. Masuk dulu.”
Belum sempat pintu tertutup sempurna, perempuan itu sudah duduk sambil terengah-engah.
“Ke rumah sakit, Pak. Tolong cepat. Suami saya lagi tugas di luar kota.”
“Siap, Bu. Kita berangkat sekarang.”
Mesin menyala. Lampu hazard hidup. Taksi bergerak.
Baru lima menit berjalan, suara di kursi belakang mulai berubah. Nafas si ibu semakin pendek. Tangannya mencengkeram sandaran kursi depan.
“Pak… sakit, Pak… aduh…”
“Iya, Bu. Tarik napas pelan-pelan. Kita sudah jalan. Rumah sakit tidak jauh.”
“Aduh… Pak, saya takut.”
“Tenang, Bu. Saya di sini. Kita usahakan aman.”
Pak Rudy bicara setenang mungkin, meski jantungnya ikut berdetak cepat. Ini bukan pertama kalinya ia mengantar orang sakit. Tapi ini pertama kalinya penumpang bilang mau melahirkan, dan sendirian.
Mobil di depan mengerem mendadak. Pak Rudy ikut mengerem. Dari belakang terdengar teriakan kecil.
“Pak! Jangan berhenti, Pak!”
“Iya, Bu, sabar. Depan macet sedikit.”
Tiba-tiba, tangan penumpang itu maju ke depan. Bukan memegang kursi, tapi… rambut Pak Rudy.
“Pak, maaf! Saya kepegang!”
Pak Rudy hampir tertawa, hampir panik. “Tidak apa-apa, Bu. Rambut saya kuat.”
“Aduh, Pak, saya reflek!”
“Iya, Bu. Tidak apa-apa. Jangan ditarik keras-keras saja.”
Beberapa detik kemudian, tangan itu kembali menarik. Kali ini lebih kencang.
“Bu, pelan-pelan, Bu. Itu kepala saya.”
“Maaf, Pak. Sakit sekali.”
“Iya, saya tahu. Pegang kursinya saja, Bu. Kursinya tidak protes.”
Di tengah situasi genting itu, Pak Rudy malah merasa suasana jadi aneh. Tegang, tapi juga lucu. Ia belum pernah rambutnya ditarik penumpang saat menyetir.
Hujan makin deras. Jalanan mulai macet total. Klakson bersahutan. Beberapa motor nekat menyelip.
“Pak… bayinya kayak mau keluar…”
Pak Rudy menelan ludah. “Bu, dengarkan saya. Kita sebentar lagi sampai jalan besar. Saya usahakan secepat mungkin, tapi aman.”
“Pak, kalau lahir di mobil gimana, Pak?”
“Jangan dulu, Bu. Mobil ini bukan ruang bersalin.”
Ibu itu tertawa pendek, lalu meringis lagi. “Maaf, Pak… saya panik.”
“Tidak apa-apa. Panik boleh, asal jangan narik rambut lagi.”
“Enggak, Pak. Saya janji.”
Janji itu bertahan sekitar satu menit.
Saat mobil menghantam lubang kecil, tangan itu kembali refleks maju dan mencengkeram.
“Bu…”
“Maaf, Pak!”
Pak Rudy sampai menggeleng sambil tersenyum tegang. “Kalau nanti bayi lahir, rambut saya bisa botak, Bu.”
Meski panik, ibu itu tertawa sambil menangis.
Mobil akhirnya keluar dari gang sempit. Jalan lebih lebar, tapi macet. Pak Rudy menyalakan klakson panjang. Ia membuka kaca sedikit.
“Permisi, Bu. Ada ibu mau melahirkan.”
Beberapa pengendara memberi jalan. Tidak semua, tapi cukup untuk membuat mobil bergerak perlahan.
Napas di belakang makin berat.
“Pak… saya enggak kuat…”
“Iya, Bu. Tarik napas. Ikuti suara saya. Tarik… hembuskan.”
“Pak… saya pegang rambut lagi ya?”
“Pegang kursi, Bu. Kursi lebih ikhlas.”
“Aduh, Pak…”
Waktu terasa berjalan aneh. Cepat tapi lama. Setiap lampu merah terasa seperti ujian kesabaran.
Akhirnya, papan nama rumah sakit terlihat.
“Bu, itu rumah sakitnya.”
“Alhamdulillah…”
Begitu mobil berhenti di depan IGD, Pak Rudy langsung turun, membuka pintu, dan berteriak minta bantuan.
Perawat datang dengan kursi roda.
Ibu itu digeser perlahan. Tangannya sempat meraih tangan Pak Rudy.
“Pak… terima kasih. Maaf rambutnya…”
Pak Rudy tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Bu. Rambut bisa tumbuh lagi.”
Ia berdiri sampai pintu IGD tertutup.
Hujan masih turun, tapi dadanya terasa ringan.
Beberapa jam kemudian, ponselnya berbunyi. Pesan masuk.
“Pak, anak saya lahir selamat. Terima kasih sudah menolong. Semoga Bapak selalu sehat dan dilancarkan rezekinya.”
Pak Rudy membaca pesan itu dua kali. Lalu duduk sebentar di balik setir.
Ia menyalakan mesin lagi.
Malam masih panjang. Jalanan masih basah. Tapi ia tahu, malam ini akan selalu ia ingat.
Bukan karena macetnya. Bukan karena hujannya. Tapi karena di kursi belakang taksinya, pernah lahir sebuah cerita kecil yang tidak akan pernah ia lupakan.
Menjelang subuh, Pak Rudy akhirnya memutuskan mengakhiri narikan malam itu.
Ia mengarahkan taksi kembali ke pool. Hujan sudah jauh berkurang, hanya menyisakan jalanan basah dan udara dingin yang menempel di kulit. Gerbang pool terbuka perlahan ketika mobil mendekat. Beberapa taksi lain sudah terparkir rapi, sebagian sopir terlihat duduk di pos sambil menyeruput kopi.
Pak Rudy memarkirkan mobil di barisan yang kosong. Ia mematikan mesin, melepas sabuk pengaman, lalu duduk sebentar di balik setir. Tangannya masih bertahan di kemudi, seperti belum ingin berpisah dengan mobil itu.
Ia menepuk setir pelan. “Makasih ya.”
Setelah menyerahkan kunci dan laporan singkat, Pak Rudy melangkah keluar dari area pool. Jaketnya ia rapatkan. Udara subuh menusuk tulang.
Di depan pool, motornya terparkir sejak sore. Ia mengenakan helm, menyalakan mesin, lalu melaju pelan meninggalkan deretan taksi biru yang masih terdiam.
Perjalanan pulang terasa berbeda. Jalanan lengang. Lampu-lampu kota mulai redup, digantikan cahaya pagi yang malu-malu.
Sesampainya di rumah, ia memarkir motor di teras kecil. Ia masuk dengan langkah pelan agar tidak membangunkan siapa pun.
Istrinya ternyata sudah terjaga.
“Baru pulang, Pak?”
“Iya.”
“Capek?”
Pak Rudy tersenyum kecil. “Lumayan.”
Ia duduk, minum air putih, lalu baru berkata pelan. “Tadi nganter ibu mau melahirkan.”
Istrinya langsung duduk. “Hah? Terus?”
“Selamat. Sampai rumah sakit.”
Istrinya menghela napas lega. “Alhamdulillah.”
Pak Rudy mengangguk. “Rambut saya ditarik-tarik.”
Istrinya tertawa kaget. “Kenapa?”
“Refleks, katanya.”
Mereka tertawa pelan di dapur kecil itu. Setelah tawanya mereda, suasana dapur kembali tenang. Hanya suara jam dinding dan sisa hujan yang masih menetes dari atap.
Pak Rudy duduk bersandar, melepas jaket, lalu menghela napas panjang. Baru sekarang tubuhnya benar-benar terasa lelah. Bukan lelah di tangan atau kaki, tapi lelah yang datang setelah adrenalin turun.
“Bapak kenapa?” tanya istrinya pelan.
“Enggak apa-apa,” jawabnya. “Cuma kepikiran saja.”
“Kepikiran apa?”
Pak Rudy diam sejenak. “Kepikiran kalau tadi saya telat sedikit saja, mungkin ceritanya beda.”
Istrinya tidak langsung menjawab. Ia hanya menuangkan air hangat ke gelas dan mendorongnya ke arah Pak Rudy.
“Yang penting sekarang semua selamat,” katanya.
Pak Rudy mengangguk. Ia teringat lagi wajah ibu itu. Tangannya yang gemetar. Tawa panik di sela rasa sakit. Dan pesan singkat yang masuk beberapa jam lalu.
Ia tidak pernah tahu nama lengkap penumpangnya. Tidak tahu bayinya laki-laki atau perempuan. Tidak tahu apakah mereka akan mengingatnya atau tidak.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena baginya, cukup tahu bahwa malam itu, ia sampai di rumah dengan selamat, dan di tempat lain, seorang ibu juga memeluk bayinya dengan selamat.
Pak Rudy berdiri, melangkah ke kamar, lalu berbaring. Matanya terpejam perlahan.
Besok, ia akan kembali ke pool. Kembali duduk di balik setir. Kembali mengantar orang-orang yang mungkin tak pernah tahu apa yang pernah terjadi di kursi belakang taksinya.
Tapi ia tahu.
Dan itu sudah lebih dari cukup.