Pagi itu belum benar-benar pagi ketika Pak Hasan duduk di balik setir taksi. Langit masih abu-abu. Jalanan Jakarta belum ramai, tapi juga tidak benar-benar sepi. Jam di dashboard menunjukkan pukul setengah lima.
Ia menguap pelan sambil menggosok kedua tangannya. Kopi hitam di gelas plastik sudah dingin sejak satu jam lalu, tapi tetap ia minum. Bukan untuk rasa, tapi agar matanya tetap terbuka.
Sudah tiga hari ini penumpang sepi. Bukan sepi benar, tapi order datang lalu hilang lagi. Setoran tetap harus jalan. Anak di rumah tetap harus makan. Uang sekolah tidak menunggu penumpang ramai.
Ponsel berbunyi.
Order masuk.
Pak Hasan menegakkan punggung. Lokasi penjemputan di terminal bus kecil, pinggir kota. Ia menekan tombol terima tanpa banyak pikir.
Terminal itu tidak terlalu besar. Beberapa bus malam masih terparkir. Lampu neon menerangi bangku panjang yang sudah kusam. Pak Hasan memarkir taksi di dekat pintu masuk.
Beberapa orang berdiri membawa tas besar. Ada yang terlihat segar, ada yang jelas kelelahan.
Seorang laki-laki tua melangkah mendekat. Pakaian sederhana. Sandal jepit. Tas plastik hitam di tangan.
“Pak, taksi ya?” tanyanya ragu.
“Iya, Pak. Silakan.”
Laki-laki itu masuk ke kursi belakang dengan hati-hati, seperti takut mengotori jok.
“Kemana, Pak?” tanya Pak Hasan.
“Ke arah Tanah Abang, Pak. Tapi nanti saya turun di gang kecil saja.”
“Baik, Pak.”
Mobil melaju.
Beberapa menit pertama, tidak ada percakapan. Hanya suara mesin dan klakson dari kejauhan. Pak Hasan sudah terbiasa dengan penumpang pendiam.
Tapi kali ini, ia merasa ada yang berbeda. Penumpang itu duduk tegak, tangannya terus memegang tas plastiknya, seolah takut tertinggal.
“Pak,” suara dari belakang terdengar pelan, “kalau macet, enggak apa-apa ya, Pak. Saya enggak buru-buru.”
“Iya, Pak. Santai saja.”
Beberapa ruas jalan mulai ramai. Pedagang kaki lima mulai membuka lapak. Bau gorengan bercampur asap kendaraan.
“Bapak habis dari mana?” tanya Pak Hasan, sekadar basa-basi.
“Dari kampung, Pak. Baru sampai.”
“Oh.”
“Anak saya sakit,” lanjutnya. “Saya mau ke rumah saudara dulu. Nanti baru ke rumah sakit.”
Pak Hasan mengangguk. “Semoga lekas sembuh.”
“Amin.”
Mobil kembali sunyi.
Di lampu merah, Pak Hasan melirik kaca spion. Wajah penumpangnya terlihat letih. Mata cekung. Kulitnya gelap terbakar matahari.
“Bapak kerja apa, Pak?” tanya Pak Hasan.
“Kuli bangunan,” jawabnya singkat.
“Oh.”
“Sudah lama enggak kerja. Proyek sepi.”
Pak Hasan mengangguk pelan. Ia paham. Dunia lagi susah. Semua orang punya cerita masing-masing.
Mobil kembali melaju.
Beberapa menit kemudian, penumpang itu bersuara lagi.
“Pak, taksinya mahal ya?”
Pertanyaan itu keluar dengan hati-hati.
Pak Hasan menjawab jujur. “Lumayan, Pak. Tapi aman.”
“Iya… saya tahu,” katanya pelan. “Cuma… ya sudahlah.”
Kalimat itu menggantung.
Pak Hasan tahu nada itu. Nada orang yang sedang menghitung uang di kepala.
“Kalau boleh tahu, Pak,” katanya pelan, “bapak ada kendala?”
Penumpang itu diam cukup lama.
“Saya uangnya pas-pasan, Pak,” katanya akhirnya. “Saya kira masih cukup. Ternyata jaraknya lumayan jauh.”
Pak Hasan tidak langsung menjawab. Tangannya tetap di kemudi.
“Bapak punya berapa?” tanyanya akhirnya.
Penumpang itu membuka tas plastik. Dari dalamnya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang lusuh.
“Ini, Pak.”
Pak Hasan melirik sekilas. Jumlahnya jelas kurang.
Ia menarik napas.
“Begini saja, Pak,” katanya akhirnya. “Nanti saya antar sampai gang. Soal kurangnya, kita bicarakan.”
Penumpang itu menatap kaca spion. “Beneran, Pak?”
“Iya.”
“Terima kasih, Pak.”
Nada suaranya berubah. Lebih lega.
Mobil melanjutkan perjalanan.
Mendekati Tanah Abang, jalan semakin padat. Pedagang mulai memenuhi trotoar. Klakson bersahutan.
“Pak,” kata penumpang itu lagi, “kalau saya boleh jujur…”
“Silakan, Pak.”
“Saya sempat ragu naik taksi. Takut enggak cukup bayar.”
Pak Hasan tersenyum tipis. “Kenapa tetap naik?”
“Karena kaki saya sudah enggak kuat jalan jauh.”
Pak Hasan mengangguk.
Sampai di gang kecil yang dimaksud, mobil berhenti. Jalan sempit. Rumah-rumah berhimpitan.
“Di sini saja, Pak.”
Pak Hasan mematikan mesin.
Penumpang itu turun perlahan, lalu berdiri di samping mobil.
“Pak,” katanya pelan, “uang saya segini saja.”
Ia menyodorkan uang itu dengan tangan gemetar.
Pak Hasan menerima, menghitung cepat, lalu mengembalikan sebagian.
“Pak, ini kelebihan.”
“Lho, Pak, kan tadi bilang kurang.”
“Iya, tapi ini cukup,” jawab Pak Hasan. “Bapak simpan saja sisanya.”
Penumpang itu terdiam.
“Pak,” suaranya bergetar, “beneran?”
“Iya, Pak. Bapak lebih butuh.”
Mata penumpang itu berkaca-kaca.
“Terima kasih, Pak,” katanya lirih. “Saya enggak akan lupa.”
Pak Hasan mengangguk. “Hati-hati, Pak. Semoga anaknya cepat sembuh.”
Penumpang itu berjalan masuk ke gang sempit. Sesekali ia menoleh ke belakang.
Pak Hasan duduk sebentar di mobil. Ia menatap gang itu cukup lama.
Setoran hari itu pasti kurang. Tapi entah kenapa, dadanya terasa ringan.
Ia menyalakan mesin lagi.
Order berikutnya masuk.
Hari itu berjalan seperti biasa. Ada penumpang ramah. Ada yang dingin. Ada yang cerewet. Ada yang diam.
Menjelang malam, Pak Hasan kembali ke pool. Ia memarkir taksi, menyerahkan kunci, dan mencatat setoran. Petugas melirik angka di kertas.
“Sepi, Pak?”
“Iya.”
Petugas mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh.
Pak Hasan keluar dari pool, berjalan ke halte, lalu naik angkot menuju rumah. Jalanan malam ramai. Lampu toko berkelip.
Di dalam angkot, ia duduk diam. Tangannya memegang tas kecil. Pikirannya kembali ke penumpang pagi tadi.
Ia tidak tahu apakah kebaikan kecil itu akan kembali padanya. Ia juga tidak berharap.
Sampai di rumah, istrinya menyambut.
“Gimana hari ini?”
“Biasa.”
“Makan dulu.”
Pak Hasan duduk, makan pelan.
Sebelum tidur, ia memeriksa ponselnya. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Pak, ini saya yang tadi naik taksi. Anak saya sudah diperiksa. Terima kasih, Pak. Doa saya untuk bapak.”
Pak Hasan membaca pesan itu lama.
Ia tersenyum.
Di balik setir taksi, tidak semua penumpang meninggalkan uang. Ada yang meninggalkan cerita. Ada yang meninggalkan doa.
Dan kadang, itu jauh lebih berharga.
Malam itu, Pak Hasan tidak langsung tidur. Setelah istrinya terlelap, ia duduk di ruang depan rumah kecil mereka. Televisi menyala tanpa suara. Lampu redup. Ia memandangi lantai yang sudah mulai kusam.
Ia teringat pesan yang masuk tadi. Doa dari orang yang bahkan tidak ia kenal namanya. Ia tidak membalas. Bukan karena tidak mau, tapi karena ia tidak tahu harus menulis apa.
Terima kasih terasa terlalu singkat. Sama-sama terasa tidak tepat.
Kadang, ada pertemuan yang memang cukup berhenti di situ saja.
Keesokan harinya, Pak Hasan kembali ke pool lebih pagi. Udara masih dingin. Beberapa sopir lain sudah duduk di bangku panjang, mengobrol soal setoran, soal harga bensin, soal anak yang minta uang jajan.
“Gimana kemarin, Pak?” tanya seorang sopir.
“Biasa,” jawab Pak Hasan.
Ia tidak bercerita. Bukan karena pelit cerita, tapi karena tidak semua hal perlu dibagikan.
Ia kembali duduk di balik setir. Mesin menyala. Hari baru dimulai.
Order pertama hari itu datang dari sebuah rumah sakit. Seorang perempuan naik, wajahnya lelah.
“Ke kosan, Pak.”
“Baik, Bu.”
Perjalanan singkat. Tidak ada percakapan. Tapi saat sampai tujuan, perempuan itu berkata pelan.
“Pak, makasih ya. Tadi bapak nyetirnya enak.”
Pak Hasan tersenyum. “Sama-sama, Bu.”
Kalimat sederhana. Tapi cukup membuat paginya terasa lebih ringan.
Order berikutnya datang dari pusat perbelanjaan. Seorang ibu dengan anak kecil. Anak itu rewel. Menangis sepanjang jalan. Ibunya minta maaf berkali-kali.
“Enggak apa-apa, Bu,” kata Pak Hasan. “Anak kecil wajar.”
Ia teringat anaknya sendiri saat masih kecil. Pernah juga menangis di angkot, di bus, di mana saja.
Siang hari, panas mulai menyengat. Jalanan macet. Klakson bersahutan. Pak Hasan tetap sabar. Ia sudah hafal ritme kota ini. Kapan harus pelan. Kapan harus berhenti.
Di salah satu lampu merah, seorang pengamen naik. Menyanyi dengan suara fals. Pak Hasan tetap diam. Saat lampu hijau menyala, pengamen turun.
“Hati-hati, Pak,” katanya.
Pak Hasan mengangguk.
Sore menjelang, tubuhnya mulai terasa pegal. Tapi pikirannya tetap jernih. Ia merasa hari itu berbeda. Tidak ada rezeki besar. Tidak ada kejadian dramatis. Tapi ada rasa tenang yang tidak biasa.
Menjelang magrib, order terakhir masuk. Seorang pria muda. Pakaian rapi. Wajah lelah.
“Pak, ke stasiun.”
“Baik, Pak.”
Di tengah perjalanan, pria itu membuka percakapan.
“Pak, jadi sopir sudah lama?”
“Lumayan.”
“Capek ya, Pak.”
Pak Hasan tersenyum kecil. “Namanya juga kerja.”
Pria itu mengangguk. “Saya juga capek, Pak. Tapi ya harus jalan.”
Mereka tertawa kecil. Dua orang asing. Dua dunia berbeda. Tapi sama-sama lelah.
Sampai di stasiun, pria itu turun. Sebelum menutup pintu, ia berkata.
“Semangat ya, Pak.”
Pak Hasan mengangguk. “Iya, Pak.”
Malam itu, saat kembali ke pool, Pak Hasan menyadari sesuatu. Ia tidak ingat lagi berapa setoran hari itu. Tidak menghitung berulang-ulang seperti biasanya. Tidak gelisah.
Yang ia ingat justru wajah-wajah. Suara-suara. Kalimat-kalimat kecil.
Ia sadar, menjadi sopir taksi bukan soal berapa banyak uang yang dibawa pulang setiap hari. Tapi soal berapa banyak cerita yang singgah, lalu pergi.
Ada yang singgah sebentar. Ada yang meninggalkan bekas.
Dan di balik setir, ia belajar satu hal. Bahwa di kota sebesar ini, semua orang sedang berjuang. Dengan caranya masing-masing. Dengan beban yang tidak selalu terlihat.
Ia mematikan mesin. Menyerahkan kunci. Lalu melangkah keluar dari pool.
Langit malam Jakarta cerah. Tanpa hujan. Tanpa kilat.
Pak Hasan berjalan pelan menuju halte. Menunggu angkot yang akan membawanya pulang. Ia duduk di bangku besi, menatap jalan.
Besok, cerita baru akan datang lagi. Di kursi belakang. Di bangku yang sama.
Dan ia akan tetap duduk di depan. Mendengarkan. Mengantar. Lalu melepaskan.
Seperti biasa.