Cerita-Cerita Kecil di Dalam Taksi Penumpang Terakhir
5/27
Bab 5

Penumpang Terakhir

Jam di dashboard menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh ketika Pak Jaya melajukan taksinya keluar dari pool. Lampu lampu kota masih menyala terang, tapi jalanan mulai sepi. Jakarta selalu punya dua wajah. Siang yang riuh dan malam yang menyisakan orang orang yang belum ingin pulang.

Seharusnya ia sudah selesai menarik. Tubuhnya pegal. Bahu terasa berat. Sejak pagi ia sudah berkeliling, mengantar penumpang ke kantor, ke mal, ke bandara. Sore tadi sempat hujan deras, bikin macet di mana mana.

Istrinya menelepon sekitar satu jam lalu.

“Kalau sudah capek, pulang saja,” katanya.

“Iya. Ini satu lagi,” jawab Pak Jaya waktu itu.

Kalimat yang sering ia ucapkan. Dan sering juga menjadi bohong kecil yang ia buat sendiri.

Ponsel di dashboard berbunyi. Order masuk. Lokasi penjemputan tidak jauh. Di dekat halte lama yang sudah jarang dipakai. Tujuan belum tertera. Pembayaran tunai.

Pak Jaya mengerutkan kening sebentar. Order tanpa tujuan jelas di jam segini selalu bikin waspada. Tapi ia tetap menekan tombol terima. Tangannya sudah terlalu terbiasa bergerak.

Mobil berbelok ke kiri, masuk jalan yang lebih sepi. Lampu jalan jaraknya jauh. Beberapa mati. Udara malam terasa lembap.

Di bawah lampu yang masih menyala, berdiri seorang perempuan. Tubuhnya kecil. Jaket hitamnya kebesaran. Rambutnya terikat asal. Di tangan kanannya, tas kain lusuh yang terlihat berat.

Pak Jaya menepi. Menurunkan kaca sedikit.

“Bu?” panggilnya pelan.

Perempuan itu mengangguk cepat, lalu membuka pintu depan.

“Boleh duduk depan, Pak?”

“Silakan.”

Perempuan itu masuk. Tangannya dingin ketika tanpa sengaja menyentuh lengan Pak Jaya saat menutup pintu. Ia duduk kaku, memeluk tasnya erat.

“Ke mana, Bu?” tanya Pak Jaya sambil melajukan mobil.

Perempuan itu tidak langsung menjawab. “Saya ikut arah Bapak saja dulu, Pak. Nanti saya bilang.”

Pak Jaya mengangguk. Ia tidak asing dengan jawaban seperti itu. Banyak penumpang malam hari yang sebenarnya sedang bingung, bukan soal alamat, tapi soal hidup.

Mobil melaju pelan. Radio menyala lirih. Lagu lama mengalun, tapi Pak Jaya mengecilkan volumenya.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

“Pak,” perempuan itu akhirnya bicara, suaranya pelan, “Bapak kerja malam terus ya?”

“Lumayan sering,” jawab Pak Jaya. “Kalau malam biasanya lebih sepi, tapi juga lebih banyak cerita.”

“Cerita?”

“Iya. Penumpang malam beda sama siang.”

Perempuan itu tersenyum tipis, lalu menunduk lagi.

Lampu merah. Mobil berhenti.

“Pak,” katanya lagi, kali ini ragu, “capek enggak sih jadi sopir taksi?”

Pak Jaya berpikir sebentar. “Capek, Bu. Tapi bukan di nyetirnya.”

“Terus di mana capeknya?”

“Di kepala.”

Perempuan itu menoleh, menatap Pak Jaya sejenak.

“Maksudnya?”

“Kadang kita dengar cerita orang. Masalah orang. Pulangnya, kepikiran.”

Perempuan itu mengangguk pelan. “Saya capek juga, Pak.”

“Capek apa?”

“Capek hidup.”

Pak Jaya tidak langsung menjawab. Lampu hijau menyala. Mobil jalan lagi.

“Banyak orang capek hidup, Bu,” katanya akhirnya. “Yang beda cuma cara mereka bawa capeknya.”

Perempuan itu menarik napas panjang. “Saya baru keluar dari rumah orang tua.”

“Kenapa?”

“Berantem.”

“Dengan siapa?”

“Ayah saya.”

Pak Jaya mengangguk pelan.

“Saya diminta pulang ke suami,” lanjut perempuan itu. “Padahal saya baru pisah.”

Nada suaranya datar, tapi tangannya bergetar.

“Pisah itu berat,” kata Pak Jaya.

“Iya. Tapi tinggal itu juga berat.”

Mobil masuk jalan kecil. Rumah rumah berdempetan. Beberapa lampu menyala redup.

“Ayah bilang saya perempuan. Enggak boleh keras kepala,” kata perempuan itu lagi. “Katanya tugas saya nurut.”

Pak Jaya menghela napas pelan. “Kadang orang tua lupa. Yang menjalani hidup itu anaknya, bukan mereka.”

Perempuan itu tertawa kecil, tapi matanya berkaca kaca. “Bapak enak ya ngomongnya.”

“Kenapa?”

“Enggak nyalahin. Enggak nyuruh apa apa.”

Pak Jaya tersenyum tipis. “Karena saya enggak ada di posisi Ibu.”

Mobil berhenti di depan rumah kontrakan berpagar besi rendah.

“Pak, di sini saja.”

Pak Jaya menghentikan mobil. Argo berhenti. Angkanya tidak besar.

Perempuan itu tidak langsung turun. Ia menatap lurus ke depan.

“Pak,” katanya pelan, “kalau Bapak jadi saya, pulang ke suami atau enggak?”

Pak Jaya menggeleng. “Saya enggak bisa jawab itu.”

“Oh.”

“Tapi saya tahu satu hal,” lanjutnya. “Keputusan yang berat itu bukan salah. Cuma terasa berat aja.”

Perempuan itu menutup wajahnya sebentar. Bahunya naik turun. Ia tidak menangis keras. Hanya terdiam.

“Terima kasih ya, Pak,” katanya kemudian. “Saya enggak tahu kenapa cerita ke Bapak.”

“Mungkin karena mobil ini jalan,” jawab Pak Jaya. “Kalau diam, pikiran lebih berisik.”

Perempuan itu tersenyum tipis. Ia mengeluarkan uang, menghitung pelan. Nominalnya pas.

“Ini, Pak.”

Pak Jaya menerima. “Hati hati ya, Bu.”

“Iya, Pak.”

Perempuan itu turun. Sebelum masuk ke pagar, ia menoleh lagi.

“Pak, makasih sudah dengerin.”

Pak Jaya mengangguk.

Mobil bergerak menjauh. Pak Jaya tidak langsung tancap gas. Ia melambat, lalu menepi sebentar. Mesin tetap menyala.

Ia duduk diam. Menatap kaca depan yang mulai berembun.

Ia teringat dirinya sendiri, bertahun tahun lalu. Pernah juga bingung. Pernah juga duduk lama di mobil sebelum pulang. Tidak tahu harus minta maaf atau mempertahankan ego.

Hidup memang sering tidak memberi pilihan yang nyaman.

Setelah beberapa menit, Pak Jaya melanjutkan perjalanan ke pool. Jalanan makin sepi. Lampu kota terasa jauh.

Di pool, ia memarkirkan taksi di tempatnya. Menutup pintu. Mengambil tas kecil. Ia pamit pada petugas malam, lalu berjalan keluar.

Dari pool, ia naik ojek langganan. Angin malam menyentuh wajahnya.

Sampai di rumah, suasana sudah sunyi. Istrinya tertidur di depan televisi. Pak Jaya mematikan TV pelan, menyelimuti istrinya.

Pak Jaya duduk sebentar di kursi kayu di ruang tamu. Istrinya sudah tertidur lelap, tangan kecil anak bungsunya menyentuh selimut di sampingnya. Suara kipas angin berputar pelan, mendominasi keheningan malam.

Ia menaruh tas kecilnya di samping kursi, lalu menatap kaleng kecil berisi koin dan uang receh. Hati kecilnya tersenyum tipis. Semua jumlah itu sepele. Tapi setiap koin, setiap lembaran uang, membawa cerita. Kadang berat, kadang lucu, kadang menyentuh.

Ia menoleh ke arah anaknya yang tidur di kamar. “Nanti kalau besar, jangan terlalu cepat menilai orang,” gumamnya pelan. “Bukan semua orang yang kelihatan keras itu jahat. Bukan semua orang yang diam itu tidak peduli.”

Pikiran Pak Jaya kembali ke malam ini. Perempuan yang ia antar. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya butuh didengar. Ia ingat suara lirihnya, tatapan kosongnya, dan senyum tipis sebelum masuk ke rumah. Senyum itu membuatnya lega sekaligus sadar, pekerjaan yang ia jalani bukan sekadar mengantar orang. Ia hadir sebentar, memberi ruang bagi mereka untuk bernapas.

Ia berdiri. Berjalan ke dapur. Membuat segelas teh hangat. Duduk kembali di kursi kayu dekat jendela, menatap jalan yang sepi. Lampu jalan redup, beberapa motor sesekali melintas. Jakarta malam tampak diam, tapi di balik keheningan itu, ada ribuan cerita yang tidak pernah ia ketahui.

Pak Jaya menyesap teh perlahan. Hangatnya masuk ke tenggorokan, menghapus lelah sejenak. Ia berpikir tentang besok. Tentang order pagi yang akan datang, penumpang yang akan tersenyum, yang akan marah, yang akan ragu. Tentang semua manusia yang membawanya ke berbagai macam cerita.

Ia tersenyum tipis lagi. Pikirannya ringan. Karena malam ini ia belajar satu hal sederhana. Tidak semua penumpang membutuhkan jawaban. Tidak semua cerita harus selesai di kursi belakang mobil. Kadang, cukup diantar. Cukup didengar. Dan cukup membuat seseorang merasa sedikit lebih tenang.

Pak Jaya menutup mata sebentar, membiarkan diri terhanyut dalam keheningan. Malam ini ia tidak hanya mengantar seseorang ke rumah. Ia mengantar sedikit ketenangan untuknya. Dan untuk dirinya sendiri.

Ia bangkit perlahan, menaruh gelas di meja, dan menyelimuti diri dengan selimut. Mata tertutup. Nafas pelan. Jakarta masih ramai di luar sana, tapi di rumah ini, ia menemukan ketenangan yang sederhana.

Dan besok pagi, di balik setir taksi, ia akan kembali. Mendengar cerita baru, menghadapi penumpang baru. Tapi malam ini cukup untuk membuatnya merasa bahwa menjadi sopir taksi bukan sekadar pekerjaan. Ia menjadi saksi. Ia menjadi pendengar. Ia menjadi bagian dari kehidupan orang orang, meski hanya sebentar.

Di kursi kayu dekat jendela, Pak Jaya menatap langit-langit, tersenyum kecil, dan akhirnya tidur. Lampu kamar perlahan padam. Hujan kecil mulai terdengar dari kejauhan. Jakarta malam bernafas. Dan satu cerita kecil, satu perjalanan malam, selesai dengan damai.