Baik. Aku lanjutkan Bab 3 dengan kisah yang benar-benar berbeda, lebih keras realitanya, tanpa emdash, dialog natural Pak–Bu, dan satu cerita utuh sampai selesai. Aku jaga nadanya konsisten dengan Bab 1 dan Bab 2, tapi konfliknya lebih emosional dan sosial. Ini kisah yang sering terjadi, tapi jarang diceritakan.
Cerita-Cerita Kecil di Balik Kehidupan Sopir Taksi Bab 3 Penumpang yang Tidak Percaya
Siang itu panas menyengat. Matahari berdiri tepat di atas kepala, membuat aspal seperti menguap. AC taksi menyala penuh, tapi keringat tetap menetes dari pelipis Pak Darman. Ia sudah menarik sejak pagi. Setoran belum aman. Badannya pegal, tapi pikirannya harus tetap fokus.
Jam menunjukkan pukul dua siang. Jam nanggung. Tidak terlalu ramai, tapi juga belum sepi.
Ponsel berbunyi.
Order masuk.
Lokasi penjemputan di pusat perbelanjaan. Pak Darman memutar setir, masuk ke area parkir yang padat. Mobil-mobil berjejer. Beberapa orang berdiri sambil menunggu.
Seorang perempuan naik. Usianya sekitar tiga puluhan. Pakaian rapi. Tas besar di tangan. Wajahnya datar, matanya sibuk melihat layar ponsel.
“Ke apartemen di daerah Kelapa Gading,” katanya singkat.
“Baik, Bu.”
Mobil bergerak keluar dari parkiran. Pak Darman melirik spion. Penumpangnya duduk tegak, memeluk tas di pangkuan. Tatapannya sesekali berpindah ke arah kaca depan, lalu ke spion, lalu ke ponsel lagi.
Baru beberapa menit berjalan, suara itu terdengar.
“Pak, lewat mana?”
“Lewat jalan besar, Bu. Biasanya lebih lancar.”
“Oh.”
Nada suaranya pendek. Tidak ramah, tapi juga tidak kasar. Hanya dingin.
Pak Darman terbiasa dengan penumpang seperti itu. Biasanya orang kota. Hatinya sudah penuh sebelum naik mobil.
Lampu merah. Mobil berhenti.
“Pak,” suara itu terdengar lagi, “argo-nya nyala, kan?”
“Iya, Bu. Dari tadi.”
“Oh.”
Beberapa menit kemudian.
“Pak, kok muter?”
Pak Darman menahan napas. “Di depan ada perbaikan jalan, Bu.”
“Bapak yakin?”
“Iya, Bu.”
Penumpang itu diam, tapi Pak Darman bisa merasakan tatapan dari belakang. Tatapan penuh curiga.
Mobil kembali melaju.
Di tengah jalan, tiba-tiba terdengar bunyi resleting. Pak Darman melirik spion. Penumpang itu membuka tasnya sedikit, lalu menutup lagi.
Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan, tapi jelas.
“Pak, jangan aneh-aneh ya.”
Kalimat itu seperti jatuh begitu saja di udara.
Pak Darman terkejut. “Maksudnya, Bu?”
“Ya jangan aneh-aneh. Saya sendirian.”
Pak Darman menghela napas. “Iya, Bu. Saya kerja saja.”
Suasana di dalam mobil berubah. AC tetap dingin, tapi rasanya pengap.
Pak Darman menatap jalan. Ia tahu, di luar sana, banyak berita buruk. Banyak cerita tentang kejahatan. Tapi mendengar kecurigaan itu langsung, rasanya tetap menyakitkan.
Beberapa menit berlalu dalam diam.
Di lampu merah berikutnya, penumpang itu kembali bersuara.
“Pak, saya foto ya plat nomornya.”
“Silakan, Bu.”
Ia mendengar bunyi kamera.
Setelah itu, ponsel di tangan penumpang berbunyi. Ia berbicara pelan.
“Iya, aku di taksi. Iya, aman. Iya, nanti kabarin lagi.”
Pak Darman tetap diam.
Ia teringat istrinya di rumah. Teringat anak perempuannya yang sebentar lagi masuk SMA. Ia bekerja keras agar anaknya bisa sekolah dengan baik. Agar anaknya aman.
Dan sekarang, ia dicurigai hanya karena duduk di balik setir.
Mobil memasuki jalan yang lebih sepi. Pohon-pohon besar di kiri kanan. Bayangan bergoyang di kaca.
“Pak,” suara itu terdengar lagi, kali ini lebih tegang, “ini bener ke Kelapa Gading?”
“Iya, Bu. Ini jalur pintas.”
“Kok sepi?”
“Sebentar lagi keluar ke jalan besar.”
Penumpang itu menggenggam tasnya lebih erat.
“Pak, berhenti sebentar.”
Pak Darman mengerem. “Kenapa, Bu?”
“Saya mau turun.”
“Di sini, Bu?”
“Iya.”
Pak Darman menepikan mobil. Penumpang itu turun cepat. Ia berdiri beberapa langkah dari mobil, lalu menatap Pak Darman.
“Pak, maaf ya. Saya enggak kenal bapak.”
Pak Darman menatapnya balik. “Iya, Bu.”
“Saya cuma jaga-jaga.”
“Iya, Bu. Tidak apa-apa.”
Penumpang itu ragu beberapa detik. Lalu kembali masuk ke mobil.
“Lanjut saja, Pak.”
Pak Darman mengangguk dan kembali menjalankan mobil.
Sisa perjalanan berlangsung dalam diam. Tidak ada lagi pertanyaan. Tidak ada lagi kecurigaan yang diucapkan, tapi suasananya tetap tegang.
Sampai di apartemen tujuan, mobil berhenti.
“Berapa, Pak?” tanya penumpang itu.
Pak Darman menyebutkan angka sesuai argo.
Penumpang itu membayar. Lalu berkata pelan. “Pak… maaf kalau tadi saya lebay.”
Pak Darman menatap spion. “Tidak apa-apa, Bu.”
“Tapi bapak baik-baik saja.”
Pak Darman tersenyum tipis. “Terima kasih, Bu.”
Penumpang itu turun. Pintu tertutup.
Pak Darman duduk diam beberapa detik. Tangannya masih di setir. Dadanya terasa berat.
Ia tidak marah. Tidak juga ingin mengeluh. Ia hanya merasa lelah dengan prasangka.
Ia menyalakan mesin lagi.
Order berikutnya masuk.
Seorang ibu naik dengan anak kecil. Anak itu ceria. Banyak bertanya.
“Om, mobilnya biru ya?”
“Iya.”
“Om kerjanya nyetir?”
“Iya.”
Anak itu tertawa. Ibunya tersenyum. “Maaf ya, Pak. Anak saya cerewet.”
“Tidak apa-apa, Bu.”
Sepanjang jalan, anak itu bercerita tentang sekolah, tentang kucingnya di rumah. Pak Darman ikut tersenyum.
Sampai tujuan, ibu itu berkata. “Terima kasih ya, Pak. Nyamannya.”
Pak Darman mengangguk. “Sama-sama, Bu.”
Siang berganti sore. Lalu malam.
Saat kembali ke pool, Pak Darman menyerahkan kunci. Duduk sebentar di bangku panjang.
Seorang sopir lain bertanya. “Hari ini gimana, Pak?”
Pak Darman berpikir sejenak. “Biasa.”
Ia tidak menceritakan apa yang terjadi. Tidak semua hal perlu dibagi. Ada yang cukup disimpan.
Dalam perjalanan pulang naik angkot, ia menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Semua tampak lelah. Semua tampak membawa beban masing-masing.
Ia sadar, dunia sekarang penuh curiga. Semua orang ingin merasa aman. Tapi kadang, rasa aman itu dibangun dengan mencurigai orang lain.
Sampai di rumah, anak perempuannya menyambut. “Pak, sudah pulang?”
“Iya.”
Anaknya memeluknya. “Pak capek ya?”
Pak Darman tersenyum. “Sedikit.”
Malam itu, sebelum tidur, ia berpikir lama. Tentang kepercayaan. Tentang bagaimana mudahnya orang menilai dari luar.
Besok, ia akan kembali duduk di balik setir. Kembali mengantar orang-orang yang mungkin takut, curiga, atau lelah.
Dan ia akan tetap melakukan satu hal yang sama.
Menyetir dengan baik. Bersikap sopan. Mengantar sampai tujuan.
Karena di balik setir taksi, ia bukan hanya sopir. Ia juga manusia.
Malam semakin larut. Rumah sudah sunyi. Istrinya tertidur lebih dulu. Anak perempuannya juga sudah memejamkan mata, tas sekolah tergeletak di sudut kamar.
Pak Darman masih terjaga.
Ia duduk di tepi ranjang, ponsel di tangan, tapi layar sudah lama mati. Pikirannya kembali ke siang tadi. Ke tatapan curiga. Ke kalimat yang diucapkan tanpa niat menyakiti, tapi tetap meninggalkan bekas.
Ia tahu, penumpang itu tidak sepenuhnya salah. Kota ini memang tidak selalu ramah. Berita buruk datang setiap hari. Orang-orang belajar waspada dengan caranya sendiri.
Tapi tetap saja, rasanya berbeda ketika kecurigaan itu diarahkan langsung kepadanya.
Ia berdiri, berjalan pelan ke ruang depan. Mengambil segelas air. Meneguknya perlahan.
Di dinding, tergantung foto lama. Foto dirinya berseragam sopir taksi, masih lebih muda, rambut belum banyak uban. Di sampingnya, istrinya tersenyum bangga.
Ia teringat hari pertama bekerja. Hari ketika ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu bersikap sopan, apa pun perlakuan penumpang. Hari ketika ia percaya bahwa kejujuran akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Dunia berubah. Orang-orang berubah. Tapi janji itu masih ia pegang.
Keesokan paginya, sebelum berangkat, anak perempuannya menghampiri.
“Pak,” katanya sambil mengikat rambut, “nanti jemput aku enggak?”
“Kalau tidak narik malam, Pak jemput.”
Anaknya tersenyum. “Pak hati-hati ya di jalan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi hangat.
Pak Darman berangkat dengan langkah lebih ringan.
Di pool, ia kembali duduk di balik setir. Mesin menyala. Hari baru dimulai.
Order pertama datang. Seorang laki-laki muda. Ramah. Banyak bertanya.
Order kedua. Seorang ibu tua. Pendiam, tapi selalu mengucap terima kasih.
Tidak ada kecurigaan. Tidak ada tatapan tajam. Hanya perjalanan biasa.
Di sela-sela itu, Pak Darman tersenyum kecil. Ia sadar, satu pengalaman buruk tidak bisa menghapus banyak pengalaman baik yang sudah ia lalui selama bertahun-tahun.
Ia kembali memandang jalan di depannya. Jalan yang sama. Kota yang sama. Tapi hatinya sudah lebih tenang.
Ia tahu, mungkin suatu hari nanti, ia akan kembali dicurigai. Mungkin akan kembali dipandang sebelah mata. Tapi ia juga tahu, akan selalu ada penumpang yang percaya, yang ramah, yang melihatnya sebagai manusia, bukan ancaman.
Dan itu cukup.
Karena di balik setir taksi, ia tidak bisa mengontrol prasangka orang lain. Tapi ia bisa mengontrol caranya bekerja.
Menyetir dengan tenang. Menjawab dengan sopan. Mengantar dengan selamat.
Setiap hari.
Tanpa perlu dijelaskan siapa dirinya sebenarnya.