Cerita-Cerita Kecil di Dalam Taksi Seribu Rupiah yang Tidak Pernah Kecil
4/27
Bab 4

Seribu Rupiah yang Tidak Pernah Kecil

Seribu Rupiah yang Tidak Pernah Kecil

Pagi itu belum sepenuhnya panas ketika Pak Hendra mengeluarkan mobil dari pool. Langit Jakarta masih berwarna abu tipis. Jalanan mulai padat, tapi belum benar-benar macet. Jam seperti ini biasanya penumpang terbagi dua. Ada yang terburu buru. Ada juga yang masih setengah mengantuk.

Pak Hendra sudah hafal betul ritmenya.

Ia menyetir dengan tenang. Tidak ngebut, tidak pelan berlebihan. Tangannya mantap di setir. Radio dipelankan. Fokus ke jalan.

Order masuk dari sebuah kawasan perumahan lama. Rumah-rumah rapat. Pohon mangga menjulur ke jalan. Satpam membuka portal setelah Pak Hendra menunjukkan identitas dari balik kaca.

Seorang perempuan keluar dari rumah tingkat dua. Usianya sekitar empat puluhan. Rambut disanggul rapi. Tas tangan digenggam erat. Langkahnya cepat, wajahnya datar.

“Ke mana, Bu?” tanya Pak Hendra sopan setelah perempuan itu duduk di kursi belakang.

“Ke Tanah Abang. Gedung lama.”

“Baik, Bu.”

Mobil melaju. Jalanan mulai ramai. Klakson bersahutan. Pak Hendra memilih jalur aman. Tidak memotong, tidak menyerobot.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Penumpang sibuk dengan ponselnya. Jari jarinya menekan layar dengan cepat. Wajahnya sedikit berkerut.

Di sebuah lampu merah, perempuan itu tiba tiba bicara.

“Pak, bisa lewat jalan cepat enggak? Saya enggak mau telat.”

“Kita coba cari yang lancar, Bu. Tapi sekarang agak padat.”

“Hm.”

Nada suaranya pendek. Tidak marah. Tapi juga tidak ramah.

Pak Hendra tetap mengangguk kecil meski tahu penumpang tidak melihatnya.

Mobil akhirnya tiba di tujuan. Argo berhenti di angka yang tidak bulat. Ada sisa ribuan di belakang.

Perempuan itu langsung merogoh tasnya.

“Berapa, Pak?”

“Seratus dua puluh sembilan ribu, Bu.”

Ia mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan satu lembar lima puluh ribu. Disodorkan ke depan.

Pak Hendra menerimanya. Membuka laci kecil di samping kursi. Ia menghitung cepat. Uang kecil di dalam laci tinggal sedikit. Ia menarik napas pelan.

“Bu, boleh QRIS saja? Uang kecil saya tinggal sedikit.”

Perempuan itu langsung mengangkat kepala.

“QRIS saya enggak ada saldo.”

“Oh, baik Bu.”

Pak Hendra kembali menghitung. Ia mengeluarkan dua lembar sepuluh ribu. Lalu terdiam.

“Bu, kembalian saya kurang seribu.”

Perempuan itu mendengus pelan.

“Loh, harusnya ada. Kan saya bayar seratus lima puluh.”

“Iya, Bu. Harusnya dua puluh satu ribu. Ini baru dua puluh.”

“Ya terus?”

Pak Hendra menelan ludah.

“Kalau Bu berkenan, boleh nanti saya tukarkan dulu ke warung depan.”

Perempuan itu langsung mengernyit.

“Pak, seribu itu uang.”

“Iya, Bu. Saya paham.”

“Ya tukerin lah. Masa seribu enggak ada.”

Nada suaranya naik sedikit. Beberapa orang di luar melirik ke arah mobil.

Pak Hendra membuka pintu.

“Baik, Bu. Mohon tunggu sebentar.”

Ia turun. Menyusuri trotoar kecil. Masuk ke warung. Menukar uang. Warung tidak punya uang kecil. Ia ke warung kedua. Sama. Warung ketiga baru bisa menukar.

Ia kembali ke mobil. Memberikan selembar seribu rupiah.

“Ini, Bu. Maaf menunggu.”

Perempuan itu mengambil uang itu. Menghitung ulang. Baru kemudian membuka pintu.

“Hati hati lain kali, Pak. Kembalian itu harus siap.”

“Iya, Bu. Terima kasih.”

Perempuan itu turun tanpa menoleh lagi.

Pak Hendra duduk diam beberapa detik. Tangannya masih memegang setir. Ia menghela napas panjang. Bukan marah. Lebih ke lelah.

Seribu rupiah.

Ia teringat betapa sering nominal kecil jadi masalah besar. Ada yang rela menunggu. Ada yang rela menyuruh turun. Ada yang memotret wajahnya. Ada yang mengancam lapor.

Padahal bagi sebagian orang, seribu mungkin tidak berarti apa apa. Tapi bagi yang lain, itu soal prinsip.

Ia menyalakan mesin lagi.

Order berikutnya masuk. Seorang anak muda. Pembayarannya QRIS. Lancar.

Order selanjutnya. Seorang bapak tua. Membulatkan kembalian dan berkata tidak usah.

Siang semakin panas. Jalanan makin padat. Pak Hendra makan siang di dalam mobil. Nasi bungkus. Lauk sederhana.

Sore hari, order kembali datang. Seorang ibu muda dengan anak kecil.

Anaknya tertidur di kursi belakang. Napasnya teratur. Kepalanya bersandar ke pundak ibunya.

Di tujuan, argo berhenti di angka ganjil lagi.

Ibu itu menyerahkan uang pas. Tidak ada drama.

“Terima kasih ya, Pak.”

Pak Hendra tersenyum kecil.

“Sama sama, Bu.”

Saat matahari mulai tenggelam, ia kembali ke pool. Memarkir mobil di tempatnya. Menarik tas kecilnya.

Di perjalanan pulang, naik angkot. Duduk di dekat jendela. Angin sore masuk. Jalanan macet.

Ia memandangi uang receh di saku. Koin seribu rupiah yang tadi siang ia tukar.

Ia tersenyum pahit.

Seribu rupiah itu kecil. Tapi hari ini, ia menghabiskan waktu, tenaga, dan sedikit harga diri untuk mendapatkannya.

Di rumah, istrinya menyambut.

“Capek?”

“Iya.”

“Makan dulu.”

Ia duduk. Makan pelan. Anak bungsunya bercerita soal sekolah.

Pak Hendra mendengarkan. Lelahnya perlahan turun.

Malam itu, sebelum tidur, ia menaruh uang receh di kaleng kecil. Kaleng khusus kembalian.

Besok, ia tidak mau mengulang kejadian yang sama.

Karena di balik setir taksi, kadang yang diuji bukan hanya kesabaran menghadapi macet, tapi juga kemampuan menerima bahwa bagi sebagian orang, seribu rupiah tidak pernah kecil.

Setelah menaruh uang receh ke dalam kaleng kecil, Pak Hendra sempat diam beberapa detik. Kaleng itu sudah berisi macam macam nominal. Ada lima ratusan, ada seribuan, ada dua ribuan yang sudah agak lusuh. Ia menggeser kaleng itu sedikit ke pinggir lemari.

Bukan soal jumlahnya. Tapi soal ketenangan.

Ia teringat wajah perempuan siang tadi. Tatapannya datar, suaranya tegas, seolah seribu rupiah itu garis pemisah antara benar dan salah. Ia tidak membenci penumpang itu. Tidak juga menyalahkan. Setiap orang punya cara sendiri memegang uangnya.

Tapi sebagai sopir, ia sering berada di posisi yang serba salah.

Kalau kembalian kurang, dianggap curang. Kalau minta dibulatkan, dianggap tidak profesional. Kalau menyarankan non tunai, dibilang enggak ada saldo.

Ia menghela napas pelan.

Di luar rumah, suara motor lewat satu dua. Malam Jakarta tetap ramai meski hari sudah gelap. Besok pagi ia akan kembali ke pool. Kembali menarik napas sebelum duduk di balik setir. Kembali menyapa penumpang dengan sopan yang sama.

Ia tahu, mungkin besok akan bertemu penumpang yang lebih perhitungan. Atau yang lebih ramah. Atau yang diam saja sepanjang perjalanan.

Semuanya mungkin.

Pak Hendra berbaring. Matanya terpejam perlahan.

Di kepalanya, terlintas satu hal sederhana. Menjadi sopir taksi bukan hanya soal mengantar dari titik A ke titik B. Tapi juga soal belajar menerima bahwa di jalanan, kadang yang paling berat bukan kemacetan, melainkan hal hal kecil yang menuntut kesabaran besar.

Dan besok, jika ada lagi seribu rupiah yang dipersoalkan, ia sudah siap. Bukan dengan emosi. Tapi dengan napas panjang dan senyum tipis yang tetap ia simpan untuk setiap penumpang.

Karena di balik kemudi, ia bukan hanya membawa mobil. Ia membawa dirinya sendiri.