Putri Eliza berlari sambil membawa koper, sementara tangan yang lainnya membawa boneka. Derap langkah kakinya mengusik kesunyian malam. Rupanya, dia sedang melarikan diri dari dua orang pria yang mengejarnya.
"Jangan lari!” teriak salah satu dari mereka.
Mereka berdua memakai jaket kulit dengan lambang bunga mawar berwarna biru pada dada kirinya.
Putri berbelok menuju gang sempit, berusaha menghindar dari kejaran mereka berdua.
Malam itu, suasana di sudut kota sangat sepi, jarang orang melintas di area tersebut. Ingin rasanya ia berteriak, tapi tak kuasa karena tubuhnya sudah lemah. Terlebih lagi, tak ada orang yang dapat dimintai bantuan untuk melawan kedua pria tersebut.
'Aku sudah lelah, harus ke mana lagi mencari tempat aman untuk menghindari kejaran mereka?' rintih Putri dalam hati dengan napas tersengal-sengal sambil istirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya. Dia berharap, kedua pria tadi sudah tidak mengejarnya lagi. Namun tak berselang lama, suara langkah kaki kedua orang itu semakin mendekat.
‘Gawat! Aku sudah tidak kuat lagi, pasti aku tertangkap dan mati.’
Ia memutuskan untuk bersembunyi di belakang tempat sampah yang besar. Di gang itu tempatnya gelap karena minim penerangan. Dia berpikir, tidak mungkin mereka tahu tempatnya bersembunyi.
“Kayaknya kita kehilangan jejaknya, apa kau tahu ke mana dia?" tanya salah seorang pria berambut hitam pendek kepada temannya.
“Entah, kemungkinan dia belum jauh. Ayo cari lagi!”
Sebenarnya jarak mereka berdua sudah sangat dekat, tapi keduanya tidak menyadari kalau Putri sembunyi di sebelahnya, sehingga mereka berdua kembali berlari mengejarnya.
Putri mengintip dari balik tempat sampah itu. Namun, dia belum berani keluar, karena jarak mereka masih dekat dengan persembunyiannya.
Putri mengalami ketakutan yang luar biasa. Ditambah lagi, badannya menggigil karena malam itu sangat dingin. Dia masih mengamankan koper, sementara tangan yang lainnya tetap menggenggam erat boneka kesayangannya, karena hanya boneka itulah yang dia miliki setelah kedua orang tuanya tewas dibunuh oleh komplotan penjahat.
“Lulu, kalaupun aku mati sekarang, kamu harus tetap hidup dan balaskan dendamku pada mereka semua," bisik Putri kepada bonekanya, seolah tahu kalau umurnya sudah tidak lama lagi.
Lulu hanya boneka biasa yang tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, Putri menganggap kalau Lulu hidup dan punya nyawa layaknya manusia yang selalu menemani dan diajak bicara, meskipun Lulu tak sekalipun menjawabnya. Suara tersebut tidak mungkin terdengar oleh mereka karena jaraknya cukup jauh, tapi Putri masih bisa melihat mereka yang sedang mondar-mandir mencarinya.
Putri menangis lirih meratapi nasib hidupnya yang malang. Air matanya mengalir deras ke pipinya hingga tak terbendung.
‘Ya Tuhan, mengapa nasib hidupku seperti ini?’ rintih Putri, ‘apa memang malam ini takdirku untuk mati?’
Sebenarnya Putri ingin tetap hidup, karena dia punya niat balas dendam kepada para penjahat itu. Namun, sangat mustahil untuk menyelamatkan dirinya dengan situasi yang seperti itu.
'Ayah, Ibu, maafkan aku jika tidak bisa menjaga nyawaku ini.’
Dia masih memikirkan bagaimana caranya agar terbebas dari kejaran kedua pria itu, lalu membawa barang berharga yang ada di dalam koper.
Meskipun Putri tidak tahu isinya, tapi dia yakin kalau barang tersebut pasti sangat penting untuknya.
Sungguh sialnya, Putri bersin di tempat persembunyiannya. Sehingga, kedua pria itu mengetahui keberadaannya.
“Di sana!” teriak salah satu pria yang rambutnya disemir pirang, mereka pun langsung menuju ke sumber suara tersebut.
“Kau mau ke mana lagi, gadis manis, sini ikut Om!” rayunya untuk bersiap menangkap Putri. Temannya berada di sudut lain untuk mencegatnya.
Kedua pria itu semakin dekat menuju tempat Putri berada. Namun, tidak ada orang yang bersembunyi di sana karena Putri sudah berlari meninggalkan tempat persembunyiannya beberapa saat sebelum mereka datang. Salah satu dari mereka berlari untuk mencegatnya.
Aksi kejar-kejaran pun berlanjut hingga pada akhirnya, Putri terkepung. Dia mencoba berkelit untuk menghindari tangkapan kedua pria itu.
Sungguh naasnya, setelah dia berhasil menghindar, Putri tersandung trotoar yang membuat keseimbangannya roboh. Dia pun terjatuh dan kopernya terlepas dari genggamannya, saat dia mencoba mendapatkan koper itu kembali dengan merangkak, salah satu kakinya diinjak oleh penjahat itu. Putri mengerang kesakitan dan tidak mungkin bisa melangkah lagi.
“Jangan bunuh aku, Om. Biarkan aku hidup,” rintih Putri memelas kepada mereka berdua. Namun, mereka tak menghiraukannya, salah satu dari mereka membopong Putri ke mobil, sementara pria yang lainnya menenteng koper.
Mobil mulai berjalan, pria berambut hitam pendek berusaha membuka koper dengan sekuat tenaganya, tapi gagal.
“Bodoh! Ikat saja dia!” suruh temannya yang sedang mengemudikan mobil.
"Gadis ini mau kita bawa ke mana?"
"Bodoh, kita nikmati tubuhnya lah," ujar pria yang sedang menyetir dengan tersenyum menyeringai.
Putri yang mendengar ucapan pria itu pun meronta-ronta, dia berusaha melepaskan tali yang mengikat pada tubuhnya. Sebab, dia harus menjaga kesuciannya demi orang terkasihnya.
“Katakan di mana kuncinya?!” tanya pria yang duduk di samping Putri.
“Aku tidak akan memberitahukannya padamu! Karena koper itu satu-satunya harta milikku! Peninggalan dari orang tuaku!” tolak Putri, dia masih berusaha melepas ikatan yang membelenggu tubuhnya.
Putri menangis tak henti-hentinya meratapi nasib hidupnya yang suram.
“Hentikan tangismu! Berisik!” bentak pria di sebelah Putri.
Karena merasa terusik, akhirnya pria itu membius Putri dengan meletakkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius pada mulut dan hidungnya.
Lambat laun, kondisi tubuh Putri pun melemah, kemudian dia pingsan. Setelah beberapa saat, tubuh Putri tidak ada pergerakan lagi, membuat pria yang membius tadi baru menyadari ada sesuatu yang aneh.
“Reyhan, coba kau periksa wanita ini, sepertinya sudah tidak bernapas,” ujar Tomy dengan kebingungan sambil memeriksa kondisi Putri yang sudah tidak berdaya. Dia meletakkan jari kelingkingnya pada lubang hidung Putri untuk memeriksa napasnya.
“Bagaimana sih! Apa kau tidak melihat kalau aku sedang mengemudi?!” tampik Reyhan kesal.
“Kumohon, sebentar saja.”
“Tadi kau apakan dia?”
“Aku cuma membiusnya saja.”
“Bodoh! Kau melakukan tugas dengan buruk! Rencanaku gagal total! Mana mungkin melampiaskan hasratku dengan seorang mayat!” cecar Reyhan memarahi temannya.
"Maaf, aku tak sengaja membunuhnya.”
Mobil yang dikendarai Reyhan menepi dan berhenti di tempat sepi. Reyhan sengaja melewati hutan untuk menjalankan niat buruknya. Tujuannya agar tidak diketahui oleh orang.
“Sial! Lemah sekali wanita ini!” cecar Reyhan kesal.
“Lantas, kita harus bagaimana?” tanya Tomy bingung.
“Tidak ada jalan lain lagi. Kita harus segera buang mayat wanita ini terlebih dahulu, karena perasaanku tidak enak,” jawab Reyhan, Tomy pun mengangguk, lalu mereka melakukan aksinya.
Lokasi mereka berada di atas tanjakan, di sebelahnya ada sungai kecil yang mengalir tidak terlalu deras. Reyhan terlebih dahulu memantau situasi, memastikan apakah tidak ada orang yang melihatnya?
Setelah dirasa aman, dia membuka pintu belakang. Mereka membopong mayat itu keluar dari mobil, lalu membuangnya ke sungai. Wanita malang itu meninggal mengenaskan sambil memeluk erat boneka kesayangannya.
Tidak ada yang menyadari kalau sungai itu tidak bisa menghanyutkan jasadnya. Mereka pikir, kejahatan yang dilakukan sudah bersih tanpa meninggalkan jejak. Namun, mereka tidak tahu nasibnya kemudian hari.
“Bagaimana kalau dia hidup lagi?” tanya Tomy takut.
“Mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi!” cecar Reyhan kesal. Sebenarnya dia pun takut, dia coba menutupinya karena gengsi dengan temannya.
Malam itu, Boneka Lulu yang tadinya cantik dan bersih, seketika menjadi kotor dan bersimbah darah. Sorot matanya memancarkan cahaya kemerahan menyala. Lalu, pada badanya timbul urat-urat berwarna merah. Setelah itu, terbang tak tentu arah.
Boneka itu tertawa dengan suara menggema dan sangat menakutkan. Setelah itu, dia terbang mencari target pertamanya ....