Suro Dlemok (Misteri Boneka Melayang) Menantang Hantu
3/11
Bab 3

Menantang Hantu

Hingga pada akhirnya, parang itu justru melukai perut dukun itu sendiri. Darah segar mengalir diikuti organ dalam yang keluar dari area perutnya, akibat tersayat prangnya sendiri. Dia merintih karena merasakan sakitnya sekarat. Seketika tubuhnya tidak bergerak karena sudah tewas. Mulutnya pun mengeluarkan darah segar yang berwarna merah.

Ritual yang dilakukan oleh dukun itu belum selesai, karena dia sempat meninggal terlebih dahulu sebelum berhasil membangkitkannya. Hujan masih turun dengan derasnya, tapi suara gemuruh petir sudah mulai mereda. 

Jasad Putri yang saat itu terbaring di bak pemandian pun melayang dengan sendirinya dan keluar dari rumah itu, lalu jatuh pada suatu tempat. Ternyata, di sana ada orang lain juga yang menginginkan jasadnya. Ada siluet manusia yang membopong mayat Putri, lalu membawanya pergi.

Sementara itu, di keluarga yang tinggal di sebuah kampung sedang kebingungan mencari anaknya. 

“Kang, apa kamu sudah menemukan Singgih?”

“Belum. Padahal dari tadi aku mengitari pinggir lapangan sepakbola. Kata temannya, sebelum Singgih hilang, dia sempat mencari bola di sana.”

“Sebaiknya Kakang istirahat saja. Malam ini hujan lebat, tidak mungkin kakang bisa menemukannya. Kita berdoa saja semoga anak kita tidak terjadi apa-apa dan besok bisa dicari kembali,”

“Baiklah kalau begitu,” sahutnya, lalu beranjak tidur. Namun, malam itu dia hanya terjaga karena khawatir, kalau terjadi apa-apa padanya. Dia hanya bisa berharap kalau Singgih baik-baik saja. 

Keesokan harinya, suara ayam jago berkokok. Matahari pun terbit dari timur, pagi itu cuaca sangat cerah. Namun, tanah di perkampungan masih basah akibat hujan lebat semalam. Banyak tanaman warga yang roboh karena hujan tadi malam disertai angin kencang. 

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah salah seorang warga desa itu. 

“Assalamualaikum.” 

“Wa’alaikumussalam, iya sebentar,” sahut pemilik rumah. 

Setelah dia membuka pintu, dia kaget melihat anaknya yang hilang tadi malam kembali. 

“Mbak Yu, aku menemukan anakmu di gubuk sawahku. Dia ketiduran di sana dengan memakai selimut daun pisang,” ujarnya sambil menuntun Singgih. 

“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih sudah mengantarkannya kembali,” ucap ibu Singgih sambil memeluk anaknya dengan bahagia. 

“Iya, sama-sama.”

“Kamu ke mana saja, Nak?”

Ibunya merasa ada sesuatu yang aneh pada anaknya. Singgih hanya diam saja dan tidak menjawabnya, sorotan matanya tajam. Tapi ibunya tidak menyadari hal itu. 

“Apa yang terjadi tadi malam, sehingga kamu bisa tidur di gubuk Pak Bejo?” tanya ibunya. 

Singgih masih belum menjawab, dia hanya mengatakan, "Boneka, boneka."

Bejo berpendapat kalau Singgih mengalami trauma hebat akibat dirundung oleh teman-temannya. Namun, setelah dia melihatnya dengan saksama, dia menyadari bukan karena hal itu. Sebab, Singgih tidak seperti biasanya yang berperilaku negatif.

“Ngomong-ngomong, Kang Maman ke mana ya? Aku mau bicara sebentar,” tanya Bejo.

“Dia belum bangun, tadi malam tidak bisa tidur karena memikirkan Singgih.”

Orang yang ditanyakan Bejo pun datang, dia berjalan menuju ke ruang tamu. Kedua matanya menyipit, lalu salah satu tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar sambil mengeluarkan suara panjang. Dia melihat anaknya yang selamat pun merasa kaget sekaligus bahagia. Berbeda dari istrinya yang selalu mengoceh, dia tak banyak bicara, lebih banyak bersyukur karena anaknya selamat atas tragedi hujan lebat yang menimpanya tadi malam. Alih-alih memarahi anaknya karena tidak patuh kepada orang tuanya. Sebagai orang tua, dia pun sempat bertanya kepada Singgih, tapi Singgih tak menjawabnya.

Maman merasakan ada hal aneh pada diri Singgih. Hingga akhirnya curiga, apa yang sebenarnya terjadi dengan Singgih? Namun, dia tidak terlalu memikirkannya dan memilih untuk mengganti topik pembicaraan. Dia pikir, anaknya akan sembuh dan bisa berperilaku normal kembali.

“Kang Maman, tadi malam desa kita mengalami hujan lebat dan angin yang kencang, berakibat pada tanaman warga yang ambruk. Menurutmu, apa penyebabnya?” tanya Bejo. 

“Entah, mungkin saja cuma bencana kecil biasa,” jawab Maman. 

“Tapi, Kang. Tadi malam banyak yang melihat penampakan boneka setan.”

“Boneka setan? Mana mungkin?”

Maman pun melihat ke arah Singgih, dia masih berdiam diri di pelukan ibunya. Sorot mata istrinya tak ada keraguan, ia merasa, istrinya tidak bohong mengenai hal itu.

“Mungkin saja Mbah Suro Dlemok marah kepada kita karena sudah lama tidak memberi sesajen,” ungkap Maman berspekulasi. 

“Kata siapa? Setiap bulan Suro (Muharram) Pasti kita adakan selamatan rutin. Tidak mungkin beliau marah kepada kita,” sangkal Bejo kembali. 

“Kamu kan ketua RT di sini. Harusnya punya solusi dari masalah yang menimpa kampung kita!” sanggah Maman. 

“Baik, aku harus lapor Kepala Desa mengenai kejadian aneh tadi malam.” 

Setelah itu, Pak RT Bejo pergi ke Kepala Desa untuk melaporkannya. Namun, Kepala Desa tidak menggubrisnya dan menganggap tadi malam hanya bencana biasa, tidak ada sangkut pautnya dengan hal mistis. 

Saat Pak RT Bejo mengungkapkan adanya boneka setan yang membuat teror didesanya, Kepala Desa hanya tertawa dan tidak mempercayainya. 

“Ha-ha-ha, mana mungkin ada boneka terbang. Kamu itu mengada ada saja!” ejek Kepala Desa setelah mendengar penuturan Bejo. 

‘Sial, kalau begitu aku harus membuktikan keganjilan itu sendiri,’ gumam Bejo sambil berjalan menuju ke rumahnya. 

Malam itu, Bejo selaku ketua RT mengumpulkan beberapa pemuda untuk melakukan ronda malam. Namun hanya beberapa saja yang mau, mayoritas mereka takut dan tidak mau jadi korban. Sehingga Bejo mengharuskan turun tangan sendiri untuk membuktikan kebenaran boneka melayang sesuai cerita dari anak Maman. 

Bejo seorang diri berada di pos, sementara kedua pemuda berada di pos lain. 

Malam itu tidaklah hujan, namun cuaca mendung membuat suasana malam itu menjadi cukup mencekam. Sesekali, dia menepuk pipi dan lengannya karena nyamuk yang hinggap. 

“Dasar nyamuk Nakal! Mengganggu aktivitas malam saja!” celetuk Bejo berbicara sendiri dengan kesal.

Semakin malam, semakin sunyi sepi, bulan separuh bersinar indah pada cuaca mendung yang terkadang bersembunyi dibalik awan hitam. 

Bejo mulai merasa merinding malam itu karena sendirian. Namun, dia harus berani karena jabatannya adalah ketua RT, kalau ketahuan penakut, apa nanti yang akan dikatakan warganya? 

Angin berembus cukup kencang yang kemungkinan akan segera turun hujan lagi. Bejo mendengar ada sesuatu yang aneh. Yaitu, seperti ada suara benda bundar yang jatuh dari pohon. 

“Apa itu?” katanya bermonolog. Sebenarnya dia penasaran dan ingin memeriksanya, tapi dia urungkan karena rasa takut pada dirinya. 

Setelah beberapa saat, suara itu pun terdengar lagi seperti tadi. Bejo tidak menggubrisnya dan masih asyik mengisap batang rokoknya. 

Suara itu pun terdengar lagi sampai ketiga kalinya, karena penasaran, Bejo memberanikan diri untuk memeriksa. Dia mengambil senter untuk memeriksanya. 

“Sebenarnya suara apa, ya? Mengganggu aktivitas saja. Woy hantu, muncullah kalau kau mau! Aku tidak takut!” tantang Bejo yang sok jadi pemberani. 

Dia berjalan menuju ke semak-semak yang gelap untuk melihat apa sebenarnya benda yang jatuh di sana. Senter yang dia bawa diarahkan ke setiap semak-semak. Meskipun Bejo masih coba memberanikan dirinya, tapi rasa takut masih ada. Sehingga dia dengan hati-hati memeriksa setiap semak yang kemungkinan ada benda jatuh. 

Suara tadi kembali berbunyi yang terdengar sangat dekat di sebelah Bejo berdiri. Saat dia membuka semak di barisan terakhir, tiba-tiba ....