Suro Dlemok (Misteri Boneka Melayang) Dukun Cabul
2/11
Bab 2

Dukun Cabul

Boneka itu mencari target pertamanya, yaitu orang yang melintas pada tanjakan Suro Dlemok saat itu juga.

Kedua pria yang membunuh Putri sudah pergi jauh. Sehingga, boneka itu tidak tahu, siapa yang membunuh majikannya. Alhasil, setiap manusia yang ditemui, akan langsung dibunuh olehnya.

Sementara itu, di tempat lain, seorang mahasiswa terbangun dari tidurnya karena mengalami mimpi buruk. Dia adalah Revan. Mimpi itu seperti isyarat bahwa sesuatu sedang terjadi di suatu tempat yang ia tak tahu lokasinya. Namun, ia belum tahu nanti, kalau dirinya akan mengalami pengalaman mistis yang menyeramkan. Ia pun memilih untuk tidur lagi.

Revan adalah pemuda penakut, ia memilih untuk menghindar dari hal mistis karena berbahaya.

Kembali ke tempat tadi, ada pengendara motor berboncengan yang melintas di tanjakan tempat gadis tadi dibuang.

"Apa kau yakin akan melewati jalan ini?" tanya orang yang membonceng.

"Iya, tenang saja. Tidak akan ada apa-apa, kok. Lagian kita akan lebih cepat sampai jika memilih jalur ini," jawabnya.

"Kayaknya tempat ini angker," ucap pembonceng merinding.

"Mana mungkin angker, kamu saja yang penakut!" umpatnya.

Baru saja mereka membicarakan keangkeran di tempat itu, sepeda motor yang dia kendarai mogok dan tidak bisa distarter.

"Apa bensinnya habis?" tanya pembonceng.

"Mana mungkin, tadi aku mengisinya penuh."

Tiba-tiba, ada suara tawa yang menyeramkan. Suara itu menggema dengan keras yang memekikkan telinga. Lalu, sebuah sosok boneka melayang menyeramkan mendekati mereka berdua. Rambutnya panjang terurai siap membunuh mereka berdua.

Seketika, boneka itu muncul di hadapan mereka. Sosoknya yang menyeramkan membuat mereka berdua ketakutan. Setelah itu, tersenyum menyeringai seakan bersiap melumat mereka mentah-mentah.

Sontak, mereka berdua berpencar melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Boneka itu mengejar salah satu orang dengan melayang seperti kuyang. Sementara itu, orang lainnya berlari menuju ke perkampungan terdekat.

Beruntungnya, satu orang selamat dalam tragedi itu, tapi satu orang yang lain dinyatakan sudah hilang. Orang yang selamat itu menyaksikan sendiri kalau boneka melayang itu memang ada. Dia menceritakan kepada warga kampung sekitar tentang peristiwa yang dialaminya.

Sedangkan, orang yang hilang itu tidak bisa ditemukan, mungkin saja jasadnya sudah dimakan oleh boneka setan tadi.

Peristiwa tersebut adalah awal teror boneka yang melayang. Kabar itu mulai tersebar sampai dua kampung yang tidak jauh dari area tanjakan Suro Dlemok. Yaitu kampung Suropati dan kampung Surodadi yang masih dalam satu desa. Lambat laun, penyebaran semakin meluas hingga ke beberapa daerah, sehingga jarang ada lagi yang mau melewati tanjakan itu. Ada yang percaya dan ada juga yang menganggap kalau itu hanya takhayul belaka. 

Keesokan paginya, jasad Putri yang tersangkut di sungai itu ditemukan oleh seseorang berpakaian serba hitam. Jasad tersebut masih utuh tanpa ada bekas luka satu pun pada tubuhnya. Karena penyebab kematiannya adalah obat bius kuat. Setelah menghirup bius itu, tubuh Putri yang sudah lemah itu tidak kuat, sehingga nyawanya pun melayang. 

Orang yang memakai pakaian serba hitam itu turun menuju sungai. Dia meraih jasad yang tersangkut, lalu digendong di punggungnya.

Kemudian, dia melangkah dengan cepat sembari menengok sekelilingnya agar tidak ketahuan oleh orang yang melintas. Setelah dirasa aman, dia berlari untuk mempercepat waktu ke tempat tujuannya. 

Rupanya, dia membawa jasad itu ke sebuah pondok di tengah-tengah hutan yang tidak mungkin ada orang yang tahu keberadaannya. 

Dia merebahkan mayat itu ke sebuah tempat tidur yang hanya beralaskan tikar yang sudah usang. Setelah itu, dia melepaskan jubah yang berwarna hitam. 

Ternyata, dia adalah seorang pria yang hidup sendiri di tengah hutan. Pada wajah dan lengannya ada bekas luka sabetan yang sudah jadi belang. Dia adalah seorang dukun yang dibuang oleh masyarakat desa karena kehadirannya dianggap selalu membawa sial warga. 

‘Kasihan, gadis cantik seperti ini harus dibunuh dan mayatnya dibuang oleh orang yang tidak bertanggung jawab,’ gumamnya dalam hati. 

Dia tidak takut dengan mayat itu, malah ada tatapan mesum pada ekspresi wajahnya. Lalu mengelus-elus kulit lengannya yang putih mulus tanpa ada cacat ataupun luka sedikit pun pada tubuhnya.

‘Aku akan melakukan ritual untuk membangunkannya kembali. Kalaupun berhasil, dia akan kujadikan istri untuk menemani hidupku, lumayan daripada hidup seorang diri di hutan,' gumamnya lagi. 

Waktu dengan cepat berputar, hingga tanpa terasa menjelang petang. Di tempat yang tidak jauh dari dukun tersebut, seorang anak laki-laki sedang mencari barang yang hilang di semak-semak. 

“Aduh, ke mana ya bolanya? Sepertinya aku menendangnya ke arah sini,” ucapnya.

“He! Kalau kau belum menemukan bolaku, kau belum boleh pulang!” sergah salah satu temannya. 

“Atau mungkin kau harus menggantinya,” sambung teman yang lainnya. Mereka berdua pun meninggalkan dia seorang diri. Dengan tega, mereka membiarkannya mencari bola itu seorang diri.

Hari mulai gelap, anak kecil itu memutuskan untuk pulang saja dan mengganti bola yang dia hilangkan. Dia pikir, tidak mungkin menemukan bola itu jika sudah malam.

Peristiwa yang tidak diinginkan pun terjadi, setelah anak itu membalikkan badannya, dia menemukan sebuah boneka cantik yang tergeletak di tempat yang tak jauh dari posisinya berdiri. 

'Ada boneka perempuan, siapa yang meninggalkannya di sini?' batinnya sambil mendekati boneka tersebut.

Sebelum dia menyentuhnya, dia tersentak kaget, tiba-tiba boneka itu memancarkan cahaya merah pada kedua matanya, lalu menyerang anak itu tanpa ampun. Rambut panjangnya yang tadi berwarna hitam, berubah jadi merah menyala. Giginya muncul taring pada keempat sisinya dan pada jarinya timbul kuku panjang dan tajam.

“Tolong!” teriak anak laki-laki itu yang tidak mungkin terdengar oleh orang lain. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya, karena tak kuasa untuk melawan boneka tersebut.

Di waktu yang bersamaan, seorang dukun bermaksud melakukan ritual dengan jasad Putri, kemudian dia hendak memandikannya dengan bunga tujuh rupa yang tujuannya agar jasad itu dapat bangkit dari kematiannya. 

Awalnya, dia melucuti semua pakaiannya hingga terlihat kulit putih mulus pada sekujur tubuhnya. Kemudian dia meletakkannya di bak berisi air yang dipenuhi bunga tujuh rupa. 

Lalu, dia memandikannya dengan mengusap kulit-kulitnya sampai bersih. Setelah selesai, dia kembali memasang pakaiannya dan mendandaninya. Setelah itu, dia meletakkan jasad itu dengan posisi duduk di kursi, lalu mengikatnya dengan tali agar posisinya tidak goyah. Kepala Putri menunduk lemas, kulitnya berwarna pucat dan matanya masih terbuka hingga terlihat bola matanya yang hanya berwarna putih.

Dia menyalakan kemenyan dan dupa, tak lupa menyiapkan buah tujuh rupa yang dia dapatkan dari tempat di sekitar kediamannya. 

Dukun itu memulai ritualnya, dia komat-kamit membaca sebuah mantra dengan Bahasa Jawa. 

“Ora ono manungso seng kekal abadi. Namung siji karepku, wong wedok Iki ora luput. Tulung diwe'i kesempatan urip maleh.” 

Artinya, tidak ada manusia yang kekal abadi. Namun, satu keinginanku, wanita ini tidak bersalah. Tolong beri kesempatan hidup lagi. 

Tiba-tiba langit mendung, petir pun menyambar-nyambar dengan suara yang memekikkan telinga. Hujan pun turun dengan derasnya membasahi tanah yang tadinya kering. Angin pun sanggup menggoyangkan pohon yang besar.

Boneka setan itu mengeluarkan suara tertawa seram, kemudian masuk menuju ruang ritual. 

“Hoi! Jangan ganggu ritualku, dasar boneka sialan!” hardik dukun itu. 

Boneka itu hanya tertawa dengan suara bergema yang menyeramkan, lalu berputar-putar mengelilingi kepala dukun itu seakan mempermainkannya sebelum membunuh. Sontak, dia mengambil parang yang posisinya tidak jauh dari tempatnya duduk bersila. 

Dia menyerang boneka itu untuk pertahanan diri. Namun, serangannya hanya mengenai angin saja. Kemudian, dia berdiri dan kembali menyabet boneka setan tersebut.

Usahanya gagal, dukun itu tidak berhasil melukainya, hingga pada akhirnya ....