Suro Dlemok (Misteri Boneka Melayang) Bau Menyengat di Tengah Hutan
4/11
Bab 4

Bau Menyengat di Tengah Hutan

Saat dia membuka semak di barisan terakhir, tiba-tiba ada sesosok kepala manusia dengan warna merah menyala dan kelopak mata seluruhnya berwarna putih. Kepala itu memiliki rambut panjang berwarna hitam. Setelah itu, menoleh ke arah Bejo dengan tatapan mata melotot.

Dia tidak berbicara, seakan mulutnya terkunci. Badannya merinding dan bulu kuduknya berdiri. Sosok kepala manusia itu tersenyum menyeringai menatap Bejo yang ketakutan. 

Bejo berlari menyelamatkan dirinya, napasnya cepat dan jantungnya berdetak tak beraturan. Dia berpikir, kalau kepala itu akan mengejarnya, sehingga dia beberapa kali menengok ke belakang untuk memeriksanya.

Sebelum dia sampai di pos ronda, dia dihadang oleh sosok orang yang semuanya serba hitam, tiba-tiba sosok itu berada di depannya. 

“Pak RT ...,“ kata sosok itu dengan suara pelan setengah mendesah. Kedua mata Bejo terbelalak kaget melihat sosok tersebut. 

“Pak RT ... Pak RT ....”

“SE-SE-SETAN!” jerit Bejo ketakutan. 

“Pak RT! Aku bukan setan.” 

Rupanya sosok itu adalah Maman. Tadinya, dia tidak mengetahui karena gelap. Bejo mengira adalah setan berwujud genderuwo yang akan melahapnya. 

“Kang Maman, kamu menakutiku saja,” gerutu Bejo. 

“Aku melihat kau sedang berlarian, ada apa?”

“Begini Kang, tadi ada sosok kepala manusia di semak-semak,” jawab Bejo sambil mengarahkan jari telunjuknya ke suatu tempat yang gelap. 

“Kepala manusia? Kamu yang mengada-ada. Mana mungkin benda itu berada di semak-semak?”

“Kalau tidak percaya, ayo lihat ke semak itu. Awalnya ada benda yang jatuh sampai tiga kali lebih.”

“Mungkin buah kelapa yang jatuh. Tuh, lihat di sebelah itu ada pohonnya kan? Kamu itu seorang ketua RT, harus jadi pribadi yang berani. Kalau penakut, nanti jabatan ketua RT yang diwariskan oleh mendiang ayahmu itu tidak ada artinya.”

“Baik, Kang. Aku akan berusaha melawan ketakutanku.”

“Nah, gitu dong. Satu lagi, kau harus jadi orang yang berwibawa dan bisa mengambil keputusan yang tepat.”

“Siap, Kang.” 

Setelah itu, mereka berdua memeriksa sesuatu dibalik semak itu dengan berbekal senter yang masing-masing mereka pegang. Maman tidak berani mendekat, dia hanya berdiri di belakang Maman sambil kepalanya menoleh.

“Sudah kubilang, kalau itu hanya buah kelapa yang jatuh kan?” ujar Maman kepada Bejo sambil menyenteri buah kelapa tua yang belum lama jatuh. 

“He-he-he. Iya, benar juga,” dalih Bejo sambil menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidaklah gatal. Dia kebingungan karena tadi sosok yang tadi dia lihat memanglah kepala manusia yang tidak memiliki badan. Apalagi, saat dia mengingat senyum menyeringai dari sosok itu, semakin merinding perasaan pada dirinya. 

“Kenapa melamun begitu?” cibir Maman yang mengagetkan Bejo, “Tidak baik malam-malam begini melamun, nanti kesambet.”

“Aku tidak melamun, Kang. Ngomong-ngomong, Kakang mencariku ada apa?”

“Oh iya. Aku hampir lupa, ayo antar aku menemui Pak Ustaz!”

“Ke Pak Ustaz? Ada perlu apa, Kang?”

“Malam ini, anakku bertingkah aneh seperti sedang kesurupan. Dia seperti sedang memainkan sesuatu, tapi aku sama sekali tidak melihat wujud itu.”

Setelah Bejo mendengar perkataan Maman, dia berspekulasi kalau kondisi anak Maman sudah parah akibat diserang oleh boneka setan itu. Bisa jadi, anak Maman terganggu kejiwaannya.

"Saat aku menemukan dia di gubukku, dia hanya diam saja, Kang. Aku menganggap karena dia trauma dan tidak mau pulang," tutur Bejo.

"Awalnya, memang dia hanya diam saja, tapi semakin lama, tingkah lakunya aneh."

"Kemungkinan memang ulah dari boneka setan itu.”

"Lupakan saja. Aku hanya ingin anakku kembali normal seperti biasanya."

Malam itu, mereka berdua menuju rumah Pak Ustaz untuk meminta bantuan padanya. Namun, dia tidak ada di rumah karena sedang ada urusan. Bejo pun baru ingat kalau beberapa hari yang lalu, Pak Ustaz pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadahnya. Sehingga, Maman harus menunggu sampai dia kembali pulang ke rumah.

Tidak ada jalan lain lagi, selain meminta bantuan ke Dukun Paijo yang tinggal sendirian di tengah hutan. Nasib dukun itu sial, dia sempat dibuang oleh warga desa karena praktiknya yang tidak pernah berhasil, justru membahayakan warga sekitar karena ilmu gaibnya.

Pada akhirnya, Maman kembali ke rumahnya, dia hanya bisa pasrah melihat anaknya yang bertingkah aneh, dia tidak bisa tidur memikirkan anaknya dari malam sampai pagi. Kegelisahan itu tak dapat dihilangkan.

Pagi harinya, Maman dan Bejo berniat pergi ke tengah hutan menemui dukun Paijo. Dalam perjalanan mereka, ada beberapa ibu-ibu yang sedang bergunjing. Mereka membicarakan sesuatu, bahwa ada benda berwarna merah menyala yang terbang dari atap rumah ke atap yang lain. 

Penasaran, mereka memberanikan diri untuk bertanya kepada ibu-ibu tadi. Memang benar, jawaban dari mereka adalah boneka yang melayang. 

Mereka berdua bingung, antara harus percaya rumor boneka melayang atau tidak. Namun, dengan kejadian tadi malam saat Bejo dihantui oleh sosok kepala manusia, dan Maman yang anaknya bertingkah aneh membuat mereka percaya dan segera pergi ke dukun Paijo. 

Saat sampai di bawah tanjakan Suro Dlemok, ada bekas orang kecelakaan yang kejadiannya sudah cukup lama. Namun, mereka berdua tak menghiraukan dan langsung menuju tengah hutan, menganggap kalau kecelakaan itu sudah biasa dialami di tanjakan angker tersebut.

Pondok kecil tempat kediaman dukun itu sudah mulai terlihat dari kejauhan. Setelah jarak mereka dengan rumah itu mulai dekat, mereka merasakan bau yang menyengat dari kejauhan hingga mengharuskan menutup mulut dan hidungnya. 

“Bau apa ini?” tanya Bejo dengan spontan menutup lubang hidungnya. 

“Entah. Tapi aku punya firasat buruk saat ini,” kata Maman yang menduga-duga. 

“Firasat buruk apa, Kang?”

Maman tidak menjawab, lalu dengan berani mendekati rumah itu dengan menutupi mulut dan hidungnya menggunakan kaosnya. 

Bejo pun melakukan hal sama dan masih penasaran maksud dari perkataan Maman, sehingga dia pun mengikutinya. 

Perlahan Maman membuka pintu rumah itu yang rupanya tidak dikunci dari dalam. 

“Astaghfirullahal’adziim ... ternyata benar dugaanku,” ungkap Maman dengan kaget. 

“Benar bagaimana kang?”

“Coba saja lihat sendiri!” suruh Maman kepada Bejo. 

Bejo pun melihat isi rumah itu dan baru paham maksud perkataan Maman yang ternyata ....