Suro Dlemok (Misteri Boneka Melayang) Revan Diikuti
5/11
Bab 5

Revan Diikuti

Bejo pun melihat isi rumah itu dan baru paham maksud perkataan dari Maman yang ternyata; dia melihat jasad manusia yang sudah beberapa hari dibiarkan tidak dikubur. 

Jasad itu sudah dikerumuni lalat dan belatung yang sedang memakan daging. Di bawahnya ada noda darah yang sudah lama mengering berwarna coklat kehitaman. 

“Ayo lekas pulang. Aku tidak betah dengan baunya!” perintah Maman. 

“Ayo Kang, aku juga merasakan hal yang sama,” sahut Bejo. 

Dengan langkah cepat, mereka meninggalkan pondok itu karena sudah tidak tahan dengan kondisi di sana. Bejo yang tidak tahan, sesekali ingin memuntahkan isi perutnya. Namun, hal itu tidak berhasil, sehingga hanya mual saja yang dia rasakan.

Setelah dirasa cukup jauh, mereka berdua bernapas lega. Bejo sudah sembuh dari rasa mualnya itu karena sudah tidak merasakan bau tadi.

“Fiuh! Aku baru tahu mengapa jenazah orang yang mati harus segera dikebumikan,” celoteh Bejo. 

“Maka dari itu, kamu harus selalu mengikuti pengajian, agar wawasan agamamu luas. Kamu masih tergolong muda dan perlu banyak belajar. Kamu tidak mau kan jadi ketua RT yang memalukan?” ledek Maman.

“Iya, benar juga Kang. Aku harus perlu banyak belajar, semenjak aku menggantikan posisi bapakku, aku baru tahu rasanya menjadi seorang pemimpin, sehingga banyak pelajaran yang kudapat.”

Kecelakaan di bawah tanjakan Suro Dlemok 

“Revan, ada ramai-ramai di sana!” seru Eko sambil mengacungkan jari telunjuknya ke suatu tempat, saat itu dia sedang mengendarai motor, dan Revan memboncengnya.

“Betul, sepertinya di depan sana ada insiden kecelakaan,” sahut Revan.

“Mari kita ke sana!” ajak Eko.

“Jangan! Mending kita di sini saja!”

“Ah, kau ini memang penakut!”

“Oke deh, aku akan ikut melihat.”

Saat mereka berdua mendekat, rupanya ada truk bermuatan batu bata yang melebihi muatan, sehingga tidak kuat menanjak. Truk itu mundur dan menabrak pengendara motor di belakangnya. Kedua pengendara berboncengan itu kemungkinan tidak mengerti, apabila ada truk bermuatan yang sedang menanjak, harus berhenti dulu menunggu sampai truk berhasil sampai atas. 

Alhasil, kedua pengendara itu tewas di tempat karena terlindas truk. Insiden itu sangat brutal karena salah satu jenazah itu kepalanya putus akibat terlindas ban. Helm yang ia kenakan tidak mampu melindungi kepalanya karena bobot truk yang melebihi muatan. Sementara itu, jenazah yang satunya hancur seperti dimutilasi karena terseret ban truk, hingga organ dalamnya keluar.

Revan yang memang punya sifat penakut tidak berani mendekat, apalagi melihat darah dan organ dalam manusia. Justru, dia merasa mau kencing di celana, dengan segera, mencari tempat aman untuk membuang air seninya. 

Eko dengan rasa penasaran pun melihat-lihat tanpa ada rasa takut dengan darah yang berceceran di jalanan. Justru, dia semakin tertantang untuk melihatnya. Dua mendekat, lalu melihat dengan jelas ada salah satu tubuh yang terpotong menjadi dua bagian.

Ambulans pun datang untuk mengevakuasi jenazah itu, petugas sangat sigap dan cepat. Ada salah satu petugas yang memakai masker menatap Eko dengan penuh kecurigaan. Eko pun menatap balik dan penasaran dengan orang itu. Setelah itu, orang tersebut memasuki mobil.

Setelah ambulans itu pergi membawanya. Para Warga yang masih di sana berusaha membersihkan TKP. Sedangkan sopir truk beserta keneknya dibawa oleh aparat setempat untuk dimintai keterangan. Kemungkinan, mereka berdua akan mendapat hukuman karena keteledorannya.

“Ayo cepat! Banyak kendaraan yang sudah mengantre,” kata salah seorang warga. Kondisi kendaraan di bawah tanjakan Suro Dlemok sudah menumpuk karena tidak bisa jalan.

Eko bertanya kepada seorang pria yang kemungkinan penduduk desa yang tidak jauh dari tempat itu. 

“Apa kejadian ini sudah sering terjadi, Pak?” tanya Eko. 

“Iya, tanjakan Suro Dlemok ini memang susah dilalui, karena naiknya terjal beserta tikungan yang menyiku. Untuk truk bermuatan besar tidak mungkin bisa menaklukkannya, meskipun dipaksa untuk sampai ke atas,” jelas orang itu. 

“Kenapa dinamakan Suro Dlemok, Pak?” tanya Eko lagi. 

Orang itu hanya diam, lalu mengatakan, “Kenapa kamu bertanya seperti itu? Lebih baik lekas pulang keburu hari gelap.” 

“Lho, ini masih pagi, Pak. Memangnya kenapa kalau sudah gelap?” sangkal Eko. 

“Di sini tidaklah aman. Ada boneka setan yang melayang yang meneror tempat ini," ungkap orang itu dengan sorot mata yang tajam. 

“Boneka setan melayang?” sahut Eko kaget serta ada rasa penasaran. Revan yang baru muncul, dia baru saja selesai buang air kecil. Perasaannya merinding tak karuan, apalagi kalau teringat kedua korban tersebut.

“Eko, ayo kita pulang saja. Aku takut,” ajak Revan menyuruhnya segera kembali. 

“Nanti dulu, aku masih penasaran dengan tanjakan ini,” sangkal Eko berusaha menolak ajakan Revan. 

“Kalau kamu penasaran, kamu nanti boleh kesini lagi. Namun, antar aku ke kontrakanku dulu. Kumohon!” pinta Revan meminta dengan belas kasih. 

“Baiklah dasar bocah penakut,” umpat Eko. 

Lalu lintas di jalan itu sudah lancar karena truk itu berhasil dipinggirkan. Sekarang sudah tidak menghalangi orang lain melintas. Kemacetan di tanjakan itu pun sudah terkondisikan.

Eko dengan terpaksa mengantar Revan terlebih dahulu. Sebenarnya dia ingin lebih lama di sana, tujuannya untuk menggali informasi lebih dalam lagi tentang sejarah tanjakan seram itu. Dia juga masih penasaran dengan sosok Boneka setan yang bisa melayang. Namun, dia urungkan karena tugas mata kuliah yang masih menumpuk. 

Eko merupakan pemuda yang menyukai hal gaib, sedangkan Revan bertolak belakang. Meskipun dia suka menyendiri, tapi saat menyebut hal gaib, dia akan ketakutan. Begitulah sifat alami dari pemuda yang bernama Revan. 

Setelah sampai disudut gang masuk kontrakan Revan, Eko menurunkannya. 

“Apa kau yakin tidak mau kutemani sampai depan pintu kamarmu?” ledek Eko. 

“Tidak usah, lagian kan ini masih siang hari,” ucap Revan sambil mulai melangkahkan kakinya.

“Mau malam atau siang, hantu itu bisa muncul kapan saja,” lanjut Eko menakutinya. Sontak, Revan pun menghentikan langkahnya. 

“Kamu tidak usah menakutiku,” rengek Revan dengan menutup kedua matanya. Namun, saat dia membuka mata, dia kaget kalau Eko sudah lenyap dari pandangannya.

“Dasar kawan jelek. Tiba-tiba saja menghilang seperti hantu,” umpat Revan berbicara sendiri. 

Saat menyebut hantu, dia sebenarnya merinding, meskipun saat itu masih siang bolong. 

Dia berjalan melewati gang kumuh yang jalannya sempit. Setelah berjalan cukup jauh, Revan merasa ada yang mengikutinya. Seketika, dia menghentikan langkah kakinya, tapi sungguh anehnya, langkah yang mengikuti Revan ikutan berhenti. Saat dia kembali melangkah lagi, Revan merasa masih ada yang mengikutinya.

“Eko, tolonglah, kamu jangan bercanda. Kalau kau sembunyi, muncullah jangan bikin aku takut,” bisik Revan dengan pelan. 

Dia pikir, Eko yang mengikuti langkahnya, tapi setelah dia berkata, tidak ada jawaban maupun sahutan dari arah belakangnya. Hanya ada tikus got yang berlari-larian mencari makan. 

Dia menyimpulkan mungkin saja hanya perasaannya saja yang tidak karuan. Sehingga, seperti ada suara langkah kaki di belakangnya. 

Revan berusaha melupakan kejadian aneh beberapa saat yang lalu dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Namun entah kenapa, setelah melihat insiden kecelakaan itu, memang perasaannya menjadi tidak tenang. Seperti ada yang memata-matai dari kejauhan. 

Esok hari, dia mengungkapkan hal itu kepada Eko yang serba tahu soal hal gaib. Dia memang menyukai hal yang berbau mistis. 

“Hantu itu tidak ada. Yang ada hanya Jin yang berusaha menyesatkan manusia,” ungkap Eko yang jawabannya membuat Revan tidak percaya. Karena menurutnya, hantu itu pasti ada di sekitarnya. 

“Kalau kau merasa ada yang mengikutimu lagi. Katakan dalam hati kalau hantu itu tidak ada terus menerus sampai kamu bisa tenang,” saran Eko nyeleneh. 

“Emang berhasil?”

“Tergantung dirimu sendiri.”

“Tergantung ya meninggal dong orangnya,” sangkal Revan.

Eko tidak menjawabnya, hanya mengerutkan keningnya saja, kemudian mereka berdua berpisah menuju kediamannya masing-masing. 

Revan kembali ke kontrakan. Seperti hari-hari biasanya, saat melewati gang sempit itu, dia merasa ada yang mengikutinya ....