Bab 1 Anak yang Dikandung Alam
Malam itu, angin berembus pelan di sela daun pisang yang tumbuh rapat di belakang rumah. Daunnya saling bergesekan, menimbulkan bunyi berderak halus seperti bisikan yang tak pernah selesai. Bu Tatik duduk bersila di teras rumah kayu sederhana, rumah peninggalan orang tuanya yang sudah puluhan tahun berdiri, lapuk namun kokoh. Tangannya mengusap perutnya yang mulai membuncit, gerakan yang sama ia ulang berkali-kali, seolah ingin menenangkan sesuatu di dalam sana atau mungkin dirinya sendiri.
Kehamilan ini terasa berbeda. Bukan sekadar rasa mual di pagi hari atau lelah yang datang tanpa sebab. Ada getaran halus yang sesekali muncul, seperti denyut yang bukan berasal dari tubuhnya. Kadang ia merasa ada yang memperhatikannya, meski ia tahu teras rumah itu kosong. Lampu minyak di sudut teras berkerlip pelan, cahayanya memantul di lantai papan yang mulai renggang.
Sejak mengandung, mimpi Bu Tatik tak lagi biasa. Hampir setiap malam ia terbangun dengan napas tercekat. Dalam tidurnya, ia sering melihat cahaya samar menggantung di udara, berwarna kebiruan, bergerak perlahan seperti bernapas. Ada pula bayangan berjalan tanpa kaki, melintas di antara kabut tipis. Suara-suara lirih memanggil namanya dari kejauhan, bukan dengan nada ancaman, melainkan seperti panggilan yang penuh penantian.
Anehnya, Bu Tatik tak pernah merasa takut. Ada kegelisahan, ya. Tapi lebih sering ia merasa seperti diingatkan bahwa sesuatu tengah menunggu waktunya untuk lahir, dan ia hanyalah jalan yang dipilih.
Kegelisahan itulah yang akhirnya mendorong Bu Tatik untuk bersilaturahmi kepada seorang kenalan lama. Seorang lelaki yang dikenal warga desa sebagai orang pintar, bukan karena jimat atau pertunjukan, melainkan karena kemampuannya melihat apa yang tak kasatmata. Namanya Tirta.
Rumah Tirta berada di ujung kampung, dekat rumpun bambu tua yang konon tak pernah ditebang siapa pun. Bambu-bambu itu berdiri rapat, batangnya tinggi dan menghitam, seolah menyimpan usia yang tak terhitung. Saat Bu Tatik melangkah masuk ke halaman rumah itu, udara terasa lebih berat. Burung-burung yang tadi berkicau mendadak diam.
Tirta sudah menunggunya. Duduk bersila di beranda, mata terpejam, wajahnya tenang seperti orang yang sedang mendengarkan sesuatu yang tak terdengar oleh manusia biasa. Seolah ia sudah tahu siapa yang akan datang, bahkan sebelum langkah kaki itu menjejak tanah.
Mereka tak banyak berbasa-basi. Setelah Bu Tatik menyampaikan maksud kedatangannya, Tirta terdiam lama. Angin berhenti berembus. Daun bambu tak bergerak.
“Anak yang kau kandung bukan anak biasa, Tik,” ucap Tirta akhirnya, suaranya rendah dan pelan, namun jelas menusuk kesadaran. Bu Tatik menelan ludah. Tangannya refleks mengusap perutnya. “Kelak… anak itu akan berjalan di tempat angker tanpa tersentuh bahaya. Ia melihat apa yang tak bisa dilihat manusia kebanyakan. Dunia yang tertutup bagi banyak orang akan terbuka lebar di hadapannya.” Tirta membuka mata. Tatapannya dalam, terlalu dalam untuk sekadar menatap manusia. Sejenak Bu Tatik merasa seolah dirinya sedang diukur, bukan sebagai ibu, melainkan sebagai penjaga.
“Aku tertarik padanya.” Kalimat itu membuat jantung Bu Tatik berdegup keras. “Maaf, Mas Tirta,” katanya tegas meski suaranya bergetar. “Anak ini darah daging saya. Tak akan saya serahkan pada siapa pun.” Tirta tersenyum tipis. Senyum yang sulit dibaca, antara kagum, kecewa, dan sesuatu yang lebih tua dari emosi manusia. Ia tak membantah, namun pandangannya seakan menyimpan janji yang tak terucap. Saat bayi itu lahir, suasana mendadak sunyi. Tak ada tangis. Tak ada jerit kehidupan seperti bayi pada umumnya. Tubuh mungil itu terbaring diam di pelukan bidan. Terlalu diam. Keluarga panik. Jantung Bu Tatik seperti berhenti berdetak. Beberapa orang berbisik lirih, menyebut kata yang tak ingin didengar siapa pun: mati. Namun di antara kesunyian itu, terjadi sesuatu yang tak terlihat oleh mata manusia. Di batas antara langit dan dunia, sebuah suara berfirman lembut, bukan sebagai perintah, melainkan bujukan penuh kasih. “Menangislah sedikit… agar kau diterima di dunia.” Dan bayi itu pun mengeluarkan suara lirih. Bukan tangisan keras, melainkan bunyi kecil yang nyaris tak terdengar. Hiks… hiks… hiks… Cukup untuk meyakinkan manusia bahwa ia hidup. Bayi itu diberi nama Mila Sari. Sejak usia tiga tahun, dunia Mila tak pernah benar-benar sama. Hampir setiap malam ia terbangun dengan tubuh gemetar. Keringat dingin membasahi dahinya. Dalam mimpinya, ia berlari di tempat asing yang gelap dan luas. Dikejar rombongan jin dengan wajah samar dan mata menyala redup. Mereka memanggil namanya, bukan dengan teriakan, melainkan bisikan yang tak bisa ditutup telinga. “Mila… Mila…” Tangisnya sering terdengar menjelang subuh. Namun yang paling mengkhawatirkan, Mila tak sekadar bermimpi. Ia melihat. Bayangan berdiri di sudut rumah. Sosok melintas tanpa suara. Tatapan-tatapan yang tak kasatmata orang dewasa, namun terasa jelas menusuk kulitnya. Saat masuk TK, Mila kerap telat, bahkan bolos. Bukan karena nakal, melainkan karena dunia sekolah terasa asing. Anak-anak lain terlalu ribut, terlalu jujur dengan topeng mereka. Mila sudah bisa melihat watak. Ia tahu siapa yang berpura-pura baik, siapa yang menyimpan iri, siapa yang berbohong sambil tersenyum. Ia memilih menjauh.
Kelas dua SD menjadi titik awal kegelapan lain. Kakeknya, Jojo, sering mengigau. Kadang marah-marah tanpa sebab. Suatu hari, Mila hampir dipukul kursi hanya karena kakeknya mengamuk pada seekor ayam. Namun Mila tahu. Tatapan itu bukan tatapan kakeknya. Ada sesuatu yang menumpang.
Kakek Jojo jatuh sakit. Di rumah sakit, ia berteriak ketakutan, mengatakan ada banyak anjing hitam mengejarnya. Orang-orang menyebutnya halusinasi. Mila tidak. Ia tahu itu kiriman. Tak lama kemudian, Kakek Jojo meninggal dunia. Dunia Mila semakin sunyi. Di kelas tiga SD, Mila mulai berbicara sendiri. Bukan karena gila. Ia memiliki seorang teman. Namanya Mayang Sari. “Sari,” panggil Mila lembut. Sari selalu ada. Menemani bermain. Menghibur saat sepi. Menjadi satu-satunya teman Mila di rumah, di antara Mama Tatik dan Nenek Siyah. Namun tubuh Mila semakin sering sakit. Keluar masuk rumah sakit. Hingga suatu hari, dengan kesadarannya sendiri, Mila meminta mengganti nama. Nama lama terlalu berat. Ia memilih nama baru: Amanda Nava Sari. Dipanggil Nava.
Sejak itu, hidupnya perlahan berubah. Dan tirai goib pun mulai terbuka lebih lebar. Namun Nava tak pernah tahu satu hal penting. Pergantian nama itu bukan sekadar mengubah takdirnya, melainkan membangunkan sesuatu yang sejak kelahirannya tertidur, menunggu saat yang tepat untuk menagih janji lama.
Pada malam pertama ia dipanggil Nava, Mayang Sari tersenyum berbeda. Tersenyum seperti seseorang yang akhirnya diizinkan menunjukkan wujud aslinya. Di sudut kamar, ada sesuatu yang ikut mendengar nama baru itu disebut. Sesuatu yang sejak dulu tak pernah benar-benar pergi.
Babak permainan pun resmi dimulai.