Si Cantik Penembus Tirai Goib Si Cantik Penembus Tirai Goib
4/20
Bab 4

Si Cantik Penembus Tirai Goib

Bab 4: Tumbal di Ambang Pintu

Sakit Kakek Jojo tidak pernah datang dengan peringatan. Ia tidak mengetuk, tidak memberi tanda, tidak memberi waktu bagi siapa pun untuk bersiap. Ia merayap pelan, menyusup ke sela sela hidup seperti asap tipis yang awalnya nyaris tak terlihat, namun semakin lama semakin memenuhi ruangan hingga membuat napas sesak.

Awalnya hanya keluhan kecil. Punggung pegal. Lutut terasa berat saat berdiri. Nafas yang lebih cepat terengah ketika berjalan ke dapur. Semua orang menganggapnya wajar. Usia, kata mereka. Tubuh yang mulai lelah, kata yang lain. Tidak ada yang curiga bahwa sesuatu sedang menanam akar di dalam tubuh lelaki tua itu.

Namun Nava merasakannya sejak awal. Malam pertama Kakek Jojo terbangun dengan teriakan, Nava terjaga bukan karena suara itu, melainkan karena hawa di rumah mendadak berubah. Udara terasa lebih dingin, lebih berat, seperti ada tirai tebal yang ditarik perlahan di antara dunia yang biasa ia kenal dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak seharusnya masuk ke rumah itu.

Ia duduk di ranjang, memeluk lututnya, menatap ke arah pintu kamar yang tertutup. Dari celah bawah pintu, bayangan bergerak. Tidak seperti bayangan lampu atau manusia. Bayangan itu lebih pekat, lebih padat, seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Mayang Sari muncul di sampingnya tanpa suara. Rambut panjangnya tergerai, wajahnya tidak lagi menyimpan senyum lembut seperti biasanya.

“Mereka datang,” ucapnya lirih. “Siapa mereka?” tanya Nava dengan suara yang nyaris tak terdengar. Sari tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah lorong rumah, ke arah kamar Kakek Jojo, tempat teriakan kembali terdengar, kali ini lebih parau, lebih putus asa.

“Yang diundang,” jawabnya akhirnya. “Dan yang ikut tanpa diundang.” Sejak malam itu, keadaan Kakek Jojo memburuk dengan cepat. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Setiap kali terlelap, ia akan terbangun dengan napas tersengal dan mata melotot ketakutan. Tangannya meraih udara kosong, seolah ada sesuatu yang mencengkeramnya dari balik mimpi. “Jangan bawa aku ke sana,” teriaknya suatu malam. “Aku sudah menutup pintunya. Aku sudah tidak mau ikut lagi.”

Mama Tatik sering duduk di samping ranjang, memegang tangan ayahnya yang dingin dan gemetar. Doa mengalir dari bibirnya tanpa henti. Air mata jatuh tanpa suara. Namun setiap kali doa selesai, jeritan itu kembali.

Nava jarang berani masuk ke kamar itu. Bukan karena takut pada Kakek Jojo, melainkan karena apa yang ia lihat di sekeliling ranjang. Bayangan bayangan berdiri diam di sudut ruangan. Ada yang menempel di dinding. Ada yang duduk di atas lemari. Ada pula yang hanya berupa gumpalan hitam tanpa bentuk jelas, berdenyut perlahan seperti bernapas. Mereka tidak menyentuh. Tidak berbicara. Namun kehadiran mereka menekan dada, membuat udara terasa tipis. Mayang Sari selalu berdiri di antara Nava dan kamar itu, seolah tubuhnya menjadi batas tak kasat mata. “Jangan terlalu dekat,” katanya suatu malam. “Tubuh manusia rapuh saat takut.” Mama Tatik akhirnya menyadari bahwa ini bukan sakit biasa. Obat dari puskesmas tidak memberi perubahan. Dokter hanya menggeleng pelan. Tidak ada yang salah secara medis, kata mereka. Namun tubuh Kakek Jojo terus melemah.

Dengan berat hati, Mama Tatik memutuskan memanggil Mbah Simo. Nama itu tidak pernah disebut sembarangan. Ia adalah orang yang hanya dicari ketika semua jalan lain tertutup. Ketika urusan sudah menyentuh wilayah yang tidak bisa dijelaskan dengan akal. Mbah Simo datang menjelang magrib. Langit menggantung rendah, awan kelabu berlapis lapis seperti menahan hujan. Begitu kakinya menginjak halaman rumah, ia berhenti. Tongkat kayunya menancap ke tanah. Dadanya naik turun perlahan.

“Tempat ini,” gumamnya. “Sudah lama tidak bersih.” Nava yang mengintip dari balik pintu merasa kulitnya meremang. Mayang Sari berdiri di sampingnya, kali ini wajahnya sama tegangnya dengan Nava. “Dia bisa melihat,” bisik Nava. Sari mengangguk. “Dia tahu cara bicara dengan batas.”

Mbah Simo duduk bersila di depan rumah. Ia menyalakan kemenyan. Asap putih naik, berputar pelan, lalu tiba tiba condong ke arah pintu rumah, seperti ditarik oleh sesuatu dari dalam. Doa doa Jawa kuno mengalir dari bibirnya. Bukan doa yang keras. Bukan pula yang tergesa. Setiap kata diucapkan dengan tenang, namun penuh tekanan, seolah berbicara langsung pada sesuatu yang tidak terlihat.

“Kau punya anak yang bisa melihat,” ucapnya tiba tiba tanpa menoleh. Mama Tatik terdiam. Nafasnya tertahan. Tidak ada yang perlu dijelaskan. “Tumbalnya disimpan di sini,” lanjut Mbah Simo sambil menunjuk tanah tepat di depan rumah. Ia berlutut dan mulai menggali dengan tangan kosong. Tanah itu terasa dingin dan lembap. Jari jarinya gemetar saat menyentuh sesuatu yang keras. Sekejap tubuhnya menegang. Nafasnya tersengal. Ia terbatuk keras, seolah ada sesuatu yang hendak keluar dari dadanya.

“Keji,” katanya dengan suara parau. “Ini perbuatan orang yang tidak mengenal takut.” Dari dalam tanah, ia mengangkat bungkusan kain hitam. Bau anyir langsung menyebar. Saat kain itu dibuka, Mama Tatik menutup mulutnya menahan tangis. Rambut manusia. Paku berkarat. Tanah kuburan. Potongan kain milik Kakek Jojo. Kuku. Serpihan tulang kecil.

“Itu santet,” kata Mbah Simo berat. “Bukan untuk membunuh cepat. Tapi untuk menggerogoti perlahan. Membuat korban sadar saat hidupnya ditarik sedikit demi sedikit.” Nava melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Di sekeliling bungkusan itu, makhluk makhluk hitam merayap. Wajah mereka tidak utuh. Tubuh mereka berlekuk tidak wajar. Saat doa dibacakan, mereka menjerit tanpa suara, mencakar tanah, lalu menyusut seperti terbakar dari dalam. Namun Mbah Simo belum selesai.

Ia berdiri tertatih dan menunjuk lurus ke depan rumah. “Yang mengirim ada di sana.” Seorang tetangga berdiri di depan rumah. Wajahnya pucat. Matanya gemetar. Tidak ada bantahan. Tidak ada teriakan. Alam telah menunjuknya. “Dengki,” lanjut Mbah Simo. “Yang dipelihara terlalu lama akan mencari jalan keluar.” Malam itu rumah dibersihkan dengan laku berat. Doa dipanjatkan. Batas ditarik. Namun sebelum pulang, Mbah Simo menatap Nava lama sekali.

“Anak ini bukan sekadar peka,” katanya pelan. “Ia pemanggil sekaligus penutup. Dan itu akan membuat banyak pihak menoleh.” Beberapa hari kemudian, Kakek Jojo sempat membaik. Ia tersenyum. Ia mengelus kepala Nava. Namun luka itu sudah terlalu dalam. Suatu pagi yang sunyi, Kakek Jojo menghembuskan napas terakhirnya. Sejak hari itu, Nava tahu satu hal. Ia bukan hanya penembus tirai. Ia adalah sasaran. Namun kematian itu bukan akhir. Malam ketujuh setelah pemakaman, tanah di depan rumah retak perlahan. Dari celahnya terdengar tarikan napas panjang seperti makhluk yang baru terbangun. Mayang Sari menoleh dengan wajah pucat. “Ini bukan balasan,” bisiknya. “Ini undangan.” Dan jauh di balik gelap, sesuatu tersenyum. Karena tumbal pertama telah diterima. Dan permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.