Bab 5: Duka yang Membuka Mata
Kematian Kakek Jojo tidak datang dengan hiruk pikuk. Ia datang dalam kesenyapan yang memanjang, seperti senja yang terlalu lama menolak menjadi malam. Rumah itu terasa berbeda sejak hari jenazah dibawa pergi.
Tidak ada lagi suara batuk kecil dari kamar belakang. Tidak ada lagi langkah kaki pelan menuju dapur di pagi buta. Tidak ada lagi suara kursi bambu yang digeser setiap sore saat Kakek Jojo duduk menghadap halaman, menatap langit dengan mata yang selalu seolah memikirkan sesuatu yang tak pernah ia ucapkan.
Kursi bambu itu kini kosong. Tetap berada di tempatnya, namun kehadirannya justru mempertebal rasa kehilangan. Bau obat obatan masih tertinggal di sudut kamar, bercampur dengan aroma tanah basah dari hujan yang turun hampir setiap sore sejak pemakaman. Bau itu menempel di udara, seakan rumah menolak melupakan apa yang telah terjadi.
Nava yang saat itu masih dipanggil Mila lebih sering diam. Ia tidak lagi banyak bertanya. Tidak lagi berlarian seperti anak anak lain. Ia duduk lama di dekat jendela, memandang halaman depan rumah tempat tumbal itu pernah dikubur. Tanahnya memang sudah diratakan. Rumput kecil mulai tumbuh. Namun bagi Nava, bekas itu tidak pernah benar benar hilang.
Ia melihatnya bukan dengan mata, melainkan dengan rasa. Setiap kali angin berembus dari arah halaman, dadanya terasa sesak. Ada getaran halus yang menyentuh batinnya, seperti gema langkah yang telah berlalu namun masih meninggalkan jejak.
“Aku terlambat,” bisiknya suatu malam. Mayang Sari muncul di sampingnya tanpa suara. Wajahnya sendu, matanya redup seperti cahaya bulan yang tertutup awan.
“Bukan salahmu,” ucap Sari pelan. “Jalan hidup kakekmu memang sampai di situ.” “Tapi aku melihatnya disiksa,” suara Nava bergetar. “Aku melihat anjing anjing itu. Aku melihat mereka berputar di sekelilingnya. Aku tahu itu bukan halusinasi.”
Sari terdiam lama. Tatapannya mengarah ke luar jendela, ke gelap yang perlahan menelan pekarangan. “Kemampuanmu bukan untuk mengubah takdir,” katanya akhirnya. “Tapi untuk menyadari kebenaran. Ada hal hal yang harus dilihat agar jiwa tidak tertipu.”
Air mata Nava jatuh perlahan. Malam itu ia menangis bukan sebagai anak kecil yang kehilangan kakek, melainkan sebagai jiwa yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Tangisnya sunyi. Tidak meraung. Tidak berteriak. Hanya jatuh dan jatuh, seperti hujan yang menetes tanpa suara.
Hari hari setelah pemakaman berjalan lambat. Rumah terasa kosong, meski penghuninya masih lengkap. Mama Tatik menjadi lebih pendiam. Nenek Siyah lebih sering duduk di sudut rumah dengan tasbih di tangannya. Doa tak pernah lepas dari bibirnya. Beberapa minggu kemudian, hal ganjil mulai terjadi.
Tetangga yang dulu ditunjuk Mbah Simo jatuh sakit. Awalnya hanya lemas. Lalu tidak nafsu makan. Kemudian tubuhnya melemah dengan cepat. Orang orang menyebutnya penyakit biasa. Masuk angin yang parah. Darah tinggi. Namun Nava tahu, sesuatu sedang ditarik kembali.
Suatu sore, saat menyapu halaman, Nava melihat bayangan hitam keluar dari rumah tetangga itu. Bayangan yang sama seperti yang dulu berkerumun di sekitar tumbal. Mereka bergerak perlahan, seperti arus air yang kembali ke muara. Tidak lagi mengitari rumah Nava. Tidak lagi menempel di tanah bekas kuburan. Kini mereka pergi.
Nava berdiri terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Bayangan bayangan itu melintas di hadapannya, namun tak satu pun menoleh. Seolah tugas mereka telah selesai. Wajah tetangga itu semakin hari semakin pucat. Matanya cekung. Tatapannya kosong. Setiap kali berpapasan dengan Nava, ia menunduk. Tidak pernah lagi menatap lurus ke arah rumah Nava. Ketakutan itu terpancar jelas. Bukan ketakutan pada manusia, melainkan pada sesuatu yang telah ia undang sendiri. Alam telah mengambil bagiannya.
Sejak kejadian itu, Mama Tatik menjadi lebih sering berdoa. Doanya tidak lagi hanya memohon keselamatan, melainkan juga perlindungan dari hal hal yang tidak terlihat. Nenek Siyah tidak lagi menyalakan lampu minyak di malam hari seperti kebiasaannya. Ia percaya cahaya doa jauh lebih kuat daripada cahaya buatan manusia.
Dan Nava mulai berubah. Ia belajar menahan diri. Tidak lagi menatap makhluk makhluk yang melintas. Tidak lagi menanggapi bisikan yang tidak perlu. Ia hanya membuka mata batin saat benar benar dibutuhkan. Setiap kali merasakan kehadiran, ia menarik napas panjang, menenangkan pikirannya, lalu menutup diri perlahan.
“Aku tidak ingin menjadi kuat,” kata Nava pada Sari suatu malam. “Aku hanya ingin hidup tenang.” Sari tersenyum lirih. Senyum yang mengandung pengertian, namun juga kesedihan. “Ketika kau lahir dengan kemampuan ini,” ucapnya, “ketenangan harus kau perjuangkan. Ia tidak pernah datang dengan sendirinya.”
Di usia itu pula, tubuh Nava sering kembali sakit. Demam datang tanpa sebab. Pusing yang membuat pandangan berkunang kunang. Nafas sesak yang muncul tiba tiba. Ia kembali keluar masuk rumah sakit. Jarum infus. Bau antiseptik. Lampu putih yang menyilaukan.
Setiap kali perawat memanggil namanya, Mila Sari, dadanya terasa ditekan. Seolah ada beban yang ikut disebut bersama nama itu. Setiap suku kata terasa berat. Suatu malam, setelah kembali dari rumah sakit, Nava duduk bersila di kamarnya. Wajahnya pucat, namun matanya mantap.
“Aku ingin mengganti namaku,” ucapnya pelan. Mama Tatik terkejut. Namun ia tidak membantah. Ia menatap putrinya lama, seolah baru menyadari bahwa anak di hadapannya bukan lagi sekadar anak kecil. “Aku ingin nama yang lebih ringan,” lanjut Nava. “Agar aku bisa bernapas.” Nama itu kemudian dipilih dengan hati hati. Amanda Nava Sari. Nama yang diharapkan menjadi doa. Sejak hari itu, panggilan Nava melekat. Dan bersamaan dengan itu, sakit sakitan perlahan berkurang. Tidak hilang sepenuhnya, namun tidak lagi menindih seperti sebelumnya.
Sari menatap Nava dengan mata berbinar. “Kau sudah memilih jalurmu sendiri,” katanya. Namun di balik ketenangan itu, alam gaib tidak pernah benar benar diam. Suatu malam, Nava bermimpi berada di sebuah tempat asing. Ia berdiri di depan gerbang besar yang menjulang tinggi. Tirainya tipis, berkilau, bergoyang tertiup angin yang tak terasa. Di balik tirai itu, banyak mata mengamati. Mata mata tanpa wajah. Mata mata yang menunggu.
Sebuah suara menggema dari segala arah. “Penembus tirai tak boleh ragu.” Nava melangkah mundur dalam mimpinya. Dadanya berdebar. Namun kakinya terasa berat, seolah tanah menahannya.
Ia terbangun dengan jantung berdegup kencang. Nafasnya terengah. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Sari berdiri di dekat ranjang, wajahnya serius. “Ujian berikutnya akan datang,” ucapnya pelan. “Dan kali ini, kau harus memilih sendiri.” Di luar jendela, angin malam berhenti mendadak. Daun daun diam. Suara serangga menghilang. Seolah dunia menahan napas.
Di antara sunyi itu, Nava mendengar langkah kaki mendekat. Bukan dari luar rumah. Melainkan dari balik tirai yang baru saja ia impikan. Dan untuk pertama kalinya, Nava menyadari satu hal yang membuat dadanya bergetar. Duka bukan hanya kehilangan. Duka adalah pintu. Dan pintu itu baru saja terbuka.