Si Cantik Penembus Tirai Goib Si Cantik Penembus Tirai Goib
2/20
Bab 2

Si Cantik Penembus Tirai Goib

Bab 2 Nama Baru, Takdir Lama

Nama adalah doa yang diulang tanpa suara. Setiap kali seseorang memanggilnya, doa itu mengetuk sesuatu di dalam jiwa. Namun tak semua doa membawa kelegaan. Ada nama yang menjadi penopang hidup, ada pula yang berubah menjadi beban, menekan raga dan batin tanpa disadari. Mila merasakan itu sejak kecil, bahkan sebelum ia memahami arti dari sebuah nama.

Sejak hari ia meminta dipanggil Nava, Mila perlahan menjauh dari sebutan lamanya. Bukan karena ia membenci masa lalu, melainkan karena tubuhnya tak lagi sanggup menanggung getaran yang menyertainya. Nama Mila terasa berat, seolah setiap kali dipanggil, ada sesuatu yang ikut bangun dan menuntut perhatian. Ketika nama itu ditinggalkan, dunia tidak serta-merta menjadi terang, namun setidaknya gelapnya tak lagi menyesakkan.

Perubahan pada tubuhnya datang perlahan, nyaris tak kentara. Sakit masih datang, namun tak lagi dengan keganasan yang sama. Ia masih sering demam, masih kadang terbangun dengan dada sesak, namun hari-hari di rumah sakit berkurang. Bau antiseptik yang dulu begitu akrab kini jarang ia hirup. Jarum infus tak lagi menjadi pemandangan rutin. Ada jeda di antara sakit-sakit itu, jeda yang memberi kesempatan bagi Nava untuk merasakan hidup seperti anak seusianya.

Bu Tatik melihat perubahan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia tak bertanya banyak, hanya bersyukur. Baginya, melihat anaknya bisa tertawa tanpa rasa sakit adalah anugerah yang tak ternilai. Ia tak pernah tahu bahwa perubahan itu bukan hanya urusan fisik, melainkan pergeseran halus di lapisan dunia yang tak terlihat. Nava tahu. Ia merasakannya.

Kemampuan yang ia miliki tidak melemah. Justru semakin tajam. Apa yang dulu hanya tampak sebagai bayangan kini memiliki bentuk. Apa yang dulu hanya terdengar seperti bisikan kini menjadi suara yang jelas. Kehadiran-kehadiran yang dulu sekadar terasa kini berdiri lebih dekat, lebih berani. Dunia yang selama ini berjalan sejajar dengannya kini seolah melangkah setengah langkah lebih maju.

Mayang Sari masih setia menemani. Sejak kecil, Sari tak pernah meninggalkannya, bahkan ketika Nava terbaring sakit atau menangis ketakutan di malam hari. Ia tak pernah mempertanyakan perubahan nama itu. Baginya, pergantian nama hanyalah urusan manusia.

Di alam mereka, nama hanyalah panggilan. Bukan penanda jiwa. Bukan pengikat sejati. “Namamu tetap sama,” kata Sari suatu malam. Ia duduk di ambang jendela kamar Nava, kakinya menggantung, wajahnya diterpa cahaya bulan yang masuk dari sela gorden. Rambutnya tergerai panjang, bergerak perlahan tertiup angin. “Yang berubah hanya cara dunia memanggilmu.” Nava memandangnya lama. Ada saat-saat ketika wajah Sari terlihat sangat nyata, seperti gadis biasa dengan kulit hangat dan mata bening. Namun di waktu lain, tubuhnya tampak samar, seolah sebagian dirinya berada di tempat lain. “Apa aku lari dari takdir?” tanya Nava lirih.

Sari tersenyum. Senyum itu lembut, namun menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. “Takdir tak bisa ditinggalkan. Kau hanya memutar jalan.” Jawaban itu tak sepenuhnya dipahami Nava, namun ia mempercayainya. Ia selalu mempercayai Sari, sejak dunia terasa terlalu asing untuk dihadapi sendirian.

Memasuki SMP, hidup Nava berubah drastis. Dunia sekolah tak lagi sesederhana bangku dan papan tulis. Manusia-manusianya mulai rumit. Senyum tidak selalu tulus. Tawa sering menyembunyikan niat. Nava bisa melihat itu semua. Terlalu jelas, bahkan ketika ia berusaha menutup mata batinnya.

Ia mulai belajar menyembunyikan diri. Tak lagi berbicara sendiri di depan orang. Tak lagi menoleh ketika melihat sesuatu berdiri di sudut ruangan. Tak lagi bereaksi ketika mendengar namanya dipanggil oleh suara yang tak diakui dunia manusia. Ia belajar berpura-pura normal, meski setiap kepura-puraan menguras tenaganya.

Namun dunia lain tak mengenal pura-pura. Di lorong sekolah, hawa dingin sering menyergap tiba-tiba, membuat tengkuknya merinding. Di kamar mandi, cermin kadang memantulkan bayangan yang bergerak terlambat, seolah ada jeda antara dirinya dan pantulannya. Di sudut kelas, bangku kosong tak selalu kosong. Ada yang duduk di sana, menatapnya lama, sabar, menunggu ia menyadari kehadirannya.

Sari selalu memperingatkan. “Jangan ditatap terlalu lama. Mereka tahu kau bisa melihat.” Peringatan itu bukan ancaman. Itu hukum. Saat kelas delapan, Mama Tatik mendaftarkan Nava ke pencak silat. Alasannya sederhana, agar tubuh Nava kuat dan tidak mudah sakit. Namun Nava merasakan dorongan lain, lebih dalam, lebih tua. Seolah ada arus tak terlihat yang menuntunnya ke tempat itu.

Padepokan itu berdiri di pinggir desa, dikelilingi pohon-pohon besar yang akarnya mencengkeram tanah seperti jari-jari tua. Udara di sana terasa berat, penuh jejak yang tak semuanya milik manusia. Tanahnya padat, seperti telah lama menerima pijakan dari berbagai zaman.

Guru silat itu seorang lelaki paruh baya dengan tubuh tegap dan sorot mata yang tajam namun tenang. Sejak Nava melangkah masuk, pandangannya berubah. Ia tak memperhatikan gerakan Nava, melainkan sesuatu yang melingkupinya. Auranya. “Anak ini berbeda,” gumamnya pelan.

Saat latihan kuda-kuda, Nava tiba-tiba kehilangan fokus. Dadanya sesak, seolah ada tekanan besar menekan dari belakang. Matanya menangkap sosok tinggi berdiri tepat di belakang sang guru. Wajahnya kabur, seperti tertutup kabut hitam, namun energinya begitu kuat hingga membuat lutut Nava gemetar. Ia jatuh terduduk. Latihan dihentikan.

Guru itu mendekatinya, berjongkok agar sejajar dengan wajahnya. “Kamu bisa melihat, ya?” tanyanya tanpa basa-basi. Nava terdiam. Selama ini ia berusaha menutup rapat kemampuannya, namun pertanyaan itu terlalu tepat untuk dihindari.

“Apa yang kamu lihat sejak kecil,” lanjut sang guru, suaranya lebih lembut, “itu bukan khayalan. Kamu indigo.” Kata itu seperti pintu yang terbuka. Selama ini Nava berjalan di lorong gelap tanpa nama. Kini lorong itu diberi sebutan. Indigo.

Sejak hari itu, Nava mulai belajar. Bukan untuk pamer. Bukan untuk merasa istimewa. Ia belajar agar tak lagi menjadi korban. Ia belajar menutup diri tanpa mematikan batin. Belajar membuka mata batin dengan kendali. Belajar membedakan mana yang datang sebagai penolong dan mana yang sekadar menunggu celah untuk masuk.

Namun semakin ia memahami, semakin jelas bahwa tak semua yang mendekat padanya berniat baik. Dan di balik semua itu, ada satu hal yang terus mengusik batinnya. Mayang Sari. Suatu malam, hujan turun pelan. Nava duduk di tepi ranjang, memandangi Sari yang berdiri di dekat lemari.

“Sari,” katanya lirih, “kamu siapa sebenarnya?” Sari menatapnya lama. Senyumnya masih ada, namun di balik itu tersimpan kesedihan yang dalam. “Aku dipilih untuk menemanimu,” jawabnya akhirnya. “Namun waktuku tidak selamanya.”

“Pergi ke mana?” tanya Nava. Sari tak menjawab. Angin malam masuk melalui jendela, membuat lampu kamar bergoyang pelan. Di tempat lain, Tirta membuka matanya dari semedi panjang. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“Anak itu sudah sadar,” bisiknya. “Dan takdir akan menagih janji.” Di kamar Nava, Mayang Sari berdiri di ambang pintu. Wujudnya kini lebih padat. Matanya menghitam legam, suaranya bergema seolah datang dari lebih dari satu arah. “Jika Tirta benar-benar datang,” bisiknya, “kau harus siap kehilangan sesuatu atau seseorang.”

Nava menoleh ke cermin. Untuk pertama kalinya, bayangan yang terpantul bukan hanya satu. Dan pada detik itulah, Nava menyadari bahwa nama barunya bukan sekadar panggilan. Ia adalah kunci. Dan pintu yang terbuka itu tak akan bisa ditutup kembali.