Bab 3 Mayang Sari, yang Tak Pernah Terlahir
Hujan turun pelan malam itu, menetes di atap rumah seperti irama gamelan yang dimainkan terlalu jauh untuk didengar jelas. Setiap tetesnya seolah membawa ingatan lama, menghantam genting lalu mengalir perlahan ke tanah. Udara terasa dingin, lebih dingin dari biasanya, dan bau tanah basah menyusup masuk melalui celah jendela yang tak tertutup rapat.
Nava duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat. Matanya menatap kosong ke arah lantai kayu yang memantulkan cahaya lampu temaram. Bayangan di dinding bergerak pelan, menari-nari seiring goyangan api kecil di dalam bohlam tua. Ada perasaan berat di dadanya, seperti sesuatu yang selama ini tersembunyi kini bersiap menampakkan diri.
Di sudut kamar, Mayang Sari duduk bersila. Rambutnya panjang tergerai, hitam dan berkilau seperti malam tanpa bulan. Wajahnya teduh, cantik dengan cara yang tak sepenuhnya manusia, seperti bulan yang tertutup kabut tipis. Matanya menatap Nava dengan ketenangan yang dalam, seolah telah lama menunggu malam ini. “Kau ingin tahu tentang aku,” ucap Sari pelan.
Suaranya nyaris menyatu dengan bunyi hujan. Namun bagi Nava, kalimat itu terdengar jelas, menembus lapisan keraguan yang selama ini ia simpan.
Nava mengangguk. Pertanyaan itu telah lama mengendap di dalam dirinya, berputar-putar tanpa berani keluar. Setiap kali ia hampir bertanya, ada rasa takut yang menahannya. Takut kehilangan, takut kebenaran akan merenggut satu-satunya teman yang ia miliki sejak kecil.
“Aku bukan jin,” lanjut Sari, suaranya tetap lembut. “Aku juga bukan arwah gentayangan.” Hujan di luar terdengar makin deras, seolah dunia ikut menahan napas. “Aku adalah sukma yang tak sempat bernapas.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun menghantam dada Nava dengan keras. Ada rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi tubuhnya, bercampur pilu yang membuat matanya berkaca-kaca. Ia tak merasa takut. Yang ia rasakan justru pemahaman yang pahit namun jujur.
Sari mulai bercerita. Tentang masa yang tak pernah tercatat dalam kalender manusia. Tentang seorang perempuan yang mengandungnya dengan penuh harap, namun takdir memutus napas itu sebelum sempat melihat dunia. Tak ada tangisan, tak ada nama yang diucapkan, tak ada doa kelahiran. Sukmanya terlepas begitu saja, belum sempat mengenal tubuh, belum sempat merasakan hangatnya pelukan.
Sukma itu tak menemukan jalan pulang. Ia terombang-ambing di ruang antara, di wilayah yang tak sepenuhnya pergi dan tak benar-benar tinggal. Ia melihat dunia berjalan tanpa dirinya, melihat manusia hidup, mencintai, lalu pergi. Ia menunggu, tanpa tahu apa yang ditunggu.
Hingga suatu hari, tirai itu terbuka. “Ketika kamu lahir,” kata Sari, menatap Nava dengan mata yang kini berkilau, “aku melihat cahaya yang sama denganku. Cahaya yang tak dimiliki semua manusia. Kamu bisa melihatku… dan aku bisa tinggal.”
Nava terisak. Air mata jatuh tanpa suara. Bukan karena takut, bukan karena ngeri, melainkan karena mengerti. Kesendirian yang selama ini ia rasakan ternyata bukan miliknya seorang. Ada dua jiwa yang sama-sama terdampar, saling menemukan di persimpangan yang tak direncanakan.
“Aku menemanimu karena aku dititipkan,” lanjut Sari. “Ada yang menjaga keseimbangan. Ada yang memilihkan aku untukmu.”
Kata-kata itu membuat Nava teringat cerita Mama Tatik tentang Tirta. Tentang anak yang bukan bayi biasa. Tentang tatapan lelaki itu yang terlalu dalam untuk sekadar manusia. Tentang kalimat yang tak pernah benar-benar dilupakan ibunya. “Apakah kamu akan pergi?” tanya Nava lirih, suaranya hampir tenggelam oleh hujan. Sari tersenyum. Senyum yang sama seperti yang selalu ia berikan sejak Nava kecil. Senyum yang mengandung ketenangan sekaligus perpisahan.
“Semua yang dipinjam akan kembali,” jawabnya. “Tapi belum sekarang.” Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Mayang Sari tak lagi sekadar teman bermain atau penghibur di kala sepi. Ia menjadi penuntun. Menjadi batas yang mengingatkan. Menjadi suara yang menahan Nava ketika dunia lain terlalu dekat.
Ia mengajarkan Nava kapan harus membuka mata batin, kapan harus menutupnya rapat-rapat. Mengajarkan cara menenangkan napas, menstabilkan emosi, dan menjaga pikiran tetap jernih. “Jangan gunakan kemampuanmu saat emosimu retak,” pesan Sari suatu malam. “Alam liyan peka pada luka. Mereka datang pada yang lemah.”
Nava belajar. Ia berlatih pernapasan dalam keheningan kamar. Ia menjalani tirakat kecil, bangun lebih pagi, mengheningkan diri tanpa meminta apa pun. Tak ada mantra keras, tak ada ritual mencolok. Semua dilakukan dengan kesadaran, dengan niat untuk menjaga, bukan menguasai. Namun dunia gaib tak selalu diam.
Suatu malam, Nava terbangun oleh bau anyir yang asing. Bukan bau tanah, bukan bau hujan. Bau itu seperti darah yang lama mengering, bercampur hawa lembap yang menusuk. Udara kamar terasa berat, menekan dada hingga napasnya tercekat.
Dari celah pintu, bayangan merayap masuk. Memanjang di lantai, bergerak seperti asap hitam yang hidup. Suaranya mendesis pelan, bukan suara bahasa, melainkan getaran yang membuat bulu kuduk berdiri. Sari berdiri di depan Nava. Tubuhnya tampak lebih nyata dari biasanya. Wajahnya tegas, tak ada lagi senyum lembut.
“Jangan takut,” katanya. “Ini bukan waktumu.” Bayangan itu berhenti. Seolah ada batas tak terlihat yang menghalanginya. Ia mendesis lebih keras, lalu perlahan mundur, menghilang kembali ke balik pintu.
Di kejauhan, suara kentongan malam berdentang. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Nava tahu, ia dilindungi. Namun perlindungan itu terasa seperti perjanjian yang tak tertulis. Di tempat lain, jauh dari rumah kayu itu, Tirta membuka sesaji kecil di ruang semedinya. Asap kemenyan melingkar, membentuk simbol-simbol lama yang hanya ia pahami. Wajahnya serius, matanya tertutup, namun senyum tipis terukir di bibirnya.
“Mayang Sari,” gumamnya. “Jadi kau yang dipilih.” Ia membuka mata perlahan. Sorotnya tajam, penuh perhitungan. “Jika sukma yang tak terlahir bersatu dengan penembus tirai,” lanjutnya pelan, “keseimbangan akan goyah.” Tangannya mengepal perlahan.
“Dan aku tak akan tinggal diam.” Pagi harinya, Nava terbangun dengan firasat yang tak enak. Dadanya terasa berat tanpa sebab. Saat ia berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya, pantulan itu membuatnya membeku. Di belakangnya, berdiri bayangan samar. Bukan Sari.
Bayangan itu tinggi, bentuknya kabur, namun tatapannya terasa jelas. Ia menatap Nava lama, terlalu lama, lalu perlahan memudar, seolah ditelan oleh permukaan cermin itu sendiri. Nava menoleh cepat. Tak ada siapa pun.
Sari muncul dari sudut kamar. Wajahnya kembali teduh, namun sorot matanya penuh kewaspadaan. “Waktunya mendekat,” ucapnya pelan. “Kebenaran tentangmu akan menuntut pilihan.” Nava menarik napas panjang. Ia merasakan perubahan di sekelilingnya. Udara, cahaya, bahkan keheningan terasa berbeda. Ia tak lagi hanya gadis yang melihat bayangan dan bisikan. Ia adalah penembus tirai.
Dan jalan itu tak bisa ditinggalkan. Namun Nava belum tahu satu hal. Sejak malam itu, setiap langkahnya tak lagi diawasi oleh satu dunia saja. Di antara bayangan yang mengintai, ada yang mulai menyebut namanya sebagai kunci. Ada yang menunggu ia tergelincir. Ada pula yang berharap ia bertahan.
Dan ketika penembus tirai terlalu lama berdiri di ambang, alam akan menuntut tumbal untuk menutup celahnya kembali.
Sementara itu, Mayang Sari berdiri di luar rumah, menatap langit yang tertutup awan tebal. Tak ada bintang malam itu. Tak ada cahaya penunjuk arah. Untuk pertama kalinya sejak ia menemani Nava, ada rasa takut yang merambat di dalam dirinya sendiri.
Ia sadar, saat ia datang menemani Nava, ia juga sedang berjalan menuju akhir keberadaannya. Dan permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.