Cinta Kontrak Sang CEO Runtuhnya Istana Pasir
1/20
Bab 1

Runtuhnya Istana Pasir

Debu semen berterbangan, menciptakan kabut tipis yang menyesakkan napas di lantai tiga belas kerangka gedung apartemen itu. Matahari Jakarta pukul satu siang tidak mengenal ampun. Panasnya menembus helm proyek putih yang dikenakan Arini, membuat keringat mengalir turun melewati pelipis hingga ke leher, membasahi kerah kemeja kerjanya yang sudah kusut sejak pagi.

Suara bor pneumatik menderu, beradu dengan teriakan para tukang yang sedang memindahkan besi beton. Namun, bagi Arini Putri, kebisingan itu hanyalah latar belakang dari kekacauan yang jauh lebih besar yang sedang bergemuruh di kepalanya.

"Bu Arini!"

Teriakan itu datang dari arah lift barang. Pak Yanto, mandor kepercayaan ayahnya selama dua puluh tahun terakhir, berlari tergopoh-gopoh. Wajah pria paruh baya itu pucat, kontras dengan kulitnya yang terbakar matahari. Napasnya tersengal ketika ia berhenti tepat di hadapan Arini.

Arini menurunkan gulungan cetak biru (blueprint) yang sedang diperiksanya. Firasat buruk langsung mencengkeram perutnya. Bukan karena struktur bangunan yang miring atau campuran beton yang salah. Masalah di Wijaya Konstruksi belakangan ini tidak pernah soal teknis. Selalu soal uang.

"Ada apa, Pak?" tanya Arini. Suaranya tenang, sebuah topeng yang ia latih selama enam bulan terakhir sejak ayahnya kolaps.

"Supplier beton menahan pengiriman," lapor Pak Yanto, suaranya bergetar menahan marah sekaligus takut. "Truk mereka sudah di gerbang, tapi sopirnya bilang kantor pusat memerintahkan putar balik kalau pelunasan termin kedua belum masuk hari ini."

Arini memejamkan mata sejenak. Dunia di sekelilingnya terasa berputar. Termin kedua. Nominalnya dua ratus juta rupiah. Uang yang seharusnya ada di rekening perusahaan pagi ini dari klien ruko di Bekasi.

"Saya sudah tanda tangan giro kemarin sore, Pak," kata Arini, membuka matanya lagi. "Bu Ratna sudah mengurusnya ke bank."

Pak Yanto menggeleng lemah. Ia menyerahkan ponselnya yang retak layarnya kepada Arini. Di sana, sebuah pesan singkat dari bagian logistik supplier terpampang jelas: Giro kosong. Tolong jangan main-main. Kami tarik armada sekarang.

Darah Arini berdesir turun ke kaki. Kakinya lemas seketika, seolah lantai beton di bawahnya berubah menjadi lumpur hisap. Kosong? Tidak mungkin. Ayahnya selalu mengajarkan integritas. Wijaya Konstruksi tidak pernah mengeluarkan cek kosong. Tidak pernah, sampai hari ini.

"Suruh mereka tunggu sepuluh menit, Pak. Bilang saya akan telepon pemiliknya langsung. Jangan biarkan satu truk pun keluar dari gerbang," perintah Arini. Ketegasannya kembali, dipacu oleh adrenalin.

Pak Yanto mengangguk ragu namun segera berlari kembali ke arah lift barang sambil berteriak pada anak buahnya melalui handy talkie.

Arini berjalan cepat menuju pinggir bangunan yang belum berdinding. Angin kencang menerpa wajahnya, membawa aroma debu dan bensin. Ia merogoh saku celana jeans-nya, mengeluarkan ponsel, dan menekan nomor Bu Ratna, staf keuangan perusahaan.

Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

"Halo, Bu Arini..." Suara Bu Ratna terdengar parau, seperti orang habis menangis.

"Bu, kenapa supplier beton bilang giro kita kosong? Dana dari Ruko Bekasi sudah masuk, kan?" Arini menuntut jawaban, namun hatinya sudah mencelos mendengar isak tangis di ujung telepon.

"Maafkan saya, Non... Maafkan saya..." Tangis Bu Ratna pecah. "Tadi pagi... Bank memblokir rekening operasional kita. Pihak bank bilang ada pembekuan aset karena gugatan dari pihak ketiga soal sertifikat tanah garapan di Cibubur."

Arini mencengkeram pagar pembatas besi sementara hingga buku-buku jarinya memutih. Cibubur? Itu proyek dua tahun lalu. Proyek yang sudah selesai dan serah terima kunci. Kenapa baru sekarang ada masalah?

"Siapa yang menggugat?" desis Arini.

"Saya tidak tahu detailnya, tapi pengacara bank bilang... ini instruksi dari pemegang obligasi baru. Utang perusahaan Pak Wijaya yang lama... katanya sudah dijual ke pihak lain."

Langit Jakarta yang cerah tiba-tiba terasa gelap bagi Arini. Utang lama. Ia tahu ayahnya meminjam modal besar lima tahun lalu untuk ekspansi, tapi pembayarannya selalu lancar. Kecuali bulan-bulan terakhir ini, sejak ayahnya sakit jantung dan beberapa klien menunda pembayaran.

"Berapa total yang harus kita bayar untuk buka blokir itu?"

Hening sejenak di ujung telepon. Hanya suara napas Bu Ratna yang berat.

"Mereka tidak minta pembayaran sebagian, Non. Mereka minta pelunasan total. Jatuh tempo dipercepat karena dianggap wanprestasi."

"Berapa?" ulang Arini, kali ini lebih keras.

"Dua puluh lima miliar rupiah."

Angka itu menghantam Arini seperti pukulan palu godam tepat di dada. Ponsel di tangannya nyaris terlepas. Dua puluh lima miliar. Menjual seluruh aset perusahaan pun tidak akan cukup. Bahkan jika ia menjual ginjalnya, itu tidak akan menutup bunganya.

Di bawah sana, di gerbang proyek, Arini melihat tiga truk molen besar mulai memutar balik. Klakson panjang terdengar, tanda kekecewaan dan ejekan bagi kegagalan Wijaya Konstruksi. Para pekerja mulai duduk-duduk, meletakkan sekop dan helm mereka. Proyek berhenti.

Dan jika proyek ini berhenti, penalti keterlambatan akan menghabisi sisa napas perusahaan.

Arini menatap cakrawala kota, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang angkuh di kejauhan. Di antara hutan beton itu, ada seseorang yang sedang memainkan bidak catur, menghancurkan hidupnya dan ayahnya hanya dengan satu tanda tangan di atas kertas.


Bau antiseptik yang tajam menyambut Arini saat pintu otomatis ICU terbuka. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menembus kemejanya yang masih lembap oleh keringat, membuatnya menggigil.

Dunia di sini sangat berbeda dengan kekacauan di lokasi proyek. Di sini, waktu seolah berjalan lambat, diukur bukan dengan jam kerja, melainkan dengan bunyi bip-bip ritmis dari monitor jantung.

Arini berjalan pelan mendekati ranjang nomor tiga. Di sana, Wijaya Kusuma, pria yang dulunya gagah dan selalu menggendong Arini di pundaknya, kini terbaring lemah. Selang oksigen melintang di bawah hidungnya. Tubuhnya yang dulu tegap kini kurus, dimakan penyakit dan kekhawatiran yang ia sembunyikan bertahun-tahun.

Mata ayahnya terbuka perlahan saat menyadari kehadiran Arini. Senyum tipis, namun hangat, terukir di wajah pucat itu.

"Rin..." suaranya serak, nyaris tak terdengar.

Arini segera meraih tangan ayahnya. Kulitnya terasa kering dan dingin, seperti kertas tua. Ia memaksa bibirnya untuk melengkung ke atas, menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

"Hai, Yah. Kok belum tidur lagi?" bisik Arini, duduk di kursi plastik di samping ranjang.

"Ayah nunggu kamu," Wijaya berusaha menggeser posisinya, tapi meringis kesakitan. Arini dengan sigap membetulkan bantalnya. "Gimana pengecoran hari ini? Lancar?"

Pertanyaan itu bagaikan pisau yang mengiris ulu hati Arini. Ia melihat mata ayahnya yang penuh harap. Mata itu bersinar bangga setiap kali membicarakan Wijaya Konstruksi, warisan yang ia bangun dari nol dengan keringat dan darah. Mengatakan kebenaran sekarang—bahwa truk beton pulang, rekening dibekukan, dan perusahaan di ambang kebangkrutan—sama saja dengan mencabut selang oksigen itu dengan tangannya sendiri.

Arini menelan ludah, menyingkirkan rasa pahit di tenggorokannya.

"Lancar, Yah," bohong Arini dengan lancar, meski hatinya berteriak. "Pak Yanto kirim salam. Katanya kolom lantai tiga belas sudah selesai dicor. Besok kita mulai pasang bekisting untuk lantai empat belas."

Wijaya menghela napas lega, senyumnya melebar. "Syukurlah. Proyek itu... harapan kita satu-satunya, Rin. Kalau itu selesai tepat waktu, kita bisa lunasi pinjaman bank dan kamu... kamu bisa mulai ambil S2 arsitektur seperti yang kamu mau."

Arini meremas tangan ayahnya pelan. S2 Arsitektur. Mimpi itu terasa begitu jauh sekarang, seperti kenangan dari kehidupan orang lain.

"Jangan pikirin itu dulu, Yah. Yang penting Ayah sembuh," kata Arini lembut.

Tiba-tiba, monitor jantung berbunyi sedikit lebih cepat. Wijaya menatap putrinya dengan tatapan yang tiba-tiba tajam, seolah bisa melihat menembus kebohongan Arini.

"Rin, kalau ada apa-apa... kamu bilang sama Ayah, ya? Ayah tahu belakangan ini pasar lagi lesu."

"Nggak ada apa-apa, Yah. Serius," potong Arini cepat, mungkin terlalu cepat. Ia bangkit, berpura-pura mengambil gelas air di nakas untuk menyembunyikan wajahnya. "Aku cuma capek. Panas banget di proyek tadi."

Ponsel di saku celananya bergetar panjang. Arini melirik layar. Nomor tidak dikenal. Bukan nomor kantor, bukan nomor supplier.

"Sebentar ya, Yah. Ada telepon dari klien," pamit Arini, mencium kening ayahnya sebelum bergegas keluar ruangan.

Begitu pintu kaca tertutup di belakangnya, Arini bersandar pada dinding koridor, menghela napas panjang. Ia menekan tombol hijau di layar ponselnya.

"Halo?"

"Selamat sore. Apa benar ini dengan Nona Arini Putri, putri dari Bapak Wijaya Kusuma?" Suara di ujung sana terdengar berat, formal, dan dingin. Suara seorang pria yang terbiasa memberi perintah, bukan meminta.

"Benar. Ini siapa?" Arini menegakkan tubuhnya, insting waspadanya menyala.

"Saya Reza, asisten pribadi Bapak Adrian Mahardika," jawab pria itu.

Nama itu. Mahardika.

Arini merasa oksigen di sekitarnya tersedot habis. Siapa yang tidak tahu nama itu? Mahardika Group adalah raksasa bisnis yang menguasai properti, perhotelan, dan konstruksi di Asia Tenggara. Adrian Mahardika, CEO mudanya, dikenal sebagai "Raja Midas Bertangan Besi". Rumor mengatakan dia tidak memiliki belas kasihan, menghancurkan kompetitor semudah membalikkan telapak tangan.

Kenapa asisten orang paling berkuasa di industri ini meneleponnya?

"Ada keperluan apa Pak Adrian dengan saya?" tanya Arini, berusaha agar suaranya tidak terdengar gentar.

"Bapak Adrian ingin mendiskusikan akuisisi utang Wijaya Konstruksi," kata Reza datar, tanpa basa-basi. "Beliau memegang surat hutang senilai dua puluh lima miliar rupiah atas nama perusahaan ayah Anda. Dan beliau ingin bertemu Anda. Sekarang."

Teka-teki itu terjawab sudah. Pihak ketiga yang membeli utang mereka. Sosok yang memainkan bidak catur itu. Itu Adrian Mahardika.

"Saya sedang di rumah sakit," elak Arini.

"Mobil jemputan sudah menunggu di lobi rumah sakit, Nona Arini. Pelat nomor B 1 ADM. Hitam. Kami tahu kondisi ayah Anda. Dan saya rasa, Anda tidak ingin Pak Adrian datang menagih langsung ke ruang ICU, bukan?"

Ancaman itu terselubung rapi dalam kalimat sopan, namun dampaknya mematikan. Arini mengepalkan tangan kirinya. Marah. Takut. Terhina.

"Baik," jawab Arini singkat. "Saya turun."

Ia mematikan telepon. Matanya menatap pintu ICU tempat ayahnya berjuang untuk hidup. Ayahnya tidak boleh tahu. Arini harus menghadapi monster ini sendirian. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, membersihkan debu semen di bahunya, dan berjalan menuju lift. Langkahnya berat, seperti narapidana menuju tiang gantungan.


Mahardika Tower menjulang angkuh di pusat segitiga emas Jakarta. Gedung kaca berwarna biru gelap itu seolah menantang langit. Arini melangkah keluar dari mobil sedan mewah yang menjemputnya, disambut oleh Reza yang sudah berdiri di lobi. Pria itu berpenampilan rapi, kacamata tanpa bingkai, dan ekspresi yang sulit ditebak.

"Mari, Nona. Pak Adrian tidak suka menunggu," kata Reza sambil menunjuk ke arah lift khusus eksekutif.

Sepanjang perjalanan naik ke lantai teratas—lantai 50—tidak ada percakapan. Arini hanya menatap pantulan dirinya di dinding logam lift. Kemeja kerjanya yang lusuh, celana jeans belel, dan sepatu safety yang masih menyisakan noda lumpur kering. Ia tampak sangat kecil dan kotor di dalam kotak kemewahan ini. Tapi ia mengangkat dagunya. Ia seorang arsitek. Ia membangun gedung, bukan sekadar menghuninya. Ia tidak akan membiarkan kemewahan ini mengintimidasinya.

Ting.

Pintu lift terbuka langsung ke sebuah ruangan luas yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca. Kantor itu lebih mirip galeri seni modern daripada tempat kerja. Dingin. Sunyi. Pemandangan Jakarta di sore hari terhampar luas di balik dinding kaca raksasa, dengan matahari terbenam yang memancarkan warna oranye kemerahan, seolah kota ini sedang terbakar.

Di tengah ruangan, di balik meja kerja mahoni yang besar dan kosong dari tumpukan kertas, duduk seorang pria.

Adrian Mahardika.

Pria itu tidak menoleh saat Arini masuk. Ia sedang memandangi dokumen di tangannya dengan intensitas yang menakutkan. Punggung kursi kulit tingginya seolah menjadi takhta bagi raja kegelapan. Jas charcoal yang ia kenakan pas sempurna di tubuhnya yang lebar, setiap jahitan meneriakkan harga yang mungkin setara dengan gaji karyawan Arini selama setahun.

"Duduk," perintahnya tanpa melihat. Suaranya bariton, rendah, dan memiliki resonansi yang membuat bulu kuduk Arini meremang. Bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar di punggungnya.

Arini berjalan mendekat, langkah sepatu safety-nya berbunyi duk-duk di lantai marmer, suara asing di ruangan yang dilapisi karpet tebal itu. Ia duduk di kursi tamu yang berhadapan dengan Adrian.

Adrian akhirnya meletakkan dokumen itu. Perlahan, ia mengangkat wajahnya.

Arini menahan napas. Foto-foto di majalah bisnis tidak memuat aura yang dipancarkan pria ini secara langsung. Wajahnya keras, dengan rahang tegas yang seolah dipahat dari batu granit. Hidung mancung, bibir tipis yang terkatup rapat, dan sepasang mata...

Mata itu gelap, pekat seperti langit malam tanpa bintang. Tatapan Adrian menusuk, menilai, dan menelanjangi. Tidak ada kehangatan di sana. Hanya kalkulasi dingin.

"Arini Putri," ucap Adrian, menyebut namanya seolah sedang mencicipi rasa anggur yang tidak ia sukai. "Lulusan terbaik Arsitektur UI tiga tahun lalu. Tapi sekarang, pewaris tunggal perusahaan yang hanya punya sisa umur..." Adrian melirik jam tangan mewahnya, "...kurang dari dua puluh empat jam sebelum dinyatakan pailit."

"Kami bisa melunasinya," potong Arini cepat, tangannya mengepal di atas pangkuan. "Proyek Apartemen Cempaka akan cair minggu depan. Saya hanya butuh perpanjangan waktu untuk—"

"Tidak ada perpanjangan," potong Adrian tajam. Ia berdiri, menjulang tinggi di hadapan Arini, membuat ruangan terasa semakin sempit. Ia berjalan memutari meja, mendekat ke arah Arini seperti predator mengitari mangsa.

"Saya sudah cek keuangan perusahaanmu. Supplier beton, vendor baja, bahkan gaji tukang minggu lalu belum dibayar. Ayahmu butuh operasi bypass jantung segera yang biayanya ratusan juta. Dan rumah yang kalian tempati sekarang sudah masuk daftar lelang bank."

Kata-kata itu menghantam Arini bertubi-tubi. Ia merasa telanjang. Adrian tahu segalanya.

"Apa yang Anda inginkan, Pak Adrian?" tanya Arini, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Kalau Anda tahu kami tidak punya uang, kenapa Anda membeli utang kami? Anda mau aset tanah kami? Ambil saja. Tapi tolong, biarkan ayah saya tenang."

Adrian berhenti tepat di samping kursi Arini. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Arini. Aroma cologne mahal—campuran kayu cendana dan musk—menguar, memabukkan namun berbahaya.

"Saya tidak butuh tanahmu. Saya punya ribuan hektar yang lebih strategis," bisik Adrian. "Yang saya butuhkan adalah solusi untuk masalah saya."

Adrian kembali ke mejanya, mengambil sebuah map hitam berbahan kulit, dan melemparkannya ke hadapan Arini. Map itu mendarat dengan suara plak yang keras di meja kaca.

"Buka," perintahnya.

Dengan tangan gemetar, Arini membuka map itu. Matanya memindai halaman pertama. Itu bukan surat sita jaminan. Bukan surat gugatan pailit.

Judul dokumen itu tercetak tebal di bagian atas: PERJANJIAN PERKAWINAN.

Arini mendongak, menatap Adrian dengan bingung. "Apa... apa maksudnya ini?"

Adrian bersandar di tepi mejanya, melipat kedua tangan di dada. Tatapannya datar, tanpa emosi, seolah sedang mendiskusikan harga semen.

"Kakek saya memberi ultimatum. Saya harus menikah bulan ini atau posisi CEO akan diserahkan ke sepupu saya yang tidak kompeten," jelas Adrian dingin. "Saya butuh istri. Bukan istri sungguhan yang cengeng dan menuntut cinta, tapi seseorang yang bisa diajak berbisnis. Seseorang yang cukup putus asa untuk menyetujui syarat apa pun."

Adrian menatap Arini lurus-lurus, tatapan yang mengunci Arini di tempatnya.

"Saya akan melunasi seluruh utang dua puluh lima miliar itu. Saya akan membiayai operasi ayahmu di Singapura dengan dokter terbaik. Saya akan menyelamatkan Wijaya Konstruksi."

Jantung Arini berdegup kencang, menabrak rusuknya. Tawaran itu adalah mukjizat. Penyelamat hidupnya. Tapi ia tahu, di dunia bisnis—apalagi dengan pria seperti Adrian Mahardika—tidak ada makan siang gratis.

"Apa syaratnya?" tanya Arini lirih.

Sudut bibir Adrian terangkat sedikit, membentuk senyum sinis yang mengerikan.

"Kamu menjadi istri saya selama satu tahun. Tinggal di rumah saya, tampil di acara keluarga, dan berakting bahagia. Tapi ingat satu hal..." Adrian mencondongkan tubuhnya lagi, suaranya turun menjadi bisikan yang berbahaya. "Jangan pernah jatuh cinta pada saya. Karena di kontrak itu tertulis jelas: jika ada perasaan yang terlibat, kontrak batal, dan kamu harus mengembalikan semua uang saya, detik itu juga."

Arini menatap dokumen di depannya, lalu menatap pria dingin di hadapannya. Ia berdiri di tepi jurang. Melompat berarti hancur, mundur berarti mati.

"Jadi, Arini Putri," Adrian mengulurkan sebuah pena emas mahal ke arahnya. "Apakah kamu siap menjual kebebasanmu demi nyawa ayahmu?"