Cinta Kontrak Sang CEO Ratu di Menara Gading
4/20
Bab 4

Ratu di Menara Gading

Suara mesin Rolls Royce Phantom itu mati, menyisakan keheningan yang mencekik di area parkir basement. Namun, bagi Arini, keheningan itu jauh lebih bising daripada deru mesin mana pun. Kata-kata dari pesan singkat yang tak sengaja ia baca di layar ponsel Adrian masih berdenging di kepalanya seperti sirene peringatan bahaya.

Ratu barumu membawa kutukan. Aku sedang mengawasi.

Arini menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan kasar. Ia mencengkeram erat bungkusan tisu basah dan hand sanitizer yang diberikan Reza sebelumnya, seolah benda-benda remeh itu adalah satu-satunya senjata yang ia miliki di medan perang ini. Ia baru saja menandatangani kontrak untuk menyelamatkan nyawa ayahnya, tapi sekarang rasanya ia baru saja menyerahkan lehernya sendiri ke dalam jerat tali gantungan.

Pintu mobil di sisi Adrian terbuka. Pria itu keluar dengan gerakan tangkas dan elegan, jas mahalnya sama sekali tak terlihat kusut meski mereka baru saja menempuh perjalanan yang melelahkan. Tanpa menoleh ke arah Arini, ia berjalan menuju lift pribadi yang terletak hanya beberapa meter dari tempat parkir VIP tersebut.

Reza, dengan sigap, membukakan pintu untuk Arini.

"Silakan, Nona Arini," ucap Reza pelan. Nada suaranya sopan, namun ada urgensi yang tersirat di sana. "Tuan Adrian tidak suka menunggu."

Arini mengangguk kaku. Kakinya terasa berat saat menapak lantai beton yang dingin. Sepatu safety bututnya yang masih berdebu sisa dari lokasi proyek tadi siang menciptakan bunyi tak-tuk yang sumbang, kontras dengan langkah senyap Adrian yang mengenakan sepatu kulit Italia bersol karet.

Ia merasa kecil. Ia merasa kotor.

Mereka bertiga masuk ke dalam lift pribadi yang dindingnya dilapisi cermin dan aksen emas. Saat pintu lift menutup perlahan, memisahkan mereka dari dunia luar, Arini dipaksa menghadapi realitas visual yang menyakitkan.

Di pantulan cermin itu, Arini melihat jurang pemisah yang menganga lebar.

Di satu sisi berdiri Adrian Mahardika. Tinggi, tegap, dingin. Wajahnya yang terpahat sempurna menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Ia memancarkan aura kekuasaan yang mutlak. Di sebelahnya, Reza berdiri dengan postur siaga, setelan kerjanya rapi tanpa cela.

Dan di tengah-tengah mereka, ada Arini. Kemeja flanel lusuh yang ia kenakan tampak konyol di bawah pencahayaan lift yang mewah. Celana jinsnya memiliki noda semen kering di bagian lutut. Rambutnya lepek karena keringat dan debu Jakarta. Ia tampak seperti noda kotor yang seharusnya dibersihkan dari lukisan mahakarya.

"Reza," suara bariton Adrian memecah keheningan. Dingin, tanpa emosi.

"Ya, Pak?"

"Pastikan tim keamanan siber melacak nomor pengirim pesan tadi. Aku tidak mau ada gangguan sekecil apa pun besok pagi."

Jantung Arini mencelos. Jadi Adrian juga membacanya. Pria itu tahu ada ancaman yang mengintai, tapi nada bicaranya terdengar seolah ia sedang menyuruh membuang sampah, bukan menghadapi penguntit misterius.

"Baik, Pak. Sudah diproses," jawab Reza cepat.

"Dan pastikan," Adrian melirik Arini sebentar lewat pantulan cermin - tatapan yang hanya berlangsung sedetik namun cukup untuk membuat Arini menahan napas, "foto-foto CCTV di lobi tadi sudah bersih total dari internet. Aku tidak membayar mahal tim humas untuk membiarkan gosip murahan tentang 'tunangan gembel' beredar lebih dari satu jam."

Kata-kata itu menghunjam dada Arini. Tunangan gembel.

Arini ingin marah. Ia ingin berteriak bahwa ia adalah lulusan terbaik arsitektur, bahwa ia bekerja keras di lapangan demi ayahnya, bahwa debu di bajunya adalah tanda kehormatan, bukan aib. Tapi ia teringat wajah ayahnya yang terbaring lemah di ICU. Ia teringat ancaman Adrian tentang tabung oksigen.

Ia menggigit bibir bawahnya, menelan harga dirinya bulat-bulat. Tahan, Arini. Ini cuma satu tahun. Anggap saja ini klien paling rewel yang pernah kau hadapi.

Ting.

Pintu lift terbuka langsung ke dalam penthouse.

Arini menahan napas. Sebagai seorang arsitek, ia pernah melihat desain-desain hunian mewah di majalah atau portofolio dosennya. Namun, melihat penthouse Adrian Mahardika secara langsung adalah pengalaman yang berbeda.

Ruangan itu luas, sangat luas, dengan langit-langit setinggi enam meter yang memberikan kesan agung namun mengintimidasi. Dinding kaca raksasa membentang dari lantai ke plafon, menyajikan panorama cakrawala Jakarta di malam hari, lautan lampu gedung pencakar langit yang berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Lantainya terbuat dari marmer statuario putih dengan urat abu-abu tegas, begitu mengkilap hingga Arini takut memijaknya.

Desain interiornya bergaya minimalis modern. Dominasi warna monokrom: hitam, putih, abu-abu, dan aksen metalik. Sofa kulit berwarna charcoal tertata presisi di tengah ruangan, diapit oleh lampu gantung abstrak yang terlihat lebih seperti instalasi seni daripada sumber cahaya.

Indah. Luar biasa indah.

Dan benar-benar mati.

Tidak ada foto keluarga. Tidak ada tanaman hias yang memberikan kehidupan. Tidak ada bantal sofa yang sedikit berantakan. Ruangan ini terasa steril, seperti lobi hotel bintang lima atau ruang operasi bedah yang sangat mahal. Ini adalah cerminan jiwa pemiliknya: sempurna, dingin, dan tak tersentuh.

"Reza, tunjukkan kamarnya," perintah Adrian sambil melepas jasnya dan melemparnya sembarangan ke sandaran sofa, satu-satunya tindakan 'manusiawi' yang ia lakukan sejak tadi. Ia melonggarkan dasinya, lalu berjalan menuju area bar mini di sudut ruangan, seolah keberadaan Arini sudah tidak lagi relevan baginya.

"Mari, Nona," ajak Reza.

Arini melangkah ragu. Sepatu safety-nya meninggalkan jejak debu tipis di atas marmer putih itu. Ia meringis. Ia ingin melepas sepatunya, tapi bertelanjang kaki di lantai sedingin ini rasanya sama tidak sopannya.

Reza membawanya menyusuri lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan abstrak bernilai miliaran rupiah. Di ujung lorong, Reza membuka sebuah pintu ganda berwarna hitam matte.

"Ini kamar Anda, Nona."

Arini melangkah masuk dan terpana. Kamar itu sendiri lebih besar dari luas rumah kontrakannya dulu. Sebuah ranjang king size dengan seprai sutra abu-abu mendominasi ruangan. Ada walk-in closet yang pintunya terbuka, memperlihatkan deretan pakaian-pakaian bermerek yang masih berlabel, tergantung rapi menunggu pemilik baru. Tas-tas tangan, sepatu hak tinggi, perhiasan semuanya sudah tersedia.

"Tuan Adrian sudah memerintahkan tim stylist untuk mengisi lemari Anda sesuai dengan ukuran yang tertera di data medis Anda," jelas Reza. Asisten itu kemudian menunjuk ke arah tumpukan kotak kardus kosong di sudut ruangan. "Dan sesuai instruksi Tuan Adrian, semua pakaian lama Anda harus dimasukkan ke sana untuk dimusnahkan. Kecuali dokumen penting."

Arini menoleh cepat. "Dimusnahkan? Tapi... kemeja ini... ini hadiah ulang tahun dari Bapak." Suaranya bergetar.

Reza menatapnya dengan sorot mata yang sedikit melunak, sebuah simpati yang nyaris tak terlihat. "Maaf, Nona. Tuan Adrian ingin memastikan tidak ada jejak masa lalu yang bisa dilacak oleh media. Image Anda mulai besok adalah calon istri dari keluarga Mahardika. Segala sesuatu yang berhubungan dengan... kehidupan lama Anda, dianggap sebagai risiko."

Risiko.

Kenangan Arini, keringatnya, perjuangannya - semuanya direduksi menjadi sebuah 'risiko' bisnis.

Arini merasakan matanya memanas. Ia tidak ingin menangis di depan Reza, apalagi di rumah pria angkuh itu. Ia menarik napas panjang, berusaha menguatkan dinding pertahanannya.

"Baik," jawab Arini pendek. "Ada lagi?"

"Kamar mandi ada di sebelah sana. Air hangat sudah disiapkan. Anda harus bersiap tidur karena besok jadwal Anda sangat padat. Jam 6 pagi, make-up artist akan datang." Reza meletakkan sebuah kartu akses berwarna hitam di atas meja nakas. "Ini akses untuk lift dan pintu depan. Tolong jangan hilangkan. Keamanan di sini sangat ketat."

Reza membungkuk sedikit, lalu berbalik pergi. Namun, di ambang pintu, ia berhenti sejenak.

"Nona Arini," panggilnya tanpa menoleh.

"Ya?"

"Tuan Adrian... dia bukan orang jahat. Dia hanya... rumit. Dan dia sangat protektif terhadap apa yang menjadi miliknya."

Sebelum Arini sempat mencerna kalimat itu, Reza sudah menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.

Kini Arini sendirian.

Keheningan kembali menyergap. Arini berjalan menuju jendela besar di kamarnya. Dari ketinggian lantai 45 ini, Jakarta tampak kecil. Orang-orang di bawah sana tampak seperti semut. Masalah-masalah mereka mungkin tampak sepele dari sini. Tapi bagi Arini, masalahnya justru terasa semakin membesar, menghimpit dadanya hingga sesak.

Ia mulai melepas kemeja flanelnya. Bau keringat dan debu menguar, aroma kerja keras yang selama ini ia banggakan. Dengan tangan gemetar, ia melipat kemeja itu. Bukan untuk dibuang, tapi untuk ia sembunyikan di bagian paling dasar dari koper kecil yang ia bawa berisi dokumen-dokumen ayahnya. Adrian boleh membeli hidupnya, tapi dia tidak berhak menghapus sejarahnya.

Ia berjalan ke kamar mandi. Bahkan kamar mandinya pun berteriak kemewahan. Bathtub jacuzzi yang cukup untuk dua orang, dinding marmer hitam, dan perlengkapan mandi dari brand Eropa yang harganya mungkin setara gaji bulanannya dulu.

Arini menatap wajahnya di cermin wastafel. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas. Pucat. Ketakutan.

"Kamu bisa melakukan ini, Rin," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. "Demi Bapak."

Setelah mandi dan berganti pakaian dengan piyama sutra yang terasa asing di kulitnya, terlalu licin, terlalu ringan Arini merasa seperti orang asing di tubuhnya sendiri. Ia keluar dari kamar mandi, mematikan lampu utama, dan merangkak naik ke atas ranjang raksasa itu.

Kasurnya empuk, seolah memeluk tubuhnya, namun dingin.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.

Arini tersentak, refleks menarik selimut hingga menutupi dadanya. Jantungnya berpacu liar.

Adrian berdiri di ambang pintu. Ia sudah tidak mengenakan rompi jasnya. Kemeja putihnya yang mahal itu kini sedikit berantakan, lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang dan sebuah jam tangan Patek Philippe yang berkilau di bawah temaram lampu lorong.

Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap tajam dan waspada. Ia tidak masuk ke dalam kamar, hanya berdiri di sana, memindai ruangan seolah memastikan Arini tidak menyembunyikan bom.

"Satu hal lagi," suara Adrian rendah, memecah kesunyian malam.

Arini menelan ludah, mencengkeram selimutnya lebih erat. "Ya?"

"Pesan yang kau lihat di ponselku tadi," ucap Adrian datar. "Lupakan."

"Lupakan?" Arini memberanikan diri untuk bertanya, suaranya sedikit parau. "Ada orang yang bilang aku membawa kutukan, Pak Adrian. Dan dia bilang sedang mengawasi. Bagaimana bisa saya melupakannya?"

Adrian melangkah maju satu langkah, masuk ke dalam area kamar. Bayangannya jatuh menimpa kaki ranjang Arini. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi berat, penuh tekanan yang menyesakkan.

"Karena kau tidak dibayar untuk takut," jawab Adrian tajam. "Kau dibayar untuk tersenyum, berdiri di sampingku, dan meyakinkan Kakek bahwa kita adalah pasangan paling bahagia di dunia. Urusan ancaman, teror, atau 'kutukan' konyol itu... itu urusanku."

Ia menatap Arini tepat di manik mata. Untuk pertama kalinya malam ini, Arini melihat sesuatu di balik topeng dingin itu. Bukan kehangatan, bukan juga kebencian. Tapi sebuah tekad yang mengerikan. Tekad seorang predator yang siap membunuh siapa saja yang mengganggu wilayahnya.

"Mulai detik ini, kau tinggal di menara gadingku, Arini. Di sini, musuh tidak bisa menyentuhmu kecuali aku mengizinkannya," Adrian melanjutkan, suaranya turun menjadi bisikan yang berbahaya. "Tapi ingat satu hal..."

Ia menunjuk ke arah pintu balkon yang terkunci, lalu ke arah ponsel baru yang tergeletak di meja nakas, ponsel yang belum sempat Arini sentuh.

"Musuh terbesar kita bukan orang yang mengirim pesan itu."

Alis Arini bertaut bingung. "Lalu siapa?"

Adrian tersenyum miring, sebuah senyum sinis yang tidak mencapai matanya.

"Perasaanmu," jawab Adrian dingin. "Jangan pernah melibatkan perasaan dalam sandiwara ini. Karena begitu kau mulai berharap lebih, atau berpikir bahwa pernikahan ini nyata..."

Adrian membiarkan kalimatnya menggantung di udara, menciptakan ancaman yang jauh lebih menakutkan daripada teror fisik mana pun.

"Istirahatlah. Besok perang yang sesungguhnya dimulai."

Tanpa menunggu jawaban, Adrian berbalik dan menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang tegas. Mengunci Arini di dalam sangkar emasnya.

Arini terpaku dalam kegelapan. Napasnya memburu. Ia melirik ke arah ponsel baru di meja nakas. Layarnya menyala sebentar, menampilkan notifikasi.

Bukan dari Adrian. Bukan dari Reza.

Itu dari nomor tidak dikenal yang sama.

Selamat datang di neraka, Kakak Ipar. Dia tidak memberitahumu tentang istri pertamanya, kan?