Cinta Kontrak Sang CEO Klausul Tanpa Rasa
2/20
Bab 2

Klausul Tanpa Rasa

Udara di lantai lima puluh Mahardika Tower terasa jauh lebih tipis, seolah oksigen enggan mampir ke ruangan yang didominasi kaca, marmer hitam, dan arogansi pria di hadapannya.

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, berat dan menekan dada. Apakah kamu siap menjual kebebasanmu demi nyawa ayahmu?

Arini Putri merasakan darahnya berdesir hebat, naik dari ujung kaki hingga memanaskan wajahnya yang pucat. Ia mencengkeram pinggiran meja mahoni yang dingin itu, berusaha menahan getaran tangannya. Di bawah sana, di balik meja yang memisahkan status sosial mereka bak langit dan bumi, sepatu safety Arini yang berdebu mengetuk lantai marmer dengan irama gelisah. Ia sadar betapa kotor penampilannya saat ini - kemeja flanel kedodoran, celana jeans belel yang sobek di lutut karena tersangkut besi cor tadi pagi, dan rambut yang pasti sudah berantakan.

Kontras dengan Adrian Mahardika. Pria itu duduk bersandar di kursi kulitnya yang megah, tampak tak tersentuh debu sedikit pun. Jas charcoal yang membalut tubuh tegapnya tidak memiliki satu pun kerutan. Aroma sandalwood dan musk yang menguar darinya bukan sekadar wangi parfum; itu adalah aroma kekuasaan.

"Anda gila," desis Arini. Suaranya serak, separuh karena kelelahan, separuh lagi karena amarah yang tertahan. "Anda pikir pernikahan itu mainan? Transaksi dagang yang bisa Anda beli seenaknya?"

Adrian tidak berkedip. Ia memutar pena emas di jari-jarinya yang panjang dengan gerakan lambat dan terukur. Suara 'klik' pelan saat ia meletakkan pena itu di atas map kulit hitam terdengar seperti vonis hakim.

"Saya tidak bermain-main, Arini. Saya berbisnis," jawab Adrian. Bariton suaranya rendah, tanpa emosi, namun mampu membuat bulu kuduk Arini meremang. "Dan dalam bisnis, kita bicara soal aset dan liabilitas. Saat ini, kamu dan perusahaan ayahmu adalah liabilitas terbesar. Saya menawarkan solusi untuk mengubahnya menjadi aset."

"Dengan menjadikan saya istri pura-pura?" Arini tertawa getir. Tawa yang terdengar sumbang di ruangan sunyi itu. "Maaf, Pak Adrian yang terhormat. Harga diri saya tidak dijual. Masih ada cara lain. Saya bisa mengajukan banding ke bank, saya bisa mencari investor lain."

"Investor mana?" potong Adrian tajam.

Pria itu bangkit berdiri. Tubuhnya yang menjulang setinggi 188 sentimeter seolah menelan cahaya matahari senja yang merembes masuk dari jendela raksasa di belakangnya. Bayangannya jatuh menimpa Arini, mengurung gadis itu dalam kegelapan.

Adrian melangkah memutari meja, mendekat dengan langkah predator yang senyap. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Arini, memaksanya mendongak.

"Rekening Wijaya Konstruksi sudah dibekukan per jam dua siang tadi. Truk molen di proyek Apartemen Cempaka sudah diputar balik karena vendor belum dibayar tiga bulan. Dan rumahmu..." Adrian menunduk sedikit, tatapan matanya yang gelap menusuk langsung ke manik mata Arini. "Surat penyitaan bank akan ditempel di pagar rumahmu besok pagi. Kamu mau ayahmu pulang dari rumah sakit dan melihat stiker 'DILELANG' di pintu rumah yang ia bangun dengan keringatnya sendiri?"

Arini terhuyung mundur selangkah. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik. Ia tahu kondisi perusahaan buruk, tapi ia tidak menyangka kiamat itu datang secepat ini. Kurang dari dua puluh empat jam.

"Ba-bagaimana Anda tahu sedetail itu?" bisik Arini.

"Saya selalu melakukan riset sebelum membeli sesuatu," jawab Adrian dingin. "Termasuk saat membeli utang kalian."

Arini merasa mual. Pria ini bukan manusia. Dia mesin kalkulasi yang berjalan. Adrian melihat keputusasaan di wajah Arini, namun alih-alih melunak, ia justru menekan tombol interkom di mejanya.

"Reza, bawakan berkas medis terbaru Wijaya Kusuma."

"Baik, Pak."

Pintu kayu eboni yang berat terbuka nyaris tanpa suara. Reza, asisten pribadi Adrian yang berwajah tenang dan berkacamata, masuk membawa sebuah tablet. Ia tidak menatap Arini - mungkin kasihan, atau mungkin sudah biasa melihat korban 'negosiasi' bosnya hancur di ruangan ini. Reza menyerahkan tablet itu pada Arini dengan sopan.

"Ini data real-time dari RS Jantung Harapan Kita," ujar Reza pelan. "Saturasi oksigen Pak Wijaya turun drastis sepuluh menit yang lalu. Dokter menyarankan operasi bypass dilakukan paling lambat besok lusa. Estimasi biaya beserta perawatan pasca-operasi di Singapura yang Pak Adrian tawarkan adalah satu miliar rupiah."

Arini menatap layar tablet itu dengan pandangan kabur. Grafik-grafik yang tidak ia pahami, namun angka-angka merah di sana jelas menunjukkan bahaya. Satu miliar. Uang sebanyak itu tidak mungkin ia dapatkan dalam semalam, bahkan jika ia menjual ginjalnya sekalipun.

Ponsel di saku celana jeans Arini bergetar panjang. Sebuah nama muncul di layar retaknya: Suster Ani - ICU.

Jantung Arini seakan berhenti berdetak. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol hijau.

"Halo, Mbak Arini?" Suara di seberang sana terdengar panik. "Mbak bisa ke rumah sakit sekarang? Bapak... Bapak sempat henti napas sebentar tadi. Dokter butuh persetujuan tindakan segera, dan bagian administrasi menanyakan soal deposit..."

Dunia Arini runtuh.

Suara bising AC sentral, deru napasnya sendiri, dan detak jam dinding seolah lenyap. Yang tersisa hanya dengungan statis di telinganya dan wajah ayahnya yang terbayang - kurus, lemah, namun selalu tersenyum bangga saat Arini wisuda Arsitektur setahun lalu. Ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Pahlawannya.

Arini mematikan sambungan telepon tanpa menjawab. Ia tidak punya jawaban untuk Suster Ani. Tidak jika ia keluar dari ruangan ini sebagai Arini yang idealis.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Matanya yang tadi berkaca-kaca kini mengering, digantikan oleh sorot lelah dari seseorang yang baru saja menyerah pada takdir.

"Mana penanya?"

Adrian tidak tersenyum. Tidak ada tanda kemenangan di wajah pahatan marmer itu. Ia hanya menggeser map kulit hitam itu kembali ke hadapan Arini dan meletakkan pena emasnya di atas kertas.

"Baca dulu," perintah Adrian datar. "Saya tidak mau kamu menuduh saya menipu di kemudian hari."

Arini membuka map itu dengan kasar. Huruf-huruf tebal bertuliskan PERJANJIAN PERKAWINAN seolah mengejeknya. Ia memindai isinya dengan cepat, mengabaikan pasal-pasal tentang pembagian aset dan tunjangan bulanan yang jumlahnya fantastis. Matanya terkunci pada Pasal 6, yang dicetak tebal.

PASAL 6: BATASAN HUBUNGAN 1. Pihak Kedua (Istri) wajib menjaga citra baik Pihak Pertama (Suami) di hadapan publik dan keluarga besar Mahardika. 2. Pernikahan ini bersifat kontrak selama 1 (satu) tahun kalender. 3. Tidak ada kewajiban nafkah batin antara kedua belah pihak. 4. Pihak Kedua DILARANG KERAS melibatkan perasaan romantis atau jatuh cinta kepada Pihak Pertama. Jika hal ini terjadi, kontrak dianggap batal demi hukum dan Pihak Kedua wajib mengembalikan seluruh dana talangan yang telah dikeluarkan Pihak Pertama beserta bunga berjalan.

Arini mendengus kasar membaca poin terakhir. "Dilarang jatuh cinta? Anda narsis sekali, Pak Adrian. Jangan khawatir. Siapa pun wanita waras di dunia ini tidak akan jatuh cinta pada manusia berhati batu seperti Anda."

Untuk sepersekian detik, Arini melihat kilatan aneh di mata Adrian. Bukan kemarahan, tapi sesuatu yang lebih gelap. Mungkin rasa sakit? Namun kilatan itu hilang secepat ia muncul, tertutup kembali oleh topeng dingin sang CEO.

"Bagus," sahut Adrian singkat. "Tanda tangan di sebelah kanan."

Arini mengambil pena emas itu. Terasa berat dan dingin di jari-jarinya yang kasar. Tinta hitam mengalir lancar di atas kertas mahal itu, membentuk nama Arini Putri. Goresan itu bukan hanya tanda tangan; itu adalah penyerahan diri. Detik pena itu diangkat, Arini tahu hidupnya bukan lagi miliknya.

Adrian mengambil kembali map itu, memeriksa tanda tangan Arini sekilas, lalu menutupnya dengan bunyi plak yang final.

"Reza," panggil Adrian tanpa menoleh.

"Ya, Pak."

"Transfer dana ke rumah sakit sekarang. Pastikan tim dokter terbaik disiapkan untuk operasi Pak Wijaya besok pagi. Dan lunasi utang Wijaya Konstruksi ke bank pengakuisisi malam ini juga."

"Baik, Pak. Sudah diproses."

Efisiensi mereka mengerikan. Masalah yang mencekik Arini selama berbulan-bulan, yang membuatnya tidak bisa tidur dan makan, lenyap hanya dengan satu jentikan jari Adrian Mahardika. Arini merasa kecil. Ia merasa dibeli.

"Sekarang," Adrian kembali menatap Arini, kali ini pandangannya menyapu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan kritis yang membuat Arini merasa telanjang. "Kita urus masalah berikutnya. Penampilanmu."

Arini refleks menyilangkan tangan di dada. "Apa yang salah dengan penampilan saya? Saya baru dari lokasi proyek."

"Kamu sekarang calon istri Adrian Mahardika, bukan mandor bangunan," ujar Adrian tajam. Ia berjalan kembali ke kursi kebesarannya, duduk, dan mulai membuka laptop, seolah Arini sudah tidak penting lagi. "Reza akan mengantarmu ke butik langganan ibu saya. Buang semua baju lusuh itu. Malam ini kamu pindah ke penthouse saya."

"Apa?" Arini membelalak. "Tunggu dulu! Di kontrak tertulis saya harus tinggal bersama Anda setelah menikah. Kita belum menikah!"

"Kakek saya akan datang besok pagi untuk sarapan. Dia ingin melihat calon cucu menantunya," Adrian berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. "Dan saya tidak akan membiarkan dia melihatmu dengan sepatu safety penuh lumpur itu."

"Tapi ayah saya..."

"Ayahmu akan dijaga 24 jam oleh perawat pribadi di VIP. Kamu tidak bisa melakukan apa-apa di sana selain menangis dan membuat dokter stres," potong Adrian kejam namun logis. "Lakukan bagianmu, Arini. Jadilah boneka yang cantik. Itu saja tugasmu."

Arini mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Rasa perih itu menahannya untuk tidak melempar stapler ke wajah tampan yang menyebalkan itu. Ia ingin berteriak, memaki, menumpahkan segala kekesalan atas ketidakadilan ini.

Tapi kemudian, notifikasi masuk ke ponselnya. Bukti transfer dari Mahardika Group ke rekening rumah sakit. Lunas.

Amarah itu surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Ia sudah menjual jiwanya pada iblis. Sekarang, ia harus menari sesuai irama gendang si iblis.

"Baik," ucap Arini lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Ia berbalik, menyeret langkah kakinya yang berat menuju pintu keluar.

"Satu hal lagi, Arini," suara Adrian menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.

Arini menoleh, berharap ada sedikit belas kasih atau setidaknya kata-kata penenang.

Adrian mengangkat wajahnya dari laptop, tatapannya tajam dan mematikan.

"Jangan pernah berpikir untuk kabur. Karena di detik kamu melangkah keluar dari kesepakatan ini, alat penunjang hidup ayahmu akan saya cabut."

Pintu tertutup di belakang Arini, meninggalkan rasa dingin yang menusuk tulang. Namun, yang tidak ia ketahui, di dalam ruangan itu, Adrian Mahardika tidak kembali bekerja. Pria itu menatap tangan kanannya, tangan yang baru saja bersalaman dengan Arini saat kesepakatan terjadi tadi. Ada noda debu proyek yang tertinggal di telapak tangannya yang bersih.

Adrian mengambil tisu basah, menggosok noda itu dengan kasar hingga kulitnya memerah, seolah debu itu adalah racun. Tapi di balik rasa jijiknya pada kekotoran, jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat dari biasanya. Bukan karena cinta, tapi karena ia baru saja memasukkan seekor burung liar ke dalam sangkarnya, dan ia punya firasat burung ini akan mematuk jerujinya sampai hancur.

Dari balik bayang-bayang koridor lift, sepasang mata lain mengawasi kepergian Arini. Seseorang mengeluarkan ponsel, mengetik pesan singkat, lalu mengirimkannya.

Dia sudah menandatanganinya. Rencana B dimulai.