Cinta Kontrak Sang CEO Sangkar Emas di Atas Awan
3/20
Bab 3

Sangkar Emas di Atas Awan

Bunyi klik dari pena emas itu terdengar seperti letusan pistol di ruangan yang sunyi senyap.

Arini Putri meletakkan benda mahal itu di atas meja mahoni yang dingin. Jemarinya gemetar, bukan karena dinginnya suhu ruangan yang diatur rendah, melainkan karena guncangan hebat yang baru saja meruntuhkan sisa-sisa harga dirinya. Tinta hitam di atas kertas putih itu masih basah, mengilap di bawah sorotan lampu gantung minimalis yang menggantung angkuh di langit-langit kantor Adrian Mahardika.

Itu bukan sekadar tanda tangan. Itu adalah vonis.

"Selesai," gumam Arini. Suaranya serak, nyaris hilang ditelan dengung halus pendingin udara. Tenggorokannya terasa kering, seolah ia baru saja menelan pasir.

Adrian tidak segera menjawab. Pria itu menarik kertas kontrak tersebut dengan gerakan luwes namun tegas, seolah sedang mengamankan aset berharga yang baru saja ia akuisisi. Matanya yang tajam menelusuri tanda tangan Arini, memastikan setiap goresan tinta sah secara hukum. Tidak ada emosi di wajahnya, tidak ada kemenangan, tidak ada rasa kasihan. Hanya kepuasan dingin seorang pebisnis yang baru saja menutup kesepakatan menguntungkan.

"Pilihan cerdas, Arini," ujar Adrian datar. Ia menutup map kulit itu dan meletakkannya di tumpukan dokumen keluar. "Dana satu miliar sudah masuk ke rekening rumah sakit. Tim legal saya juga sudah membereskan tunggakan bank Wijaya Konstruksi lima menit yang lalu."

Arini mematung. Tubuhnya yang berbalut kemeja flanel lusuh dan celana jins robek terasa semakin kecil di hadapan sosok Adrian yang menjulang dalam setelan jas charcoal tanpa cela. Ia merasa telanjang. Kotor. Sepatu safety miliknya yang berdebu meninggalkan jejak samar di lantai marmer Italia yang mengilap, menjadi bukti betapa tidak pantasnya ia berada di menara gading ini.

"Ayah saya..." Arini mencoba menegakkan kepalanya, menolak untuk terlihat menyedihkan meski matanya terasa panas. "Kapan operasi dilakukan?"

"Besok pagi. Dokter spesialis terbaik dari Singapura sudah mendarat di Soekarno-Hatta satu jam yang lalu. Mereka sedang menuju RS Jantung Harapan Kita," jawab Adrian tanpa menatapnya. Ia sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. "Sekarang, prioritasmu bukan lagi menjadi anak yang berbakti. Prioritasmu adalah menjadi tunangan Adrian Mahardika."

Adrian akhirnya mendongak. Tatapannya menyapu penampilan Arini dari ujung rambut yang kusut hingga ujung kaki yang kotor. Ada kilatan jijik yang tidak ditutup-tutupi di sana, membuat perut Arini mual.

"Dan tunangan saya tidak boleh terlihat seperti pengemis yang baru saja keluar dari lokasi konstruksi runtuh."

Kata-kata itu menampar Arini lebih keras daripada bentakan kasar mana pun. Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuh, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga terasa perih. Ia ingin berteriak, ingin melempar vas bunga di meja itu ke wajah sombong Adrian, tapi bayangan ayahnya yang terbaring lemah dengan selang ventilator menahan ledakan amarah itu.

Ia sudah dibeli. Dan barang dagangan tidak punya hak untuk protes.


Pintu ruangan terbuka perlahan. Reza masuk dengan langkah senyap, membawa aura efisiensi yang menenangkan di tengah ketegangan yang menyesakkan. Pria berkacamata itu membawa sebuah tablet dan paper bag kecil. Ia tidak tampak terkejut melihat kondisi Arini yang berantakan; wajahnya tetap datar namun sopan.

"Pak Adrian, mobil sudah siap di lobi. Dan Nyonya Besar baru saja menelepon, menanyakan kepastian sarapan besok pagi," lapor Reza. Ia kemudian beralih pada Arini, menyodorkan paper bag tersebut. "Nona Arini, ini tisu basah dan hand sanitizer. Mungkin Anda ingin... membersihkan diri sedikit sebelum kita turun."

Arini menerima bungkusan itu dengan canggung. Rasa malu kembali menyergapnya. Bahkan asisten Adrian pun menyadari betapa kotornya dia.

"Terima kasih, Mas Reza," ucap Arini pelan.

"Reza," koreksi Adrian tajam. "Dia bukan temanmu. Mulai sekarang, kau harus membiasakan diri dengan hierarki. Reza bekerja untuk saya, dan karena kau sekarang milik saya, dia juga bekerja untuk melayanimu. Jangan panggil dia 'Mas' seperti dia mandor bangunanmu."

Reza hanya menunduk sedikit, tidak membantah, meski Arini menangkap kilatan simpati di balik lensa kacamatanya.

"Bawa dia ke penthouse," perintah Adrian sambil berdiri. Sosoknya yang setinggi 188 cm mendominasi ruangan, seolah menyedot seluruh oksigen yang tersisa. Ia berjalan memutari meja, berhenti tepat di depan Arini. Jarak mereka begitu dekat hingga Arini bisa mencium aroma sandalwood dan musk yang menguar dari tubuh pria itu, aroma kekuasaan yang memabukkan sekaligus menakutkan.

Adrian mengulurkan tangan, seolah hendak menyentuh wajah Arini. Arini menahan napas, tubuhnya menegang, siap menepis. Namun, tangan Adrian tidak menyentuh kulitnya. Jari-jari panjang itu hanya mengambil sehelai benang kusut yang menempel di kerah kemeja flanel Arini, lalu menjentikkannya ke lantai dengan ekspresi datar.

"Malam ini, semua sampah ini harus hilang," ujar Adrian, matanya menatap tajam ke manik mata cokelat Arini. "Baju-baju murahmu, sepatu kotormu, dan sikap menyedihkanmu itu. Besok pagi, kau akan bertemu Kakek. Jika kau melakukan satu kesalahan saja, satu kesalahan kecil yang membuat Kakek merasa curiga, kau tahu konsekuensinya."

Arini menelan ludah. Ancaman tentang alat penopang hidup ayahnya kembali bergaung di kepalanya. "Saya mengerti."

"Bagus. Reza akan mengurus kepindahanmu malam ini. Jangan bawa apa pun dari rumah lamamu kecuali dokumen penting. Saya tidak mau apartemen saya terkontaminasi debu masa lalu," tambah Adrian kejam. Ia kemudian melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Arini yang masih terpaku di tempat.

Reza mendekat, suaranya kini lebih lembut. "Mari, Nona. Kita harus bergegas. Toko butik Nyonya Aida, ibunda Pak Adrian akan tutup satu jam lagi. Kita harus mencari pakaian yang pantas untuk pertemuan besok."

"Saya tidak bisa melihat Ayah dulu?" tanya Arini, nada suaranya terdengar putus asa. "Sebentar saja, Reza. Saya cuma mau memastikan dia baik-baik saja sebelum operasi."

Reza menggeleng pelan, wajahnya tampak menyesal. "Maaf, Nona. Perintah Pak Adrian mutlak. Jadwal Anda sudah diatur per menit. Setelah fitting baju, Anda harus langsung ke penthouse untuk mempelajari profil keluarga Mahardika. Pak Adrian tidak suka ketidaksiapan."

Arini menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia melirik sekilas ke arah jendela besar di belakang meja kerja Adrian. Di luar sana, langit Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala, menciptakan lautan bintang buatan yang indah namun dingin. Di suatu tempat di bawah sana, ayahnya sedang berjuang sendirian. Dan di sini, di puncak dunia, Arini baru saja kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

Ia menyeret kakinya yang terasa berat mengikuti Reza. Setiap langkah sepatu safety-nya di lantai marmer terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi Arini Putri yang lama.


Perjalanan turun dari lantai 50 menuju lobi terasa seperti terjun bebas. Lift kaca privat itu meluncur cepat, membawa Arini menjauh dari satu-satunya dunia yang ia kenal. Ia melihat pantulan dirinya di dinding kaca lift, seorang gadis kusam dengan mata lelah yang dikelilingi lingkaran hitam. Di sebelahnya, Reza berdiri tegak dengan setelan rapi, dan di depan mereka, punggung lebar Adrian tampak kokoh tak tertembus.

Mereka tiba di lobi utama Mahardika Tower. Suasana di bawah jauh lebih hidup, namun ketegangan yang dibawa Adrian membuat udara di sekitar mereka seolah membeku. Para pegawai yang kebetulan lembur langsung menyingkir, membungkuk hormat, atau pura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Tidak ada yang berani menatap mata sang CEO.

Namun, tatapan mereka jatuh pada Arini.

Bisik-bisik mulai terdengar. Arini menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik rambut yang berantakan. Ia sadar betapa kontrasnya pemandangan ini: Adrian Mahardika, sang pangeran bisnis, berjalan diiringi seorang gadis yang terlihat seperti baru saja selamat dari bencana alam.

"Jangan menunduk," suara Adrian terdengar rendah namun tajam, hanya bisa didengar oleh Arini. "Angkat kepalamu. Kau calon istri Adrian Mahardika. Menunduk hanya menunjukkan kelemahan."

Arini tersentak, refleks menegakkan lehernya. Ia memaksakan diri menatap ke depan, mengabaikan tatapan penuh tanya dari resepsionis cantik yang memandangnya dengan alis terangkat.

Sebuah mobil sedan hitam mengkilap, Rolls Royce Phantom sudah menunggu di depan lobi. Seorang sopir berseragam membukakan pintu belakang. Adrian masuk lebih dulu, gerakannya elegan tanpa cela. Arini menyusul ragu-ragu, takut debu di celananya akan mengotori jok kulit berwarna krem yang tampak seharga rumah tipe 36 itu.

"Masuk," perintah Adrian, tidak sabar.

Arini akhirnya duduk di ujung kursi, menjaga jarak sejauh mungkin dari Adrian. Pintu ditutup, mengisolasi mereka dari kebisingan Jakarta. Keheningan di dalam kabin mobil mewah itu terasa mencekik. Hanya ada suara dengungan halus mesin dan napas Arini yang tidak teratur.

Reza duduk di kursi depan, di samping sopir. Mobil mulai bergerak membelah kemacetan ibu kota. Arini menatap jalanan yang macet lewat jendela yang gelap. Ia melihat orang-orang yang berdesakan di halte bus, pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan, dan ojek online yang menyalip berbahaya. Dulu, ia adalah bagian dari mereka. Ia adalah arsitek idealis yang bermimpi membangun perumahan murah untuk rakyat.

Sekarang, ia duduk di dalam sangkar besi seharga miliaran rupiah, dijual demi melunasi dosa bisnis ayahnya.

Tiba-tiba, ponsel Adrian bergetar. Pria itu mengangkatnya, mendengarkan sejenak, lalu rahangnya mengeras.

"Apa maksudmu bocor?" suara Adrian dingin, namun ada ancaman yang nyata di sana. Arini melirik takut-takut.

"Saya tidak membayar kalian untuk membuat alasan," lanjut Adrian, matanya menyipit berbahaya. "Cari tahu siapa sumbernya. Jika foto itu sampai naik cetak besok pagi, pastikan karir jurnalis itu tamat sebelum matahari terbit."

Adrian memutus sambungan telepon dengan kasar, lalu melempar ponselnya ke kursi kosong di antara mereka. Ia memijat pelipisnya, tanda frustrasi yang jarang ia perlihatkan.

"Ada masalah?" tanya Arini bodoh. Seharusnya ia diam saja, tapi keheningan ini membuatnya gila.

Adrian menoleh perlahan, tatapannya menusuk. "Ada yang memotret kita saat kau masuk ke gedung tadi sore. Foto kau dengan pakaian gembel ini. Gosip murahan mulai beredar bahwa Mahardika Group sedang merekrut buruh kasar untuk posisi eksekutif, atau lebih parah... bahwa Adrian Mahardika punya selera rendahan."

Wajah Arini memerah padam. "Maaf..."

"Simpan maafmu," potong Adrian. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Arini. Jarak mereka menipis lagi. Kali ini, Arini bisa melihat gurat kelelahan di balik wajah tampan itu, namun tertutup rapat oleh topeng arogansi. "Rencana berubah. Kita tidak bisa membiarkan media berspekulasi liar. Besok pagi, kau tidak hanya sarapan dengan Kakek. Kau akan diperkenalkan secara resmi sebagai tunanganku di depan pers setelah pertemuan keluarga."

"Apa?!" Arini terbelalak. "Tapi di kontrak tertulis..."

"Kontrak itu saya yang buat, saya yang bisa mengubah aturannya sesuai kebutuhan situasi," desis Adrian. "Persiapkan mentalmu. Mulai besok, seluruh Indonesia akan menelanjangi hidupmu. Mereka akan mencari tahu siapa orang tuamu, di mana sekolahmu, dan berapa hutang keluargamu. Jika kau tidak sanggup berakting bahagia di depan kamera, kita berdua hancur. Dan ingat, jika saya hancur, tabung oksigen ayahmu akan dicabut."

Mobil berbelok memasuki area basement sebuah apartemen mewah di kawasan Sudirman. Penthouse pribadi Adrian. Tempat yang akan menjadi penjara Arini selama satu tahun ke depan.

Saat mobil berhenti, Arini merasakan getaran aneh di saku celananya. Bukan ponselnya, baterainya sudah mati sejak siang tadi. Itu ponsel Adrian yang tergeletak di jok. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal.

Arini tidak bermaksud mengintip, tapi matanya menangkap kalimat yang terpampang jelas di layar tersebut sebelum layar itu kembali gelap.

Hati-hati, Kak. Ratu barumu membawa kutukan. Aku sedang mengawasi.

Jantung Arini berdegup kencang. Ia menatap Adrian yang sudah bersiap turun, tampak tidak menyadari pesan itu. Siapa pengirimnya? Dan apa maksudnya dengan "mengawasi"?

"Turun," perintah Adrian, membuyarkan lamunan Arini. Pintu mobil terbuka.

Arini melangkah keluar, menyambut udara basement yang lembap. Ia mendongak menatap gedung tinggi di atasnya. Di lantai paling atas sana, sangkar emasnya sudah menunggu. Namun, pesan misterius tadi memberinya firasat buruk. Ia tidak hanya masuk ke dalam pernikahan kontrak tanpa cinta. Ia baru saja melangkah ke dalam medan perang yang ia tidak tahu siapa musuhnya.

Dan musuh itu tahu dia ada di sini.