Cinta Kontrak Sang CEO Bayangan di Cermin Emas
5/20
Bab 5

Bayangan di Cermin Emas

Kalimat itu berpendar di layar ponsel baru yang asing, seolah mengejek Arini dari balik kegelapan kamar.

"Dia tidak memberitahumu tentang istri pertamanya, kan?"

Dada Arini berdegup kencang, memukul-mukul rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Ia menatap deretan huruf itu, mencoba mencerna maknanya. Istri pertama? Seluruh artikel berita, gosip internet, bahkan narasi yang dibangun Reza selama negosiasi kontrak hanya menyebutkan satu wanita dalam masa lalu Adrian Mahardika: Clarissa, tunangannya yang meninggal dalam kecelakaan tragis lima tahun lalu. Tidak pernah ada kata "istri". Tidak pernah ada pernikahan yang tercatat.

Apakah ini jebakan? Atau ada lubang besar dalam skenario yang sedang ia mainkan?

Arini menoleh cepat ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Keheningan di penthouse lantai 45 ini terasa berbeda sekarang. Bukan lagi sekadar sunyi, tapi mengintai. Rasa dingin dari lantai marmer merambat naik melalui telapak kakinya yang telanjang, mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh saraf tubuhnya. Ia merasa diawasi.

Dengan tangan gemetar, Arini menekan tombol block pada nomor tidak dikenal itu. Namun, jarinya terhenti. Jika ia memblokirnya, ia menutup satu-satunya celah informasi yang ia miliki, informasi yang Adrian sembunyikan darinya.

"Hapus," bisiknya pada diri sendiri. "Hapus dan lupakan. Jangan cari masalah."

Namun, jempolnya justru menggeser pesan itu ke arsip tersembunyi. Insting bertahannya, insting yang ia asah selama bertahun-tahun menghadapi penagih hutang dan birokrasi yang rumit, mengatakan bahwa pengetahuan adalah senjata. Di rumah kaca ini, ia tidak punya senjata apa pun selain kewaspadaan.

Arini menyelipkan ponsel itu jauh ke bawah tumpukan bantal sutra yang licin. Ia menarik selimut tebal menutupi tubuhnya, berusaha memejamkan mata. Namun, aroma kamar ini, campuran linen mahal dan pengharum ruangan beraroma sandalwood yang maskulin terus mengingatkannya bahwa ia bukan lagi Arini Putri. Ia adalah properti yang baru saja dibeli.

Dan properti itu tidak berhak bertanya tentang masa lalu pemiliknya.


Pukul 05.30 pagi, langit Jakarta masih menyisakan semburat ungu pekat di ufuk timur. Arini terbangun bukan karena alarm, melainkan karena suara dengungan halus mesin kopi otomatis dari arah dapur.

Ia bangkit, tubuhnya terasa pegal meski tidur di atas kasur seharga mobil keluarga. Piyama sutra pemberian Adrian masih melekat di tubuhnya, terasa lembut namun asing, seolah kulit keduanya bukan miliknya sendiri. Ia berjalan keluar kamar, langkahnya ragu-ragu memecah kesunyian koridor yang luas.

Di area kitchen island yang didominasi marmer hitam, Adrian sudah berdiri di sana.

Pria itu tampak sudah siap sepenuhnya. Ia mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kencang, dan celana bahan berwarna abu-abu gelap. Tidak ada tanda-tanda ia baru bangun tidur. Rambutnya tertata rapi, wajahnya segar meski tatapan matanya setajam elang yang sedang berburu.

"Kamu terlambat tiga menit dari jadwal bangunmu," suara Adrian membelah udara, dingin dan datar tanpa menoleh. Ia sedang menyesap espresso-nya sambil membaca berita di tablet.

Arini mengerjap, melirik jam dinding digital yang menyatu dengan desain minimalis ruangan. "Maaf. Saya tidak biasa bangun tanpa alarm."

Adrian meletakkan cangkirnya dengan bunyi tak yang pelan namun tegas di atas meja marmer. Ia memutar tubuh, menatap Arini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan itu klinis, tanpa nafsu, seperti seorang arsitek yang sedang memeriksa retakan pada fondasi bangunan.

"Matamu bengkak," komentarnya tajam. "Kurang tidur?"

Jantung Arini mencelos. Apakah Adrian tahu? Apakah pria ini memasang penyadap di ponsel barunya? Pesan semalam kembali terbayang di benaknya. Istri pertama. Arini menelan ludah, berusaha menormalkan ekspresinya.

"Tempat tidur baru," jawab Arini beralasan, suaranya sedikit serak. "Saya butuh adaptasi."

"Beradaptasilah dengan cepat. Saya tidak membayar mahal untuk wajah yang terlihat menyedihkan," balas Adrian ketus. Ia melangkah mendekat, aroma kopi dan parfum mahal menguar darinya, mengintimidasi ruang gerak Arini. "Tim MUA (Make-Up Artist) akan sampai lima menit lagi. Reza sudah menyiapkan sarapanmu: oatmeal dan buah. Habiskan. Jangan sampai gula darahmu turun saat pemotretan nanti. Saya tidak punya waktu mengurus orang pingsan."

"Pemotretan?" Arini mengernyit. "Saya pikir hari ini kita hanya akan bertemu pengacara?"

Adrian mendengus pelan, seolah pertanyaan itu adalah bukti kebodohan Arini. "Kita akan mengumumkan pertunangan resmi besok. Foto pre-wedding dadakan diperlukan untuk rilis pers. Media butuh visual untuk percaya bahwa CEO Mahardika Group benar-benar jatuh cinta pada..." ia memberi jeda, matanya menyipit, "...gadis biasa sepertimu."

Kata-kata itu menusuk, tapi Arini menahan diri untuk tidak membalas. Ia ingat ayahnya. Ia ingat tumpukan tagihan rumah sakit. Ia ingat kontraknya.

"Baik, Pak Adrian."

"Adrian," koreksinya tajam. "Mulai detik ini, panggil aku Adrian. Biasakan lidahmu. Jika kau memanggilku 'Pak' di depan kamera, kontrak batal."

"Baik... Adrian." Nama itu terasa asing dan berat di lidahnya.

Tepat saat itu, bel penthouse berbunyi. Bukan bunyi bel standar, melainkan nada melodius yang lembut.

"Masuk!" seru Adrian.

Pintu ganda terbuka, menampilkan Reza yang memimpin rombongan kecil. Dua orang wanita dan satu pria kemayu masuk dengan membawa koper-koper besar bertingkat. Mereka bergerak cepat dan efisien, seperti pasukan khusus yang siap melakukan operasi militer, bedanya senjata mereka adalah kuas bedak dan hair dryer.

"Selamat pagi, Pak Adrian. Nona Arini," sapa Reza sopan, namun matanya langsung memeriksa penampilan Arini dengan kritis. "Kita punya waktu dua jam untuk transformasi total."

"Kerjakan," perintah Adrian sambil kembali mengambil tabletnya. "Buat dia terlihat layak bersanding denganku. Tapi jangan terlalu menor. Aku mau kesan elegan, bukan seperti penyanyi dangdut pantura."

Arini merasa wajahnya memanas. Penghinaan itu dilontarkan begitu santai, seolah Arini tidak berdiri di sana. Ia ingin marah, ingin melempar mangkuk buah di meja ke wajah tampan yang sombong itu. Tapi ia hanya mengepalkan tangan di samping tubuhnya, membiarkan kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Tahan, Arini. Ini demi Ayah.

"Mari, Nona Cantik," ujar pria kemayu itu, mungkin penata rambut utama sambil membimbing Arini duduk di kursi tinggi yang sudah disiapkan di dekat jendela besar. Cahaya matahari pagi kini membanjiri ruangan, menyoroti setiap inci wajah lelah Arini.

Proses itu dimulai. Dan bagi Arini, ini bukan sekadar berdandan. Ini adalah proses penghapusan.

Arini menatap pantulan dirinya di cermin besar yang dibawa oleh tim MUA. Ia melihat wajahnya perlahan berubah. Kantung matanya yang gelap tertutup concealer tebal. Kulit sawo matang miliknya yang sering terpapar matahari lokasi proyek kini dilapisi foundation mahal yang membuatnya tampak bercahaya dan mulus seperti porselen. Alisnya yang biasanya ia biarkan tumbuh alami kini dirapikan dan dibentuk tegas.

Setiap sapuan kuas terasa seperti mengikis identitasnya sedikit demi sedikit. Arini Putri, sarjana arsitektur yang suka memakai kemeja flanel dan sepatu kets, sedang dikubur hidup-hidup di bawah lapisan bedak ini.

"Tutup mata, Sayang," perintah sang make-up artist wanita.

Arini menurut. Dalam kegelapan sesaat itu, pikirannya kembali melayang pada pesan misterius semalam.

Istri pertama.

Kenapa Adrian harus merahasiakannya? Jika itu hanya masa lalu, kenapa harus disembunyikan serapat ini? Dan siapa pengirim pesan itu? Apakah musuh bisnis Adrian? Atau... wanita itu sendiri?

Sebuah tangan dingin menyentuh bahunya, membuat Arini tersentak kaget. Matanya terbuka lebar.

Adrian berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka berdua di cermin. Arini menahan napas. Transformasinya sudah selesai. Wanita di cermin itu tampak menawan dengan bibir dipulas warna nude yang elegan, rambut hitam bergelombang jatuh sempurna di bahu, dan gaun off-shoulder berwarna champagne yang memeluk tubuh rampingnya dengan sempurna.

Adrian tidak tersenyum. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Arini. Dari sudut ini, bagi siapa pun yang melihat, mereka tampak seperti pasangan yang sedang berbagi momen intim. Tapi Arini bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh pria itu.

"Sempurna," bisik Adrian, namun nadanya hampa. "Kamu terlihat persis seperti yang Kakek inginkan."

Arini menatap mata Adrian di cermin. Ada sesuatu yang ganjil di sana. Bukan kekaguman, bukan juga kepuasan. Ada kilatan emosi yang tertahan, apakah kemarahan? Kesedihan? Atau ketakutan?

Adrian menarik diri dengan cepat, seolah tersadar ia terlalu dekat. Ia merapikan kerah jasnya yang sebenarnya sudah rapi. "Reza, siapkan mobil. Kita berangkat lima menit lagi."

"Baik, Pak."

Saat Arini berdiri, berusaha menyeimbangkan tubuhnya di atas heels setinggi tujuh sentimeter yang menyiksa, Reza mendekat dan menyerahkan sebuah clutch (tas tangan kecil) mewah berwarna emas.

"Ponsel dan kartu akses Anda sudah di dalam, Nona," bisik Reza. "Juga tisu basah dan hand sanitizer Anda. Saya selipkan di kantong dalam."

Arini menatap Reza dengan rasa terima kasih. Setidaknya, ada satu orang di sini yang masih menganggapnya manusia yang punya kebutuhan, bukan sekadar manekin.

"Terima kasih, Mas Reza," ucapnya pelan.

Mereka berjalan menuju lift pribadi. Arini berjalan satu langkah di belakang Adrian, menatap punggung lebar pria itu yang terbalut jas custom-made dari Italia. Punggung yang tampak kokoh, mampu menopang kerajaan bisnis raksasa, namun menyimpan rahasia gelap yang kini mulai menghantui Arini.

Pintu lift terbuka. Adrian masuk lebih dulu, lalu menahan pintu dengan tangannya, sebuah gestur sopan santun yang terasa otomatis, bukan tulus.

Saat pintu logam itu menutup, mengurung mereka berdua dalam kotak kecil yang meluncur turun, Arini memberanikan diri. Rasa penasaran itu terlalu kuat, bercampur dengan ketakutan akibat pesan semalam.

"Adrian," panggilnya pelan.

Adrian tidak menoleh, matanya terpaku pada angka lantai yang berganti cepat. "Hm?"

"Tentang... masa lalu kamu," Arini memulai, suaranya sedikit bergetar. "Apakah ada hal lain yang perlu saya tahu sebelum kita bertemu media? Hal yang mungkin... sensitif?"

Tubuh Adrian menegang. Sangat halus, tapi Arini bisa melihat rahangnya mengeras.

"Kamu sudah membaca briefing dari Reza," jawab Adrian dingin. "Clarissa meninggal lima tahun lalu. Aku melajang sejak itu. Itu saja yang perlu dunia tahu. Itu saja yang perlu kamu tahu."

"Tapi..."

"Jangan memancing masalah, Arini," potong Adrian. Kali ini ia menoleh, menatap Arini dengan sorot mata memperingatkan. "Tugasmu hanya tersenyum dan terlihat bahagia. Jangan menggali kuburan masa lalu. Kamu tidak akan suka apa yang kamu temukan di sana."

Kata-kata itu membungkam Arini. Menggali kuburan. Pemilihan kata yang mengerikan.

Lift berdenting, menandakan mereka tiba di lobby privat. Pintu terbuka. Namun, sebelum mereka melangkah keluar, clutch di tangan Arini bergetar.

Sekali. Dua kali. Panjang.

Itu bukan notifikasi pesan biasa. Itu panggilan telepon.

Arini ragu sejenak, lalu melirik Adrian. Pria itu memberi isyarat dagu untuk mengangkatnya. "Mungkin dari rumah sakit tentang ayahmu. Angkat."

Arini buru-buru membuka tas kecil itu dan meraih ponselnya. Namun, nama yang tertera di layar bukanlah rumah sakit. Bukan juga Santi, sahabatnya.

Layar itu menampilkan tulisan: UNKNOWN NUMBER.

Jantung Arini berhenti berdetak sesaat. Dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo?"

Hening sejenak. Lalu, sebuah suara perempuan, lembut namun terdengar pecah dan serak, berbisik dari seberang sana. Suara yang terdengar seperti datang dari dasar sumur yang dalam.

"Gaun itu cantik, Arini... Tapi dia membencinya. Dia membenci warna champagne. Itu warna favoritku saat kami menikah..."

Darah Arini membeku. Ia menatap Adrian yang kini sedang sibuk mengecek jam tangannya, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang menghantam telinga Arini.

"Si... siapa ini?" tanya Arini tercekat.

Sambungan terputus.

Arini menurunkan ponselnya dengan lemas. Ia menatap gaun champagne yang ia kenakan. Gaun yang dipilihkan langsung oleh Adrian.

Adrian menoleh, melihat wajah pucat Arini. "Siapa? Ayahmu ada masalah?"

Arini menggeleng kaku, mulutnya terasa kering. "Bukan... hanya salah sambung."

Adrian mengerutkan kening, curiga, tapi Reza sudah muncul di depan lift dengan mobil yang menunggu.

"Ayo," perintah Adrian, meraih siku Arini dan menariknya keluar dari lift.

Sentuhan tangan Adrian terasa panas di kulit dingin Arini. Pria ini baru saja memakaikan gaun "istri pertamanya" pada tubuh Arini. Arini bukan hanya pengganti. Ia adalah reinkarnasi paksa dari seseorang yang seharusnya sudah tidak ada. Dan seseorang di luar sana, ada seseorang yang mengaku sebagai pemilik warna ini sedang menonton.