Tiba-Tiba Cinta Cinta Pertemuan
1/22
Bab 1

Cinta Pertemuan

Brush!  Suara muntahan benda cair yang seolah melaju hebat dari kerongkongan itu membuat Maya - si gadis pembersih toilet, berhenti dari aktivitasnya. Dengan tidak sabar karena ingin memastikan apa yang ia dengar, gadis itu mendorong pintu ruang toilet hingga tersentak dan ia terkejut melihat pemandangan di depan matanya.

Di toilet itu ada seorang lelaki bertubuh tinggi, dengan setelan jas berwarna putih terang yang menempel pas dan indah di tubuh proporsionalnya, seolah pakaian itu memang sengaja dijahit khusus untuknya.

Lelaki itu sendirian di sana dan tampak sangat kepayahan saat ia menyandarkan tubuh pada dinding, dengan noda darah berceceran di lantai sekitar ia berdiri dan juga di sebagian lengan bajunya yang tampak kontras.

Dari banyaknya darah yang Maya lihat menodai lantai dan baju pria itu, Maya berpikir bahwa pria itu pastilah menderita luka parah seperti sayatan dalam di area vital yang memungkinkannya kehilangan banyak darah.

Namun setelah Maya telisik sejenak, tubuhnya tampak bersih dari noda itu kecuali bagian lengan dan mulutnya.

Apakah dia muntah darah?

“Tuan, apakah Anda butuh bantuan?” Tak mau menebak lebih lanjut, Maya segera mendekat pada lelaki itu. Sebenarnya tak perlu menunggu jawaban lelaki itu, Maya tahu pasti lelaki itu butuh seseorang untuk membantunya.

Tatapan lelaki itu terlihat berbahaya ketika ia melihat Maya, seolah berkata. “Diam kau di sana! Jangan mendekat!”

Tetapi tanpa permisi, Maya menghambur mendekat dan meraih lengan lelaki itu untuk menopang tubuhnya yang walaupun tidak terlihat besar, ternyata cukup berat.

“Tidak perlu, aku–” tolaknya, namun terhenti ketika dia benar-benar kehilangan tenaga dan memilih bergantung pada kekuatan tubuh kecil Maya yang menopangnya tanpa takut, walaupun lelaki itu telah memasang wajah dingin mengerikan.

“Aku akan membawamu ke rumah sakit.” Tak memberi kesempatan pada pria itu untuk bereaksi, Maya membawanya keluar dari bilik toilet itu.

Baru berhasil keluar dari gedung pusat perbelanjaan - di mana Maya bekerja di sana sebagai pembersih toilet - dan menapaki area parkir, tubuh tinggi itu lunglai dan hampir terjungkal, andai saja Maya tak mempertaruhkan tubuh mungilnya sebagai tumpuan. Lelaki itu terhuyung tak mampu mengendalikan tubuhnya lagi, mulai kehilangan kesadarannya dan ambruk dalam pelukan Maya.

“Maaf … aku pasti akan berterimakasih dengan cara yang layak kepadamu.” Dia masih sempat berbisik, sebelum kesadarannya benar-benar terenggut oleh kegelapan dan hanya merasakan kehangatan tubuh Maya yang tak berusaha melepaskan diri darinya.

“Tolong … tolong ….” Maya mencoba mencari bantuan, saat melihat mobil taksi yang usai menurunkan penumpangnya. Karena ia merasa dirinya akan kalah dengan beban yang saat ini bertumpu pada tubuhnya. Tepatnya pada bahunya yang sempit.


Bau obat-obatan menyeruak bercampur aroma disinfektan yang khas, membuat lelaki itu mengernyitkan dahi sebelum akhirnya membuka mata. Dia langsung menyadari bahwa saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit.

Lelaki itu hanya bisa tersenyum getir. Pada akhirnya, sekuat apapun ia menolak dan mencoba menguatkan tubuhnya, dia akan berakhir di rumah sakit lagi dan lagi. Seperti sebelumnya.

Dalam kesunyian, memorinya menggeliatkan ingatan tentang seorang gadis bertubuh kecil yang menolongnya tadi malam. Dia mengedarkan pandangannya menyisir ruangan itu. Mencari-cari keberadaan gadis itu, barangkali masih menunggu di sana. Namun hanya kekosongan yang ia temukan. 

Tanpa sadar, kekecewaan merayap dalam hatinya. Ternyata, dia berharap gadis itu mau menunggunya. Sampai ia sadar, setidaknya.  Tetapi ia tahu itu mustahil.

Orang sepertinya, siapa yang akan sudi berdekat-dekatan dengannya - si pria penyakitan ini?

“Tuan Adrian.” Seseorang memanggilnya.

Ya, namanya Adrian. Adrian Wilfred Night. Dia adalah anak tunggal dari seorang Walikota.

Nama Adrian sendiri merujuk pada “pasir hitam yang gelap dan pekat” di laut Adriatik yang berada di zaman kuno Italia Utara. Sementara Wilfred Night, berarti kedamaian malam yang sebenarnya adalah sebuah harapan dari sang ayah untuk kedamaian anak itu sendiri.

Suara panggilan itu menyadarkannya dari lamunan, membuatnya menoleh pada arah sang pemilik suara, yang rupanya sudah menunggu sambutannya, berdiri mengambang di balik pintu ruangan yang sedikit terbuka.

“Masuklah,” ucapnya ringan.

Lelaki berparas rapih dengan kemeja formal yang merupakan supir pribadinya itu mendekat membawa sebuah bingkisan. 

Dengan penuh keingintahuan, Adrian bertanya. “Apa yang kau bawa, Jode?” 

Sopir itu menelan ludah sebelum menjawab dengan hati-hati. “Ini … Tuan, gadis yang membawa Anda tadi malam baru saja pergi dan meminta saya memberikan ini pada Anda.” Lelaki itu menyodorkan bawaannya pada sang tuan.

Adrian menerimanya penuh antusias, seakan-akan ia mendapatkan bongkahan berlian yang amat berharga.

Sang sopir pun tidak menyangka melihat reaksi Adrian yang tak seperti biasa.

Selama ini, dia mengenal Adrian sebagai sosok lelaki yang pendiam dan sulit bergaul. Seolah sengaja membuat orang lain menjauh darinya, Adrian selalu memasang ekspresi dingin di wajahnya. Namun di sisi lain, sang supir tahu bahwa itu adalah bentuk perlindungan diri tuannya yang tak mau terlibat masalah perasaan dengan orang lain, apalagi seorang perempuan.

Namun, sepertinya kali ini berbeda. Adrian tampak tersenyum saat membuka bingkisan di tangannya. 

Seiris roti yang dilipat dengan isian daging, sayur dan keju lumer serta sedikit saus di bagian luarnya, kini telah diambil oleh Adrian dari kantung kertas berwarna cokelat yang tadi diberikan oleh sopirnya. 

Sepertinya, gadis itu tidak menganggapnya menjijikan seperti kebanyakan orang! Padahal Adrian jelas-jelas menyusahkannya tadi malam.

Adrian tersenyum dengan penuh ketertarikan.  Gadis itu bahkan menganggapnya bisa memakan apa itu yang disebut Sandwich! Walau sedikit enggan, karena pada dasarnya Adrian tak menyukai jenis makanan ini, namun ia tetap memasukannya ke dalam mulutnya dan mencoba untuk menikmatinya.

“Hmh! Maya,” gumamnya, mengingat jelas PIN bertuliskan nama yang terpampang di kemeja Maya sebagai identitas seorang pekerja.

“Tuan, apakah Anda baik-baik saja?”  Melihat tingkah aneh tuannya, Jode-sang sopir tak tahan untuk bertanya. Kalau-kalau dokter yang menangani tuannya itu salah memberikan obat sehingga berpengaruh pada kinerja otak sang tuan.

“Hmm, aku sudah baik-baik saja. Segera urus kepulanganku pagi ini, aku tidak mau berlama-lama di sini,” jawab Adrian sambil lalu. Sambil menarik selang infus yang sebenarnya masih belum waktunya untuk dilepaskan.

“Tuan–” Jode hendak menghalangi Adrian, namun sudah tidak sempat. Adrian telah melewatinya bersama gigitan roti terakhirnya.

“Jadwalkan juga transfusi darah untukku malam ini,” lanjut Adrian sudah berlalu melewati pintu dan keluar dari ruangan tempatnya dirawat.

  • “Baik, Tuan.” Tak ada pilihan lain, sopirnya hanya bisa patuh dan mengabaikan apapun yang menjadi bentuk kekhawatirannya terhadap kondisi tubuh tuannya. Diam-diam, dia berdoa agar Adrian bisa menemukan kebahagiaan dalam hidupnya yang singkat itu.

Bersambung ....