Adrian menjejakan langkahnya, menapaki lantai kusam di ruangan itu dengan diikuti beberapa bodyguard di belakang tubuhnya.
Sosoknya yang memiliki tubuh tinggi, terlihat paling ramping di antara bodyguard -bodyguard itu. Sangat nampak bahwa ia tak segemar para bodyguardnya untuk sekedar mengolah tubuhnya.
Tetapi walaupun begitu, dialah yang terlihat paling terang. Paling bercahaya dengan kulit pucatnya yang tampak kontras dengan setelan jas tiga potong berwarna abu-abu gelap yang menempel secara presisi di tubuh rampingnya.
Dirinya memang membuat Maya yang menatapnya cukup tercengang hingga berdiri dari tempatnya duduk, tetapi ia tahu bahwa yang paling membuat mereka-keluarga Maya merasa terancam bagaikan kelinci dikungkung oleh singa, adalah sosok tegas ayahnya. Moohar Ram!
*Tentu saja sosok yang sudah pasti paling dikenal dan paling ditakuti di kota ini.
Moohar Ram berada di belakang Adrian, di antara para bodyguard-nya, namun masih nampak jelas bahwa dialah bos sesungguhnya. Yang terlihat paling menakutkan bahkan hanya dari caranya berjalan sambil mengisap sisa rokoknya.
“Hai, Maya!” Sapaan yang dilontarkan Adrian dengan melambaikan tangan sambil mengulas senyum ramah dan paling lembut yang Adrian bisa berikan, ternyata tak cukup mampu menguraikan ekspresi tertekan Maya dan keluarganya. Malahan Adrian menemukan wajah Maya mulai ketakutan.
Selain Sean yang bergerak merapatkan kursi rodanya mendekati Maya dan ayahnya, Maya juga telah berpindah tempat di belakang punggung pamannya. Memegangi erat lengan kokoh sang paman seakan-akan ia meminta perlindungan.
“Ka-kau … apa yang kau lakukan di sini?” Dengan rasa gemetar yang mendera sekujur tubuhnya, Maya pun memberanikan diri untuk bertanya.
Sejujurnya, yang paling ingin Maya ucapkan adalah, ‘kenapa Tuan Walikota ada di rumahnya?’
Seakan pertanyaan Maya adalah harta Karun, Adrian pun bahagia mendengarnya. Dan dirinya dengan senang hati dan bangga menjawab pertanyaan itu.
“Aku datang bersama ayahku, untuk melamarmu, Maya.” Dia menengadahkan telapak tangannya, menunjukan bahwa ayahnya ada di sampingnya.
Sekali lagi, Maya tercengang. Yang baru ia sadari, ternyata lelaki yang diselamatkannya tadi malam adalah putra sang Walikota! Dan … apa dia bilang tadi? Melamar?
“Apakah tamu ini tidak mendapatkan kehormatan dari sang pemilik rumah, untuk sekedar dipersilahkan duduk?” Kali ini Mooharlah yang berkata.
Ia menyerahkan puntung rokoknya pada salah satu bodyguard di belakang nya, lalu berkata pada sang bodyguard. “Matikan apinya dan buanglah ke tempat sampah. Jangan mengotori rumah calon besanku.” Lalu tanpa menunggu dipersilahkan, ia menarik satu kursi dari meja makan di ruangan itu, lalu duduk di sana dan menyilangkan kaki dengan santai.
Melihat ayahnya duduk begitu saja, Adrian pun mengikutinya. Mengambil kursi di arah bersebrangan dengan ayahnya dan duduk di sana.
Sementara itu, Maya, Sean beserta paman dan bibinya hanya bisa diam penuh rasa gugup menyelimuti.
“Putraku sudah mengatakannya, kedatangan kami adalah untuk melamar keponakanmu, Maya,” ucap sang Walikota.
“Tidak, tidak boleh!” Seanlah yang akhirnya dapat mengendalikan ketakutannya terlebih dahulu. Mengutarakan pendapatnya dalam upaya melindungi adik sepupunya.
“Maya, apa kau mengenalnya? Apakah kau pernah bertemu dengannya?” Sean menengadah, menyentuh tangan Maya penuh ingin tahu.
“Tidak, Kak. Aku … aku tidak mengenalnya, dia adalah pria yang aku ceritakan pagi tadi,” jawab Maya ragu.
“Maya, walaupun hanya sekali pertemuan. Aku bisa cukup mengenalmu,” sahut Adrian penuh percaya diri. Nyaris tak tahu malu.
Hal yang membuat sang ayah hampir kehilangan wibawanya sebagai Walikota, karena tingkah Adrian yang terang-terangan dan tidak sedikitpun menyembunyikan ketertarikannya pada Maya.
“Duduklah, Roman Dhon. Kita bicarakan pelan-pelan. Tidakkah kau bersedia membiarkanku mencicipi rasa teh di rumahmu?” ucap sang Walikota dengan santainya. Tak peduli bahwa sikapnya menguarkan keangkuhan yang luar biasa.
Rasa hormat Roman masih lebih tinggi dari perasaan takutnya terhadap kekejaman Moohar. Lelaki yang hampir memasuki masa purna itu, membisikan pada sang istri agar pergi ke dapur dan membuatkan teh.
“Tuan, kami masih belum mengerti apa maksud Anda?” begitu katanya, saat dia kembali ke tempatnya duduk sebelumnya.
Maya masih berdiri di belakangnya, bersama dengan Sean yang diam penuh perhitungan di sampingnya.
Sementara itu, tak menghiraukan perbincangan ayahnya dan pemilik rumah, Adrian memilih memusatkan pandangannya ke arah Maya dengan penuh keinginan untuk dekat dan saling mengenal.
Moohar tidak mau menjelaskan lagi. Pria berkemeja putih yang ditutup dengan rompi setelan jas itu menepuk tangannya beberapa kali. Dan setelahnya, masuklah beberapa lagi bodyguard yang sebelumnya menunggu di luar rumah itu.
Mereka tampak membawa berkotak-kotak dan berkoper-koper barang. Ketika Moohar menjentitkan jarinya, mereka membuka kotak dan koper itu untuk memperlihatkan isinya.
Di sana, ada beberapa koper berisi uang chase, ada sebagian koper berisi perhiasan dan kotak yang lainnya emas batangan dan yang lainnya lagi adalah berlian.
“Apakah Mahar ini cukup untuk meyakinkanmu, bahwa kedatanganku kemari adalah untuk melamar keponakanmu menjadi istri putraku?” katanya sambil menatap lekat pada paman Roman. Seolah-olah ia menyiratkan bahwa mereka tidak bisa menolak dan membantah, apalagi meragukannya.
“Mohon maaf Tuan. Tetapi mungkin keponakanku tidak akan setuju. Dia tidak akan mau menikah dengan putra Anda.” Tak mau kalah tegas, Roman pun memutuskan menjawab. Dia merasa bahwa tidak perlu memikirkan konsekuensi apapun untuk melindungi Maya. Untuk melindungi putri kecilnya yang berharga.
Adrian sedikit terkejut mendengarnya. Walaupun dirinya terlihat hanya fokus pada Maya, rupanya telinganya dapat dengan jelas mendengarkan ucapan paman Maya.
“Tetapi kau bahkan belum bertanya pada Maya, Paman,” katanya tidak senang. Matanya berkilat lebih tajam daripada sang ayah saat ia mengalihkan pandangan yang semula lembut pada Maya.
“Tidak perlu bertanya. Apa kau tidak bisa melihat dengan jelas, bagaimana adikku tidak suka dengan kehadiranmu?” Sean melontarkan ucapannya dengan ekspresi pembalasan dendam yang tak ditutupi.
Tetapi sapasang ayah dan anak Tirani itu tak mempedulikannya. Tatapan mereka tertuju pada Maya dengan sikap menunggu. Seakan mengatakan bahwa seberapapun lamanya Maya berpikir, mereka akan tetap menunggu jawaban yang diucapkan Maya sendiri.
Ditatap seperti itu, Maya semakin tertekan. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari Adrian dan ayahnya.
Seperti tersambar petir, tubuh Maya dialiri rasa senyar yang menyakitkan saat dirinya menatap para bodyguard itu dan terlintas kata “Uang”.
Melihat tumpukan yang begitu tebal di dalam koper itu, sebenarnya berapa banyak uang yang Walikota tawarkan sebagai mahar?
“Maya, aku bersikeras menginginkanmu dengan serius. Dengan setulus hatiku. Aku bisa memohon padamu sekalipun jika kau mau. Aku tidak pernah begitu menginginkan sesuatu sampai harus mempertimbangkannya. Maya, kau yang pertama.” Tidak mempedulikan lagi siapa dirinya dan identitas ayahnya, Adrian mengungkapkan kenyataan yang ia rasakan, dengan sikap tulus yang tampak mengibakan.
Dan itu disadari semua orang kecuali Maya, bahwa sikap Adrian tidaklah seperti yang beredar pada gosip-gosip itu. Yang mengatakan bahwa Adrian penuh dengan keangkuhan dan kekejaman tiada Tara.
*Apakah itu benar-benar sesosok lelaki yang bernama Adrian? Atau … jangan-jangan itu hanya perangkap untuk menjerat Maya si gadis lugu agar dengan sukarela masuk ke dalam sarang iblis yang menjelma?
“Maya–” suara Sean tercekat, saat dia akan berkata, namun Maya lebih dulu memutusnya.
“Aku setuju.”
Bersambung....