Maya melangkah cepat setengah mendorong dirinya ketika ia memasuki pintu rumah tempatnya tinggal bersama keluarganya. Paman, bibi dan sepupunya.
Ya, mereka adalah keluarga Maya yang tersisa, setelah kecelakaan tragis menimpa keluarganya dan merenggut nyawa kedua orangtuanya ketika Maya kecil. Sejak saat itu, Maya hanya memiliki mereka sebagai anggota keluarga.
Setelah tidak pulang semalaman dan memilih bermalam di ruang tunggu rumah sakit, tentu saja ia tahu bahwa paman dan bibinya akan khawatir. Sehingga saat pulang, Maya langsung merangsek masuk hendak memberi penjelasan.
“Paman, Bibi!” Napas Maya terengah saat ia memanggil orang yang sudah 15 tahun menggantikan orangtuanya itu. Tatapannya tampak menelisik. Karena melihat semua orang berkumpul di ruang tamu dengan ekspresi cemas yang amat kentara.
“Maya, kau baru pulang, Nak.” Bibinya mendekat. Kecemasan yang tadi melekat di wajahnya, kini terurai. Tergantikan dengan kelembutan seorang ibu yang amat menyayangi putrinya.
“Iya, Bibi. Maafkan aku tidak pulang semalaman dan tidak memberi kabar. Ponselku kehabisan batrei, karena itulah aku tidak bisa memberitahu kalian.” Maya menjelaskan sambil menggenggam erat tangan bibinya. Berusaha menenangkan.
“Apa ada masalah dalam pekerjaanmu?” tanya bibinya, sambil menghela Maya agar duduk bersama mereka.
Maya pun menceritakan kejadian tadi malam. “Ketika aku hendak bersiap untuk pulang tadi malam, ada seorang lelaki muntah darah dengan hebat, Bi. Jadi aku memutuskan untuk membantunya ke rumah sakit. Karena itulah, aku terlambat. Tidak ada lagi angkutan umum dari rumah sakit menuju kemari, dan taksi yang sebelumnya kami naiki juga sudah pergi entah kemana. Jadi aku bermalam di rumah sakit, dan menunggu sampai keluarganya datang.”
“Muntah darah?” Sean -sepupu Maya- yang saat ini tengah duduk di kursi roda, di antara ayah, ibunya dan Maya, mengulang ucapan Maya, memastikan bahwa pendengarannya baik-baik saja.
“Iya, Kak. Dokter bilang dia terlalu kelelahan,” jelas Maya lagi.
Semalam saat Maya mendaftar untuk rawat inap Adrian, petugas pendaftaran mengatakan bahwa pria yang dibawanya itu adalah pasien prioritas mereka. Yang berarti bahwa mereka mengenal keluarganya dan bahwa akan menjadi tanggung jawab mereka setelah Adrian sampai di rumah sakit tersebut.
Maya sempat menjelaskan keadaan Adrian pada beberapa perawat yang membawa Adrian ke ruang gawat darurat, tetapi mereka hanya mengatakan bahwa Adrian hanya terlalu kelelahan. Dan itu adalah hal yang biasa.
Meskipun terdengar janggal bahwa seseorang dapat mengalami muntah darah hebat hanya karena kelelahan, tetapi Maya tahu bahwa masalah orang lain, mereka tidak harus terlibat terlalu jauh. Maya memilih membantu dan membawanya ke rumah sakit, itu sudah merupakan pilihan yang tepat. Tetapi saat bertemu dengan Jode, yang Maya kira adalah anggota keluarga Adrian, Maya juga tidak berniat untuk menanyakan lebih lanjut mengenai lelaki itu. Dan ketika gadis itu pulang keesokan paginya dengan keadaan baik-baik saja. Hal itu sudah cukup membuat keluarganya merasa dibanjiri kelegaan.
“Kalau begitu, kau masuklah dulu dan bersihkan dirimu. Kami menunggumu untuk sarapan, ada sesuatu yang harus kita bicarakan bersama, Nak.” Kali ini, pamannyalah yang bersuara. Dengan tatapan lembut namun penuh ketegasan memberi instruksi pada Maya dan langsung dipatuhi.
“Aku ingin kalian mendapatkan informasi tentang perempuan itu. Dapatkan sebanyak mungkin yang kalian bisa dan segera kalian laporkan padaku,” tegas Adrian menyuarakan perintahnya.
Entah apa yang sedang direncanakan lelaki itu, kedua orang yang diperintahnya hanya mengangguk, sebelum kemudian berpamit dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
Saat ini, Adrian sedang duduk setengah bersandar dengan kaki berselonjor di sofa bed tunggal di ruang kerja ayahnya. Kakinya yang panjang tampak tidak nyaman dalam posisinya, sehingga ia harus menyilangkan keduanya dan bertopang pada sisi tangan sofa besar itu. Sementara itu, kedua tangannya sedang membuka halaman majalah yang tersedia di sampingnya, tepatnya di meja kecil yang menjadi jarak antara dirinya dan sang ayah.
Kedua orang yang baru saja diberinya tugas itu adalah anak buah ayahnya. Yang entah apa jabatan mereka, Adrian tidak peduli. Dia hanya sedikit menggunakan hak istimewa atau privilege-nya sebagai anak seorang Walikota, bahwa siapa yang dapat diperintah oleh ayahnya, dia juga bisa memerintahnya.
“Kenapa kau begitu tertarik pada gadis itu?” tanya ayahnya.
Suara parau yang berasal dari si pemilik rahang tegas berbulu abu-abu nyaris putih itu memecah keheningan, setelah beberapa saat ditinggalkan oleh anak buahnya.
Moohar Ram, ayah Adrian sendiri heran. Putranya yang selama ini tidak suka berinteraksi dengan lawan jenis, malah ingin sekali mengenal gadis yang ‘katanya’ hanya seorang pembersih toilet.
Sebenarnya, apa kelebihan gadis pembersih toilet itu? Apakah dia lebih cantik daripada wanita-wanita yang pernah dia kenalkannya pada putranya itu?
Wanita-wanita yang pernah sang Walikota coba kenalkan pada Adrian, bukanlah wanita dari kalangan rakyat biasa. Mereka berasal dari kalangan bangsawan yang merupakan putri dari rekan bisnisnya, yang memungkinkan dia dan rekannya akan sama-sama diuntungkan apabila Adrian menikah dengan salah satu dari mereka.
Hal itu dikarenakan, kenyataan bahwa Adrian adalah putra semata wayang darinya yang merupakan pemimpin tertinggi di kota itu, menyebabkan dia tidak akan mudah mendapatkan ketulusan cinta dari orang lain. Ditambah lagi dengan menyebarnya berita bahwa Adrian memiliki riwayat penyakit yang sulit untuk disembuhkan, sang Walikota khawatir bahwa anaknya hanya akan dianggap beban kalau saja berani menjalin hubungan yang dianggap tidak menguntungkan bagi orang lain.
Lagi pula, siapa yang cukup bodoh untuk menikahi pria penyakitan seperti anaknya? Kecuali mereka mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari pernikahan itu.
Tetapi … dari sekian banyak wanita itu, Adrian menolak semuanya dan malah memilih Maya untuk ingin dikenalnya.
“Pagi ini, dia memberiku makan sepotong sandwich.” Menurunkan kakinya dari sisi sofa, Adrian menghadapkan tubuhnya pada sang ayah dan menatapnya dengan ekspresi serius yang langka.
Detik selanjutnya, dia melontarkan pertanyaan yang membuat ayahnya tercengang. “Ayah, apakah alasan itu cukup untuk membuatmu mau melamarkan dia untukku?” “Apa?! Melamar?”
Walaupun terkejut, Moohar Ram mencoba untuk menyembunyikan ekspresinya.
Kenyataannya, Adrian adalah pria lajang berusia 28 tahun yang bahkan tidak pernah berbicara tentang cinta. Tentu saja dapat dikatakan bahwa pria itu sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam urusan percintaan. Itu semua disebabkan oleh penyakitnya, yang bukan hanya menggerogoti dan merusak organ tubuhnya dari dalam, tetapi juga telah menghancurkan rasa percaya dirinya selama bertahun-tahun ini. Adrian merasa tak pantas mencinta. Ia merasa tak pantas mendapatkan cinta. Sehingga dirinya pun tak pernah berusaha menemukan cinta sejati, atau sekedar cahaya yang dapat membuatnya berusaha untuk bertahan hidup.
Tetapi … kenapa kali ini berbeda? Kenapa Adrian bahkan meminta dijadwalkan untuk transfusi darah di rumah?