Maya, Maya, Maya. Seperti itu mereka memanggilnya. Panggilan yang dilontarkan dengan nada penuh peringatan dan panik. Seakan-akan keluarga Maya ingin menyadarkan Maya dari hipnotis yang membelenggu kesadaran Maya dan membuat gadis itu seperti meracau dalam tidur.
Adrian melirik kesal ke arah Sean dan ayah ibunya. Dirinya bahkan mau dan sangat menghargai pendapat Maya, dia bersedia menunggu sampai Maya bicara, apapun yang akan Maya katakan. Tetapi kenapa keluarga itu seolah tidak ingin Maya mengambil keputusan sendiri?
“Paman … kali ini … tolong biarkan aku yang berjuang untukmu.” Maya tersenyum kearah mereka.
Tumpukan uang yang cukup tebal di dalam beberapa koper itu, rupanya mengingatkan Maya bahwa keluarga mereka saat ini tengah terhimpit oleh utang yang nominalnya cukup fantastis di kalangan keluarga seperti mereka.
Dan mengingat bahwa jalan satu-satunya adalah dengan menjual rumah yang merupakan warisan dari sang kakek, yang menjadi satu-satunya tempat untuk mengenang kakek, nenek dan juga orangtuanya, Maya menyadari bahwa menikahi Adrian mungkin adalah pilihan lain yang Takdir sediakan untuknya.
Jika sebelumnya Maya berharap punya pilihan lain selain menjual rumah, maka kali ini dia tak punya pilihan lain selain menikahi Adrian.
Dengan begitu, dia meyakinkan diri bahwa dia akan menerima lamaran Adrian. Pria yang baru ditemuinya sekali.
“Maya, apa kau serius?” Adrian melompat dari tempatnya duduk dan menghambur ke arah Maya.
Sepersekian detik, sebelum Adrian sampai di dekatnya, di sisinya, Maya menjauhkan langkahnya sejangkauan. Mencoba mengendalikan diri dari ketakutan yang cukup kentara dalam ekspresinya.
Adrian pun mengerti batasannya. Dia berdiri mengambang, mengurung niatnya untuk meraih tangan Maya.
Detik selanjutnya, dia merubah ekspresinya. “Maya, aku bertanya sekali lagi, apakah kau serius? Apakah kau sungguh menerimaku?” Seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah permen, Adrian tak menutupi kebahagiaannya.
Dan hal itu sama sekali tak terlewatkan dari pandangan mata Moohar. Mengawasi putranya yang tampak begitu bahagia, sepertinya adalah hal yang baru yang pernah dia rasakan.
Apakah setelah ini, dia tidak akan mendengar kalimat-kalimat Adrian yang menyayat hati lagi? Yang menggambarkan bahwa kematian anak itu sudah teramat dekat.
Moohar hampir tak berdaya menahan kekalutan hatinya yang hampir menyemburat dalam wajah. Hingga untuk menenangkan hatinya, dirinya harus berdehem beberapa kali, sebelum akhirnya berkata. “Karena Maya sudah menerimanya, hari ini sampai di sini saja. Untuk selanjutnya kubiarkan mereka berdua yang memutuskan.”
“Aku tidak setuju!” Sean berapi-api, bahkan berusaha bangkit dari kursinya. “Aku tidak akan membiarkan Maya ditipu oleh kalian! Aku tahu kalian sedang ingin memanfaatkan Maya,” marahnya lagi, tak bisa ditahan.
“Kak ….” Saat ini, Maya mencoba menenangkan Sean.
Tetapi keberadaan Adrian sungguh membuatnya canggung. Lelaki itu seolah menahan sesuatu. Dari deruan napasnya, Maya tahu lelaki itu benar-benar berusaha mengendalikan diri.
“Maya, belum terlambat jika kau tidak menyukaiku. Aku tidak memaksamu Dan kau boleh menolakku,” ujar Adrian kemudian. Semuanya dalam keheningan. Mata merah Adrian membuat bukan hanya Moohar dan Maya merasa iba, tetapi para bodyguard yang di sana dan telah mengenal Adrian, merasa miris, bahwa tuannya nyaris terlihat layaknya seorang pengemis. Meminta dicintai oleh seorang gadis pembersih toilet.
“Adrian!” Moohar mengingatkan. Tepatnya, meminta Adrian menjaga image-nya sebagai seorang putra penguasa.
Adrian tak menghiraukan ayahnya. Yang ingin dia dengar hanya keputusan Maya. Yang ingin dicecarnya hanyalah Maya. “Maya–”
“Aku bilang aku setuju. Aku menerimamu. Tetapi tentu saja aku membutuhkan waktu. Maksudku … sebelum kau memutuskan untuk menikahiku, aku membutuhkan waktu untuk lebih mengenalmu. Kalau benar yang kau katakan itu serius dan bukan main-main belaka, seharusnya hubungan kita dimulai dari perkenalan satu sama lain, bukan?” Maya tak memberi kesempatan pada Adrian untuk terus menderanya dengan berbagai pertanyaan.
Entah kenapa, emosi yang terpancar dari mata Adrian sungguh mempengaruhinya. Dia tak ingin melihat itu lagi. Karena itu, dirinya bahkan menunduk saat memberi jawaban pada Adrian.
“Tentu saja. Tentu saja kau akan mendapatkan kesempatan itu. Maya, aku pasti akan membuatmu sangat mengenalku.”
“Maya, ini tidak seperti yang kau bayangkan, Nak. Keputusanmu salah, percayalah pada bibi Maya, ini bukan yang terbaik untukmu.” Bibi Shafara mencoba membuat Maya memikirkan ulang dan merubah keputusannya.
Setelah Adrian dan ayahnya akhirnya berpamit dan meninggalkan rumah mereka tadi, yang paling Shafara inginkan sebagai pengganti ibu Maya adalah untuk mengatakan pada Maya, bahwa Maya tidak perlu mengorbankan kebahagiaannya.
Dan yang jelas diingatnya adalah bahwa Adrian tidak memaksanya menerima lamaran itu.
Adrian memberi kesempatan bagi Maya bukan hanya untuk berpikir, tetapi juga memutuskan.
“Mereka bukan orang baik, Maya. Semua orang tahu, tuan Walikota adalah orang yang kejam. Bukan tidak mungkin bahwa putranya akan lebih kejam darinya. Maya, pikirkan baik-baik. Kau tidak akan bisa terlepas dari mereka, setelah terlanjur masuk.” Sang bibi menekankan setiap katanya. Sengaja menciptakan kengerian dalam ucapannya.
Moohar Ram bukan hanya terkenal sebagai Walikota tidak bertanggungjawab dan semena-mena. Tetapi juga kejam dan tidak tersentuh. Tidak juga dapat disentuh oleh hukum.
Membayangkan bahwa mereka akan melakukan sesuatu kepada Maya tanpa mereka bisa meminta pertanggungjawaban setelahnya, apakah dia akan bisa menerima?
Tetapi, menolak juga bukanlah pilihan terbaik. Bagaimana jika Moohar Ram tersinggung oleh penolakan mereka dan memilih melakukan hal yang lebih buruk lagi pada keluarga mereka?
Semua itu tidak terlintas begitu saja. Semua orang memiliki sejarah pandangan buruk pada sang Walikota. Semua orang punya alasan kenapa sampai tidak mempercayai pemimpin mereka sendiri. Dan itu semua masih menanamkan trauma tak terperi di hati semua rakyatnya.
“Bi, aku tidak akan menyesalinya.” Maya berucap tegas. Dia telah memutuskan, selama dirinya dapat menyelamatkan satu-satunya hal yang dapat memberikan perasaan bahwa kedua orangtuanya hadir, bersamanya, bersama paman dan bibinya di rumah itu, Maya yakin semuanya akan baik-baik saja.
Sementara itu, Roman sama sekali tidak setuju dengan keputusan Maya. Tetapi karena lelaki itu bahkan tidak dapat mengubah pendirian Maya, dia memilih diam. Dan akhirnya meninggalkan tempat mereka berkumpul semula.
Maya mengerti perasaan pamannya. Mengerti bahwa pamannya sangat menyayanginya dan tidak ingin Maya dalam bahaya.
Akan tetapi, dibandingkan itu semua, Maya akan sangat menyesali jika dirinya sama sekali tidak dapat berkorban untuk sang paman.
Sementara itu, di sisi lain, di dalam mobil yang ditumpanginya bersama sang ayah, Adrian tengah tersenyum sangat puas sambil menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit mobil.
Dia mendengar jelas apa yang dikatakan Maya. Gadis itu sama sekali tidak mengatakan keburukan tentangnya. Tidak juga menyesali keputusannya, walaupun dia telah meninggalkan rumahnya.
Apakah itu berarti, Maya benar-benar mau menerima seluruh keadaannya?
Melihat Adrian tersenyum-senyum dan menemukan bahwa putranya mengenakan earphone, Moohar mengerutkan kening dan melemparkan pandangan menuntut. “Adrian, apa yang sudah kau lakukan?”
Sejak kapan anak itu memasang alat perekam di rumah Maya?
Ketika Maya keluar dari rumah, dia terkejut dan hampir saja terpelanting ke belakang saat tiba-tiba matanya mendapati sosok yang sudah tak asing lagi sedang berdiri dan bersandar pada mobil jenis SUV yang entah sejak kapan telah terparkir nyaris di depan pintu rumahnya.
Adrian tampak rapih seperti biasanya, dengan setelan jas tiga potong berwarna gelap yang membungkus tubuh pucatnya hingga kontras. Sebelah tangannya dimasukan ke dalam saku celana, dan tangan yang lainnya memegang sesuatu berbentuk bulat kecil dan panjang yang hampir Maya kira adalah rokok. Tetapi ternyata tusuk permen.
“Ka-kau … sejak kapan kau di sini?” Terbata, Maya memberanikan diri untuk bertanya setelah berhasil mengendalikan rasa terkejutnya.
Adrian tersenyum, jenis senyuman yang ia rancang untuk memikat hati gadis pujaannya. “Hampir satu jam yang lalu,” jawabnya kemudian.
“Ayo, aku akan mengantarmu pergi bekerja,” lanjutnya lagi sambil menghela tangan untuk mempersilahkan Maya. Tetapi sayang, gadis yang ia perlakukan layaknya ratu, malah mudur seakan ketakutan bersentuhan dengannya.
“Tidak, tidak perlu. Aku bisa naik angkutan umum,” jawab Maya menunduk. Bahkan gadis itu hampir tidak berani menatap wajah Adrian.
Entah kenapa, jawaban Maya mengalirkan rasa nyeri tak terperi di hati Adrian. Sikap Maya yang terang-terangan itu, membuatnya merasa layaknya wabah penyakit yang memang harus dijauhi. Sikap seperti itu memang kerap kali ia dapatkan bahkan dari orang yang belum dikenalnya sekalipun. Tetapi kali ini berbeda, karena Mayalah yang melakukannya.
“Kuharap kau tidak akan mengingkari ucapanmu yang baru saja kau ucapkan kemarin.” Kali ini, saat berkata, Adrian memilih tak menunjukan ekspresi apapun. Datar namun menyiratkan ketegasan yang tidak boleh dibantah siapa pun.
Tentu saja Maya tahu. Maya ingat betul apa yang dikatakannya kemarin saat menerima lamaran Adrian. Dia ingin mereka saling mengenal satu sama lain. Adapun kehadiran Adrian pagi ini, mungkin untuk merealisasikan keinginannya itu.
Maya hanya terdiam beberapa saat, sampai ketika Adrian membuka pintu mobilnya sambil membuang napas kasar, Maya hanya bisa menurut dan masuk kemudian.
Walaupun mobil Adrian tampak atraktif dari luar karena memang merupakan jenis mobil Sport, rupanya ruangan di dalamnya cukup rapi dan tempat duduknya pun cukup nyaman dan empuk. Selain itu, Maya melihat bahwa mobil itu dilengkapi dengan fitur keamanan tingkat tinggi yang Maya bahkan hanya beberapa kali melihatnya di dalam film aksi di televisi. Dilihat dari tampilan luarnya memang hampir sama dengan mobil-mobil yang sering Maya jumpai di jalanan kota saat dirinya berangkat atau pulang bekerja, tetapi menilik kemewahan di dalamnya, Maya bahkan tidak berani membayangkan berapa mahal harga mobil itu. Dan perbedaannya pasti cukup jauh dari mobil-mobil yang pernah dilihatnya itu.
Memang layak, sebagai putra orang tertinggi di kota ini, tentu saja fasilitas seperti itu pantas didapatkan oleh Adrian.
Memikirkan betapa mewahnya mobil Adrian, membuat Maya tak menyadari bahwa Adrian sudah duduk di jok kemudi, hingga ia terkejut saat tiba-tiba Adrian sudah ada di dekatnya dan hendak menarik seat belt dan memasangkannya.
“Apa yang kau pikirkan? Kenapa bahkan keberadaanku membuatmu terkejut?” Adrian menatap Maya. Menyadari keterkejutan Maya yang membuat gadis itu menegang seketika.
Saat berkata dengan sikap meledek, wajah Adrian sudah sangat berdekatan dengan Maya. Hal itu membuat Maya salah tingkah hingga ia bahkan menahan napasnya.
Selesai memasang sabuk pengaman, Adrian menarik diri dan berkata lagi. “Kau bisa tenang, Maya. Aku berjanji tidak akan melewati batasanku. Aku tidak akan menyentuhkan tanganku padamu, kecuali kau mengizinkanku.”
Walaupun kenyataannya, Adrian adalah lelaki normal, yang tentu saja melihat kecantikan Maya dengan wajah sempitnya yang membingkai mata bulat, hidung kecil dan bibir yang berbentuk busur cupid nan imut karena berukuran lebih kecil dari umumnya, lalu bersikap lugu di depan matanya, Adrian harus mengeraskan rahang untuk menahan diri agar tidak langsung mendorong Maya dan menghabisi keindahan itu di sana, di tempat itu, saat itu juga.
Adrian bukanlah pemerkosa berantai, tentu saja dia tidak akan melakukannya. Dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang akan menakuti Maya dan malahan membuat Maya menjauh darinya. Walaupun, entahlah … apakah janji itu dapat dipegangnya.
“Lain kali jangan melamun di depanku. Kali ini aku mungkin bisa mengendalikan diri, dan aku memang berjanji padamu. Tetapi bisa saja lain kali aku kehilangan kendali dan akan langsung menciu–”
“Adrian!” sambar Maya, menghentikan apapun yang akan keluar dari mulut Adrian. Dia tahu, bahwa arah pembicaraan Adrian menuju adegan yang tidak ingin didengarnya untuk saat ini. Bahkan memikirkannya saja membuat wajah Maya memerah layaknya kepiting rebus.
Di sisi lain, mendengar Maya memanggil namanya dengan semburat merah di wajah dalam upaya memotong ucapannya, malahan membuat Adrian terkekeh geli.
Ternyata, gadis yang diinginkannya begitu pemalu. Bagaimana nanti mereka akan memulai pendekatan personal, kalau baru membicarakannya saja Maya sudah seperti ini?
Memikirkan itu, Adrian memilih diam, dan hanya melirik ke arah Maya dengan sudut matanya. Dia tak ingin membuat Maya semakin tersipu.
Dalam perjalanan yang cukup memakan waktu, rupanya Adrian bisa menahan diri untuk tidak bicara. Membiarkan Maya membiasakan diri berada di dekatnya adalah tujuannya, karena itulah Dia tidak ingin mengacau. Kalau sampai dia mengeluarkan sepatah kata saja yang membuat Maya tidak nyaman, dia akan merasa gagal dalam misi pertamanya.
Mobil yang mereka kendarai akhirnya berhenti. Di depan sebuah rumah makan kecil yang berada di pinggiran kota yang terletak berlawanan arah dengan tempat tinggal Maya.
“Terima kasih.” Akhirnya Maya memecah keheningan yang membentang di kabin itu. Membuat Adrian menanggapinya dengan senyuman yang teramat indah, menambah pesona wajah tampannya.
Sebelum Maya sempat membuka pintu dan turun dari mobil, Adrian tanpa sadar menahan tangannya. “Tunggu!”
Saat menyadari bahwa tangan kokohnya memegang erat pergelangan tangan Maya, dia melepaskannya dengan enggan, lalu kembali berkata. “Kau pulang jam berapa? Aku akan menjemputmu nanti.”
Sikap Adrian yang menahan diri itu hampir membuat Maya tersenyum, namun berhasil ditahannya, sebelum akhirnya Maya menjawab. “Tidak perlu, aku akan–”
“Maya, kau berusaha menolakku lagi. Apakah kau menyadarinya?” Adrian memberi jeda pada ucapannya, memastikan reaksi Maya dan menatapnya lekat, saat ia melanjutkannya kemudian. “Maya belum terlambat bagimu kalau aku memang tidak sesuai kriteriamu, kau bisa menolakku. Aku tidak keberatan, aku tidak akan memaksamu. Aku akan mengatakannya sekali lagi, aku tidak memaksamu. Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman.”
Tanpa diduga, mata mereka bersirobok. Membuat Maya hanya bisa menggerakkan bibirnya dengan ragu. Dirinya tidak bermaksud menolak, tetapi dia hanya tidak ingin Adrian repot. Toh dia bukanlah tuan putri yang ke sana kemari harus diantar jemput seperti ini.
“Bukan begitu, aku hanya merasa bahwa aku cukup merepotkan bagimu kalau kau harus mengantar dan menjemputku,” jelasnya. Tanpa sadar kalimat itu Maya ucapkan dengan sedikit rengekan yang tentunya tak disengaja olehnya. Seolah-olah meminta lawan bicaranya mengerti apa yang ia maksud.
Tatapan Adrian bertambah lekat, entah kenapa dia menyadari bahwa dirinya mungkin telah jatuh cinta pada Maya.
Kenapa? Bukankah kemarin dan kemarinnya lagi Dia hanya merasa tertarik dan menginginkan Maya? Kenapa saat ini perasaan itu lebih intens, lebih lembut dan tidak bisa dijelaskan? Kenapa tiba-tiba sekali dia merasa sangat-sangat jatuh cinta pada Maya?
“Kau sama sekali tidak merepotkanku, Maya. Kau tidak memintaku, jadi kau tidak membuatku repot sama sekali. Akulah yang bersedia,” lirihnya dengan suara parau nan penuh arti.
“A-Adrian … kau mau apa?” Maya hanya bisa meletakan tangannya sebagai pembentang jarak, saat Adrian merapatkan diri padanya.
Bersambung ….