Tiba-Tiba Cinta Mengundi Nasib
3/22
Bab 3

Mengundi Nasib

Hemh! Melamar, ya? Karena sepotong Sandwich?

“Adrian, apa kau bercanda? Ini tidak lucu.” Moohar Ram menatap Adrian setengah tak percaya. Dan semakin tak percaya, saat Adrian menggelengkan kepalanya dengan sikap tegas, seolah ia tak bisa dibantah.

Putranya itu, bahkan sering mengatakan bahwa dirinya sudah bersiap untuk mati. Tidak ingin berdrama dengan beban dunia dan tidak ingin memiliki ikatan perasaan apapun yang akan membuatnya merasa harus berjuang untuk hidup.

Selama ini Adrian selalu menjaga diri dari menjalin ikatan yang akan membebaninya menemui kematiannya nanti.

Itu semua karena Adrian tahu, bahwa tubuhnya tidak akan kuat bertahan lebih lama lagi. Dan gelapnya kematian akan merengkuhnya kapan saja dan di mana saja secara tiba-tiba, sesuka hatinya. 

Seperti saat di pusat perbelanjaan kemarin, di mana tiba-tiba saja dia mengalami muntah darah yang cukup hebat hingga merenggut kesadarannya. Setiap kali mengalami hal seperti itu, Adrian seakan menyerah dan dia bahkan tidak mau mengkonsumsi obat lagi.

Jadi, bagaimana mungkin tiba-tiba dia ingin melamar seorang gadis? Yang bahkan baru ditemuinya sekali.

“Ayah, apa aku terlihat bercanda? Aku paling tahu bahwa aku tidak sedang membuat candaan untuk ditertawakan olehmu,” sanggah Adrian penuh penekanan. 

Hal itu membuat Moohar merubah ekspresinya. Yang tadinya santai dan tenang, seolah tak menanggapi ucapan Adrian, kini dirambati kepanikan yang meskipun coba ia sembunyikan, namun masih terpancar dari pendar matanya.

Di detik selanjutnya, sebelum Moohar dapat menguasai emosi jiwanya yang hampir menggelegak keluar di bola matanya, Adrian berucap lagi. “Aku ingin ayah membawaku ke rumahnya besok, dan meminta dirinya kepada orangtuanya untuk menjadi istriku. Segera dan secepatnya.”

Ayahnya terperanjat. “Adrian, apa kau sudah gila?” celetuknya.

Selain ekspresi terkejut yang tampak lekat di raut wajahnya, Moohar bahkan telah bangkit dari posisi duduk bersandarnya. Apa yang dikatakan oleh Adrian kali ini bukan hanya membuatnya terkejut setengah mati, tetapi juga tersulut api amarah yang tak bisa ia tahan, karena tidak mengira anaknya akan meminta sesuatu yang sekonyol itu.

“Kau bahkan tidak mengenalnya, dan kau ingin pergi melamar? Apa kau pikir semudah itu? Apa kau pikir orangtuanya akan setuju? Kau tidak takut ditolak?” Moohar menutup map dokumen yang tadi dibacanya, dan menghempaskannya ke atas meja.

“Memangnya kenapa? Dengan identitas dan citra Ayah, apa yang perlu kutakutkan?” Adrian menyeringai dalam ucapannya, seolah ia sedang mengolok jabatan ayahnya.

“Kau–” Merasa tersinggung, Moohar tak bisa berkata-kata selain hanya menunjuk Adrian sambil membuang napasnya kasar. “Aku bertaruh, gadis itu tidak akan menerimamu. Seluruh keluarganya bukan hanya akan menolak dan menentangmu, mereka semua bisa saja mempermalukanmu,” lanjutnya tanpa menyembunyikan jejak meremehkan dari tatapan matanya.

Dia tahu betul bahwa hampir sebagian besar rakyat di kota itu membenci dirinya sebagai seorang pemimpin. Mereka semua kecewa padanya yang dahulu hanya mengumbar janji-janji untuk memenuhi harapan rakyat, tetapi tak juga menepatinya hingga saat ini. Malahan membuat rakyatnya menderita di ambang kehancuran ekonomi yang tak kunjung membaik.

Bukan hanya itu, saat ini mungkin lebih dari sebagian besar rakyatnya menganggap dirinya kejam, sebab desas-desus yang ada, dia telah menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan hingga sempat melenyapkan beberapa nyawa. Tetapi karena kekuasaan yang ia miliki, dirinya menjadi kebal hukum. Begitulah kiranya sebagian besar orang itu memandangnya. Dia yakin, keluarga gadis yang disukai oleh putranya adalah salah satu dari mereka.

Ditambah lagi, kondisi Adrian yang sering bolak-balik ke rumah sakit juga tidak luput dari sorotan publik. Tidak sedikit dari mereka yang tahu dengan jelas riwayat penyakit yang diderita Adrian, hingga sering kali ia menerima kecaman rakyatnya sendiri yang mengatakan bahwa penyakit Adrian adalah karma buruk atas apa yang Moohar lakukan sebelumnya.

Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin ia berani berharap putranya akan diterima dengan baik di kalangan rakyatnya? 

Adrian bangkit dari tempatnya duduk. Memasukan kedua tangannya pada saku celana di sisi kiri dan kanan dengan sikap pongah.  “Aku memang sedang mengundi nasib,” katanya sambil lalu. “Berapa banyak Ayah berani bertaruh?”   Setelah beberapa langkah, ia berhenti sejenak. “Ayah, apa sebelumnya aku pernah meminta sesuatu padamu? Mungkin saja ini akan menjadi permintaan pertama dan terakhirku.” Adrian tidak menunggu jawaban dari ayahnya, lelaki itu pergi begitu saja. Yang membuat sang ayah, akhirnya memejamkan mata lalu mengacak rambutnya dengan sangat frustasi.

Ya, kalau dipikir-pikir, sejak kecil Adrian memang tidak pernah meminta apapun dari ayahnya. Tepatnya, semenjak ibunya meninggal. Ketika Adrian berusia tujuh tahun, dan baru duduk di bangku Sekolah Dasar.

Sejak ibunya meninggal dengan membawa penyakit yang sama, seperti yang dideritanya, sejak saat itu pula ia berubah menjadi sosok pendiam dan penyendiri. Ia tahu bahwa dirinya akan mengalami hal yang sama dengan ibunya. Oleh sebab itulah, Adrian seolah sudah bersahabat dengan kematian. Tidak ingin lagi berjuang meraih kebahagiaan di dunia yang hanya sesaat ini. Dia tidak pernah berani menginginkan apapun yang hanya akan mengikatnya dengan dunia ini. Namun kenyataan bahwa dirinya masih bisa berdiri sampai hari ini, tentunya tidak luput dari segala upaya perjuangan ayahnya. Dan sekarang lelaki itu memutuskan untuk melamar seorang gadis. 

Apakah itu berarti bahwa Adrian telah menemukan cahaya hidupnya?


“Rumah ini adalah tempat aku dan ibumu dibesarkan, Maya. Bagaimanapun, ada hak ibumu di dalamnya. Karena itulah, aku dan bibimu harus mempertimbangkan pendapatmu sebelum memutuskan untuk menjualnya.” Roman Dhon, paman Maya meletakan tangannya di atas meja.

Mata itu dengan lembut menatap Maya, jenis tatapan yang menyiratkan bahwa apapun keputusan Maya, ia akan menerimanya dengan penuh pengertian.

Sesuatu yang sangat penting yang harus dibicarakan mereka bersama sehingga mereka memutuskan untuk menunggu Maya, ternyata adalah mengenai penjualan rumah yang saat ini mereka tempati.

Keluarga Maya terlilit utang cukup besar dengan sebuah Bank. Sementara paman Roman sendiri telah menganggur lebih dari tiga bulan semenjak perusahaan tempatnya bekerja melakukan PHK besar-besaran dalam rangka mengoptimalkan penggunaan dana alias Efisiensi. Sehingga untuk menutup utang itu dan untuk melanjutkan kehidupan kedepan, mau tak mau paman Roman memutuskan untuk menjual rumah itu. 

Meskipun berat hati, Maya mengerti posisi pamannya. Lagipula, paman dan bibinya telah merawatnya selama belasan tahun. Andaikata semua kasih sayang dan perjuangan mereka menghidupi Maya sejak kecil itu diuangkan, mungkin seluruh gaji Maya bekerja seumur hidup tidak akan sepadan.

“Paman, asalkan aku bisa terus tinggal bersama kalian. Aku tidak menginginkan apapun lagi,” putus Maya pada akhirnya. 

Andaikan ada jalan lain, Maya tidak ingin kehilangan satu-satunya hal yang menyimpan kenangan bersama ibunya. Dia tahu, pamannya pun begitu.

Sebelum Roman sempat mengatakan apapun lagi pada Maya, mereka dikejutkan dengan kedatangan tamu yang tak pernah diharapkan. Menebarkan aura berbahaya bersama langkah-langkah sepatu yang berderit menjejak pada lantai.

“Paman … mereka siapa–” Suara Maya tercekat ketika menyadari sesuatu.

Bersambung....