Bab 1
- Pertemuan di Ubud
Awan hitam menggantung rendah di atas langit Batu, Malang. Di balik jendela kaca yang berembun, Sari membayangkan kakaknya, Dewi, sedang melakukan hal yang sama di teras rumah mereka yang asri di Ubud.
Di sana pasti sedang awal musim penghujan juga. Sari bisa merasakan aroma tanah basah dan suara kodok pohon yang bersahutan di antara rimbunnya pohon kamboja, persis seperti bayangan yang melintas di benaknya saat ini.
Tiba-tiba, rasa rindu itu datang menggoda hatinya. Bukan rindu yang biasa, tapi suatu rasa rindu yang menyesakkan dada.
Dalam satu helaan napas, Sari memantapkan hati. Keputusan itu datang begitu saja, "Mas Bimo bisa ambil alih urusan katering selama sebulan ke depan," gumam Sari pada dirinya sendiri.
Dia tersenyum sinis. Biarkan saja partner kerjanya itu pusing menghadapi licinnya jalanan setelah hujan atau telpon yang terus berdering menanyakan pesanan katering.
Lagipula, siapa suruh mas Bimo selama ini rakus memonopoli semua proyek pesanan pernikahan? Sekarang, giliran Sari yang mengambil kendali atas hidupnya sendiri.Ia mendekatkan ponsel ke telinga. "Oke, Mbak Dewi," ucap Sari mantap.Keheningan panjang menyambut di seberang sana. Sari bisa membayangkan wajah kaget kakaknya.
Dengan senyum nakal yang tersungging di bibir, Sari melanjutkan, "Aku akan pulang. Aku akan mengambil alih rencana perayaan ulang tahun pernikahan perak orang tua kita, dari tangan Bagas.""Kamu bercanda, Sari?" suara Dewi terdengar tidak percaya, sedikit bergetar.
Karena entah sudah berapa lama, Sari tidak pulang. Dia betah tinggal dengan paman di Malang, atau apakah ada sesuatu yang membuatnya enggan untuk kembali.
"Tidak," jawab Sari tegas."Aku tidak bercanda, Mbak Dewi," suara Sari melunak namun tajam.
"Baiklah, mbak tunggu kedatangan mu." Ucap Dewi masih dengan nada tak percaya.
"Bawa semua pasukanmu. Ayo kita bertarung demi pesta pernikahan ini. Bagas.... tunggu aku datang." Batinnya berucap.
seketika, sebuah gambaran melintas di kepala Sari. Bukan lagi tentang gedung mewah yang gemerlap, melainkan sebuah perayaan sakral nan sederhana di sebuah pendopo kayu kecil yang menghadap langsung ke tebing pantai di Kuta Selatan.
Tempat di mana laut dan langit bertemu, tempat di mana ia seharusnya berada sejak lama. Sari tidak hanya pulang untuk sebuah pesta. Ada alasan tersembunyi mengapa ia begitu bersikeras menggeser posisi Bagas, sang perencana acara ternama yang di kenal oleh keluarga mereka.
Ada rahasia yang ia tinggalkan di Ubud bertahun-tahun lalu, dan kini saatnya ia menjemput kembali apa yang pernah hilang. Yang selama ini selalu dihindari nya.Sari menutup teleponnya dengan senyum penuh kemenangan.
Ia membayangkan kakeknya mengenakan beskap merah maroon yang agung, sementara pendopo di tepi tebing itu akan ia penuhi dengan bunga-bunga tropis paling cantik dari seluruh penjuru nusantara.Ia tahu ini tantangan besar untuk merebut kembali otoritas acara dari tangan Bagas yang terhormat, tapi justru adrenalin itulah yang ia butuhkan sekarang.
Namun, ternyata alam punya rencana lain.Sore itu, badai tropis mengamuk di pesisir Samudra Hindia. Sari yang nekat ingin melihat lokasi pendopo lebih awal, terjebak di jalan setapak yang biasanya sepi.
Karena cuaca buruk, ia tidak menyadari bahwa ia telah memasuki area pribadi milik seseorang.Di sisi lain, seorang pria bernama Bagas,sosok kaku yang menjaga privasinya dengan ketat, terperangah.
Ia baru saja melepaskan dua anjing penjaganya untuk berlari bebas. karena mengira tidak akan ada orang gila yang lewat di tengah hujan badai seperti ini.
Namun, dalam hitungan detik, ia melihat kedua anjingnya melesat ke arah sosok yang tersungkur di tanah.Bagas berlari kencang. Di sana, di tengah lumpur tebal, seorang wanita tergeletak telentang.
Gaun linen putih yang dikenakan wanita itu, kini kotor kecokelatan. Rambut pendeknya yang hitam legam basah kuyup, melekat di wajahnya yang tetap terlihat menawan meski tertutup noda tanah.
Bagas bersiap untuk mendengar teriakan ketakutan atau kemarahan. Namun, saat mata kelabu Sari menatapnya, ia justru melihat sorot geli. "Suruh mereka turun! Oohh..anjing nakal..." Sari tertawa kecil sambil mencoba mendorong kepala anjing-anjing besar itu menjauh dari wajahnya.
Ia mencoba duduk, meski seluruh tubuhnya sudah berlumuran lumpur. Kedua anjing itu, Brown dan Grey, bukannya berhenti malah semakin bersemangat menjilati wajah Sari.
Mereka meletakkan telapak kaki mereka yang besar dan empuk di bahu Sari, membuatnya lemas karena tertawa tak berdaya di bawah lidah-lidah besar yang menjilat cepat.
"Brown! Grey! Turun!" teriak Bagas, rasa kagetnya kini berubah menjadi tindakan. Ia mencoba menarik kalung kedua anjingnya, namun mereka terlalu kuat dan sedang asyik dengan temuan baru mereka.
Sari merasa waktu seakan berhenti. Menit sebelumnya, ia baru saja melangkahkan kaki di jalan setapak yang dulu sering ia lalui saat pulang sekolah; menit berikutnya, ia sudah terbaring di lumpur dan dijilati dua monster berbulu.
Dan sekarang, di sela-sela jilatan anjing itu, ia mendongak dan menatap sosok pria yang berdiri di depannya.Bagas terpaku. Wanita ini baru saja jatuh di lumpur, diserbu dua anjing besar, dan terjebak badai, tapi ia malah tertawa.
"Kamu siapa?" tanya Bagas dengan suara berat yang berusaha tetap tegas, meski jantungnya berdegup tak keruan melihat mata wanita itu.
Sari mendongak, menyeka lumpur di pipinya dengan punggung tangan. "Aku? Aku orang yang akan mengacaukan ketenangan tempat ini." Sari belum tahu bahwa pria yang berdiri di depannya adalah Bagas, orang yang paling tidak ingin ia temui.
Sementara Bagas, ia mulai merasa bahwa kehadiran wanita ini akan mengubah rencana besar yang sudah disusun rapi untuk pesta perak keluarga Sari.
Bagas saat itu hanya mengenakan pakaian lari yang sangat minim, celana pendek dan sepatu lari, karena cuaca yang panas dan lembap sebelumnya.
Sari terpaku. Dari sela-sela tubuh anjing itu, ia menyadari siapa pria itu sebenarnya. Pria paling memesona yang pernah ia lihat, sekaligus orang yang paling ingin ia singkirkan dari rencana pesta keluarga mereka.
Sari tahu, perang ini baru saja dimulai, tapi ia sudah kalah telak dalam hal penampilan.Bagas belum menyadari bahwa wanita berlumuran lumpur yang sedang ditertawakan anjing-anjingnya adalah Sari, putri pemilik beberapa perusahaan yang datang untuk mengacaukan otoritasnya
.Pria itu menyipitkan mata, mengamati wajah Sari lebih lekat di antara sisa-sisa lumpur yang menempel. Senyum tipis mulai terukir di wajahnya, sebuah senyum yang dulu pernah membuat Sari terjaga sepanjang malam.
"Siapa kamu?" Sapanya heran saat pada akhirnya dia dapat melihat wajah Sari. Bagas menghela napas panjang, mengabaikan protes kecil dari egonya.
Ia berlutut di atas lumpur, mengeluarkan sapu tangan katun dari saku celana larinya yang ringkas. Dengan gerakan yang ragu namun telaten, ia mulai menyeka noda lumpur yang mengering di sekitar wajah dan leher baju linen Sari.
Sari mematung. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma maskulin bercampur hujan yang menguar dari tubuh Bagas.
Dadanya bergemuruh, namun ia memasang tampang jutek dan ke pura-puraan nya yang paling sempurna."Pelan-pelan, Tuan. Anda malah membuat lumpurnya semakin masuk ke serat kain," celetuk Sari, nada suaranya dibuat sedingin mungkin meski hatinya mencelos.
Bagas mendongak, matanya menyipit. "Aku hanya mencoba membantu agar kamu tidak terlihat seperti patung tanah liat yang gagal. Dan panggil aku Bagas, bukan Tuan." Sari mengangkat alis, berpura-pura asing dengan nama itu.
"Bagas? Nama yang... umum. Aku Sari. Dan terima kasih atas bantuan payahmu ini." Saat Bagas sibuk dengan noda di lengan bajunya, kedua anjing besar itu kembali mendekat, mengendus-endus saku kecil di pinggang Sari dengan penuh semangat.
Ekor mereka bergoyang hebat seolah menemukan harta karun."Brown! Grey! Berhenti," tegur Bagas heran. "Biasanya mereka tidak seramah ini pada orang asing. Apalagi sampai menjilati wajah."