Cinta Di Langit Senja Cinta Di Langit Senja
5/24
Bab 5

Cinta Di Langit Senja

Bab 5

  • Pendopo Tepi Tebing

Namun, di tengah kemelut gairah itu, jemari Sari bergerak lihai. Bukan untuk membalas pelukan Bagas, melainkan merogoh saku dalam jas pria itu, mencari kartu akses yang selama ini ia incar.

Sari melepaskan tautan mereka dengan napas terengah, matanya berkilat penuh kemenangan yang tersembunyi. Sementara itu, Reza tampak sedang berbicara serius di telepon, dan Erik sedang berjalan ke arah mereka dengan botol minuman baru.

Sari melangkah kembali ke tengah lantai dansa, membiarkan keempat pria itu menatap punggungnya yang terbuka. Baginya pesta kedua orang tuanya adalah bukti keberhasilannya. Dan dia sudah memenangkan tiket pertarungannya dengan Bagas. Orang yang sesungguhnya sangat dicintainya.

Pesta malam itu ditepi pantai, di Kuta Selatan berjalan dengan meriah. Para tamu undangan.menatap kagum dan berbisik puas. Sari merasakan kebahagiaan, catering yang dipilih Bagas sangat memuaskan.

Pagi saat hujan tidak lagi turun dari semalam, udara sangat bersih dan langit berwarna biru tanpa sapuan awan mendung.Ia terduduk diteras depan rumah nya, memandangi bunga-bunga yang sedang bermekaran. Ia teringat dengan kejadian lima tahun yang lalu.

Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubur rahasia, namun terlalu singkat untuk memadamkan api yang sengaja dinyalakan.Sari menyesap teh melatinya yang mulai mendingin.

Di teras rumah kolonial ini, aroma tanah basah sisa hujan semalam membangkitkan memori tentang kartu akses yang ia curi dari saku Bagas di malam pesta tebing itu. Kartu yang menjadi awal dari kejatuhan, sekaligus kebangkitan perasaan yang seharusnya ia matikan sejak lama.

Ingatan Sari melompat kembali ke malam di Kuta Selatan. Setelah ciuman panas yang meninggalkan jejak kemerahan di lehernya, Sari berdiri di tengah lantai dansa dengan jantung yang berdegup kencangbukan karena gairah, melainkan karena kartu plastik tipis yang kini terselip di balik korset gaun merah marunnya.

Ia bisa merasakan tatapan Bagas yang posesif dari balik pilar, tatapan Reza yang penuh selidik, dan tawa Erik yang berusaha menutupi kecemburuannya.

"'Kau bermain dengan api, Sari," bisik sebuah suara di telinganya. Sari menoleh. Reza sudah berdiri di sampingnya, aroma maskulin yang tajam bercampur dengan bau sampanye. "Kartu itu tidak akan membawamu ke pintu keluar, Sari. Itu hanya akan membawamu lebih dalam ke labirin Bagas."

"Aku sudah terbiasa dengan kegelapan, Rez," jawab Sari dingin, lalu berputar mengikuti irama musik, meninggalkan Reza yang terpaku.

Malam itu berakhir di sebuah kamar mewah dan maskulin, yang menghadap ke Samudra Hindia. Bagas tidak membiarkan Sari lepas. Pria itu menggiringnya masuk, mengunci pintu, dan melepas jas abu-abunya dengan gerakan yang predatoris.

"Berikan padaku," kata Bagas rendah.

Suaranya serak, sisa-sisa amarah dan keinginan yang belum tuntas.Sari bersandar di meja rias, membiarkan tali gaunnya merosot sedikit. "Berikan apa, Bagas? Hatiku? Bukankah kau sudah menghancurkannya lima tahun lalu?"

Bagas melangkah maju, memerangkap tubuh Sari di antara kedua lengannya. "Kartu itu. Aku tahu kau mengambilnya. Kau selalu menjadi pencuri kecil yang ahli, bahkan sejak kita masih remaja dulu."

Sari tertawa kecil, jemarinya merayap di dada Bagas, merasakan detak jantung pria itu yang tidak beraturan. "Aku tidak mencurinya. Kau yang membiarkanku mengambilnya. Kau ingin aku datang ke tempat persembunyianmu, bukan?"

Bagas membungkam tawa itu dengan ciuman yang lebih lembut namun lebih dalam dari sebelumnya. Kali ini, tidak ada dendam. Hanya ada kerinduan yang menyakitkan.

Di bawah temaram lampu kristal kamar Bagas, dinding pertahanan yang dibangun Sari selama bertahun-tahun mulai retak.Seperti peristiwa kemarin, dibawah guyuran hujan ia masuk kedalam rumah ini, keindahan dan keintiman mereka terjalin mesra.

Dan penyerahan dirinya terjadi, kesucian yang dipertahankan selama ini runtuh dalam dekapannya. Peristiwa yang sama kini terulang kembali, didalam ciuman Bagas yang membara ia kembali menyerahkan dirinya seutuhnya.

Di teras rumahnya yang tenang. Sari membuka sebuah kotak beludru hitam yang terletak di meja. Di dalamnya, selain kartu akses yang sudah tidak berlaku itu, terdapat sebuah foto lama yang sudah menguning di bagian pinggirnya. Foto dua remaja yang tertawa di bawah pohon flamboyan di Ubud.

Tiba-tiba, suara deru mobil mewah memecah keheningan pagi. Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pagar rumahnya.

Seorang pria turun dengan langkah tegap yang sangat dikenali Sari. Bukan Bagas, melainkan Adrian. Adrian berjalan mendekat, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa, namun matanya memancarkan kegelisahan.

Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel lilin merah. "Dia meminta saya memberikan ini jika dia tidak kembali dalam dua puluh empat jam," ujar Adrian pendek.

Jantung Sari seakan berhenti berdetak. "Apa maksudmu, Adrian? Di mana Bagas?""Bagas tahu siapa yang mengirimkan gaun merah marun malam itu, Sari. Dan itu bukan Reza, bukan juga Erik. Itu adalah orang dari masa lalu yang kita pikir sudah mati."

Sari merobek amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat tiket pesawat ke Malang, sebuah kunci kuno, dan sepucuk surat pendek dengan tulisan tangan Bagas yang tegas.

"Sari, permainan ini belum selesai. Kemenanganmu di Kuta Selatan hanyalah pembuka. Jika kau ingin tahu alasan sebenarnya mengapa aku meninggalkanmu lima tahun lalu, datanglah ke rumah tua di kaki Gunung Semeru. Tapi berhati-hatilah... karena kali ini, aku mungkin tidak bisa melindungimu."

Sari menatap Adrian, mencari jawaban. Namun Adrian hanya menunduk hormat lalu berbalik pergi, meninggalkannya dalam kesunyian yang mencekam.

Angin pagi berembus, membawa aroma melati yang sama dengan malam di pendopo itu. Sari menyadari satu hal, keberhasilannya di pesta itu bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah jebakan indah yang ia pasang untuk dirinya sendiri.

Dia mencintai pria itu. Namun sekaligus ia membenci pria itu. Dan sekarang, ia mungkin akan kehilangan pria itu selamanya sebelum sempat mengatakan yang sebenarnya.

Sari berdiri, mengambil tas nya, dan menatap ke arah Ubud. Ke arah masa lalu yang menolak untuk tetap terkubur.

Perjalanan menuju Malang terasa seperti menembus lorong waktu yang menyesakkan. Sari menatap keluar jendela kereta eksekutif, membiarkan pemandangan hijau Jawa Timur melesat seperti fragmen ingatannya yang tercerai-berai.Di pangkuannya, amplop cokelat dari Adrian terasa sangat berat.

Siapa orang dari masa lalu yang dianggap sudah mati? Nama itu terus berputar di kepalanya, namun ia terlalu takut untuk menyebutnya, bahkan dalam hati.

Setibanya di Stasiun Kotabaru, udara dingin Malang langsung menyergap. Namun, suhu dingin itu tak sebanding dengan rasa was-was yang merayap di tengkuknya. Ia segera menyewa mobil menuju wilayah Tumpang, daerah pintu masuk menuju kaki Gunung Semeru.

Semakin tinggi kendaraan mendaki, kabut mulai turun menyelimuti jalanan yang berkelok.Rumah tua yang dimaksud Bagas berdiri terisolasi di ujung jalan setapak yang ditumbuhi pohon-pohon pinus raksasa.

Bangunannya bergaya kolonial, persis seperti rumah yang ada dalam foto lama di Ubud, namun versi yang lebih gelap dan tak terawat. Sari melangkah turun. Sunyi. Hanya suara gesekan daun pinus yang tertiup angin.

Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kunci kuno pemberian Bagas ke dalam lubang pintu jati yang berat.

Ceklek.

Pintu terbuka, mengeluarkan aroma debu, kayu tua, dan... wangi sedap malam. Jantung Sari berdegup kencang. Itu adalah aroma yang sama dengan pesta di Kuta Selatan.

"Bagas?" panggilnya lirih.Suaranya memantul di langit-langit tinggi yang dipenuhi sarang laba-laba.Tidak ada jawaban.

Namun, di atas meja bundar di tengah ruang tamu, sebuah lampu minyak menyala temaram, menerangi sebuah kotak kayu kecil yang terbuka.