Bab 2.
- Hampir Ketauan
Sari hampir saja keceplosan. Ia ingat betul bertahun-tahun lalu, dua ekor anjing kecil yang sering ia temui di balik pagar tua itu sangat gila akan permen jahe yang selalu ia bawa di saku sekolahnya.
Rupanya, memori penciuman anjing jauh lebih setia daripada memori manusia. "Mungkin mereka tahu aku bukan orang jahat," sahutnya tenang, sambil diam-diam menepuk kepala Grey. "Atau mungkin mereka mencium sisa permen di bajuku. Aku... dulu sering membawa permen untuk anjing-anjing liar."
Bagas terhenti sejenak, menatap kedua anjingnya, lalu menatap Sari dengan tatapan menyelidik. Ada sesuatu yang familiar dari cara wanita ini berbicara, tapi ia belum bisa menyusun kepingan puzzle itu di tengah hujan yang mulai kembali menderas.
"Sudahlah, ini sia-sia," kata Bagas akhirnya sambil berdiri. Ia melihat ke arah langit yang semakin gelap dan kilatan petir yang menyambar di kejauhan.
"Badai ini tidak akan reda dalam satu jam ke depan. Kamu basah kuyup, berlumpur, dan rumah terdekat adalah rumahku. Ikutlah.
""Aku bisa jalan sendiri ke arah penginapan di bawah sana," tolak Sari keras kepala, meski kakinya terasa sedikit terkilir.
Bagas tidak menerima bantahan. Ia meraih lengan Sari, membantunya berdiri dengan kekuatan yang tidak terduga. "Jangan konyol. Jalan setapak itu akan menjadi sungai lumpur dalam hitungan menit. Kau ingin menantang alam atau ingin selamat?"
Sari mendengus, namun ia membiarkan Bagas memandu langkahnya. Mereka berjalan menembus tirai hujan, dengan Brown dan Grey yang melompat-lompat riang di sisi mereka, seolah sedang merayakan kembalinya seorang kawan lama yang hilang.
Sambil melangkah, Sari melirik profil samping wajah Bagas yang diterangi kilat sesekali. Pria itu tampak begitu berbeda dari sosok perencana acara arogan yang diceritakan Mbak Dewi melalui telepon.Bagas yang ini lebih matang danl ebih tampan daripada terakhir kali mereka bertemu.
Namun, ada satu hal yang pasti, Sari sudah berada di dalam wilayah musuhnya, dan ia baru saja menyadari bahwa berhadapan dengan Bagas secara langsung jauh lebih berbahaya bagi hatinya daripada yang ia bayangkan.
"Ini Rumahku," tunjuk Bagas singkat. "Masuklah, bersihkan dirimu, sebelum kau benar-benar beku."
Sari hanya mengangguk, menyembunyikan senyum penuh kemenangan di balik rambutnya yang basah. 'Masuk ke rumahmu adalah bagian dari rencanaku, Bagas', batinnya.
Tapi dijilat anjingmu sampai mandi lumpur? Itu benar-benar di luar skenario. Langkah Sari melewati ambang pintu rumah Bagas terasa seperti melintasi batas waktu.
Aroma kayu pinus dan sisa pembakaran perapian menyambutnya, sangat kontras dengan hawa dingin yang menusuk sampai tulang. Namun, suasana hangat itu justru membuat dadanya sesak oleh debaran yang tak menentu.
"Kamar mandi ada di ujung lorong sebelah kiri," kata Bagas sambil melepaskan jaketnya yang basah, memperlihatkan lekuk bahu yang kokoh di balik kaus hitam yang melekat di tubuhnya.
"Aku akan ambilkan handuk dan baju ganti. Tunggu di sana." Sari mengangguk kaku, berusaha menghindari kontak mata.
Ia melangkah menuju kamar mandi, namun langkahnya tertahan saat Brown dan Grey kembali merubunginya, menjilati jemari tangannya dengan penuh kerinduan.
"Sepertinya mereka benar-benar tidak mau melepaskanmu," gumam Bagas yang ternyata masih berdiri di belakangnya. Suaranya kini terdengar lebih rendah, lebih serak.
"Mungkin mereka hanya kesepian," jawab Sari pelan, jarinya gemetar saat mengelus telinga Grey.
Beberapa saat kemudian, Sari berdiri di bawah kucuran air hangat. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa hangat itu mengusir gigil di tubuhnya, sekaligus mencoba menjernihkan pikiran.
Rencananya sederhana, masuk ke rumah ini mencari dokumen kerja sama yang disembunyikan Bagas, dan pergi sebelum fajar. Tapi kehadiran Bagas, dengan tatapan tajam dan aura yang dominan mengusik konsentrasinya.
Tiba-tiba, ketukan lembut di pintu membuatnya tersentak."Sari? Aku menaruh baju ganti di depan pintu."
Sari mematikan air. Hening sejenak. Ia mengira Bagas sudah pergi, namun bayangan kaki pria itu masih terlihat di celah bawah pintu.
Dengan jantung berdegup kencang, Sari membuka pintu sedikit, hanya untuk menjulurkan tangannya. Namun, ia tak menyangka Bagas masih berdiri tepat di sana, memegang sehelai kemeja flanel besar.
Mata mereka bertemu di tengah uap air yang mengepul dari dalam kamar mandi. Bagas menatapnya dengan intensitas yang berbeda, bukan lagi tatapan menyelidik yang dingin, melainkan tatapan yang penuh dengan ketegangan yang tertahan bertahun-tahun.
"Aku tunggu diruang depan." Bagas memandangnya sekali lagi, sebelum ia melangkah keluar.
Sari melangkah menuju ruang keluarga, ia melihat Bagas yang berdiri menatap keluar jendela dengan dua cangkir coklat panas ditangannya
"Minumlah untuk menghangatkan badan."
"Terimakasih, harumnya masih sama seperti dulu. Ada aroma kayu manis dan cengkeh berpadu, membuat kenikmatan tersendiri."
Bagas menatapnya, Sari sadar bahwa ia telah keceplosan berbicara. Ia telah membuka kedoknya sendiri. Akhirnya ia pasrah.
Bagas melangkah maju, memperpendek jarak hingga Sari bisa mencium aroma hujan dan maskulinitas yang menguar dari tubuh pria itu.
"Anjing-anjingku tidak pernah lupa bau orang yang mereka cintai. Dan aku juga tidak pernah lupa caramu berbohong saat kau sedang gugup."
Bagas meletakkan tangannya di dinding mengunci Sari dalam ruang sempit di antara mereka. Ketegangan di antara keduanya mencapai puncaknya. Kebencian, kerinduan, dan rasa penasaran yang terpendam selama bertahun-tahun meledak seketika.
Sari ingin membantah, namun napasnya tercekat saat Bagas menyentuh dagunya, mengangkat wajahnya agar menatap langsung ke matanya yang kelam.
"Kau datang untuk menghancurkanku lagi, atau untuk menyelesaikan apa yang kita mulai dulu?"
Ketika Sari ingin menjawab, suara guntur yang keras memekakkan telinga. Tiba-tiba lampu dirumah Bagas padam, kegelapan total menyelimuti rumah. Sari memekik keras antara kaget dan takut.
Bagas segera memeluknya, ia masih ingat kalau Sari benci kegelapan. "Tenanglah, ada aku disini." Tangan Bagas mengusap punggung Sari untuk menenangkannya, ia merasakan badan Sari yang gemetar.
Tapi entah setan darimana yang lewat, dan siapa yang memulainya, pelukan lembut itu menyulut api gairah yang tertunda sekian lama.
Bagas menunduk. Mencium kening Sari, ciuman itu terjadi begitu saja. Sebuah ciuman yang lembut penuh damba. Lambat tapi pasti, ciuman itu berubah turun kearah bibir mungil Sari yang ranum, penuh tuntutan, dan sarat akan emosi yang meledak-ledak.
Sari sempat ingin memberontak, namun rasa familiar dari sentuhan itu meruntuhkan pertahanannya. Ia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya merayap ke tengkuk Bagas, menariknya lebih dekat.Di tengah suara hujan yang turun mengenai atap rumah, mereka seolah lupa pada rencana masing-masing.
Di dalam rumah yang hangat itu. dendam dan misi rahasia perlahan meleleh, digantikan oleh gairah primitif yang selama ini mereka coba sangkal.
Sari tersadar saat punggungnya menyentuh dinding yang dingin, sementara tubuh Bagas yang hangat menekannya dengan protektif.
Ia tahu ini berbahaya. Ia tahu ia sedang bermain api di dalam sarang macan. Namun, saat jemari Bagas mulai membuka kancing kemeja yang baru saja dipakainya, Sari menyadari satu hal, ia tidak hanya ingin mencuri rahasia Bagas, ia ingin memiliki pria itu sepenuhnya, meskipun itu berarti ia harus hancur bersama rahasia yang ia bawa.